Om Swastiastu Om

.

Kisah Leak 22 - Dijual Sabuk untuk Jadi Bojog (Monyet)


Kisah tentang leak di Bali (baca: Kisah Interaksi dengan Leak) memang banyak dan akan semakin banyak seiring dengan banyaknya jumlah penduduk. Apalagi jaman sekarang, gumi semakin maju masyarakat semakin gandrung dengan sesuatu yang berbau mistik. Semua laris manis. Bercerita tentang leak dahulu dengan leak sekarang tak ada bedanya.Ada suatu kisah terjadi sepuluh tahun yang silam. I Made Keblot diliputi hati resah karena anaknya setiap malam menangis terus menerus tak karuan-karuan. Tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas sudah diajak ke dokter dan puskesmas namun anaknya tidak kunjung berhenti menangis setiap malam. Sebenarnya dia mau ke dukun untuk menanyakan anaknya apakah ada gangguan niskala. Namun sebelum sempat ke balian, tiba-tiba saja ada temannya memberi pinjaman sebuah jimat berupa sabuk rerajahan. Sabuk itu pun digunakannya.

            Sejak memakai sabuk rerajahan itu, anaknya berhenti menangis dan dia pun juga merasa nyaman. Dan dia pun sudah berani meninggalkan anaknya untuk ngumpul-ngumpul bersama teman-temannya. Sabuk itu terus digunakan sepanjang hari, kecuali ketika ia sedang buang air besar. Ketika siang hari memang De Keblot tidak merasakan apa-apa. Pada suatu malam, De Keblot ngumpul dengan temannya sanbil metuakan dan megenjekan di rompok kecil di bawah pohon suar di pinggir kali. Hari pun semakin malam mereka asyik dengan gending-gending genjek Egar Manah yang membuat hati mereka menjadi senang, tak ada kesusahan sedikitpun. Dunia ini seperti di surga rasanya. Tak ada kesusahan, tak direpotkan dengan urusan tetek bengek. Pokoknya enjoy aja. Sambil megenjekan dan menari, ketika itu pula wisaya dari sabuk yang digunakan oleh De Keblot sudah waktunya untuk nadi. Sambil menari, tanpa disadari dan dirasakan, De Keblot berangsur-angsur berubah menjadi bojog.Semua itu tak dilihat dan tak disadari oleh teman-teman mereka yang sedang menari dan menyanyi setengah mabuk. Suatu saat, nyanyian pun selesai dan berhenti sejenak sambil menuangkan tuak untuk untuk diminum secara bergilir. Yang belum kebagian, seperti biasanya menyalakan rokok sambil menikmati lagaran berupa lawar, tum, dan brengkes. Demikian juda dengan De Keblot menyalakan rokoknya. Namun ada salah seorang peserta meganjakan tiba-tiba pandangannya terfokus ke posisi duduk De Keblot. Ia terkaget-kaget, karena De Keblotyang tadinya duduk disana sudah tak ada, dan digantikan oleh sesosok bojog yang sedang klebus-klebus merokok.

            “Ada bojog ngeroko…ada bojof ngeroko” ia berteriak sambil menuding kr arah bojog tersebut. Tiba-tiba mabuk mereka semuanya hilang, lalu berhamburan berlarian sambil tabrak, bahkan ada yang kecebur ke kali karena mabuk. Anehnya lagi Made Kablot juga ikut berlari membuntuti kea rah temannya lari. Dengan demikian temannya itu tambah kenceng larinya karena karena bujug itu ikut berlari ke arahnya. De keblot tak tahu akan dirinya yang berubah rupa menjadi sesosok bojog. Pantesan ia merasa kok semua temannya menuding-nuding dirinya. Karena memang dari tadi De Keblot melihat temannya heboh karena melihat ada bojog, kok justru dia sendiri tak melihat apa-apa. Malah ada temannya yang memukul badannya dengan sang papah,batang dari pelepah daun kelapa. Pelengannya terasa sakit kebet-kebet. Namun teman-temannya tak tahu kalau De Kablot yang secara tak sadar berubah menjadi bojog. Temannya mengira bahwa De Keblot sudah pulang dan tiba-tiba dating bojog jadi-jadianitu. Keesokan harinya berita ini menjadi heboh bahwa ada bojog besar bisa merokok tadi malam.

            Kisah ini berlanjut ketika suatu hari di rumah warga setempat ada kematian. De Keblot hari itu mendapat giliran jaga bersama kawan-kawannya. Sebagaimana biasa tuan rumah menyuguhkan rokok dan kopi. Tak ketinggalan De Keblot mengenakan sabuk yang diberikan oleh temannya untuk menjaga diri dari suatu yang tak diinginkan pada malam hari. Dengan mengenakan sabuk itu, De Keblot sejatinya semakin yakin dan semakin percaya diri un tuk pergi malam-malam kemana saja. De Keblot memang terbiasa duduk di tempat yang agak tersembunyi dan agak remang-remang. Ia biasa ngobrol dengan teman yang ada di sampingnya, namun posisi berbincang-bincang tidak beradu muka, namun sama-sama menghadap ke samping.

