Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Ida Pedanda Made Gunung - Galungan, Kemenangan Dharma

 
KEMENANGAN DHARMA.

OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU NAMO SIDAM.

Hari suci GALUNGAN sudah terkenal dengan istilah hari suci untuk merayakan kemenangan dharma atas adharma. Namun baru kemarin saya memberikan Dharma Wacaca di suatu Desa, muncul pertanyaan dari salah satu anak muda, pertanyaannya begini:

"Singgih Pedanda saya mau bertanya, Sehubungan dengan hari suci Galungan, yang mana pengertiannya... adalah merayakan kemenangan Dharma atas adharma. 1. Apakah dewasa ini,dijaman seperti ini masihkah Dharma itu menang? 2. Di mana wilayah pertempuran Dharma itu waktu melawan adharma? Dan banyak lagi yang ditanyakan, saya sangat bangga terhadap generasi muda yang peduli dengan ajaran agama dan ajaran kerokhanian.

Saya memberi jawaban semampu saya, sebab pertanyaannya sangat mendalam menurut saya. Sebenarnya Dharma itu selalu menang, dan tidak pernah kalah. Namun anggapan di Bali khususnya, Kata dharma itu ditambahi belakangnya dengan kata NING, sehingga menjadi Dharmaning, maka bisa bermakna berbeda-beda, antara lain: Dharmaning maling adalah selalu mengambil barang orang tanpa permisi, pada waktu itu Dharmanya maling itu menang. Dharmaning bebotoh, selalu berjudi, disaat dia menang waktu itu dharmanya menang. Dharmaning perokok, dia selalu merokok, saat mengisap rokok dharmanya menang.

Tetapi Dharma yang dimaksudkan kaitannya dengan Galungan adalah Dharmanya Agama ( Dharma Tuhan ). Dharma ini selalu menang bila mau dilakoni sesuai dengan tuntunannya. Apa tuntunan Dharma itu?; Panca Sradha, Trikaya Parisudha, Tattwamasi, Dasasila (Karmapata), dan banyak lagi tuntunan untuk memenangkan Dharma. Ajaran untuk memenangkan Dharma itu selalu ada, nah sekarang siapa yang patut memenangkannya? Yang paling patut adalah kita sendiri, itu jawabannya. Kembali pada pertanyaan tadi, Sudahkah Dharma itu menang? Jawabannya; Sudahkah kita melaksanakan sesuai tuntunan untuk memenangkan Dharma? Siapa yang harus menjawab? Yang patut menjawab adalah kita sendiri. Sebenarnya Dharma itu dimenangkan oleh pribadi-pribadi kita sebagai awalnya, kalau semua pribadi itu mampu memenagkan Dharma, maka secara bersama kita menikmati kemenangan Dharma itu, berupa Kedamaian, kesejahtraan, keamanan dan kebahagiaan. Sebab wilayah pertempuran Dharma itu ada di dalam diri manusia yaitu di dalam pikiran.

Untuk mencapai kemenangan Dharma tidak mudah dan tidak bisa dicapai dalam jangka waktu 6 bulan, namun ada cara memenangkan Dharma secara kredit, bulan pertama kita harus dapat mengalahkan adharma/kesombongan, bulan kedua lagi kalahkan keegoisan, demikian selanjutnya dalam jangka waktu tertentu pasti kita dapat mengalahkan adharma secara menyeluruh, dan berarti dalam waktu tersebut pula kita dapat memenangkan Dharma. Jadi setiap 6 bulan diwaktu Buda kliwon Dunggulan, kita rayakan kemengan Dharma yang kita dapat kredit untuk 6 bulan itu.

Demikianlah pemahaman saya tentang memaknai kemenangan Dharma kaitannya dengan pelaksanaan hari Suci Galungan.
 
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
 
Sumber: Ida Pedanda Made Gunung

Ida Pedanda Made Gunung - Penjor dan Galungan di Dalam Tafsir

 
OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU NAMOSIDAM.

