Om Swastiastu Om

.

Pengertian Bija

           


Sehabis sembahyang selain nunas tirtha kita juga nunas bija. Dalam kehidupan  beragama sehari-hari, tirtha dan bija seakan tidak bisa dilepaskan. Namun rupanya belum banyak umat Hindu yang tahu tentang bija.

            Bija atau wija di dalam bahasa Sansekerta  disebut gandaksata yang berasal dari kata ganda dan aksata yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi.

            Sesuai pengertiannya, maka bija sedapatnya dibuat dari biji beras yang galih (utuh atau tidak patah). Untuk membuat bau wangi, pada saat mencuci bahan bija hendaknya digunakan air bersih yang sudah dicampur dengan bunga atau bisa juga air cendana. Bila hendak membuat bija kuning dapat dicampur dengan air kunir (kunyit). Bija putih dan kuning esensinya tetap sama.

            Bija adalah lambang Kumara yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Yang dimaksud dengan Kumara tidak lain dari benih ke-Siwa-an yang bersemayam di dalam diri setiap orang. Jadi mabija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih ke-Siwa-an atau sifat-sifat kedewaan (dalam bahasa lain disebut Daiwi Sampad) dalam diri orang, sekaligus menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan atau Asuri Sampad.

            Sejalan dengan fungsi dalam filosofinya, dan seperti juga dipahami bahwa kedua sifst-sifat manusia baik yang Daiwi Sampad maupun Asuri Sampad bersemayam di dalam pikiran dan lubuk hati manusia. Karena itu agar benih- benih ke-Siwa-an atau sifat-sifat Daiwi Sampad dapat tumbuh dan berkembang dalam pikiran dan hati manusia sekalian menghilangkan pengaruh Asuri Sampad, maka penggunaan bija dilakukan dengan menempatkan pada dua tempat penting yaitu pikiran dan hati. Caranya dengan menempelkan sejumlah bija (minimal 3 biji) pada cudamani (mata ketiga) di antara kedua kening, dan ditelan untuk merasuk dalam-dalam menyentuh hati.


            Satu hal yang patut dikemukakan, bahwa ada satu istilah yang acapkali dikelirukan dengan bija, yaitu bhasma. Kata bhasma yang lantaran dalam pengucapannya berunsurkan kata “bhas” sering ditafsir sebagai “baas”dalam bahasa Bali. Padahal bhasma itu bukan terbuat dari beras, melainkan dari serbuk cendana yang didapat melalui gasekan pada dulang tanah liat, lalu diendapkan. Bhasma lazim digunakan oleh para Pandita.            

Sumber: Menjawab pertanyaan umat, foto courtesy: peradah semarang

2 komentar:

  1. Informasi yang berguna bagi saya, artikel ini bisa buat referensi tentang pengertian benih saya! semoga manfaat untuk petani Indonesia..

    BalasHapus
  2. terima kasih sudah berkunjung

    BalasHapus