Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Kisah Legenda Calonarang



Petilasan calonarang yang hidup saat zaman Raja Airlangga masih bisa ditemui hingga saat ini. Calonarang ini diceritakan sebagai sebagai seorang rondo (janda) yang menguasai ilmu hitam dan penganut aliran durga yang sakti dan jahat. Ia dijuluki “Rondo Naten Girah” (janda yang tinggal di Girah). Karena sangat jahat, warga menamainya Calonarang. Ia juga mempunyai banyak murid, yang semuanya adalah perempuan (baca: Kisah Interaksi dengan Leak).

            Kemarahan Calonarang menyebebkan grubug (wabah) di kerajaan Airlangga. Diceritakan rakyat Kerajaan Kediri disiang harinya yang ramai seperti biasanya. Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan seka gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.

            Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada  hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.

            Ketika penduduk rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajan Kediri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba- tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersahutan seketika (baca: Kisah Leak Camre Berag). Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.

            Endih atau api jadi-jadian yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leakyang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah dibawah bberubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan jalan desa.

            Para leak di malam itu telah menyebarkan penyakit grubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. Setelah beberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan danketakutan, akhirnya para prajuru desa atau pengurus desa, para pengelingsir atau tetua dan para pemangku mengadakan pertemuan di salah satu balai banjar di desa Girah. Pada intinya mereka membicarakan mangenai masalah atay penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir Kerajan Kediri. Raja Kediri setelah mengetahui kejadian ini menjadi sangat murka.

            Diceritakan Ki Patih Madri sebagai utusan raja telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan. Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.

            Karena kesaktian Calonarang maka serangan dari pihak Kediri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calonarang dengan mudah mengalahkannya. Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Raja Kediri sangat panic sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerjaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang situgaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang.

            Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadahdi tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik janda sakti itu.

            Empu Bahula berhasil mencuri buku lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik-teknik pengeleakan. Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memenfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura-pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.

            Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang sangat luas yang ada diKerajan Kediri. Pertarungan pun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-murid dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu pasukan Balayuda Kediri, di Setra Ganda Mayu.


            Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam  mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah. Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kediri. Calonarang tewas ketika ia berubah wujud menjadi garuda (Baca: Kisah Leak Garuda Anglayang) dan terkena bidikan senjata pusaka Jaga Satru oleh Empu Bharadah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang. Ratu Leak Calonarang yang sakti mandra guna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Jaga Satru Empu Bharadah. Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi.

Dari berbagai sumber (diantaranya baliaga)

Bebai (Bebahi) ->Panak Leak



Bebahi atau bebai adalah penyakit yang dibuat dari raga janin dan Kanda Pat (Kanda Empat), empat saudara janin, yang dapat dikirim masuk ke dalam tubuh seseorang yang ingin dibencanai sehingga jatuh sakit. Orang yang kena bebahi disebut bebainan (baca: Kisah Interaksi dengan Leak).

            Menurut Usada Sasah Bebai tanda-tanda orang bebainan ialah orang merasakan sakit di daerah siksikan (perut diatas kemaluan, di bawah pusar). Terasa seperti ada benda keras sebesar pisang menyumbat di hulu hati.Akhirnya si sakit jatuh pingsan. Ada pula yang berasal dari nyeri, diikuti kesemutan,gelisah dan terasa sakit seperti ditusuk-tusuk di seluruh tubuh serta badan terasa bengkak. Bila sakitnya sampai ke kepala, si sakit seperti orang gila. Jika sakitnya menjalar ke pergelangan tangan, maka penderita akan kejang-kejang dan mengigau. Jika sakitnya di lidah, maka penderita akan berbicara tak karuan-karuan. Sering pula menjerit-jerit dan menangis sejadi-jadinya. Kalau penderita ini dipegang, dia akan meronta-ronta dan mengeluarkan tenaga yang luar biasa, melebihi kekuatan orang biasa.

            Para remaja yang paling sering terkena penyakit bebahi ini, terutama putri, menjelang kotor kain atau menstruasi (baca: Cara Menghadapi Kesurupan Massal). Dapat pula wanita yang baru kawin atau orang-orang berada dalam keadaan lemah fisik dan mentalnya.

            Untuk dapat memiliki bebahi ada beberapa cara. Tetapi pada prinsipnya adalah sama, yakni mempergunakan janin yang digugurkan sebagai sarana. Janin ini terjadi akibat persatuandari Kamajaya (kamapetak = mani laki-laki)dengan kama ratih (kamabang = sel telur) di dalam kundha kacupu manik (uterus) di dalam perut ibu. Setelah kedua kama ini bersatu maka terjadilah Sang Kamareka (janin) dan empat penjaga untuk melindungi dan menghidupi Sang Kamareka. Keempat pelindung tersebut terdiri atas yeh nyom (air ketuban), getih (darah), lamadatau lamas (kulit tipis berminyak yang membungkus janin) dan ari-ari (placenta).Keempat alat inilah yang menjaga dan memelihara kelangsungan hidup janin selama berada di dalam uterus ibu. Tanpa ada keempat sarana ini, maka janin tidak akan dapat berkembang dengan sempurna atau mati. Keempatnya disebut juga dengan catur nyama , empat saudara kandung sehidup semati dalam perjalanan hidup selama di dalam garba ibu maupun setelah keluar dari kandungan ibu. Hidup di marcapada, catur nyama ini sering pula dijuluki sebagai Sang Anggapati utntuk yeh nyom, Sang Prajapati, untuk getih, Sang Banaspati untuk ari-ari dan Sang Banaspati Raja untuk lamad. Keempatnya ini disebut Kanda Pat. Setelah janin lahir atau terjadi keguguran, maka Kanda Pat ini ikut pula keluar dari kandungan ibu dan masing-masing mencari tempat sendiri-sendiri untuk hidup dan meneruskan tugasnya di dunia menjaga dan mengemban saudaranya si Rare Kumara, bayi kecil mungil. Menurut Usada Tatenger Beling, yeh nyom dianggap saudara tertua, karena dialah yang lahir paling dahulu, kemudian disusul oleh getih, lalu bayi dan lamas, terakhir yang paling bungsu lahir adalah ari-ari. Sang Anggapati yang berasal dari yeh nyom berdiam di angga sarira mahluk hidup (buana agung) dan di kulit (buana alit).Kawisesan Anggapati ini adalah anglukat sarwa letehing sarira, membersihkan semua kejahatan atau kekotoran badan. Sedangkan Sang Prajapati yang berasal dari darah (buana alit). Prajapati ini mempunyai kekuatan menolak segala mara bahaya dan keletehan. Sang Banaspati Raja menempati pohon kayu yang besar (buana agung) dan di wat atau urat (bhuna alit). Kawisesan dari Banaspati Raja ini yang berasal dari lamas adalah ngalahang kesaktian sarwa sastra muang mantra. Dialah taksu (kekuatan magis) dari Balian, Dalang dan Sastrawan. Dan yang terbungsu Sang Banaspati yang berasal dari ari-ari berada di sungai, di batu yang besar (buana agung) dan di daging (buana alit). Dia inilah yang menguasai pekarangan, pabianan. Dia mampu menghilangkan desti, pepasangan dan segala macam penyakit. Karena kawisesan Kanda Pat ini maka badan manusia terhindar dari mara bahaya. Keempatnya harus selalu diingat dan diberi sajen pada waktu-waktu tertentu. Bila melupakan mereka, maka bencana akan menimpa orang yang mempunyai kanda pat tersebut. Beberapa Balian mengatakan bahwa catur nyama itu dapat menjadi Kanda Pat Bhuta bila dia marah dan menjadi Kanda Pat Dewa atau Kanda Pat Sari kalau mereka baik. Itulah sebabnya manusia harus selalu berusaha untuk menjaga agar catur nyama itu menjadi Kanda Pat Sari sehingga mereka akan tetap menjaga dirinya, serta terhindar dari gangguan penyakit.

