Om Swastiastu Om

.

Dalem Balingkang

Courtesy: Balitravelphotograph

Dahulu entah beberapa tahun yang lalu, pulau Bali belum dihuni seorang manusia pun. Pulau Bali masih merupakan hutan belantara, serta amat angker kelihatannya. Tersebutlah waktu itu di pulau Jawa ada seoarang Resi Markandya yang bersemayam di Gunung Raung. Beliau adalah seorang pendeta yang telah terkenal dan ahli mengenai tata keagamaan serta ilmu-ilmu lainnya. Pada waktu beliau sedang bertapa di atas puncak gunung Raung, memusatkan pikiran menghadap kea rah sebelah timur, suasana terang benderang dengan cahaya yang gemerlapan. Oleh karena perasaan beliau telah terketuk ingin mengetahui dari mana serta sinar apa yang muncul dengan gemerlap tersebut, maka beliau pun bersiap-siap hendak mencari sinar itu.

            Pada hari yang telah ditetapkan dengan diiringi 800 prajurit yang tegap-tegap, berangkatlah beliau meninggalkan Gunung Raung, kearah timur menuju sinar yang beliau lihat. Perjalanan rombongan beliau cukup berat dan jauh, namun demikian sedikit pun mereka tidak merasa letih, lesu yang dialaminya. Akhirnya tidak lama kemudian merekapun tiba pada salah satu desa yang sekarang dikenal dengan desa Bantiran di wilayah pupuan. Dari desa ini tampak pula sinar benderang yang mereka cari masih jauh di ufuk timur. Mereka berhenti sejenak melepaskan lelah karena jauhnya perjalanan yang ditempuh.

            Akhirnya ketika segala keletihan dirasakan telah pulih kembali, dengan penuh semangat mereka melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian merekapun sampai di hutan belantara yang mendirikan bulu roma dengan keangkerannya. Suatu keanehan telah terjadi sebab ketika mereka menghadap ke timur untuk mencari sinar itu, sinar tersebut tidak ada lagi.Dan pada arah sebelah timur gelap gulita. Pada waktu itu beliau berkata dalam hatinya “Benarkah dari hutan ini datangnya sinar yang aku cari, pastilah tempat inibersih dan suci”. Itulah sebabnya timbul hasrat resi Markandya untuk mendirika desa di tempat ini. Beliau memerintahkan seluruh rakyatnya untuk merombak pohon yang ada di hutan itu. Tetapi belum beberapa potong dapat ditebangnya, tiba-tiba terjadi petaka yang menimpa rakyat beliau. Banyak diantara rakyatnya menggigil, menggeliat-geliat disamping menemui ajalnya. Ada pun yang menyebabkan kejadian di atas tidak lain karena di hutan tersebut dihuni oleh para setan, jin serta mahluk halus lainnya. Para penghuni ini tidak tega melihat hutan tempat tinggalnya dirabas manusia. Menyadari kejadian yang menimpa rakyatnya lalu Resi Markandya berkata “Hai rakyatku semua, berhentilah membabat hutan, sungguh malang nasib kita. Korban telah bergelimpangan. Mari kita kembali ke Jawa, memohon bantuan agar tercapai segala kehendak kita untuk mendirikan desa di hutan ini”. Ketika mendengar sabda Resi Markandya, merekapun menghentikan merabas hutansambil berkemas ke Gunung Raung untuk menjemput bala bantuan dari Jawa. Di Jawa telah dipersiapkan bala bantuan yang akan merampungkan tugas-tugas di Bali kelak. Tatkala hari yang dicanagkan tiba, Resi Markandya beserta rombongan kembali ke Bali untuk melanjutkan rencananya. Namun sebelum rombongan mulai merabas hutan tersebut beliau mamusatkan pikirannya, mohon perlindungan semoga rencana beliau dapat terlaksana tanpa hambatan. Beliau menghaturka lelabaan (sajian khusus untuk para bhuta) agar para bhuta tidak mengganggu para rakyatnya. Berkat ketekunan dan perlindungan Hyang Kuasa, hutan tersebut berhasil dirabas dengan selamat. Oleh karena tempat ini pada mulanya berasal dari hutan dengan pepohonan yang amat besar maka beliau menamakan tempat ini desa Taro yang berasal dari kata Taro (kayu).

