Om Swastiastu Om

.

Pernak-Pernik Upakara untuk Bayi


Upacara Manusa Yadnya  memiliki beberapa perangkat upacara yang memiliki makna penting yang perlu diketahui. Uparengga tersebut antara lain :

1.      Magedong-gedongan
Pada upacara ini terdapat sebuah gedong (bangunan gedong) yang dibuat dari daun janur, dan didalamnya diisi sebuah bungkak kelapa gading yang dirajah (digambar) seorang bayi.Dimana gedong tersebut sebagai simbul kandungan, sedangkan bungkak kelapa gading menjadi simbul seorang bayi yang sedang dalam kandungan. Pada waktu pelaksanaan upacara mandi di sungai sang calon bapak membersihkan pinggir sungai memakai sabit. Hal ini mengandung makna pembersihan jalan lahir si bayi.             
   
2.      Bayi baru lahir
Pada saat menanam ari-ari mempergunakan kelapa yang kulit serabutnya telah terkupas tetapi masih ada batok kelapanya dan dibelah dua, memakai ijuk, kain putih, dan rental yang berisi tulisan atau aksara dasa bayu,pisau, dari bambu (ngaad). Semua itu mengandung makna masing-masing sebagai berikut :  
  • Kelapa merupakan simbul kekuatan Sang Hyang Basunari, agar bayinya dilindungi
  • Kain putih sebagai pembungkus sebagai simbul kesucian, agar nanti anak setelah dewasa memelihara kesuciannya.
  • Pisau dari bambu menjadi simbul ketajaman pikiran atau kecerdasan.
  • Daun rontal yang ditulis menjadi simbul sebagai kesehatan rohani dan jasmani dan kelak dikemudian hari memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.
  • Ijuk merupakan simbul sebagai rambut si bayi agar lebat.
  • Setelah ari-arinya ditanam di atasnya disi batu hitam menjadi simbul keteguhan iman dan umur panjang.
  • Kemudian ditanamkan pohon pandan sebagai simbul buaya rakrik untuk menolak perbuatan jahat.
  • Ditanamkan pohon kantawali menjadi simbul nagapasa juga sebagai simbul penolak  jahat. 
  • Yang terakhir ditancapkan sebuah sanggah tutuan menjadi simbul stananya Sang Hyang Mahayoni Sakti sebagai dewanya si bayi.    
  • Diatas batu hitam /batu bulitan diletakkan sebuah lampu dari minyak kelapa dan ditutup dengan sangkar ayam (guwungan).Lampu tersebut menjadi simbul sinarnya Sang Hyang Surya Candra, supaya nanti si bayi memiliki kecemerlangan di dalam  batinnya.
  • Sangkar ayam menjadi simbul kekuatan dari Sang Hyang Mertyunjaya, agar jiwa Si bayi selalu dilindungi.

3.      Kambuhan/Bulan Pitung Dina (42 hari)
Pada upacara ini juga memerlukan beberapa perangkat upacara sebagai berikut:
  • Pelepah kelapa yang berlubang (papah bolong), buki, perangkat tersebut menjadi simbul pengikut si bayi lahir yang disebut bajang papah, bajang bukal, sebanyak 108 bajang supaya keluar dari diri si bayi. 
  • Dua ekor ayam yang masih hidup menjadi simbul bajang colongan. Memakai benang dari benang hitam merupakan simbul bahwa si bayi masih dalam status, pengaruh kekuatan Bhuta (Asuri Sampad)atau sebel kandelan (cuntaka).
  • Batu hitam kecil diberi kain hitam, telor itik diberi kain putih, pusuh biu diisi kain merah dan buah blego/mentimun diisi kain kuning, semua itu adalah merupakan personifikasi dari saudara si bayi yang diajak lahir (Sang Catur Sanak).

