Om Swastiastu Om

.

Membaca Tanda-Tanda Alam Dalam Rogha Sanghara Bumi (RSB)


Menyikapi kondisi alam yang kurang bersahabat dengan kehidupan manusia belakangan di ranah nusantara ini sering terjadi seperti bencana alam. Masyarakat Bali memiliki pemahaman dan cara tersendiri dalam menyikapi kondisi alam yang kurang bersahabat ini, sesuai dengan Roga Sanghara Bhumi( selanjutnya disingkat dengan RSB ). Inilah dasar pemikiran kami naskah RSB perlu dikaji agar masyarakat pecinta naskah tradisional wawasannya semakin bertambah, bahwa di Bali ada naskah lontar  seperti itu 

Naskah RSB sesungguhnya bukan hanya penting bagi masyarakatBali, tetapi bagi kita semua di nusantara. Kajian ini akan membuka cakrawala wawasan pemikiran  bagi daerah lain, karena prosesi tradisi memohon maaf dan keselamatan pada penguasa alam ( Tuhan ) masih berlangsung. Kita tahu di Jawa ada ritual Larung sesaji, labuh sesaji, petik laut, tolak bala, mengantisipasi  gunung merapi agar tidak membahayakan umat ektika meletus dengan menaruh kulit tipat berisi sirih di atas pintu rumah, seperti yang disarankan Mbah Marijan, sebagi juru kunci gunung merapi, dan masih banyak yang lainnya. Barangkali ada referensi naskah tradisional yang perlu dikaji lebih jauh. Tujuannnya untuk mengantisipasi dan menetralisir berbagai mala petaka dalam kehidupan.

LONTAR ROGA SANGHARA BHUMI
Istilah kearifan lokalmerupakan padanan local genius, yakni keseluruhan cirri-ciri kebudayaan yang dimiliki   masyarakat/ bangsa sebagai hasil pengalaman merek pada masa lampau ( Wales dalam Semadi Astra, 2004 :110 ). Jika demikian halnya, maka dapat dikatakan bahwa kearifan local bisa tercermin dalam berbagai unsurkebudayaan seperti system peralatan, system mata pencaharian, system organisasi social, bahasa, kesenian, system pengetahuan, dan system relegi. RSB sebagai prodsuk kebudayaan kiranya tidak luput dari kearifan local tersebut.

Sifat-sifat hakiki kearifan lokai tersebut meliputi : 
  • mampu bertahan terhadap budaya luar, 
  • memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, 
  • mempunyai kemampuan mengintregasi unsur-unsur budaya luar ke dalam budaya asli, 
  • mampu mengendalikan, dan 
  • mampu memberikan arah pada perkembanagan kebudayaan (Poespowardojo, 1986 :30 ).

Sebelum kita berbicara tentanga isi teks RSB, terkait dengan kearifan lokal masyarakat Bali, terlebih dahulu akan arti dari judul naskah tersebut. Roga berasal dari bahasa sanskerta berarti penyakit, sakit, dan cacat badan. Sanghara/Samsara juga berasal dari bahasa sanskerta yang berarti menarik kembali, meniadakan, rusak, lebur, kehancuran, pembinasaan (Mardiwiseto, 1981 :507). Kata Bhumi berasal dari bahasa sanskerta masuk ke dalam bahasa jawa kuno, kemudian menjadi bahasa Indonesia dengan perubahan ejaan menjadi bumi. Jadi RSB berarti menetralisir atau meniadakan bencana di bumi. 

Secara garis besar naskah RSB berisi tentang
  • Sebab-sebab malapetaka/bencana terjadi di dunia. 
  • Jenis-jenis malapetaka/ bencana yang dapat terjadi di dunia
  •  Beberapa cirri akan datangnya malapetaka/ bencana.
Menurut lontar Widhi satra yang ada dalam RSB, masyarakat Bali setiap lima tahun sekali  harus melaksanakan upacara tawur agung yang disebut dengan Pancawalikrama. Upacara ini dilaksanakan di pura Besakih. Dikatakan ini merupakan sabda dan titah dari Bhatara Putranjaya yang berstana di Gunung Agung.

Sebagai konsekwensi apabila upacara tersebut tidak dilaksanakan, maka Bhatara Putranjaya akan kembali ke gunung Mahameru.  Dari situ Beliau akan menyebarkan segala penyakit yang mematikan dan dunia akan hancur. Saudara akan bertengkar dengan saudara, terjadi kerusuhan di sana sini. Adapun tujuan dari upacara tawur Agung Pancawalikrama adalah untuk menghaturkan persembahan berupa jenis-jenis hasil bumi, beberapa satwa, yang dipersembahkan kepada para dewa dan para buthakala.