SELAMAT HARI SUCI GALUNGAN KEPADA UMAT HINDU DIMANAPUN SAUDARA BERADA, SEMOGA DAPAT MELAKONI HIDUP MENUJU TUJUAN HIDUP ITU SENDIRI.

Judul ini sengaja saja buat seperti itu, sebab akhir-akhir ini umat Hindu khususnya di Bali, sedang semaraknya membikin penjor untuk galungan, bahkan biaya yang dikeluarkan tidak canggung...-canggung lumayan besar bagi ukuran saya sendiri. Seiring dengan meriahnya penjor galungan saya sangat mengharapkan dapat dimaknai atau paling tidak ditafsir maknanya dikaitakan dengan peningkatan moralitas, untuk memenangkan Dharma.

Saya akan mencoba menafsir makna penjor tersebut dikaitkan dengan peningkatan moralitas. Penjor itu yang paling menyolok adalah bambu yang digunakan sebagai sarana pokok pasti bentuknya melengkung (bengkong muncukne). Itu yang menarik perhatian saya, sebab selama yang saya tau penjor itu selalu bambunya begitu. Yang kedua di paling ujung dari tali pengikat ujung bambu itu pasti ada sebuah benda hasil kesenian (reringgitan) yang disebut Sampyan.

Dari keduanya inilah saya menafsir sebagai berikut; Manusia hidup harus menggantungkan cita-citanya mungkin lebih tinggi dari langit. Setelah cita-cita itu tercapai jangan lupa dengan asal (yang dibawah).

Contohnya: Seseorang yang bercita-cita menjadi Kepala Desa, menjadi Anggota Dewan dll, itu sangat bagus sekali, namun setelah cita-citanya itu tercapai jangan lupa pada rakyat di bawah, sebab dia dapat mencapai cita-citanya itu karena dukungan (pilihan rakyat). Itulah sebabnya penjor itu selalu mengrunduk melihat kebawah. Di dalam bahasa saya sendiri menafsir makna penjor itu, begini; AKU JADI BEGINI (PERBEKEL ATAU ANGGOTA DEWAN DLL) KARENA SAMPYAN. KALAU TIDAK SAMPYAN MEMILIH SAYA MANA SAYA BISA ADA DISINI, MAKANYA SAYA MENGABDI UNTUK SAMPYAN. Itulah sebabnya penjor itu bengkong kebawah, dan ujungnya ada sampyan.

Kalau makna itu dapat diresapi dan juga dipraktikan untuk rakyat maka rakyat akan sangat merasa bahagia memiliki pemimpin yang mampu memenangkan dharma atas adharma di dalam hidupnya.
Itulah seklumit tafsir keberadaan penjor Galungan terkait dengan peningkatan moral dalam istilah kemenaangan Dharma atas Adharma.

Sekian semoga para pemimpin kita dapat memaknai Penjor di dalam rangka berjuang memenangkan Dharma.

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM
 
Sumber: Ida Pedanda Made Gunung

Ida Pedanda Made Gunung - Mensyukuri apa yang kita dapati sekarang


OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.
Kadang-kadang masih ada yang merasa bingung terhadap apa yang mereka dapati atau nikmati dimasa hidup sekarang ini. Mungkin mereka berpikir, kenapa saya sudah begini kok dapat begitu? Atau, kenapa mereka begitu kok dapat begini? Akhirnya penyesalan demi penyesalan akan muncul, untuk melemahkan semangat hidup, dan mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama dan terhadap kebesaran Ida Hyang Widhi. Karena penyesalan itu sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali. Lebih baik waspada sebelum dan diwaktu beraktivitas, dibandingkan dengan menyesal setelah mendapat hasil dari aktivitas itu. Karena apa yang kita perbuat itu sekaligus merupakan kehendak kita dan juga merupakan pernyataan kita atau permohonan kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena Beliau sangat adil dan bijaksana, apapun yang menjadi keinginan manusia pasti akan dipenuhi. Kalau mereka menginginkan hidup tenang dan bahagia, mereka harus menyampaikan keinginan melalui perbuatan kepada Beliau. Jadi Beliau akan menilai, jenis kebahagiaan yang bagaimana diinginkan, apakah kebahagiaan di atas penderitaan orang lain atau kebahagiaan bersama, setelah itu pasti kita terima hasil dari permohonan tersebut. Pokoknya apa yang kita mohon kepada Beliau pasti dipenuhi, lalu mengapa kita harus menyesali pemberian atau anugrah Beliau. Apakah penyesalan itu tidak boleh disebut salah satu bentuk sifat durhaka?

