Om Swastiastu Om

.

Tumpek Wayang & Tumpek Landep


Rainan Tumpek Wayang

Sebuah fenomena yang sangat menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang dianggap keramat yaitu pada waktu wuku Wayang. Fenomena tersebut diyakini oleh orang Bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang. Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu : Tumpek Landep, Tumpek Pengatag/Uduh, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon. Makanya, Tumpek Kliwon dirayakan secara besar di seluruh Bali, seperti Tumpek Kliwon Kuningan yang merupakan rentetan hari raya Galungan, dan diakhiri dengan Tumpek Kliwon Wayang.

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara special sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut orang Bali adalah angker dan bahaya, karena hari itu dikuasai oleh bhuta dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar atau kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, Masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi :

“Muwah Binuru sang Pancakumara, katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum…”

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gambelannya, suaranya merdu dan nyaring…

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religious, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbul-simbul tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistic, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. SEdangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Legerberfungsi sebagai pemurnian bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

Tumpek wayang juga bermakna “hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbgai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gambelan. Aktifitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater local. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

TUMPUKAN WAKTU TRANSISI

Tumpek wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada tumpek Wayang., sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada sabtu/saniscara kajeng kliwon, wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan saptawara, kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan triwara, dan kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan pancawara. Sedangkan tumpek wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, tumpek wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara “penebusan dosa khusus” yang dinamakan lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari “lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.

Kata “Kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya Dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya sendiri dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali pengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan.

Rainan Tumpek Landep

Rainan Tumpek Landep akan segera kita rayakan pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Landep. Pada Hari Tumpek Landep terkenal dengan ritual keagamaan yang berhubungan dengan senjata tajam, baik itu berupa pusaka atau alat-alat rumah tangga yang lain.

Pada Rainan Tumpek Landep inilah semua hal yang bersifat tajam itu kembali di-Pasupati/disucikan dengan tujuan agar semua ke-leteh-an itu bisa diberishkan kembali.

Agama Hindhu memiliki banyak hari raya. Hari raya keagamaan itu sesungguhnya memiliki makna cukup luas. Termasuk Tumpek Landep, tak hanya bermakna ritual. Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kesadaran pikiran. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Menurut Ida Pedanda Made Gunung, dengan pikiran yang tajam diharapkan umat dapat menumpulkan gejolak indria dan menghindari perilaku menyimpang. Tumpek, kata Ida Pedanda, berarti pula tampek dan landep berarti lanying (tajam). Dalam perayaan ritual Tumpek Landep, umat diingatkan untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala.

Dalam kehidupan sehari-hari umat diisyaratkan untuk selalu menajamkan ilmu dan keterampilan agar mampu bersaing dalam era kesejagatan. ''Yang terpenting lagi, umat hendaknya selalu menajamkan keyakinannya terhadap Tuhan,'' katanya. Dalam situasi seperti sekarang, umat penting pula menajamkan rasa persatuan dan kesatuan dan membangkitkan kewaspadaan diri. Termasuk mewaspadai keamanan Bali. Jangan mau dipecah-belah, karena buta politik. Sebab, sejarah membuktikan, banyak orang Bali menjadi korban politik. Padahal politik dalam arti sesungguhnya memiliki tujuan mulia yakni untuk mensejahterakan masyarakat. Tetapi, praktiknya berbeda, politik justru untuk mensejahterakan kelompok dan diri sendiri.

Di samping itu, ritual Tumpek Landep merupakan tonggak introspeksi (mulatsarira). Artinya, umat manusia dituntun agar bisa mengaktualisasikan diri pada pembentukan watak atau karakter yang sesuai dengan ajaran agama. Setiap Tumpek Landep, umat diharapkan mulatsarira, evaluasi diri apa yang telah dilakukan selama ini. Ini penting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam masa mendatang.

Keperluan untuk menyeimbangkan keperluan jasmani dan rohani sangat diperlukan. Jika setiap hari umat masuk dapur tiga kali, hal yang sama mesti dilakukan untuk keperluan rohani. Itu berarti umat mesti bersembahyang tiga kali sehari ke merajan. Dengan demikian, ada keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.

Ida Pedanda menegaskan, Tumpek Landep bukan otonan motor atau komputer. Tumpek Landep adalah pemujaan Tuhan karena saat itu beryoga Dewa Siwa. Makanya persembahyangan Tumpek Landep adalah di Merajan/Pura masing-masing. 

Disarikan dari berbagai sumber


0 komentar:

Posting Komentar