            Caranya ialah dengan senantiasa ingat padanya dan menghaturkan sajen sebagai perwujudan rasa terima kasih atas segala bantuannya baik selama di dalam kandungan maupun setelah berada di luar kandungan. Sebenarnya catur nyama itu ada adalah berkat kasih sayang dari Hyang Widhi. Dan beliau pula yang menugaskan kepada Kanda Pat itu untuk menjaga ciptaanNya berupa Rare Kumara agar terus hidup dan berkembang menjadi manusia sakti yang luhur budi.

            Untuk membuat bebahi atau bebai yang dipergunakan ialah janin atau gugur dari kandungan setelah berumur 3 bulan. Para Balian percaya dan yakin bahwa kamareka baru menjadi Rare Kumara setelah berusia 3 bulan. Pada usia inilah terbentuk catur nyama, yang berupa yeh nyom (air ketuban), darah, lamas dan ari-ari atau placenta. Bayi yang berumur 3 bulan ini besarnya seujung hulu keris, dan sudah berwujud manusia, telah tampak kepala, badan sebagai manusia. Bayi keguguran ini disimpan dalam peti kecil (sekarang disimpan di dalam stoples) dan dibuatkan sesajen sesuai dengan urutan upakara manusia yadnya, mulai dari upacara kelahiran. Setelah 3 hari dianggap tali pusar sudah putus, maka dibuatkan upacara kepus udel. Agar bayi tidak berbau, maka dikeringkan dibawah sinar matahari. Setelah kering dimasukkan lagi ke dalam tempat penyimpanan. Pada hari ke-42 yang di Bali disebut abulan pitung dina, dibuatkan upacara tutug kambuhan. Dan setelah 105 hari, diadakan upacara tiga bulan, kemudian pada umur bayi 210 hari dibuatkan upacara otonan. Upacara otonan ini terus dilakukan setiap hari ke-210 merupakan ulang tahun bagi bayi tersebut. Semua pelaksanaan baik upacara maupun keberadaan bayi tersebut harus dirahasiakan. JIka rahasia ini dilanggar, maka akan dikutuk oleh Bhatara Dalem. Kekuatan kemanjurannya hilang malahan akan menjadi mala petaka bagi dirinya.

            Pada hari otonan 1, bayi itu pada malam hari dibawa ke kuburan, biasanya pada hari Kajeng Kliwon. Disini dimohonkan kepada Bhatari Durga agar diberikan kekuatan pada bayi itu, sehingga menjadi sakti mandraguna. Jika permohonannya dipenuhi, maka bayi itu memperlihatkan tandfa-tanda kehidupan. Semenjak itu dia dianggap telah menjadi manusia hidup, sehingga disebut Rare Wong. Sejak itu bayi telah menjadi bebahi dan harus dihidangkan sajen setiap hari tertentu, seperti purnama tilem, hari kajeng kliwon dan pada setiap hari otonannya. Bebahi ini sewaktu-waktu telah siap dikirim oleh pemiliknya untuk membencanai orang. Tetapi sebelum disuruh membencanai orang, terlebih dahulu dihidangkan sajen berupa nasi panca warna disertai lauk daging ayam hitam. Bersama catur nyama Kanda Pat Bhuta mereka akan memasuki badan orang yang akan dibencanai. Bila Catur Nyama Kanda Pat Dewa atau Kanda Pat Sari dari orang yang dibencanai tidak mampu melawan Kanda Pat Bhuta ini maka orang tersebut akan terkena penyakit bebahi. Orang itu menjadi bebahinan . Orangnya menangis dan selalu berteriak-teriak tak ada ujung pangkalnya. Sering pula mengamuk seperti orang gila. Balian penengen yang sakti akan mampu mengusir bebahi ini dari dalam tubuh si sakit. Dan bebahi ini akan mengucapkan kata-kata melalui badan orang yang sakit, bahwa dia takut dan akan pergi dari badan si sakit, serta tidak akan kembali lagi ke badan itu. Kadang-kadang bebahi menyebutkan pula siapa yang menyuruh memasuki badan orang itu. Setelah diberi mantra seperlunya, maka si sakit akan sadar dam pulih seperti semula, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa dalam tubuhnya, kecuali rasa lelah dan lemas. Dia tidak ingat apa yang telah diperbuat dan dikatakan sewaktu kemasukan bebahi. Dia tidak sadar akan dirinya.

(Sumber :Leak Ngamah Leak)                

Dalem Balingkang

Courtesy: Balitravelphotograph

Dahulu entah beberapa tahun yang lalu, pulau Bali belum dihuni seorang manusia pun. Pulau Bali masih merupakan hutan belantara, serta amat angker kelihatannya. Tersebutlah waktu itu di pulau Jawa ada seoarang Resi Markandya yang bersemayam di Gunung Raung. Beliau adalah seorang pendeta yang telah terkenal dan ahli mengenai tata keagamaan serta ilmu-ilmu lainnya. Pada waktu beliau sedang bertapa di atas puncak gunung Raung, memusatkan pikiran menghadap kea rah sebelah timur, suasana terang benderang dengan cahaya yang gemerlapan. Oleh karena perasaan beliau telah terketuk ingin mengetahui dari mana serta sinar apa yang muncul dengan gemerlap tersebut, maka beliau pun bersiap-siap hendak mencari sinar itu.

            Pada hari yang telah ditetapkan dengan diiringi 800 prajurit yang tegap-tegap, berangkatlah beliau meninggalkan Gunung Raung, kearah timur menuju sinar yang beliau lihat. Perjalanan rombongan beliau cukup berat dan jauh, namun demikian sedikit pun mereka tidak merasa letih, lesu yang dialaminya. Akhirnya tidak lama kemudian merekapun tiba pada salah satu desa yang sekarang dikenal dengan desa Bantiran di wilayah pupuan. Dari desa ini tampak pula sinar benderang yang mereka cari masih jauh di ufuk timur. Mereka berhenti sejenak melepaskan lelah karena jauhnya perjalanan yang ditempuh.

