Om Swastiastu Om

.

Banyu Pinaruh (9 - 3 - 2014) – Saat yang Tepat untuk Melukat di Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak


Hari Banyu Pinaruh jatuh pada hari Redite Paing Shinta, yaitu tepat sehari setelah Hari Raya Saraswati. Secara filosofis, Banyu Pinaruh berarti pembersihan diri dengan menggunakan air suci ilmu pengetahuan. Dimana kegiatan pembersihan diri itu bisa dilakukan di sumber mata air, pantai atau di Griya Sang Sulinggih. Pembersihan diri ini juga berarti membersihkan secara niskala/rohani, yang dilakukan dengan jalan melaksanakan Tri Kaya Parisudha.

Banyu Pinaruh, berasal dari kata banyu (air) dan pinaruh atau pangewuruh (pengetahuan).

Banyu Pinaruh juga bermakna menyucikan pikiran dengan menggunakan air ilmu pengetahuan, sebagaimana diuraikan dalam pustaka Bagavadgita sebagai berikut: ”Abhir gatrani sudyanti manah satyena sudayanti.”

Artinya, badan dibersihkan dengan air sedangkan pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan

Hal ini sangat penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan, karena sangat diperlukan sebelum kita belajar ilmu pengetahuan yang sudah diturunkan pada hari sebelumnya yaitu pada Hari Raya Saraswati.

Bagavadgita IV.36 yang berbunyi:

”Api ced asi papebhyah, sarwabheyah papa krt tamah, sarwa jnana peavenaiva vrijinam santarisyasi.”

Artinya, walau engkau paling berdosa di antara manusia yang memiliki dosa, dengan perahu ilmu pengetahuan, lautan dosa akan dapat engkau seberangi.”

Mengacu pada hal tersebut di atas maka umat terutama generasi muda harus memaknai Saraswati dan Banyu Pinaruh sesuai dengan hakikatnya. Malam Saraswati mesti dimaknai dengan baik, melalui pembacaan sastra dan diskusi (dharmatula) tentang ajaran agama, di tempat yang memungkinkan untuk itu. Keesokan paginya dilanjutkan dengan pelaksanaan Banyu Pinaruh.

Pada saat Banyu Pinaruh umat melaksanakan suci laksana, mandi dan keramas menggunakan air kumkuman di segara. Kegiatan itu bertujuan untuk ngelebur mala karena pada dasarnya segara itu merupakan tempat peleburan dasa mala. Dengan melakukan prosesi itu diharapkan terjadi keseimbangan lahir dan batin.

Untuk memenuhi kebutuhan pembersihan diri secara sekala niskala, maka di Pura Gunung Salak sudah di bangun tempat untuk melukat yang disebut dengan Pancuran Sapta Gangga.

Menurut Jro Mangku Istri Made Sadnya, Pancoran Sapta Gangga di bangun berdasarkan pewisik yang diterima beberapa orang akan perlunya tempat penyucian diri untuk pemedek Pura Gunung Salak. Maka dengan kondisi yang serba terbatas, dialirkanlah air yang berasal dari Puncak Gunung Salak ke suatu tempat yang dipugar dan di beri nama Pancuran Sapta Gangga. Mangku Wayan Contok dari Tampaksiring ikut ngayah dengan menghaturkan Pancuran dan Arca Dewi Gangga yang di pasang di area pembersihan tersebut. Sengaja Pancuran di desain agar menyerupai Tirta Empul di Tampaksiring Gianyar Bali.

Tepat pada saat piodalan Pura Gunung Salak yang jatuh pada Purnamaning ke tiga yaitu tanggal 19 September 2013, dengan dipuput oleh Ida Pedanda Panji Sogata dari Griya Lenteng Agung, maka Pancuran Sapta Gangga dipelaspas dan mulai digunakan oleh semua golongan untuk pembersihan diri.

Jro Mangku Istri lebih lanjut menambahkan bahwa Pancuran ini sengaja di bangun demi kepentingan umat manusia, tanpa memandang golongannya dipersilahkan untuk membersihakn diri di tempat tersebut. Dan terbukti, umat berbondong-bondong dating Pancuran tersebut untuk melakukan pembersihan diri.

Lebih lanjut ditambahkan bahwa segala macam Tirta dari penjuru Nusantara juga sudah bercampur di Pancuran tersebut, jadi disamping sebagai sarana penyucian diri, Pancuran Sapta Gangga juga untuk nunas Wangsuh Pada  Ida Sesuhunan dari seluruh penjuru Nusantara.

Pancuran Sapta Gangga bisa dicapai melalui Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak. Jalan menuju ke lokasi sudah dibangun dengan sangat baik yang dananya berasal dari Dana Punia umat sekalian.

Hari Banyu Pinaruh yang akan jatuh pada hari Minggu tanggal 9 Maret 2014 atau sehari setelah hari Raya Saraswati, merupakan momen yang tepat untuk pembersihan diri di Pancuran Sapta Gangga.

Mangku Istri Made Sadnya & Mangku Badra di Pancuran Sapta Gangga

2 komentar:

  1. Apa ada aliran sungai gangga keluar di gunung salak ?

    BalasHapus
  2. Apa ada aliran sungai gangga keluar di gunung salak ?

    BalasHapus