Kepercayaan masyarakat Bali bahwa dalam kurun waktu lima tahun sudah dapat dipastikan daerah Bali dan daerah yang lainnya sudah terjadi kekotoran. Setidak-tidaknya kotoran pikiran manusia (Manacika ), perkataan (wacika), perbuatan (kayika), yang menyebabkan bumi  kotor   ( cemer ikang bhuwana). Melalui tawur agung Pancawalikrama diharapkan para dewa tidak lagi marah dan dapat memaafkan kelakuan manusia.  Bumi menjadi bersih ( keparisuda ). Demikian pula buthakala dapat dinetralisir sehingga tercipta kedamaian di bumi ( sutrepti ikang rat ).

Apabila terjadi bencana alam secara insidentil, dan masyarakat bali menginginkan kerahayuan jagat, maka dalam RSB disebutkan ada beberapa jenis upacara keselamatan yang dapat dilakukan :
  • Upacara  prayascita, yaitu upacara penyucian  bumi pada tatanan yang kecil seperti bangunan       pribadi, kebun, dan sebagainya.
  • Guru Piduka, yaitu upacara permohonan maaf kepada para Dewa karena ulah manusia bumi   menjadi kotor (cemer).
  • Labuh Gentuh, yaitu upacara penyucian bumi yang tingkatnya lebih tinggi dari prayascita.
Di sini terlihat apabila terjadi bencana alam, masyarakat bali tidak akan rebut sana rebut sini menyalahkan orang, pemerintah dan lainyya. Bencana yanag terjadi justru menyadarakan masyarakat bali bahwa kita  telah banyak mengotori bumi, para Dewa dan Bhutakala marah pada manusia. Untuk itu masyarakat bali lebih banyak menyikapi dengan kearifan lokal yang termanifestasikan di dalam RSB.

Upacara-upacara penyucian bumi segera dilaksanakan sesuai dengan tingkatan-tingkatannya. Mulai dari penyucian bumi tingkat rumah tangga, tingkat desa, tingkat kabupaten/kota,, dan tingkat provinsi. Upacara ini ditujukan untuk para Dewa, bhutakala. Agar sudi memaafkan ulah manusia, mengembalikan bumi ini menjadi bersih dan suci kembali. Tujuan yang paling penting agar tidak terjadi lagi bencana alam atau dijauhkan dari segala malapetaka.

RSB juga menjelaskan cirri-ciri atau tanda-tanda alam  yang bermuara akan terjadi sesuatu yang tidak baik . Di samping itu ada pula tanda-tanda alam yang mengarah ke kebaikan.