            Akhirnya ketika segala keletihan dirasakan telah pulih kembali, dengan penuh semangat mereka melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian merekapun sampai di hutan belantara yang mendirikan bulu roma dengan keangkerannya. Suatu keanehan telah terjadi sebab ketika mereka menghadap ke timur untuk mencari sinar itu, sinar tersebut tidak ada lagi.Dan pada arah sebelah timur gelap gulita. Pada waktu itu beliau berkata dalam hatinya “Benarkah dari hutan ini datangnya sinar yang aku cari, pastilah tempat inibersih dan suci”. Itulah sebabnya timbul hasrat resi Markandya untuk mendirika desa di tempat ini. Beliau memerintahkan seluruh rakyatnya untuk merombak pohon yang ada di hutan itu. Tetapi belum beberapa potong dapat ditebangnya, tiba-tiba terjadi petaka yang menimpa rakyat beliau. Banyak diantara rakyatnya menggigil, menggeliat-geliat disamping menemui ajalnya. Ada pun yang menyebabkan kejadian di atas tidak lain karena di hutan tersebut dihuni oleh para setan, jin serta mahluk halus lainnya. Para penghuni ini tidak tega melihat hutan tempat tinggalnya dirabas manusia. Menyadari kejadian yang menimpa rakyatnya lalu Resi Markandya berkata “Hai rakyatku semua, berhentilah membabat hutan, sungguh malang nasib kita. Korban telah bergelimpangan. Mari kita kembali ke Jawa, memohon bantuan agar tercapai segala kehendak kita untuk mendirikan desa di hutan ini”. Ketika mendengar sabda Resi Markandya, merekapun menghentikan merabas hutansambil berkemas ke Gunung Raung untuk menjemput bala bantuan dari Jawa. Di Jawa telah dipersiapkan bala bantuan yang akan merampungkan tugas-tugas di Bali kelak. Tatkala hari yang dicanagkan tiba, Resi Markandya beserta rombongan kembali ke Bali untuk melanjutkan rencananya. Namun sebelum rombongan mulai merabas hutan tersebut beliau mamusatkan pikirannya, mohon perlindungan semoga rencana beliau dapat terlaksana tanpa hambatan. Beliau menghaturka lelabaan (sajian khusus untuk para bhuta) agar para bhuta tidak mengganggu para rakyatnya. Berkat ketekunan dan perlindungan Hyang Kuasa, hutan tersebut berhasil dirabas dengan selamat. Oleh karena tempat ini pada mulanya berasal dari hutan dengan pepohonan yang amat besar maka beliau menamakan tempat ini desa Taro yang berasal dari kata Taro (kayu).

            Sedangkan areal hutannya disebut desa Tegallalang yang berarti bahwa dari tempat inilah asal pancaran sinar terang yang dilihat beliau pada mulanya. Di desa Taro Resi Markandya disertai rakyatnya dengan tekun melaksanakan tapa semadi. Rakyat yang bertempat tinggal di sebelah selatan bertapa menghadap kesebuah batu besar. Sedangkan rakyat yang berada di sebelah utara bertapa di bawah pohon kayu yang rindang.

            Entah beberapa tahun berlalu sepeniggal Resi Markandya, rakyat merasakan betapa sunyi ditinggalkan Maharesi. Dengan perasaan terharubanyak diantara mereka berpindah, mencari tempat menurut kata hati mereka masing-masing. Ada yang menuju ke Besakih, Batur, Lempuyang, serta ada yang menetap di Panarajon.

            Kini marilah kita ceritakan rakyat beliau yang menetap di Panarajon. Dijelaskan bahwa oleh karena telah lama menetap disana namun belum juga ada pemuka ataupun seseorang raja yang dapat dijadikan pemimpinnya. Mereka sepakat untuk memohon kepada Ida Sanghyang Widhi agar ada seseorang yang dinobatkan sebagai pimpinan dan pengayom rakyat. Dengan tekad bulat dan keluar dari hati nuraninya. Diutuslah beberapa penduduk menghadap ke Jambudwipa memohon kehadapan Ida Betara agar terkabul segala kehendaknya. Paduka Ida Betara tidaklah menolak permohonan rakyat Bali yang memohon dihadapannya. Beliau berkenan memenuhi permintaan mereka dan oleh Paduka Betara ditunjuklah putra beliau yang bernama Jayapangus agar turun ke Bali untuk mengayomi rakyat Panerajon.

            Jayapangus memerintah di Panerajon dengan bijaksana. Seluruh rakyat bakti kepada beliau sebab baginda dalam perintahnya selalu bersikap adil serta mengutamakan kepentingan rakyat demi kesejahteraan Negara yang dipimpinnya. Tersebutlah pada suatu hari seorang Tionghoa bernama I Subandar berasal dari Cina, pemeluk agama Bhuda yang taat, berkelana di kerajaan Panarajon. Tionghoa ini mengembara disertai seorang putrinya yang bernama Kang Cing We. Putri Cina ini amat cantik. Kulitnya kuning langsat, tubuhnya semampai serta jalannya menggoyahkan hati yang melihatnya. I Subandar menjalankan tipu dayanya agar mereka dipekenankan menetap disana. Dengan segala upayanya mereka berusaha menarik perhatian Jayapangus. I Subandar berhasrat agar raja memperistri putri tunggalnya. Akhirnya oleh karena sehari-hari paduka raja bergaul dengan putrid Cina ini, bagindapun terpengaruh oleh kecantikan putri I Subandar. Hati baginda runtuh terkena panah asmara Kang Cing We. Baginda tidak dapat melepaskan Kang Cing We dari kalbunya. Hasrat untuk mengawininya makin menyala, gejolak hatinya tidak dapat dibendung lagi (baca: Kisah ketemu Barong Landung)

            Melihat kejadian ini Mpu Ciwagandu penasehat baginda tidak tega hatinya dan memberanikan diri menghadap paduka raja seraya berkata “wahai paduka junjungan hamba, apakah sebabnya paduka bersikap demikian hendak memperistri putri Cina itu? Tidakkah paduka menyadari bahwa paduka adalah seorang raja agung yang bertanggung jawab terhadap negara beserta seluruh rakyat Panerajon? Paduka adalah seorang penganut Hindu yang saleh serta menjadi panutan sekalian. Tidakkah paduka mengetahui bahwa I Subandar beserta putrinya penganut Bhuda yang taat pula? Bagaimana jadinya pandangan rakyat terhadap paduka. Apabila paduka tidak keberatan urungkanlah niat baginda. Janganlah paduka terpancing tipu daya Subandar Cina tersebut. Ketika mendengar ucapan Mpu Ciwagandu demikian, muka baginda merah padam, tersinggung serta alisnya mengkerut menahan murkanya sambil bersabda. “Hai Mpu Ciwagandu, benar segala tutur katamu itu. Aku telah mempertimbangkan segala keputusanku sebijaksana mungkin. Hatiku telah bersatu dengannya. Tidak kuasa aku berpisah dengannya. Kendati bagaimanapun ayahanda kelak akan aku hadapi dengan segala kekuatan yang ada pada diriku. Aku tidak akan merubah keputusanku semula. Janganlah Mpu menghalangi maksudku ini.