            Sedangkan areal hutannya disebut desa Tegallalang yang berarti bahwa dari tempat inilah asal pancaran sinar terang yang dilihat beliau pada mulanya. Di desa Taro Resi Markandya disertai rakyatnya dengan tekun melaksanakan tapa semadi. Rakyat yang bertempat tinggal di sebelah selatan bertapa menghadap kesebuah batu besar. Sedangkan rakyat yang berada di sebelah utara bertapa di bawah pohon kayu yang rindang.

            Entah beberapa tahun berlalu sepeniggal Resi Markandya, rakyat merasakan betapa sunyi ditinggalkan Maharesi. Dengan perasaan terharubanyak diantara mereka berpindah, mencari tempat menurut kata hati mereka masing-masing. Ada yang menuju ke Besakih, Batur, Lempuyang, serta ada yang menetap di Panarajon.

            Kini marilah kita ceritakan rakyat beliau yang menetap di Panarajon. Dijelaskan bahwa oleh karena telah lama menetap disana namun belum juga ada pemuka ataupun seseorang raja yang dapat dijadikan pemimpinnya. Mereka sepakat untuk memohon kepada Ida Sanghyang Widhi agar ada seseorang yang dinobatkan sebagai pimpinan dan pengayom rakyat. Dengan tekad bulat dan keluar dari hati nuraninya. Diutuslah beberapa penduduk menghadap ke Jambudwipa memohon kehadapan Ida Betara agar terkabul segala kehendaknya. Paduka Ida Betara tidaklah menolak permohonan rakyat Bali yang memohon dihadapannya. Beliau berkenan memenuhi permintaan mereka dan oleh Paduka Betara ditunjuklah putra beliau yang bernama Jayapangus agar turun ke Bali untuk mengayomi rakyat Panerajon.

            Jayapangus memerintah di Panerajon dengan bijaksana. Seluruh rakyat bakti kepada beliau sebab baginda dalam perintahnya selalu bersikap adil serta mengutamakan kepentingan rakyat demi kesejahteraan Negara yang dipimpinnya. Tersebutlah pada suatu hari seorang Tionghoa bernama I Subandar berasal dari Cina, pemeluk agama Bhuda yang taat, berkelana di kerajaan Panarajon. Tionghoa ini mengembara disertai seorang putrinya yang bernama Kang Cing We. Putri Cina ini amat cantik. Kulitnya kuning langsat, tubuhnya semampai serta jalannya menggoyahkan hati yang melihatnya. I Subandar menjalankan tipu dayanya agar mereka dipekenankan menetap disana. Dengan segala upayanya mereka berusaha menarik perhatian Jayapangus. I Subandar berhasrat agar raja memperistri putri tunggalnya. Akhirnya oleh karena sehari-hari paduka raja bergaul dengan putrid Cina ini, bagindapun terpengaruh oleh kecantikan putri I Subandar. Hati baginda runtuh terkena panah asmara Kang Cing We. Baginda tidak dapat melepaskan Kang Cing We dari kalbunya. Hasrat untuk mengawininya makin menyala, gejolak hatinya tidak dapat dibendung lagi (baca: Kisah ketemu Barong Landung)

            Melihat kejadian ini Mpu Ciwagandu penasehat baginda tidak tega hatinya dan memberanikan diri menghadap paduka raja seraya berkata “wahai paduka junjungan hamba, apakah sebabnya paduka bersikap demikian hendak memperistri putri Cina itu? Tidakkah paduka menyadari bahwa paduka adalah seorang raja agung yang bertanggung jawab terhadap negara beserta seluruh rakyat Panerajon? Paduka adalah seorang penganut Hindu yang saleh serta menjadi panutan sekalian. Tidakkah paduka mengetahui bahwa I Subandar beserta putrinya penganut Bhuda yang taat pula? Bagaimana jadinya pandangan rakyat terhadap paduka. Apabila paduka tidak keberatan urungkanlah niat baginda. Janganlah paduka terpancing tipu daya Subandar Cina tersebut. Ketika mendengar ucapan Mpu Ciwagandu demikian, muka baginda merah padam, tersinggung serta alisnya mengkerut menahan murkanya sambil bersabda. “Hai Mpu Ciwagandu, benar segala tutur katamu itu. Aku telah mempertimbangkan segala keputusanku sebijaksana mungkin. Hatiku telah bersatu dengannya. Tidak kuasa aku berpisah dengannya. Kendati bagaimanapun ayahanda kelak akan aku hadapi dengan segala kekuatan yang ada pada diriku. Aku tidak akan merubah keputusanku semula. Janganlah Mpu menghalangi maksudku ini.

