Om Swastiastu Om

.

Mekutu (Mencari Kutu) di Malam Hari, Kenapa Tidak Boleh?



        Sangat banyak pantangan sebagai sebuah kearifan lokal yang diwariskan para tetua kepada anak-anak Bali. Ambil saja contoh tidak boleh menduduki bantal, tak boleh menaruh sapu lidi dalam keadaan berdiri, tak boleh keramas pada hari kajeng kliwon, tak boleh makan dalam posisi berdiri, tak boleh duduk di  bagian pojok dipan, tak boleh menyapu pada malam hari, tak boleh membeli jarum pada malam hari, dan banyak lagi. Semua pantangan itu sejatinya memiliki pesan dan makna tersirat yang tak bisa disampaikan secara terbuka oleh tetua. Dan cendrung itu dimitoskan, dengan harapan untuk lebih memberikan nilai keyakinan serta wibawa terhadap petuah tersebut. Entah itu mitosnya magis, dll. Yang jelas, semua itu dipercaya secara turun temurun sampai sekarang. 

        Walaupun saat sekarang dengan kecerdasan berpikir para generasi muda, sekaligus bisa menganalisa maksud yang tersirat di dalamnya. Namun tetap saja semua itu menjadi misteri dan sampai sekarang masih dianggap sebagai petuah dan anjuran yang bernilai magis, serta memiliki kekuatan untuk menggerakkan manusia untuk mematuhinya. Artinya dengan dimitoskan demikian, semua larangan tersebut seolah memiliki taksu, yang kemudian bisa ditaati sampai sekarang. Walaupun ada beberapa dari mereka yang melanggarnya.

             Salah satu dari larangan yang belum disebutkan di atas adalah tentang larangan mekutu pada malam hari. Apa makna dari larangan ini?

            Jaman dahulu yang belum ada penerangan memadai, maka larangan ini sangat masuk akal. Sebab pada malam hari tak mungkin akan mencari kutu, sebab tak akan kelihatan. Kutu yang kecil dan berada di rimbunan helai rambut tak akan mungkin dapat dilihat pada malam hari dengan penerangan lampu minyak. Artinya bahwa mencari kutu pada malam hari pada jaman dahulu sangatlah mubasir. Namun bagaiman dengaan jaman sekarang? Dengan kemajuan jaman serta dengan system kelistrikan yang sudah memadai, memungkinkan manusia untuk mencari kutu pada malam hari. Dengan penerangan yang cukup, kutu akan dapat dilacak dan dilihat di rimbunan rambut pada malam hari. Namun mengapa manusia tak mau mencari kutu pada malam hari, walaupun sejatinya bisa dengan menggunakan lampu yang memadai.

            Nah disinilah kehebatan dari petuah leluhur. Artinya secara logika dan akal sehat munglin bisa diilmiahkan, namun ada alasan-alasan non ilmiah yang mungkin tersirat di dalamnya. Apa kira-kira?

            Ternyata benar, ada alasan non teknis kenapa manusia tak mau mekutu malam hari. Beberapa dari mereka mengatakan adalah alasan magis yang menyertai sikap mekutu malam hari. Analisa non ilmiahnya begini : ketika mekutu, seseorang pastilah akan mengurai rambutnya yang panjang kemudian ditelisik untuk mencari kutunya. Dalam keadaan demikian, disamakan atau dianalogikan dengan manusia yang sedang melajah atau belajar ngeleak, dengan posisi rambut megambahan atau terurai. Hal ini akan menjadi suatu hal yang mengundang perasaan apabila mengurai rambut dilakukan pada malam hari apalagi menjelang rerahinan. Jadi dengan menyaksikan orang mekutu pada malam hari, maka asosiasi masyarakat bahwa yang bersangkutan bisa ngeleak.

            Lebih lanjut ada yang menjelaskan bahwa mekutu malam hari adalah sesuatu yang aneh. Sebab kebanyakan orang mekutu pada siang hari dengan harapan lebih terang dan lebih gampang untuk mencari kutunya. Kenapa orang mekutu malam hari? Apalagi melakukannya dengan sering dan lebih senang pada malam hari. Disini sepertinya pada orang tersebut terdapat sebuah naluri tertentu yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan. Naluri apakah itu? Bisa jadi naluri itu adalah naluri bojog atau monyet yang setiap saat berkumpul dengan keluarganya selalu mencari kutu. Jangan-jangan…mereka yang suka mencari kutu sedang dihinggapi oleh naluri bojog. Naluri itu bisa didapat dari pelajaran atau tingkatan pelajaran ngeleak yang masih pada tingkat bojog, sehingga sabuknya yang hidup akan senantiasa memancarkan aura serta keinginan untuk meniru sifat bojog itu sendiri, salah satunya adalah mekutu.


            Nah atas alasan tersebut di atas maka para tetua menyarankan untuk tidak mekutu malam hari , agar tak disangka bisa ngeleak. Dan tetua pun tak pernah sampai sekarang menjelaskan apa maksud dari pernyataan tersebut. Artinya tak perlu banyak bertanya, laksanakan saja. Dengan mengikuti hal tersebut maka disana aka nada kebaikan dan kemulyaan, dan ketika melanggar maka di sana akan ada cemohan, akan ada celaka, dan sebagainya.

Sumber: Taksu Bali

1 komentar:

  1. Hal yang tidak pernah terbayankan kini jadi kenyataan kepada keluargaku,,,kusus untuk AKI SANTOJOYO kami ucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya kepada aki. karena berkat bantuannya alhamdulillah keluarga kami bisa lepas dari hutang dan masalah, karena nomor “GAIB” untuk pasang togel, hasil ritual AKI SANTOJOYO memang benar-bener merubah nasib kami hanya sekejap,dan disitulah aku berkesempatan kumpulkan uang untuk buka usaha kembali,karena rumah juga sudah disita bank,,warung makan juga sudah bangkrut,,tapi itu semua aku masih tetap bertahan hidup dengan anak istriku,,walau cuma ngontrak tapi aku tetap bersabar dan akhirnya AKI SANTOJOYO lah yang bisa merubah nasib kami..maka dari itu AKI SANTOJOYO orang paling bersejarah di keluargaku…!!!jadi kepada teman-teman yang di lilit hutang dan ingin merubah nasib seperti saya silahkan hub AKI SANTOJOYO di nomor: 085211599919 atau silahkan KLIK DISINI dan dengan penuh harapan yakin dan percaya insya allah apa yang anda ingingkan pasti tercapai.

    BalasHapus