            Mendengar jawaban paduka begitu Mpu Ciwagandu sangat kesal dan kecewa, seba apa yang disampaikan kepadanya tidak diindahkan paduka raja. Mpu Ciwagandu dengan perasaan luluh mhon diri serta tidak berkenan lagi sebagai penasihat kerajaan Panarajon. Raja Jayapangus kemudian melangsungkan perkawinannya sesuai dengan tata cara yang berlaku pada masa itu.

            Oleh karena sudah terpenuhi kehendak I Subandar dan anaknya telah diperistri Raja Jayapangus, I Subandar kemudian memberikan bekal sejumlah dua kepeng kepada anaknya serta memohon di hadapan baginda raja. “ Wahai paduka raja junjungan Negara Panarajon yang mat hamba hormati, kini paduka telah berkenan menyalamatkan dan menjadikan anak hamba permaisuri yang selalu akan mendampingi tuanku. Semoga tuanku tetap berkenan memenuhi permintaan hamba. Hamba mohon agar tuanku menyampaikan kepada seluruh rakyat yang ada di bawah kekuasaan tuan, mulai saat ini sampai seterusnya apabila ada bayi yang lahir ataupun meninggal harus mempergunakan uang kepeng pada upacara yang dilaksanakan sebagai pertanda kasih tuanku kepada kami”. Paduka raja Jayapangus dengan bangga dan patuh memenuhi permintaan Subandar Cina tersebut. Konon itulah sebabnya sampai saat ini pada upacara keagamaan di Bali, baik upacara pitra yadnya, dewa padnya ataupun uoacara lainnya, uang kepeng tidak pernah dilupakan sebagai pelengkap sajian yang akan dipersembahkan.

            Diceritakan, Mpu Ciwagandu amat murka terhadap tindakan Jayapangus yang tidak berhasil dicegahnya. Mpu Ciwagandu kemudian melakukan tapa yoga dengan tekunnya memohon kehadapan para Dewata agar turun hujan lebat selama satu bulan tujuh hari yang dapat menghancurkan kerajaan Jayapangus. Berkat ketekunannya dan keahlian beliau, maka benarlah tidak berapa lama akhirnya turun hujan disertai halilintar. Air bah melanda Negara Panerajon sehingga porak poranda seluruh isi istana. Hancur berantakan tidak dapat dibangun lagi. Rakyat beliau kacau balau tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menghindari kejadian diatas. Melihat kejadian ini Jayapangus amatlah sedih sehingga baginda dengan diiringi rakyatnya mengungsi ke daerah yang bernama Jong Les. Hutan lebat di Jong Les dirabas untuk dijadikan puri.

            Selanjutnya setelah Raja Jayapangus berhasil mendirikan istana barunya, istana tersebut diberi nama “Balingkang”. Adapun sebabnya disebut demikian oleh karena Jayapangus adalah seorang “Bali” sedangkan kata “Kang” diambil dari singkatan nama permaisurinya (Kang Cing We). Nama ini juga merupakan perlambang betapa besar cinta kasih Jayapangus (Dalem Bali) kepada isterinya. Mengingat musibah yang telah menimpa kerajaan baginda di Panerajon dahulu, maka untuk menjaga keamanan Negara balingkang serta menghindari kemungkinan serangan musuh dari luar, baginda menempatkan prajurit yang tangguh pada keempat penjuru batas wilayah kerajaannya. Itulah sebabnya apabila kita pergi kekecamatan Kintamani kita akan menemukan sejenis tari- tarian tradisional yaitu tarian baris pelengkap upacara antara lain Katekok Jago, Baris Goak, Baris Jangkang Karang dan Baris Cina yang merupakan simbolis prajurit Jayapangus di masa lalu. Demikian pula apabila kita pergi ke pura Balingkang, tidak jauh dari pura itu kita akan menemukan beberapa desa antara lain Si-A-Kin, Ping-gan dan sebagainya.


(Ini adalah cerita yang diceritakan kembali secara turun temurun dari mulut ke mulut. Dalam penceritaannya mungkin saja ada sedikit variasi atau perbedaan dengan rangkaian sejarah terutama menyangkut nama, tempat, tahun, serta peristiwa)

Sumber: Taksu Bali

Cara Mengatasi Kesurupan Massal



APA ITU KESURUPAN ?
            Kesurupan adalah peristiwa hilangnya kesadaran manusia atas kontrol badan jasmaninya. Kesurupan bisa timbul karena kondisi jiwa yang tertekan (beban berat) yang tak bisa terpikulkan, bisa juga karena faktor-faktor gaib yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata semata. Hal mana menyebabkan pikirannya menjadi tidak seimbang dan bahkan kosong sama sekaliuntuk kurun waktu tertentu. Pada posisi seperti ini, masuklah roh halus merangsuki pikirannya (bisa roh halus yang bersifat baik maupun yang bersifat jahat). Roh itu bisa berupa roh yang baik seperti : roh manusia sakti (yang telah meninggal), leluhur, atau para Dewa, bisa juga roh yang jahat seperti jin, setan,gendoruwo dan lain sebagainya (baca: kisah interaksi dengan Leak).

            Datangnya atau masuknya roh halus ke dalam pikiran manusia bisa tanpa diundang dan bisa juga karena diundang. Sengaja mengundang masuknya roh halus lewat doa-doa, nyanyian serta ritual-ritual tertentu dan kemudian menyebabkan orang menjadi kesurupan sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita. Tradisi ini bisa kita lihat misalnya pada tarian Debus di Jawa Barat, Tarian Gandrung di Banyuwangi, Tarian Bambu Gila di Maluku, Tarian Sanghyang Jaran di Bali dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

            Prilaku orang yang kesurupan biasanya aneh, tidak seperti prilaku dia biasanya, kata-kata serta tingkah lakunya mengikuti kehendak roh yang merangsukinya. Ada yang tiba mengamukdan berteriak-teriak, ada yang badannya berguncang, ada yang berperilaku seperti anak-anak, ada yang pembawaannya tenang, ada yang mendadak pintar dan sebagainya.

            Menurut pendapat para pakar spiritual, kesurupan itu dalah suatu tanda atau pesan yang ingin disampaikan oleh roh yang merangsuki orang tersebut kepada orang tersebut dan juga kepada lingkungan sekitarnya. Maka dari itu diperlukan orang tertentu yang bisa mengkomunikasikan serta menterjemahkan pesan apa yang ingin disampaikannya (menurut tradisi di Bali disebut sebagai Juru Natakin Baos).

KESURUPAN MASAL
            Kesurupan masal adalah peristiwa kesurupan yang melibatkan lebih dari satu orang dan bahkan bisa banyak orang dalam suatu tempat dan dalam waktu yang (hampir) bersamaan. Umumnya peristiwa kesurupan masal ini mulai dari satu orang kemudian menular pada oaring lain dan menular lagi kepada orang-orang lain yang berdekatan.