Ambil saja satu contoh, seorang anak meminta uang jajan 10 rupiah kepada orang tuanya, mereka berbicara dan bergerak untuk menyatakan permintaanya itu agar orang tuanya mengerti. Lalu orang tuanya memenuhi permintaan anaknya, dengan memberikan uang sesuai dengan permintaan. Mengapa si anak menyesal atas pemberian orang tuanya? Dengan mangatakan bahwa uang 10 rupiah mana cukup untuk membeli jajan? Percuma saya minta uang. Jajan saja harganya 100 rupiah, kok sampai hati orang tua saya memberi uang segini? Bentuk prilaku seperti inilah sebenarnya sangat tidak berguna. Apa bila mereka menyadari, semestinya sebelum meminta harus waspada dahulu, baik tentang harga maupun yang lainnya. Setelah itu baru meminta, pasti tidak akan terjadi penyesalan.

Demikian gambaran sebagai contoh untuk dapat menghayati tentang apa yang kita nikmati sekarang adalah merupakan hasil dari karma kita sendiri, sehingga setiap mau berbuat (berkarma), harus dilandasi oleh pikiran yang sejati, perkataan yang sejati dan pelaksanaan yang sejati. Untuk mendapatkan semua kesejatian tersebut, tiada jalan lain selain mengikuti petunjuk-petunjuk sastra Agama. Di dalam kitab Agastya Purana ada dimuat tentang penjelmaan kembali, apabila kita tersebut dibaca secara teliti, ada penjelasan tentang penjelmaan yang erat kaitannya dengan karma wasana.

Misalnya seseorang yang lahir menjadi manusia cacat (cacat fisik), itu diakibatkan oleh sewaktu mereka hidup sebelum kelahiran sekarang, sangat senang berbicara yang kurang sedap didengar, sehingga sering menimbulkan perasaan yang kurang enak bagi yang mendengarkannya, bahkan tidak jarang menyebabkan sakit hati. Prilaku mereka yang demikian itu, merupakan kesenangan sekaligus merupakan permohonan kehadapan Beliau agar dikemudian hari dapat pahala sesuai dengan kesenangannya. Makanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sangat adil menganugrahi mereka untuk menjelma menjadi orang sumbing. Nah kenapa setelah diberikan anugrah sesuai dengan permohonan, kita jadi menyesal? Jika tidak senang menjadi manusia sumbing atau cacat fisik janganlah berbuat yang bertentangan dengan ajaran agama. Kalau ingin menjadi orang kaya material dikemudian hari, mulai sekarang harus senang membantu (berderma) secara tulus dan ikhlas, pasti penjelmaan dikemudian hari menjadi orang kaya.

Pada dasarnya segala yang kita dapati dalam hidup sekarang, itu berdasarkan perbuatan kita terdahulu. Penyesalan demi penyesalan sebenarnya tidak bermanfaat. Untuk itu syukurilah apa yang kita dapati, dan selalu mengadakan evaluasi guna dapat meningkatkan atau menyempurnakan kehidupan dimasa datang. Masihkah saudara meyakini ajaran punarbawa? Atau, masihkah ada sisa-sisa keyakinan saudara tentang ajaran punarbawa, yang merupakan salah satu bagian dalam ajaran Panca Sraha? Yakin tidak yakin ajaran punarbawa akan terjadi di setiap manusia.

Maka dari itu, syukurilah apa yang kita terima sekarang merupakan hasil dari perbuatan kita. Tiada penyesalan yang mampu memberikan jawaban dan mengubahnya. Mengapa harus melakukan sesuatu yang tidak memberikan dampak positif terhadap diri kita?

