Om Swastiastu Om

.

Kisah Leak 19 - Dikejar Ancangan Ida Bethara Dalem



Di atas langit ada langit, begitulah nasehat yang sering kita dengar yang menggambarkan bahwa seseorang itu tidak boleh sombong dalam menjalani kehidupan ini. Hal tersebut tergambar dari kejadian di bawah ini:
Sebut saja namanya Wayan A, seorang anak manusia yang tinggal di pesisir pantai di daerah Klungkung. Pekerjaannya formalnya tidak ada, boleh dibilang sebagai pengangguran, tapi punya kemampuan sebagai seorang Balian (dukun-red)
Wayan A punya sifat yang sombong merasa dirinya sakti, dimana suka sekali utnuk mempertunjukkan kemampuannya dan selalu berusaha untuk mencari perkara dengan orang lain.
Orang yang sudah mengerti akan sifat Wayan A selalu berusaha untuk menghindari konflik dengannya. Namun kadang ada pula yang berani melawan dan tidak jarang terjadi "siat peteng" untuk menentukan jalan keluarnya. Saking sakti nya Wayan A selalu keluar sebagai pemenang, sehingga menjadi semakin sombong. Kesombongannya semakin menjadi-jadi.

Di desa tersebut, juga tinggal seorang petani yang sangat polos, bahkan cenderung lugu yang bernama si Nengah. Petani ini sangat rajin dan ringan tangan dalam pergaulan, sehingga banyak orang yang suka akan si Nengah. Orangnya apa adanya, sehingga semakin banyak orang yang suka minta tolong dan bergaul dengan si Nengah. Hal yang sangat kontras dengan kehidupan Wayan A dimana banyak orang yang cenderung menjauhinya.

Hal tersebut membuat Wayan A menjadi marah dan iri akan si Nengah, berbagai alasan dia coba cari untuk mengajak si Nengah ngadu ilmu. Nengah yang dasarnya tidak tahu apa-apa alias tidak punya ilmu selalu berusaha untuk menghindar agar jangan sampai bentrok.

Hingga suatu saat karena Wayan A memaksakan suatu perkara kepada si Nengah sehingga Nengah mau gak mau harus melayani Wayan A. Wayan A menantang untuk "siat peteng" saat malam kajeng kliwon di suatu area yang memang dikenal sering dipakai ajang itu. Nengah pun dengan terpaksa meng iya kan tantangan Wayan.

Saat malam kajeng kliwon, Nengah sangat gelisah karena sadar tidak punya ilmu apapun untuk melayani tantangan Wayan. Dengan pasrah akhirnya Nengah pergi ke Pura Dalem di desa nya pas saat sandhya kala. Di Pura segera dia sembahyang dan dengan polos nya mengutarakan tantangan Wayan A terhadap dirinya. Setelah sembahyang si Nengah cuman bisa duduk terdiam dan tidak tahu mesti melakukan apa.

Tepat tengah malam seperti perjanjian adu ilmu dengan Wayan A, si Nengah melihat cahaya kecil (sebesar nyala api dupa) keluar dari Pelinggih Pejenengan di Pura dalem tersebut. Cahaya tersebut berputar-putar mengitari si Nengah dan akhirnya melesat cepat ke areal adu ilmu tersebut. Nengah mengamati api tersebut semakin lama semakin besar yang akhirnya menjadi sebesar bangunan rumah.

Sementara itu Wayan A sudah mempersiapkan diri untuk melakukan pertempuran dengan si Nengah, dilihatnya dari kejauhan api menuju tempatnya menunggu. Awalnya dia mengira itu adalah perwujudan dari si Nengah. Ketika api itu sudah semakin dekat dan semakin besar, akhirnya dia sadar bahwa yang datang membela Nengah adalah Ancangan Ida Bethara Dalem dalam wujud nyala api yang luar biasa besar. Begitu kagetnya dia sehingga buru-buru mengambil langkah seribu alias kaburrrrr..

Api yang sebesar rumah itu tidak serta merta membiarkan si Wayan A kabur, tapi tetap mengejarnya kemanapun dia lari. Dengan nafas ngos-ngosan Wayan A terus berusaha untuk lepas dari kejaran Ancangan Ida Bethara, tapi bagaimanapun saktinya tetap saja dia bisa di kejar dan siap dibakar oleh api tersebut.

Saat kritis seperti itu, timbullah penyesalan dalam dirinya akan apa yang telah diperbuat selama ini, secercah pencerahan akan kebenaran yang tersembunyi di balik sifat sombongnya menyebabkan Wayan A sadar.

Tatkala tenaganya sudah habis dan api sudah dekat, Wayan A menjatuhkan diri dan bersujud dihadapan api itu, dengan melantunkan puja-puji kepada Ida Sesuhunan ring Pura Dalem, Wayan A mohon maaf akan segala kesalahannya.

Anehnya api sebesar rumah itupun mengecil seiring dengan lantunan puja puji kehadapan Ida Sesuhunan, dan ada bisikan dalam hatinya bahwa ini merupakan peringatan kepada Wayan A agar tidak menyombongkan segala ilmu yang dimiliki, ilmu itu hendaknya dipakai untuk menolong sesama manusia, bukan dipakai untuk "siat peteng".

Wayan A berjanji akan mematuhi hal itu, begitu dia selesai mengucap janjinya, maka api itupun hilang dari hadapannya. Wayan A kemudian pergi ke Pura Dalem untuk sembahyang, di sana di jumpainya si Nengah. Permohonan maafpun dimintakan ke si Nengah, Nengah sangat gembira akan perubahan pada diri Wayan A dan memaafkan segala kesalahannya.







0 komentar:

Posting Komentar