            Peristiwa kesurupan masalini biasanya menimpa mereka yang berada dalam satu level tertentu, misalnya antar siswadalam satu kelompok tertentu, tidak akan menular kepada gurunya (Karen alevelnya berbeda), atau sering kita lihat juga di tempat-tempat suci 9pura misalnya) di mana para pemedek dalam suatu kelompok terkena peristiwa kesurupan masal tetapi tidak menular pada orang-orang suci (pemangku ataupun pendeta) yang ada di tempat itu. Belakangan ini peristiwa kesurupan banyak kita dengar terjadi tidak hanya dtempat-tempat suci tetapi juga di sekolah-sekolah, di pabrik-pabrik dan tempat-tempat umum lainnya.

BAGAIMANA CARANYA MENGATASI KESURUPAN MASAL
            Lebih mudahnya sebenarnya meminta bantuan kepada orang suci (orang pintar) yang telah mempunyai pengalaman menangani peristiwa gaib seperti ini. Tetapi apabila tidak bisa mendapatkan orang pintar karena sesuatu dan lain hal,tetaplah tanang dan jangan panik. Panggil dan tunjuklah orang yang paling dituakan di tempat itu untuk mencoba berkomuniksasi dengan roh yang merangsuki orang-orang tersebut(pilih yang terkena kesurupan pertama) agar dapat diketahui apa yang mau disampaikannya. Setelah itu untuk menyadarkannya, berdoalah dan mohonkan tirta pada tempat suci terdekat dari lingkungan itulalu dipercikkan kepada mereka yang terkena kesurupan. Biasanya setelah itu mereka akan siuman dan kembali kepada kondisi kesadaran semula.

            Bila dengan ritual itu mereka belum sadar, maka cobalah untuk mendapatkan setangkai daun kelor atau bisa juga daun pulai lalu ditambah seikat daun ilalang (11 helai) , lalu dipukulkan berkali-kali pada tengkuk serta punggung mereka yang terkena kesurupan. Ingat berdoa dulu sebelum melakukannya .Jika anda tidak bisa doa atau mantram khusus untuk ritual ini, maka Gayatri Mantram ( Mantram Tri Sandya bait pertama) bisa dipergunakan sebanyak 3 atau 5 atau 7 atau 9 atau 11(dalam jumlah ganjil). Untuk mengingatkan saja, berikut ini adalah Mantram Gayatri yang dimaksud (bila diucapkan 3x) :

     OM OM OM    BHUR BHUWAH SWAH
                               TATSAWITUR WARENYAM
                               BHARGO DEWASYA DIMAHI
                               DHIYO YONAH PRACODAYAT
     OM                   BHUR BHUWAH SWAH
                              TAT SAWITUR WARENYAM
                              BHARGO DEWASYA DIMAHI
                              DHIYO YONAH PRASCODAYAT
     OM                  BHUR BHUWAH SWAH
                            TAT SAWITUR WARENYAM
                            BHARGO DEWASYA DIMAHI
                            DHIYO YONAH PRASCODAYAT
   OM                  SHANTIH SHANTIH SHANTIH OM

CATATAN : untuk yang pertama didahului oleh kata OM 3x, selanjutnya OM 1x (saja), dan terakhir ditutup dengan OM SHANTIH SHANTIH SHANTIH OM. Perhatikan contoh diatas.

            Bila sudah mencapai titik kesadaran, untuk menyempurnakannya berikanlah kepada mereka untuk meminum air kelapa muda gading (bungkak nyuh gading) untuk menenangkan jiwa raganya yang telah diguncang oleh peristiwa gaib tersebut. Seperti biasanya diawali dulu dengan doa. Sebagai referensi saja mantram berikut ini bisa dipergunakan (sebelum air kelapa tersebut diminum) :

     OM   GURU TAYA GURU SUKSMA
              AMERSIHI JADMA MANUSA
            NIR PAPA NIR ROGHA NIR JYOTI
            GURU SEKALA NISKALA DADI
            LILA ARAWANA.

INI KESURUPAN BENAR APA TIDAK ?
            Di balik peristiwa kesurupan tersebut kadang-kadang masih sering kita dengar suara sumbang yang meragukan, apakah ini benar-benar kesurupan atau cuma bikin-bikinan. Hal ini bisa terjadi karena konon ada beberapa orang atau kelompok orang yang sengaja berpura-pura kesurupan dengan tujuan atau maksud-maksud tertentu sehingga sering orang menaruh kecurigaan akan peristiwa gaib atau seakan-akan gaib ini.

         Biasanya orang yang kesurupan , karena faktor kekuatanroh yang merangsukinya, dia bersifat kebal pukulan, kebal senjata, tajam, bahkan terhadap bara api. Untuk mengetahui keberadaannya, bila ada keraguan, maka kita bisa melakukan test (pinton) terhadap orang yang kesurupan dengan cara membakar kulitnya dengan nyala korek api (bisa juga dengan sebatang dupa menyala ) atau mencubit kulitnya keras-keras. Bila dia tidak bergeming, maka dapat dipastikan dia benar-benar kesurupan, tetapi bila dia merasa kesakitan jelaslah dia sedang berbohong. Untuk menghindari hal-hal yang berbau kriminalisme, maka tidak dianjurkan melakukan test dengan memukul keras-keras apalagi dengan  menggunakan senjata tajam atau jangan juga dengan menggunakan api yang sedang membara. Ingat dan hati-hati, jangan sampai proses pinton ini melanggar ketentuan HAM (hak asasi manusia).


  (Sumber :Primbon Dewata seri mitologi tanaman-binatang & mahluk halus)                                         

Riwayat dan Makna Genta (Bajra)



Riwayat genta menurut legenda, diawali dari suara keroncongan sapi di pegunungan Himalaya, India. Suara keroncongan sapi tersebut diyakini mampu mengantarkan permohonan para penggembala kepada para Dewa, terutama pada saat sapi sedang menggeleng-gelengkan kepalanya. Adanya kepercayaan bahwa suara keroncongan sapi ini mampu menghubungkan permohonan pengangon kepada para Dewa, maka  keroncongan sapi itu lalu disucikan dan diberi nama genta sebagai sarana untuk menghubungkan umat manusia di India dengan Ida Sanghyang Widhi.

          Di Bali, riwayat genta juga hampir serupa dengan di India. Dikisahkan bahwa ketika Danghyang Nirarta atau Danghyang Dwijendra atau Pedanda Sakti Wawu Rauh mengadakan perjalanan dharmayatra keliling Bali, beliau bertemu dengan seorang pengalu (pedagang) yang sedang menuntun kuda. Pada leher kuda tersebut dikalungkan keroncongan yang suaranya sangat merdu dan indah sekali. Pendeta ini sangat kagum dengan suara keroncongan yang melingkar di leher kuda itu. Saking tertariknya beliau dengan suara keroncongan kuda tersebut, maka beliau lalu mencoba memintanya kepada pengalu. Sang pengalupun merasa sangat berbahagia memenuhi permintaan Pendeta itu. Setelah menerimanya, Pedanda Sakti Wawu Rauh lalu menyucikan keroncongan tersebut. Kemanapun beliau pergi selalu dibawanya dengan tujuan untuk meningkatkan daya batin beliau dalam usahanya untuk menyatukan diri dengan para Dewa. Keroncongan yang telah suci dan disakralkan itu kemudian dinamakan genta dan diwariskan secara turun-temurun kepada sisyanya.