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM

Ida Pedanda Made Gunung - Tindakan Brutal Menutup Kesucian


OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Disiang hari panas matahari menyengat, sepertinya Dewa Matahari berkeinginan untuk membakar bumi secepat mungkin, entah dosa apa yang sedang dilakukan di atas bumi ini, sehingga Dewa Matahari berkeinginan seperti itu. Dalam keadaan yang serba panas pikiran manusiapun terpengaruh, bahkan lebih panas dari pancaran sinar Matahari. Jala...n-jalan dipenuhi oleh antrian kendaraan dari berbagai jenis menunggu giliran lewat, asap mobil menyelimuti udara, manusiapun tidak henti-hentinya menghirup sisa pembakaran mesin mobil.

Namun kejadian seperti itu tidak menjadi perhatian, karena masing-masing dari mereka sangat sibuk mencari sesuatu untuk memenuhi tuntutan hidup. Mereka membayangkan tuntutan hidup itu datangnya seperti antrian mobil macet di jalan raya, sehingga tidak kurang dari mereka yang kehilangan kesabaran, sebab sang waktupun mengejar semakin dekat. Tidurpun tak nyenyak, pikiran jadi berputar seperti kincir angin diterpa badai, bergaul tidak sempat, mendidik anak tidak ada waktu, kerja jadi membosankan, kebohongan dan penipuan diri menjadi subur, sifat persaudaraan menjadi langka, kasih sayang semakin sirna mengikuti punahnya burung jalak Bali.

Sifat dan karakter sedikit demi sedikit bergeser dengan pasti, sifat egois menjajah sifat sosial, sombong mengganti posisi rendah hati, sifat emosi menjadi pemimpin dalam dunia kesabaran, tindakan brutal menggeser sifat persaudaraan. Sehingga ajaran agama menjadi topeng kepentingan, TriHitta Karana, Tatwamasi, ajeg Bali dipakai bumbu penyedap masakan untuk melemaskan lidah memainkan kata-kata demi tercapainya kepentingan, aktivitas agamapun tak luput dari ajang pamer kekayaan, pamer perhiasan, pamer kemolekan tubuh, sehingga bau busuk, bau amis tertutup oleh kain halus dan mahal, serta bau minyak wangi yang menyengat. Bhutakalapun tersenyum karena merasa bangga atas keberhasilannya mendidik. Para Dewa menangis karena ajarannya dinyanyikan lewat bibir bau busuk yang menyengat.
Semuanya telah menjadi kenyataan dalam hidup ini, dengan munculnya teroris yang bertarap internasional, perampokan, perampasan datang silih berganti. Perkelahian, bentrok antar kelompok juga ikut menyemarakkan, judi dan mabuk, narkoba menjadi pilihan utama, berselingkuhpun tidak mau ketinggalan. Kalau sudah begini lalu apa artinya hidup ini?

Dalam keadaan seperti itu, mungkin ada sisa-sisa kesadaran yang belum terjamah habis. Marilah secara bersama-sama memupuk dan menyiangi, agar terkuak awan hitam yang menyelimuti hati, dan menghalangi pancaran kesucian menerangi batin. Hanya batin yang jernih dapat menerangi pikiran, pikiran yang terang dapat mengatur panca indria untuk merekam semua aktifitas sekaligus dapat membedakan yang mana baik dan yang mana buruk, guna memancing kesadaran bisa muncul untuk mengikis kegelapan, bahwa kita adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Beliau berdasarkan atas kesucian.