4.      Nyambutin (tiga bulanan)
Pada upacara penyambutan ini memiliki beberapa perangkat upacara antara lain :
  • Tetamanan yang dibawahnya disangga oleh sebuah lesung batu yang diberikan pembungkus kain poleng. Lengkap berisi sasat. Perangkat ini mengandung makan sebagai berikut : taman merupakan simbul stananya Sang Hyang Dewi Gangga sebagai dewa kesucian dan keindahan. Lesung batu dibungkus kain poleng menjadi stananya
  • Sang Hyang Bayu Bajera sebagai Dewa penunggun urip.Kain poleng menjadi simbul kesucian kecerdasan.
  • Tongkat bumbung merupakan simbul penuntunan kepada si anak berupa budi pekerti agar nantinya setelah dewasa selalu berpijak kepada kebenaran dan kebajikan.
  • Ayunan, kata ayunan ini adalah berasal dari kata “ayu” yang dapat diartikan keindahan atau rahayu. Merupakan simbul dari stananya Sang Hyang Ratih sebagai kekuatan kasih sayang.
  • Kumara. Kumara ini dibuat berbentuk pelangkiran kecil sebagai simbul stananya Sang Hyang Kumara merupakan Dewa pengasuh si bayi. Memakai gelang benang putih/perak/emas. Biasanya pada upacara ini diadakan pergantian gelang pada bayi, yang tadinya memakai gelang benang hitam, sekarang diganti dengan gelang benang putih atau perak/emas.Perangkat ini mengandung makna simbul bahwa, si bayi telah terlepas dari pengaruh bhuta dan telah masuk kea lam kedewataan( kealamkesucian).
  • Memakai pupuk. Pada upacara ini juga biasanya dilangsungkan dengan pemasangan pupuk, perangkat ini mengadung simbul dan makna bahwa, ubun-ubun si bayi telah rapat sempurna. Mengenai maknanya bahwa, kekuatan Sang Hyang Siwa secara sempurna telah berfunsi pada ubun-ubun (Siwa Dwara).

    
5.      Pawetonan turun ke tanah
Pada upacara ini mempergunakan beberapa perangkat upacara antara lain :
  • Memakai pane berisi air dan udang, ketam (yuyu) dan ikan nyalian, kalau tidak ada biasanya dibuatkan ikan tiruan seperti udang dibuatkan dari tembaga, ikan ketam dibuatkan dari besi dan ikan nyalian dibuatkan dari perak. Perangkat ini menjadi simbul Tri Pramana yaitu: Udang sebagai simbul sabda, Ketam sebagai simbul bayu, Ikan nyalian sebagai simbul idep.
  • Memakai cincin emas bermata mirah, adalah menjadi simbul jiwatman. Dengan demikian simbul-simbul diatas mengandung makna permohonan kepada Sang Hyang Widhi agar jiwatman, sabda, bayu dan idep si bayi dikembalikan ke dalam dirinya secara utuh.
  • Upacara pemetikan. Biasanya pada upacara pawetonan dilangsungkan dengan upacara pemetikan. Dalam upacara pemetikan mempergunakan gunting sebagai simbul kekuatan pelebur kekotoran lahir (sebel kandelan )yang bernama bhagawan Citrangkara/ Memakai cincin emas bermata mirah.
  • Perangkat upacara ini mengandung makna dan simbul kekuatan sinar suci Sang Hyang Mahadewa sebagai pengelebur kekuatan lahir.
  • Memaki langlang (sat ming-mang). Lalang ini memiliki makna dan simbul sebagai kekuatan Sang Hnyang Purusa yang bernama sang Hyang Panca Kusika sebagai kekuatan pengelebur segala kekotoran lahir.
  • Memakai bunga tunjung (teratai). Pada waktu  memotong  ujung rambut si anak, biasanya dilakukan pemotongan bunga tunjung terlebih dahulu sebelum memotong ujung rambut. Perangkat ini menjadi simbul Sang Hyang Siwa Guru. Sebagai kekuatan adharma yang ada pada diri si anak.
  • Memakai karawista. Perangkat upacara ini dipakai pada saat memulai mejaya-jaya dan karawista  ini dibuat dari daun lalang tiga lembar.  Karawista ini dipakai sebagai simbul arda candra, windu dan nada ( simbul suci) yang memiliki kekuatan untuk penyucian.

0 komentar:

Posting Komentar