          Secara religius, genta dipandang sebagai senjata Dewa Iswara yang berkedudukandi arah timur, dengan aksara Sang (Sa), aksara suci pertama Dasaksara. Sebagai senjata Dewa Iswara, maka genta tersebut sangat disakralkan dan karena itu tidak boleh dipergunakan oleh sembarangan orang. Genta hanya boleh dipergunakan oleh mereka yang sudah mewinten, sudah disucikan secara niskala oleh Pendeta. 

          Dalam setiap upacara Yadnya, tentu sering kali didengar adanya suara genta. Boleh jadi tidak banyak orang memperhatikan apa yang dapat diharapkan dari suara genta itu. Sebenarnya yang diutamakan dari genta sebagai pengiring pujastawa adalah getaran magis spiritualnya.


          Sebagaimana sudah dijelaskan sura genta adalah stana Ida Sanghyang Widhi. Karena itu bunyi genta sebenarnya merupakan pertanda, bahwa Ida Sanghyang Widhi sedang berada di tengah-tengah umat.Kuat lemahnya getaran magis spiritualgenta tersebut tergantung dari tingkat kesucian dan kekuatan batin orang yang membunyikannya.  

Sumber: dasar kepemangkuan

Pengertian Bija

           


Sehabis sembahyang selain nunas tirtha kita juga nunas bija. Dalam kehidupan  beragama sehari-hari, tirtha dan bija seakan tidak bisa dilepaskan. Namun rupanya belum banyak umat Hindu yang tahu tentang bija.

            Bija atau wija di dalam bahasa Sansekerta  disebut gandaksata yang berasal dari kata ganda dan aksata yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi.

            Sesuai pengertiannya, maka bija sedapatnya dibuat dari biji beras yang galih (utuh atau tidak patah). Untuk membuat bau wangi, pada saat mencuci bahan bija hendaknya digunakan air bersih yang sudah dicampur dengan bunga atau bisa juga air cendana. Bila hendak membuat bija kuning dapat dicampur dengan air kunir (kunyit). Bija putih dan kuning esensinya tetap sama.

            Bija adalah lambang Kumara yaitu putra atau wija Bhatara Siwa. Yang dimaksud dengan Kumara tidak lain dari benih ke-Siwa-an yang bersemayam di dalam diri setiap orang. Jadi mabija mengandung makna menumbuh-kembangkan benih ke-Siwa-an atau sifat-sifat kedewaan (dalam bahasa lain disebut Daiwi Sampad) dalam diri orang, sekaligus menjauhkan diri dari sifat-sifat keraksasaan atau Asuri Sampad.

            Sejalan dengan fungsi dalam filosofinya, dan seperti juga dipahami bahwa kedua sifst-sifat manusia baik yang Daiwi Sampad maupun Asuri Sampad bersemayam di dalam pikiran dan lubuk hati manusia. Karena itu agar benih- benih ke-Siwa-an atau sifat-sifat Daiwi Sampad dapat tumbuh dan berkembang dalam pikiran dan hati manusia sekalian menghilangkan pengaruh Asuri Sampad, maka penggunaan bija dilakukan dengan menempatkan pada dua tempat penting yaitu pikiran dan hati. Caranya dengan menempelkan sejumlah bija (minimal 3 biji) pada cudamani (mata ketiga) di antara kedua kening, dan ditelan untuk merasuk dalam-dalam menyentuh hati.


            Satu hal yang patut dikemukakan, bahwa ada satu istilah yang acapkali dikelirukan dengan bija, yaitu bhasma. Kata bhasma yang lantaran dalam pengucapannya berunsurkan kata “bhas” sering ditafsir sebagai “baas”dalam bahasa Bali. Padahal bhasma itu bukan terbuat dari beras, melainkan dari serbuk cendana yang didapat melalui gasekan pada dulang tanah liat, lalu diendapkan. Bhasma lazim digunakan oleh para Pandita.            

Sumber: Menjawab pertanyaan umat, foto courtesy: peradah semarang

Ilmu Leak -> Leak itu tidak Makan Manusia

           

           Darma adalah seorang pemuda yang sering pulang malam dari tempat bekerja. Pada suatu hari, ketika pulang kerja, tiba-tiba Darma diserang perasaan takut yang luar biasa sehingga Darma tidak mampu berjalan. Esok harinya Darma menceritakan pengalamannya tersebut kepada teman-temannya, menurut teman-temannya dia sedang dikerjain orang yang sedang nge-leak, dan mungkin Darma akan sakit.

            Banyak hal-hal unik sering terjadi pada malam hari dan bisa membuat tegang serta takut. Itulah ciri khas ilmu hitam yang selalu menjalankan aktifitasnya pada malam hari. Namun rasa takut itu terjadi tidak mutlak disebabkan ilmu hitam. Ada juga disebabkan oleh aktifitas lain yang dilakukan penghuni alam lain di luar kehidupan manusia. Kalau di Bali dikenal dengan sebutan unen-unen atau duwe di suatu tempat yang angker sedang melancaran (beranjangsana), sehingga membuat alam manusia menjadi tidak normal seperti ketakutan berlebihan, dan tidak mampu lari. Pada umumnya, jika berjumpa dengan mahluk semacam ini, maka buatkan sesajen peneduh supaya pikiran menjadi tenang dan selalu terbayang-bayang peristiwa yang menakutkan itu (baca: Kisah interaksi dengan Leak)

            Namun pengalaman unik yang dialami Darma kemungkinan satu di antara dua tadi. Kalau itu perbuatan manusia maka disekitar kita sedang terjadi  suatu keganjilan yang di Bali dikenal dengan sebutan ngereh. Maksudnya, orang yang memiliki ilmu pengeleakan,pada malam hari itu sedang melatih kemampuannya. Sebelum latihan dimulai mereka akan memasang ilmu pengreres dengan radius 100 meterdari tempatnya berlatih. Tujuannya agar selama mereka melakukan aktifitas, kemampuan ilmunya tidak terganggu. Jika seseorang memasuki suatu wilayah tiba-tiba muncul rasa takut yang luar biasa, maka orang itu sebaiknya tidak akan melanjutkan perjalanan melalui tempat tersebut, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Perjalanan bisa dilanjutkan dengan memilih jalan lain yang lebih aman kecuali orang itu memang sudah siap mental menghadapi hal aneh (baca: Kisah Naga Taksaka)

        Jika saat orang yang berlatih ngeleak itu diterobos, dia akan berusaha bersembunyi agar tidak terlihat wajahnya. Apabila dia sudah berubah wujud, apalagi yang baru setengah berbentuk, dia akan sangat galak. Bahkan sering terjadi perkelahian antara manusia biasa dan jadi-jadian semacam ini dan kemenangan tidak bisa ditentukan, tergantung kekuatan mental masing-masing. Pada zaman ini, sangat sulit menemui hal tersebut.