Ambil dan gunakanlah alat-alat penghapus kegelapan dan noda yang hampir kita lupakan, seperti; Telinga untuk mendengarkan nyanyian-nyanyian rohani, serta nasihat-nasihat Siwa Guru, mata melihat pemandangan yang mengarahkan bati menuju kesucian, hidung menghirup bau asap dupa cendana yang membuat pikiran melayang dan jatuh menerpa pangkuan Dewa Siwa, lidah mampu menikmati manisnya sorga Dewata, dan kulit dapat merasakan desiran angin kipas cendana dari para bidadari. Semuanya itu dapat menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Beliau maha pengasih dan maha penyayang, kita yang terlalu manja. Bekal hidup telah diberikan, jalan dengan rambu-rambu yang jelas sudah disediakan, kenapa masih ingin mencari jalan pintas yang belum tentu arah yang akan dituju. Kita telah ditunggu dan disediakan tempat yang nyaman oleh Beliau, kenapa masih ragu-ragu?

Lepaskan selimut kotor yang penuh noda pakailah pakaian yang bersih, hapuslah noda-noda batin dan berjalan dengan langkah pasti menuju yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukankah kita ingin mencapai kebahagiaan?

Jangan sampai salah pilih, sekarang musimnya perdagangan kebahagiaan semua atau kebahagiaan palsu, menjajakan dagangannya disertai janji-janji muluk yang menggiurkan yang satupun belum pernah terbukti bahkan sebaliknya akan bisa menjerumuskan kita kelembah neraka. Jangan dibiarkan terlalu lama tindakan brutal dan kebodohan memblenggu hidup kita.

Munculkan kesucian dalam diri untuk mencapai kesucian yang lebih besar. Mari kita bahagiakan leluhur kita di alam sana dan sejahtrakan keturunan kita di kemudian hari, serta damaikan hidup kita sekarang.

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
Sumber: Ida Pedanda Made Gunung

Kisah Leak 19 - Dikejar Ancangan Ida Bethara Dalem



Di atas langit ada langit, begitulah nasehat yang sering kita dengar yang menggambarkan bahwa seseorang itu tidak boleh sombong dalam menjalani kehidupan ini. Hal tersebut tergambar dari kejadian di bawah ini:
Sebut saja namanya Wayan A, seorang anak manusia yang tinggal di pesisir pantai di daerah Klungkung. Pekerjaannya formalnya tidak ada, boleh dibilang sebagai pengangguran, tapi punya kemampuan sebagai seorang Balian (dukun-red)
Wayan A punya sifat yang sombong merasa dirinya sakti, dimana suka sekali utnuk mempertunjukkan kemampuannya dan selalu berusaha untuk mencari perkara dengan orang lain.
Orang yang sudah mengerti akan sifat Wayan A selalu berusaha untuk menghindari konflik dengannya. Namun kadang ada pula yang berani melawan dan tidak jarang terjadi "siat peteng" untuk menentukan jalan keluarnya. Saking sakti nya Wayan A selalu keluar sebagai pemenang, sehingga menjadi semakin sombong. Kesombongannya semakin menjadi-jadi.

Di desa tersebut, juga tinggal seorang petani yang sangat polos, bahkan cenderung lugu yang bernama si Nengah. Petani ini sangat rajin dan ringan tangan dalam pergaulan, sehingga banyak orang yang suka akan si Nengah. Orangnya apa adanya, sehingga semakin banyak orang yang suka minta tolong dan bergaul dengan si Nengah. Hal yang sangat kontras dengan kehidupan Wayan A dimana banyak orang yang cenderung menjauhinya.

Hal tersebut membuat Wayan A menjadi marah dan iri akan si Nengah, berbagai alasan dia coba cari untuk mengajak si Nengah ngadu ilmu. Nengah yang dasarnya tidak tahu apa-apa alias tidak punya ilmu selalu berusaha untuk menghindar agar jangan sampai bentrok.

Hingga suatu saat karena Wayan A memaksakan suatu perkara kepada si Nengah sehingga Nengah mau gak mau harus melayani Wayan A. Wayan A menantang untuk "siat peteng" saat malam kajeng kliwon di suatu area yang memang dikenal sering dipakai ajang itu. Nengah pun dengan terpaksa meng iya kan tantangan Wayan.