`           Pas pada jam tertentu, maka sabuk bojog yang dikenakan oleh De Keblot mulai nadi dan aura sesabukan tersebut menyelimuti badan De Keblot. Aura sabuk tersebut berbentuk bojog, sehingga De Keblot akan terlihat seperti bojog. Karena aura manusianya diselimuti kekuatan aura bojog dari sesabukan yang sedang nadi itu. Dalam keadaan tanpa disadari itu De Keblot dengan I Nyoman Tuna Rungu seperti biasa masih ngobrol. Demikian juga Made Keblot santai menghisap rokok Sampoerna. I Nyoman Tuna Rungu iteh nyatua (asyik ngobrol)dengan lawan bicara di sampingnya. Namun saat itu I Nyoman Tuna Rungu diberitahu oleh I Gede Tanruh bahwa disampingnya ada bojog besar yang sedang merokok. Dan ketika I Nyoman Tuna Rungu menoleh ke samping, ternyata bojog gede berada di sampingnya sambil menghisap rokok. Kontan saja I Nyoman Tuna Rungu berteriak dan lari menjauh, yang membuat masyarakat menjadi kaget juga. Ataskekagetannya tersebut I nyoman Tuna Rungu lari ke luar menuju rurung. I Made Keblot juga ikut berlari bersama dengan I Nyoman Tuna Rungu. I Nyoman Tuna Rung uterus berteriak dan berlari semakin kencang karena dikejar oleh bojog itu. Sedangkan I Made Keblot terus mngikuti kemana I Nyoman Tuna Rungu berlari. Sampai akhirnya I Nyoman Tuna Rungu terjatuh, lalu didekati oleh I Made Keblot. I Nyoman Tuna Rungu terus menunjuk kepada I Made Keblot. Namun ketika dilihat di belakangnya, tak ada siapa-siapa. Demikian juga dengan orang-orang yang kemudian melihat dirinya, semuanya menuding-nuding. I Made Keblot pun heran dengan orang-orang dan heran dengan dirinya. Ada apa dengan diriku…?
            De Keblot pun segera menghindar dari orang-orang dan segera pulang. Dalam perjalanan pulang ia berpikir, kenapa orang-orang menuding dirinya. Tak habis pikir, lalu sampailah ia di rumah. Ia kemudian masuk ke rumah dan kebetulan ia lewat di depan lemarinya yang dilengkapi dengan pintu berisi cermin. Ia kemudian melihat bayangan sosok berekor yang berkelebat di dalam vermin,dan ai menoleh kesana kemari, sepertinya ada orang yang mengikuti. Namun alangkah kagetnya I Made Keblot ketika ia melihat ke dalam cermin, dengan bayangan berupa bojog. Dari mana bojog ini ada? Ketika ia menoleh kekiri,bojog itu juga menoleh ke kiri, ketika menoleh ke kanan bojog itu juga menoleh ke kanan. Ketika I Made Keblot ngejengit, bojog itu juga ngejengit, dan ketika De Keblot mencoba untuk mengangkat kaki, maka bojog itu mangangkat kaki.

            Ia kemudian kaget luar biasa, ternyata De Keblot baru sadar akan dirinya yang berupa bojog. Pantesan orang-orang semua takut, dan semua orang menuding dirinya. Mengapa aku bisa menjadi bojog? Padahal aku tak pernah belajar ngeleak. Dan spontan saja dalam benaknya terlintas bahwa ia sedang mengenakan sabuk yang diberikan oleh temannya. Jangan-jangan ini penyebabnya. Bergegas kemudian ia meraba pinggangnya serta melepaskan sabuk yang ia kenakan. Setelah terlepas, kembali ia bercermin. Barulah kemudian ia melihat wajah aslinya. Dengan demikian ia menyimpulkan bahwa sabuk inilah yang memancarkan aura bojog. Ternyata sabuk yang diberikan oleh temannya itu adalah sabuk pengleakan masih pada tingkatan bojog.

            Lalu ia bertanya, kok bisa anaknya tak menangis lagi dengan sabuk yang ada. Ternyata penyebabnya bukan sabuk itu. Anaknya berhenti menangis karena perutnya sudah nyaman tak lagi kesulitan dalam buang air besar setiap malam.

            Sabuk ini kemudian dikembalikan ke rumah temannya.Temannya saat itu senyum-senyum saja menerima kehadiran I Made Keblot seraya berkata kenken sube taen mekecos dadi bojog? I Made Keblot bercerita tentang pengalamannya mengenakan sabuk itu, dan temannya juga menceritakan mengenai asa-usul sabuk itu yang didapatkannya terlilit di sebuah pohon di pinggir kali. Ternyata kasiatnya adalah bisa menjadi bojog. Mungkin saja ada orang yang punya sabuk itu, lalu ditinggal beol di kali, lalu lupa kalau sabuknya ketinggalan.

            Sambil tersenyum temannya mengatakan bahwa sabuknya akan dijual, bahkan bila perlu akan diiklankan lewat Koran “Dijual Sabuk Bisa Jadi Bojog”. BU (butuh Uang). Tanpa perantara . Garansi lima kali kajeng kliwon. Hahaha…

Sumber: Taksu

0 komentar:

Posting Komentar