            Sesungguhnya hal tersebut tidak usah sampai terjadi karena masing-masing sudah memiliki haknya untuk melakukan kesenangan, asalkan tidak mengganggu orang lain. Sebaiknya kita yang masih dalam keadaan normal untuk mengalah selama aktifitas itu tidak membahayakan. Dugaan orang sakit karena amah (dimakan) leak sesungguhnya keliru. Orang yang sakit karena melihat leak bukan lantaran dimakan leak, tetapi karena secara mental orang tersebut belum siap melihat perubahan-perubahan wujud yang dilakoni si pengleak. Akibat keterkejutannya itulah dia menjadi takut luar biasa, sehingga sakit bahkan tewas.


            Nah, kepada Anda, jika mengalami hal serupa, sebaiknya mencari jalan lain, kecuali jalan tersebut adalah jalan satu-satunya yang tidak bisa dihindari.Selalulah waspada jika berjalan pada malam hari, tetapi tidakmenjadi penakut apabila sedang berjalan sendiri. Hindari hal-hal yang menjadi penyebab ketakutan, karena kemungkinan yang terjadi, ketakutan Anda bukan disebabkan oleh orang yang sedang mempraktikan ilmu pengleakan.

(sumber” mengenal alam gaib “)

Filosophy Memasukkan Tiga Kesaktian dalam Semadi


         Jangan salah kaprah dengan kesaktian.Kesaktian mempunyai cakupan arti yang luas. Kesaktian sama dengan kekuatan. Kekuatan yang paling sederhana disebut dengan sabda, bayu, idep. Setiap manusia mempunyai kesaktian jenis ini. Hanya saja kalau dibangkitkan dengan praktek semadi, tiga kekuatan ini akan lebih dahsyat. Bisa digunakan untuk berbagai keperluan hidup.

            Semadi merupakan suatu media untuk memusatkan pikiran atau indria yang ada dalam diri untuk mencapai suatu proses. Bisa sebagai jalan pembangkitan kekuatan , cakra dalam tubuh maupun mencari suatu pencerahan kesucian bathin. Akan tetapi jalan ataupun tahapan dalam semadi tentunya tidak sama antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga dengan kekuatan yang dipancarkan seseorang yang menekuni semadi itu sendiri.

            Dikatakan lebih lanjut, pengolahan semadi itu akan melahirkan apa yang disebut dengan yoga. Dimana antara Yoga dan semadi hampir mirip namun tata cara yang membedakannya. Yoga didasari atas suatu gerakan tertentu yang bisa membangkitkan energi kosmis yang ada dalam tubuh manusia. Sedangkan semadi merupakan suatu tata cara dengan mengkonsentrasikan indria untuk mencapai suatu tujuan maupun menciptakan suatu kekuatan. “Bila antara Yoga dan semadi dipadukan akan menghasilkan suatu energi apa yang disebut cakra, atau kekuatan bathin yang sangat dahsyat.”

            Ada kalanya semadi itu akan berkembang di setiap daerah masing-masing. Seperti halnya semadi yang menggunakan kekuatan Dasa Aksara yang ada dalam tubuh manusia, sehingga akan menjadi manusia sakti. Yaitu pengolahan panglukunan dasa aksara menjadi tri aksara, berdasarkan atas pranayama atau pengaturan nafas secara tepat pada titik kekuatan manusia.

            Tri aksara ini merupakan wujud Tri Murti dalam tubuh manusia. Yang dalam semadi memakai pranayama sebagai media. Bahwa aksara itu terdiri dari Ang melambangkan Brahma, Ung melambangkan Wisnu, sedangkan Mang melambangkan Siwa. Itulah yang disatukan dalam semadi menjadi bayu, sabda, idep suatu kekuatan yang maha dahsyatyang dimiliki setiap manusia.

            Daya cipta dari aksara Ang sebagai wujud Brahma dimasukkan dalam tubuh, setelah itu baru diputar dengan kekuatan Ung wujud Wisnu yang memberikan energi titik api kekuatan dalam tubuh. Kemudian barulah dialirkan ke bagian perut untuk menghidupkan aksara Mang sebagai Siwayang memberikan kekuatan panengen maupun pangiwa nantinya. Ataupun bisa dialirkan berupa kekuatan usada dalam menyembuhkan penyakit akibat magis atau buatan manusia.

            Untuk membuat suatu keteguhan pada diri sendiri.dalam melakukan semadi dilanjutkan dengan memasukkanDasa aksara menjadi kekuatan dasa bayu. Terdiri dari sepuluh aksara sakti yang diolah sesuai dengan kedudukan  dalam memancarkan kekuatan maupun keteguhan. Terdiri dari aksara Sang ditarik dan ditaruh pada kulit. Bang dihidupkan pada darah, kemudian Tang diletakkan dalam tulang. Ang dihidupkan sebagai pemberi daya cipta, sedangkan Ing sebagai pengurip isi atau organ tubuh yang lainnya. Kemudian aksara Nang pada sumsum seluruh tulang manusia, Mang ditarik untuk menghidupkan nafas. Sing menguatkan otot yang ada dalam tubuh, Wang menghidupkan bagian perut. Yang menghidupkan seluruh rangkaian saraf serta urat dalam aliran tubuh manusia. Bila telah menghidupkan tri aksara atau kekuatan Dasa Bayu saat bersemadi, maka seluruh kekuatan gaib akan terpancar dengan sendirinya.  Serta akan menyatukan bayu, sabda, idep, menjadi suatu pencerahan bagi kesucian tubuh.


            Selain itu berbagai ilmu, baik panengen-pangiwa, panglekasan atau leak pastilah terlebih dahulu dihidupkan dengan jalan semadi.Tetapi semadi disini bisa bersifat lama atau hanya sekejap. Biasanya dalam membangkitkan kekuatan suatu ajian hanya memerlukan waktu semadi yang cukup singkat sebagai sarana menyatukan antara kekuatan bathin dengan mantra yang diucapkannya. Sehingga nantinya akan memunculkan suatu kekuatan yang sesuai dengan ajian yang dibangkitkan.    

Disarikan dari berbagai sumber (diantaranya baliaga)                       

Tips Cara Menangkal Tuyul


APAKAH TUYUL ITU?
          Tuyul adalah sejenis mahluk halus yang berwujud anak-anak ,tuyul ini bisa dimanfaatkan atau diperintahkan oleh pemiliknya (pemeliharanya) untuk mencuri uang. Dalam mencuri uang ,tuyul mempunyai cirri khas dimana dia tidak pernah mencuri uang dalam jumlah banyak pada satu tempat namun mencicil sedikit-sedikit dan melakukannya dibanyak tempat. Misalnya ketika dia melihat tumpuka n uangsebanyak 100 lembar di suatu tempat , maka dia cuma mengambil satu lembar saja dan kemudian melakukannya lagi di tempat lain. Hal ini yang menyebabkan pemilik uang kadang tidak menyadari  kalau uangnya berkurang.