Saat malam kajeng kliwon, Nengah sangat gelisah karena sadar tidak punya ilmu apapun untuk melayani tantangan Wayan. Dengan pasrah akhirnya Nengah pergi ke Pura Dalem di desa nya pas saat sandhya kala. Di Pura segera dia sembahyang dan dengan polos nya mengutarakan tantangan Wayan A terhadap dirinya. Setelah sembahyang si Nengah cuman bisa duduk terdiam dan tidak tahu mesti melakukan apa.

Tepat tengah malam seperti perjanjian adu ilmu dengan Wayan A, si Nengah melihat cahaya kecil (sebesar nyala api dupa) keluar dari Pelinggih Pejenengan di Pura dalem tersebut. Cahaya tersebut berputar-putar mengitari si Nengah dan akhirnya melesat cepat ke areal adu ilmu tersebut. Nengah mengamati api tersebut semakin lama semakin besar yang akhirnya menjadi sebesar bangunan rumah.

Sementara itu Wayan A sudah mempersiapkan diri untuk melakukan pertempuran dengan si Nengah, dilihatnya dari kejauhan api menuju tempatnya menunggu. Awalnya dia mengira itu adalah perwujudan dari si Nengah. Ketika api itu sudah semakin dekat dan semakin besar, akhirnya dia sadar bahwa yang datang membela Nengah adalah Ancangan Ida Bethara Dalem dalam wujud nyala api yang luar biasa besar. Begitu kagetnya dia sehingga buru-buru mengambil langkah seribu alias kaburrrrr..

Api yang sebesar rumah itu tidak serta merta membiarkan si Wayan A kabur, tapi tetap mengejarnya kemanapun dia lari. Dengan nafas ngos-ngosan Wayan A terus berusaha untuk lepas dari kejaran Ancangan Ida Bethara, tapi bagaimanapun saktinya tetap saja dia bisa di kejar dan siap dibakar oleh api tersebut.

Saat kritis seperti itu, timbullah penyesalan dalam dirinya akan apa yang telah diperbuat selama ini, secercah pencerahan akan kebenaran yang tersembunyi di balik sifat sombongnya menyebabkan Wayan A sadar.

Tatkala tenaganya sudah habis dan api sudah dekat, Wayan A menjatuhkan diri dan bersujud dihadapan api itu, dengan melantunkan puja-puji kepada Ida Sesuhunan ring Pura Dalem, Wayan A mohon maaf akan segala kesalahannya.

Anehnya api sebesar rumah itupun mengecil seiring dengan lantunan puja puji kehadapan Ida Sesuhunan, dan ada bisikan dalam hatinya bahwa ini merupakan peringatan kepada Wayan A agar tidak menyombongkan segala ilmu yang dimiliki, ilmu itu hendaknya dipakai untuk menolong sesama manusia, bukan dipakai untuk "siat peteng".

Wayan A berjanji akan mematuhi hal itu, begitu dia selesai mengucap janjinya, maka api itupun hilang dari hadapannya. Wayan A kemudian pergi ke Pura Dalem untuk sembahyang, di sana di jumpainya si Nengah. Permohonan maafpun dimintakan ke si Nengah, Nengah sangat gembira akan perubahan pada diri Wayan A dan memaafkan segala kesalahannya.







Ida Pedanda Made Gunung - Harapan bagi Umat Hindu dari Bali yang berada di luar Bali

OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Setelah runtuhnya kerajaan Mojopahit, kita dapat lihat bahwa perkembangan umat Hindu di tanah air berasal dari Bali. Karena Bali sangat identik dengan Hindu, seperti istilah rakyat ada yang menyebutkan: ingat Bali ingat Hindu, ingat Hindu jadi ingat Bali. Dunia internasionalpun mengakui seperti itu, bukan hanya istilah dari orang lokal saja. Dengan adanya program pemerintah tentang transmigrasi, yang bertujuan untuk pemerataan penduduk dari daerah yang berpenduduk padat (termasuk Bali), ke daerah yang masih jarang penduduknya. Walaupun kenyataan mengatakan lainyaitu Bali tetap padat penduduknya, dikarenakan oleh tidak terbendungnya urbanisasi membanjiri Bali, bahkan Bali sekarang bukannya jarang penduduknya melainkan lebih padat lagi. Hal ini tidak terlepas dari lemahnya system kependudukan dipemerintahan dan pihak pemerintah. Pernahkah pemerintah mengevaluasi keberhasilah transmigrasi. Apakah sudah mencapai tujuan, apa belum?