            Mendengar jawaban paduka begitu Mpu Ciwagandu sangat kesal dan kecewa, seba apa yang disampaikan kepadanya tidak diindahkan paduka raja. Mpu Ciwagandu dengan perasaan luluh mhon diri serta tidak berkenan lagi sebagai penasihat kerajaan Panarajon. Raja Jayapangus kemudian melangsungkan perkawinannya sesuai dengan tata cara yang berlaku pada masa itu.

            Oleh karena sudah terpenuhi kehendak I Subandar dan anaknya telah diperistri Raja Jayapangus, I Subandar kemudian memberikan bekal sejumlah dua kepeng kepada anaknya serta memohon di hadapan baginda raja. “ Wahai paduka raja junjungan Negara Panarajon yang mat hamba hormati, kini paduka telah berkenan menyalamatkan dan menjadikan anak hamba permaisuri yang selalu akan mendampingi tuanku. Semoga tuanku tetap berkenan memenuhi permintaan hamba. Hamba mohon agar tuanku menyampaikan kepada seluruh rakyat yang ada di bawah kekuasaan tuan, mulai saat ini sampai seterusnya apabila ada bayi yang lahir ataupun meninggal harus mempergunakan uang kepeng pada upacara yang dilaksanakan sebagai pertanda kasih tuanku kepada kami”. Paduka raja Jayapangus dengan bangga dan patuh memenuhi permintaan Subandar Cina tersebut. Konon itulah sebabnya sampai saat ini pada upacara keagamaan di Bali, baik upacara pitra yadnya, dewa padnya ataupun uoacara lainnya, uang kepeng tidak pernah dilupakan sebagai pelengkap sajian yang akan dipersembahkan.

            Diceritakan, Mpu Ciwagandu amat murka terhadap tindakan Jayapangus yang tidak berhasil dicegahnya. Mpu Ciwagandu kemudian melakukan tapa yoga dengan tekunnya memohon kehadapan para Dewata agar turun hujan lebat selama satu bulan tujuh hari yang dapat menghancurkan kerajaan Jayapangus. Berkat ketekunannya dan keahlian beliau, maka benarlah tidak berapa lama akhirnya turun hujan disertai halilintar. Air bah melanda Negara Panerajon sehingga porak poranda seluruh isi istana. Hancur berantakan tidak dapat dibangun lagi. Rakyat beliau kacau balau tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghindari kejadian diatas. Melihat kejadian ini Jayapangus amatlah sedih sehingga baginda dengan diiringi rakyatnya mengungsi ke daerah yang bernama Jong Les. Hutan lebat di Jong Les dirabas untuk dijadikan puri.

            Selanjutnya setelah Raja Jayapangus berhasil mendirikan istana barunya, istana tersebut diberi nama “Balingkang”. Adapun sebabnya disebut demikian oleh karena Jayapangus adalah seorang “Bali” sedangkan kata “Kang” diambil dari singkatan nama permaisurinya (Kang Cing We). Nama ini juga merupakan perlambang betapa besar cinta kasih Jayapangus (Dalem Bali) kepada isterinya. Mengingat musibah yang telah menimpa kerajaan baginda di Panerajon dahulu, maka untuk menjaga keamanan Negara balingkang serta menghindari kemungkinan serangan musuh dari luar, baginda menempatkan prajurit yang tangguh pada keempat penjuru batas wilayah kerajaannya. Itulah sebabnya apabila kita pergi kekecamatan Kintamani kita akan menemukan sejenis tari- tarian tradisional yaitu tarian baris pelengkap upacara antara lain Katekok Jago, Baris Goak, Baris Jangkang Karang dan Baris Cina yang merupakan simbolis prajurit Jayapangus di masa lalu. Demikian pula apabila kita pergi ke pura Balingkang, tidak jauh dari pura itu kita akan menemukan beberapa desa antara lain Si-A-Kin, Ping-gan dan sebagainya.


(Ini adalah cerita yang diceritakan kembali secara turun temurun dari mulut ke mulut. Dalam penceritaannya mungkin saja ada sedikit variasi atau perbedaan dengan rangkaian sejarah terutama menyangkut nama, tempat, tahun, serta peristiwa)

Sumber: Taksu Bali

1 komentar:

  1. Hujan badai selama 1 bulan 7 hari dan rakyat diungsikan ke desa Ping An ( Selamat dalam bhw Mandarin ) dan sekarang desa tsb. bernama Desa Pinggan.( Selasa, 12/07/2016 )

    BalasHapus