          Tuyul ini biasanya dipelihara oleh seseorang yang ingin cepat kaya tanpa harus kerja keras.Tuyul bisa didapatkan melalui ritual tertentu atau untuk gampangnya bisa membeli pada orang pintar. Pada dasarnya sebagaimana halnya anak-anak,tuyul itu tidak suka bekerja dan dia lebih suka bermain dan bersenang-senang. Namun atas ikatan kerja dengan syarat-syarat tertentu,dia mau melakukan pakerjaan mencuri uang untuk majikannya. Syarat-syarat itu bisa berupa janji  untuk memenuhi kebutuhan tuyul itu sehari -hari sepserti menyediakan makanan kesukaannya (bisa berupa  ASI manusia,darah,kemenyan,dan lain sebagainya sesuai dengan jenisnya),mengajaknya bermain-main,melakukan ritual tertentu untuk hari-hari tertentu dan bahkan bisa meminta tumbal nyawa orang-orang yang disayangi oleh pemiliknya.

          Dalam melakukan tugasnya,tuyul atas arahan majikannya biasanya memiliki kode etik tertentu,  misalnya:
  • Tidak boleh mencuri uang tetangga majikannya,agar kedoknya tidak cepat ketahuan
  • Tidak boleh mencuri uang dalam jumlah besar dalan suatu tempat, agar modus operasinya tidak mudah terbongkar.
  • Tidak mencuri uang di bank atau toko mas karena tempat-tempat seperti itu biasanya sudah dipagari “Tolak Bala” oleh pemiliknya.

        Mencari harta dengan cara memelihara Tuyul adalah jalan pintas untuk menjadi kaya (mencari pesugihan),namun cara ini sebenarnya tidak dianjurkan dan tidak dibenarkan oleh ajaran Agama,Agama apapun itu karena disamping merugikan orang lain, cara ini adalah cara serakah (Loba) serta menghalalkan segala cara yang bertentangan dengan ajaran Agama .Ketidakmampuan  sipemilik memenuhi kewajibannya terhadap Tuyul peliharaannya bisa menyebabkan celaka dan bahkan kematian secara tidak wajar.

          CARA MENANGKAL TUYUL MASUK RUMAH
          Dianjurkan untuk menenam jenis tanaman berikut ini untuk menangkal tuyul masuk rumah: Pohon jahe di dalam pekarangan rumah,Pohon Tulak (atau bisa juga Walisongo) di depan rumah, karena jenis tanaman tersebut dipercaya memiliki aura gaib yang tidak disukai oleh Tuyul dan mahluk halus lainnya yang baersifat jahat.  Cara lainnya tentu dengan memohon bantuan orang pintar untuk membuatkan pagar gaib (niskala) terhadap pekarangan rumah anda untuk menangkal Tuyul masuk rumah.

          BAGAIMANA CARANYA AGAR TUYUL TIDAK MENGAMBIL UANG?
          Agar Tuyul itu tidak mencuri uang pada tempat anda menyimpan uang (di dompet, brankas, almari, laci dan lainnya), maka lakukanlah hal-hal berikut ini:
  • Taruhlah bawang merah yang ditusuk dengan jarum pada tempat menyimpan uang. Tuyul tidak menyukai aroma bawang merah yang bisa menyebabkan matanya perih dan bila dia tetap nekat masuk maka ada  kemungkinan tangannya tertusuk jarum,yang menyebabkan dia trauma untuk datang lagi ke tempat itu
  • Taruhlah cermin kecil di tempat menyimpan uang.Tuyul itu suka bermain, melihat cermin maka dia akan sibuk,asik memainkannya sehingga  menyebabkan dia lupa mencuri uang.
  • Taruhlah kacang hijau butiran (lebih dari sepuluh butir) di tempat menyimpan uang. Sebagaimana halnya anak-anak, dia akan coba bermain dan menghitung jumlah kacang hijau itu dan karena kemampuannya berhitung tidak biasa melebihi bilangan sepuluh maka dia akan kebingungan dan akhirnya lupa mencuri uang.
  • Cara lainnya bisa dengan cara menaruh kepiting hidup (yuyu kangkang) dalam sebuah baskom yang ada airnya di dekat tempat menaruh uang.Tuyul suka bermain-main dengan kepiting dan kalau sampai  tangannya dijepit oleh kepiting itu maka dia akan kesakitan dan lari tunggang- langgang.

      Anda bisa memilih salah satu diantara cara di atas atau mengkombinasikan beberapa diantaranya atau bahkan semuanya. Percaya atau tidak, silahkan coba.

PERINGATAN            
          Jika anda melihat seseorang berlaku aneh sedang melihat rumah anda dengan posisi melipatkan tangan ke belakang punggungnya ( masekeling ), maka anda patut mencurigai orang tersebut sedang menggendong tuyulnya sambil berjalan-jalan mengamati situasi rumah anda.Sebaliknya jika anda tidak ingin dicurigai sedang menggendong tuyul , saat bertamu ke rumah orang atau berjalan-jalan di depan umum ,maka janganlah melipat tangan anda ke belakang punggung ( masekelig ), hal ini sudah menjadi kepercayaan atau “rahasia umum” di masyarakat umum.

Dari berbagai sumber

Meditasi dengan Gayatri Mantra



Gaya hidup cobalah diisi dengan kekuatan konsentrasi penuh dengan perenungan diri dan disertai dengan Gayatri mantra (meditasi). Dan cobalah beberapa tips meditasi ini, dan praktekan. Dan lakukan dengan penuh keyakinan, dan niat suci. Berikut beberapa hal yang perlu di lakukan, bila hidup secara rohani ingin ada kemajuan, guna terhindar dari sakit-saktian.

Sudah dikatakan Gayatri  mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih (tanpa garam,dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri Mantra enam kali untuk pagi hari, emat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk malam hari.

Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan Anda akan terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja Gayatri selama dua hari barulah Anda diperkenankan untuk melakukan meditasi terhadap Gayatri mantra sebab api spirit Anda sudah menyala.

Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus  Senin pagi hingga Selasa pagi. 

TEORI MEDITASI
Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan  menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari tikar, kain, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi rilek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran beberapa detik, setelah itu ucapkan mantra “OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah” ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima kali, bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.

Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri Mantram

“OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya dimahi, dhiyo yo nah pracodayat” dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran sura mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan. 

Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negative, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan dan lain-lain. Kekuatan Gayatri Mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri Mantra apabila dilakukan dengan baik serta tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaibanyang tidak bisa kita sangka.

Energi Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan “pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada zaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran selain getaran halus dari Gayatri Mantra.

TIPS
Apabila Anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini Anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih, higienis, untuk diminum lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsure cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri Mantram 11 kali, setiap habis membaca Gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri Mantra mampu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini


Disarikan dari Sumber