Selain penyebaran Hindu melalui program transmigrasi, juga dengan adanya perpindahan pegawai dan tugas lainnya keluar Bali, sehingga umat Hindu yang berada di luar pulau Bali, lebih dominan berasal dari Bali. Pembangunan pura pun berdasarkan konsep Bali, tatanan kemasyarakatannya juga meniru Bali, walaupun tidak persis. Seperti adanya istilah banjar dan lain sebagainya. Walaupun demikian keadaannya, masih tidak banyak orang Bali yang pikiranya, atau yang lainnya untuk kemajuan dan tetap terjaganya Bali secara utuh sebagai daerah asal mereka. Bahkan masih ada orang Hindu yang berasal dari Bali mengkritik Bali secara pedas dan tidak mampu memberi jalan keluar yang baik.

Saya sering memberi Dharmawacana di luar Bali, sering saya mendapat pertanyaan yang sifatnya mengkritik. Seperti contoh; Kenapa sistem desa pakraman di Bali sangat mengikat warganya sehingga sulit warganya dapat mengikuti kemajuan zaman? Kenapa agama Hindu di Bali hanya menitikberatkan pada pelaksanaan upacara saja, dan tidak pernah menyentuh tattwa? Kenapa upacara agama Hindu di luar Bali selalu menggunakan (mendatangkan) banten yang sangat rumit dan mahal dari Bali? Ada juga yang menilai bahwa adanya keinginan orang Hindu di Bali, membalikan Umat Hindu yang berada di luar Bali (mengintervensi).

Semestinya hal-hal seperti itu tidak perlu terjadi, karena bisa memancing sesuatu yang sama sekali tidak kita inginkan bersama. Bukan berarti orang Hindu di Bali tidak boleh dikritik, bahkan sebaliknya kritik itu sangat diharapkan tetapi yang sifatnya membangun demi masa depan kita.

Seperti yang sering kita dengan bahwa agama Hindu sangat menghormati budaya lokal, dengan cara mengangkat, memelihara dan memberinya makna tattwa, sehingga tidak menjadi asing bagi umat Hindu sendiri. Jika kita berada di luar Bali bisa melaksanakan aktivitas agama yang disesuaikan dengan budaya lokal, namun tidak keluar dari tattwa dan tutjuan yang mau dicapai. Apabila kita belum mampu mengangkat budaya lokal dimana kita berada untuk pelaksanaan aktivitas agama, bisa mengadopsi budaya Bali (model Bali), tetapi sesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Kiranya itu tidak salah. Tetapi tidak berarti Bali harus menyesuaikan dengan daerah lain, dan demikian sebaliknya.

Biarkanlah Bali berkembang sesuai dengan alamnya, karena telah terbukti bisa mendatangkan daya tarik tersendiri. Untuk itu marilah saudara-saudaraku jangan lupa pada asal mula kita, sumbangkanlah sesuatu demi terjaganya warisan leluhur kita. Bagi umat Hindu yang tetap berada di Bali semestinya sadar tentang tanggung jawab, sehingga secara bersama-sama kita menjaga ajegnya Bali dalam arti luas. Hentikan kebiasaan-kebiasaan jelek seperti main judi, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang senada dengan itu, mulailah menjadi atau menuju masyarakat produktif.

Satu lagi yang perlu diingat adalah bahwa pulai Bali tidak memiliki kekayaan alam yang dapat menghidupi Bali itu sendiri, seperti di daerah lain yang memiliki tambang, mengandalkan hasil hutan dan lain sebagainya. Bali hanya mengandalkan budaya dan seni yang bernafaskan Hindu. Jika budaya dan seni ini tidak terpelihara dengan baik, habislah sudah. Siapa lagi yang harus memeliharanya? Tidak ada lain adalah orang Bali, terutama yang masih tinggal di pulau Bali sebagai masyarakat pendukung budaya dan seni Bali, dan tidak ketinggalan juga masyarakat Hindu dari Bali yang tinggal diluar Bali.

