Om Swastiastu Om

.

Budha Wage Klawu



Hari Buda Wage Klawu merupakan salah satu hari yang sangat di sakralkan dan di nanti-nanti oleh segenap masyarakat Hindhu di Bali. Pada hari ini banyak sekali piodalan yang dilakukan di Pura di bali, baik itu di Pura keluarga (sanggah Merajan, Panti) atau di Pura yang merupakan penyungsungan Jagat (Pura Dalem Ped, Pura Penataran Agung Karangasem, Pura Pengubengan Besakih dll).

Bude Wage Klawu juga disebut Bude cemeng, pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa melalui manifestasinya sebagai Dewi Laksmi (dikenal juga sebagai Sanghyang Sedana/Rambut Sedana) yang telah memberikan kekayaan/rejeki/kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Dalam perkembangannya, hari perayaan ini lebih dikhususkan kepada bentuk/perwujudan uang sebagai simbol dari kekayaan/rejeki/kemakmuran itu sendiri.

Perayaan Rainan / Hari Raya Suci / Piodalan / Odalan Sri Rambut Sedana atau lazimnya sering disebut Rambut Sedana memiliki pengertian secara harfiah, “Sri” yang berarti uang, dan “Sedana” berarti uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah yang perayaannya dilakukan di setiap rumah tangga dan Pura di lingkungan desa adat.

Tidaklah mengherankan jika hari Buda Cemeng Klawu ini, banyak dirayakan oleh mereka yang membuka usaha perdagangan, misalnya pedagang di pasar, toko, warung, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaan tersebut. 

Makna dan Tujuan Filosofis dari pemujaan terhadap Beliau dalam prabawanya sebagai Ida Bhatara Rambut Sedhana adalah untuk memohon anugraha Beliau dalam berbagai macam wujud dan bentuk kemakmuran untuk segala makhluk hidup ciptaan Beliau.

Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Dewi Laksmi/Betara Rambut Sedana sebagai rasa terima kasih atas anugerah-Nya

Dipercaya bahwa pada hari ini masyarakat Bali tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia. Entah benar atau tidak, hal ini adalah mitos yang sangat menarik untuk diyakini karena mengandung unsur yang sangat kental dengan budaya tradisional masyarakat Bali.

0 komentar:

Posting Komentar