Adapun berkut ini beberapa tanda-tanda alam yang berarti keburukan akan terjadi  :
  • Ada pelangi yang masuk ke keraton dan minum air pada saat hujan. Ini pertanda Raja atau pemimpin akan berumur pendek. Untuk mengantisipasi hal tersebut harus dibuatkan caru (kurban) keselamatan.
  • Ada binatang kijang, menjangan berlari-lari masuk ke desa, masuk ke rumah-rumah berkeliling. Ini pertanda buruk bahwa desa itu ketadah kala (dimakan Bhutakala). Para satwa itu diperintahkan oleh para Dewa karena desa itu kotor, tidak ada rohnya bagaikan hutan belantara.
  • Kahyangan (tempat pemujaan) tertimpa pohon, terbakar, diterjang angin puyuh, apalagi saat melaksanakan upacara yadnya. Ini pertanda buruk dan akan terjadi bencana yang lebih dahsyat.
Masyarakat harus segera membuat upacara prayascita (penyucian).
  • Ada bintang berekor (bintang kukus) di langit. Ini isyarat Raja atau pemimpin akan terkena musibah besar seperti ajal dalam sebuah pertempuran.
  • Bila ada hujan darah, anjing-anjing melolong di jalan  raya, burung gagak bersuara di malam hari, burung hantu bertarung dengan burung hantu, ada percikan darah di balai-balai atau di lantai. Ini pertanda masyarakat akan tertimpa wabah penyakit yang mematikan. Untuk menetralisir akan tanda-tanda itu, masyarakat harus membuat upacara selamatan.
  • Segala hewan piaraan manusia seperti sapi, kerbau, kambing dan sebagainya terjadi salah pasangan. Artinya terjadi perkawinan diantara hewan yang tidak sejenis umpama sapi kawin dengan kerbau, ayam dengan itik, anjing dengan babi, dan sebagainya. Hal tersebut pertanda buruk pada kehidupan, banyak masyarakat  berbuat aneh-aneh. Untuk itu harus segera dilakukan upacara selamatan
  • Hal salah pasangan juga bisa terjadi pada manusia, sperti paman kawin dengan kemenakan, ayah dengan anak, saudara kawin dengan saudara,ini pertanda Bhutakala merasuk ke tubuh manusia. Ini harus segera dinetralisir dengan upacara penyucian jagat agar bhutakala kembali ke alamnya.
  • Ada orang melahirkan dengan wujud yang tidak normal atau aneh, pohon kelapa di halaman disambar petir, pintu gerbang juga disambar petir. Semua tanda-tanda ini menandakan dunia ini telah kotor rusak.
Di samping tanda-tanda yang menunjukkan bahwa alam akan terjadi malapetaka atau bencana, dalam RSB berisi juga tanda-tanda yang menunjukkan alam dunia akan baik, yaitu 
  • Apabila ada hujan airnya tampak kekuning-kuningan, ini disebut Medewa Sudha (pembersihan oleh Dewa). Hujan ini pertanda baik terutama terhadap orang yang kejahutan hujan tersebut.
  • Bila ada hujan yang airnya keputih-putihan, maka ini juga pertanda baik.  Desa yang kejatuhan hujan tersebut akan selamat, seperti segala penyakit akan menjauh.
  • Gempa adalah salah satu peristiwa alam yang sangat mengerikan dan membuat manusia traumatis. Gempa dapat terjadi di mana saja, kapan saja, dan terkadang getarannya kecil tidak membahayakan.  Apabila getarannya besar, maka gempa dapat meluluh lantakkan bumi (pralaya).
RSB juga berisi tentang bencana alam gempa, beserta baik buruknya berdasarkan sasih (bulan)  terjadinya gempa tersebut, berikiut uraiannya  :
  • Bila sasih kepitu ( Januari) datangnya gempa terus-menerus, menandakan akan terjadi perang tidak henti-hentinya, masyarakat akan tertimpa berbagai macam penyakit.
  • Bila sasih kaulu ( Februari) dan sasih ketiga (September), datangnya gempa terus-menerus, ramalannya kan terjadi wabah penyakit sampai banyak orang meninggal.
  • Bila sasih kesanga (Maret) datangnya gempa terus-menerus, ramalannya Negara tidak akan menentu. Para embantu meninggalkan tuannya.
  • Bila sasih kedasa (APRIL), ramalannya Negara akan menjadi baik. Ini berarti sebagai pengundang Bhatara berbelas asih kepada manusia.
  •  Bila sasih jyesta (Mei) dan sasihSada (Juni), ramalanya akan terjadi banyak orang sakit tidak tertolongkan.
  •  Bila sasih kapat (Oktober), sasih kelima (November) Ramalannya sebagai pengundang Dewata. Para Dewa senang tinggal di Bumi. Bumi akan mendapat kerahayuan, segala yang ditanam akan tumbh subur dan berhasil (saphala sarwa tinandur).Raja atau pemimpin bijak atau berbudi rahayu.
  • Bila sasih kenem (Desember),  ramalannya banyak orang akan jatuh sakit dan tak tertolongkan. Untuk menetralisir patut segera dibuatkan upacara persembahan caru selamatan.
Kecuali pengaruh dan ramalan  gempa yang terjadi akan mengarah ke kebaikan, maka gempa yang terjadi dan berakibat buruk pada kehidupan harus segera  dibuatkan apacara caru selamatan. Gempa yang teradi pada bulan-bulan yang berbeda dan berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia akibat marahnya para Dewa.

Untuk jenis upacara selamatan dan ditujukan kepada para Dewa, tergantung dari sasih/bulan terjadinya gempa tersebut.

Dari kajian dan uraian naskah RSB di atas, da beberapa hal yang dapat disimpulkan
  • Naskah RSB adalah naskah yang unik, karena bagian depannya berisi teks RSB dan bagian belakanya berisi teks campuran dari beberapa naskah lain seperti primbon.
  • Bencana alam terjadi karena ulah manusia yang mengotori bumi, para Dewa dan buthakala marah.
  • Ketika bencana alam terjadi, masyarakat balai akan segera melakukan upacara penyucian bumi, permohonan maaf kepada para Dewa dan buthakala sesuai dengan tingkatan upacara baik prayascita, guru piduka, dan labuh gentuh.
  • Untuk mengantisipasi dan menetralisr keseimbangan ketiga dunia (alam Dewa, alam manusia dan aam buthakala)tetap terjaga dengan baik, masyarakat bali melaksanakan upacara penyucian bumi secara rutin, seperti caru kesanga (sehari sebelum Nyepi) setiap tahun, mancawalikrama setiap lima tahun, dan beberapa upacara dengan tingkatan-tingkatan yang lainnya.
Tanda-tanda alam ada yang menunjukkan arah dunia akan baik dan ada pula memberi ramalan dunia akan susah. Bila ramalan dunia akan tertimpa musibah, maka segera diantisipasi/ dinetralisir dengan upacara selamatan.

Disarikan oleh Team

0 komentar:

Posting Komentar