Juga perlu diperhatikan pula oleh mereka yang non Hindu tinggal di Bali. Jangan seenaknya sampai kurang memperhatikan Bali. Kalau diumpamakan, mereka yang hidup di Bali memetik bunga dan buahnya, jangan lupa memelihara batangnya, memelihara akarnya. Jangan sampai sebaliknya menghancurkan melalui cara mencarikan bentuk baru Bali itu. Bali telah di buat seperti sebuah lukisan yang ditata apik oleh pelukis kawakan di zaman dahulu, janganlah mereka yang baru menjadi pelukis tingkat pemula coba-coba memoleskan warna, akan cacat jadinya. Nikmati saja keindahannya, jika kalian sangat berkeinginan untuk melukis baru, silahkan cari kertas lain untuk menuangkan lukisan anda, jangan di sini (Bali) dicoret-coret lagi, agar jangan karena anda cacat lukisan yang telah terkenal itu, apalagi karya anda belum pernah terbukti kehebatannya, dikagumi oleh dunia internasional.

Bagi siapapun juga baik di pihak pemerintah maupun pihak lain, perlu diingatkan bahwa hanya satu ada Bali di atas bumi ini, karena belum ada yang mampu memproduksi Bali yang ke dua.

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
Disunting dari FB Ida Pedanda Made Gunung

Tool untuk Mengembalikan File yang Terhapus

Kasus penghapusan file penting secara tak disengaja mungkin pernah menimpa Anda.

Sekarang, Anda bisa menggunakan tools khusus untuk mengembalikan file-file tadi. Berikut ini ada 4 tools yang bisa Anda gunakan untuk mengembalikan file yang terhapus. Tools ini dapat di-download secara gratis di internet.

1. Undelete Plus
Di antara aplikasi-aplikasi gratis yang beredar di luaran untuk mengembalikan file yang terhapus, Undelete Plus salah satu yang dapat digunakan. User interface-nya (antar muka) tergolong sangat simpel. Anda dapat mengembalikan file-file yang terhapus dengan mudah sesuai dengan tipe file, misalnya Application, GIF graphics, HTML Documents, PDF.

Tools ini beroperasi pada sistem operasi Windows 95, Windows 98, Windows Me, Windows NT, Windows 2000, Windows XP, Windows 2003 dan Windows Vista. Anda dapat men-download Undelete Plus di: http://www.undelete-plus.com/

2. Restoration
Restoration adalah salah satu aplikasi untuk mengembalikan file yang terhapus. Tools ini juga sangat mudah digunakan dan tidak perlu diinstal di komputer. Cukup download toolsnya di: http://www.snapfiles.com/get/restoration.html, lalu jalankan file executable-nya untuk mengembalikan file yang terhapus.

3. PC Inspector File Recovery
Meski user interface PC inspector File Recovery tidak begitu user friendly, aplikasi ini tergolong sangat ampuh untuk mendeteksi dan mengembalikan file yang terhapus. Sesudah dilakukan proses scanning, akan tersaji file-file yang terhapus dalam folder dengan struktur pohon (tree structure) untuk mempermudah pencarian. Dengan begitu, Anda dengan mudah dapat mencari dan memilih file/folder yang terhapus, lalu klik icon "save" untuk mengembalikan file. Tools ini dapat di-download di: http://www.pcinspector.de/Sites/file_re ... language=1

4. Recuva
Recuva sering disebut juga sebagai "Recover". User interface-nya sangat sederhana. Pada mode basic, tools ini akan menampilkan daftar file-file yang terhapus yang bisa dikembalikan. Jika Anda menggantinya ke mode advanced, maka proses scanning ulang akan dilakukan dan muncul pilihan untuk menampilkan informasi berisi daftar file-file yang terhapus. Tools ini dapat di-download di: http://www.recuva.com/