Om Swastiastu Om

.

Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag)


Tumpek Wariga akan segera kita rayakan dimana Rainan ini menekankan pada penghargaan manusia kepada tumbuh-tumbuhan. Berikut adalah Dharma Wacana dari manuku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak tentang makna Rainan tersebut

_________________________________________________

Om Swastiastu Om

Tumpek Wariga akan segera kita rayakan. Tumpek yang jatuh pada hari Saniscara Kliwon Wariga dikenal dengan nama Tumpek Pengatag adalah merupakan rangkaian yang sangat penting yang harus diikuti menjelang Hari Raya Galungan yang akan jatuh 25 hari kemudian.

Tumpek merupakan hari yang menandai pertemuan antara Panca Wara dalam hal ini Kliwon dengan Sapta Wara dalam hal ini Saniscara. Pada petemuan kedua Wara ini diyakini merupakan hari yang sangat baik untuk merayakan sesuatu.

Sebagai penganut Hindhu di Indonesia, kita mengenal 6 jenis Tumpek dalam siklus 6 bulan Bali (210 hari) yaitu, Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan Tumpek Wayang. Berbagai macam fungsi Tumpek tersebut sudah banyak dibicarakan dan didiskusikan di kalangan penganut Hindhu di Bali.

Khusus untuk Tumpek Wariga orang Bali menyebutnya dengan Tumpek Pegatag karena pada saat itu dilakukan ritual untuk tumbuh-tumbuhan. Tujuannya adalah agar tumbuh-tumbuhan tersebut bisa berdaun, berbuah atau berbunga dengan lebat sehingga manusia bisa merayakan Hari Raya Galungan 25 hari kemudian.

Dari segi ini bisa kita simpulkan bahwa kegiatan Tumpek Pengatg/Wariga sangatlah penting mengingat Galungan merupakan hari raya yang diperingati sangat megah di Bali. Segala sesuatu hasil bumi diperlukan untuk menyukseskan Galungan tersebut.

Bila kita tinjau dari segi filosofi keagamaan, maka Tumpek Wariga ini erat kaitannya dengan salah satu sloka dari Bhagavad Gita, yaitu:

patram pushpam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami pryatatmanah

 Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 26

Artinya adalah:
Meskipun seorang Bhakta hanya mempersembahkan Daun, Bunga, Buah dan Air yang  asalkan dilakukan dengan tulus iklhas, maka persembahan itu akan Aku terima.

Kita bisa lihat bahwa tiga dari empat komponen yang disebutkan dalam sloka tersebut yaitu Daun, Bunga dan Buah dimuliakan pada perayaan Tumpek Wariga. Filosofi daun, bunga dan buah merujuk kepada badan, hati dan karmaphala dari manusia itu sendiri. Jadi perayaan Tumpek Wariga secara filosofis adalah memuliakan badan, hati nurani dan phala dari pebuatan manusia.

Sudah tentu dengan perayaan Tumpek Wariga tersebut, manusia disadarkan bahwa bila kita ingin Dharma menang melawan Adharma (Galungan) maka segala perbuatan, perkataan dan pikiran kita hendaknya memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pengertian Tumpek Wariga yang sedemikian luas apabila bisa dimengerti dan dilaksanakan pasti akan membawa umat menusia lebih maju dalam segala bidang kehidupan. Hal ini dinyatakan dalam Bhagavad Gita yaitu:

Ananyas chintayanto mam
ye janah paryupasate,
tesham nityabhiyuktanam
yoga-kshemam vahamy aham
Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 22

Artinya adalah:
Orang yang berserah diri kepadaKU, sujud dan selalu taat kepadaKu, maka akan Kulindingi semua apa yg dia punya, dan akan Aku bawakan segala apa yang dia butuhkan

Sloka ini sangat jelas merupakan jaminan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada semua manusia akan segala kemudahan yang akan diberikan apabila kita selalu berjalan di jalan Dharma.

Sekarang tergantung kepada manusia itu sendiri, apakah dia mau menyerapi dan melaksanakan Dharma ataukah lebih memilih berada dalam lautan Awidya (kegelapan).

Sebagai Pengayah di Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak, penulis hanya bisa menghimbau kehadapan umat manusia, marilah kita selalu tegakkan Dharma, karena Dharma akan melindungi setiap orang yang berusaha menegakkan Dharma.

Om Nama Siwaya, Om Namo Budhaya Om

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

0 komentar:

Posting Komentar