Om Swastiastu Om

.

Pura Pucak Tinggah

MENJADI lumbungnya padi, Tabanan memiliki segudang pura berkaitan dengan krama subak. Salah satunya, Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah di Desa Angseri, Baturiti. Pura di puncak bukit ini dipercaya sebagai pertemuan Batara Brahma dan Wisnu dalam memberikan kemakmuran, khususnya petani.

Konon, pura ini awalnya hanya hutan bambu. Puncak Tinggah berarti puncak yang luas di tengah hutan bambu. Prajuru Pura Pucak Tinggah, Made Suarnata, menjelaskan, ada tiga kelompok prasasti yang mengisahkan asal-usul Pura Kahyangan Pucak Tinggah. Prasasti ini hasil penelitian ahli purbakala asal Belanda, Dr. R. Goris, bersama tim kepurbakalaan Museum Bali tahun 1977. Tiga prasasti itu masing-masing diberi nomor 007 Angseri A, 508 Angseri B dan 1009 Angseri C.

Dari bentuk dan huruf tulisan yang ditemukan, ketiga prasasti itu dibuat tidak bersamaan. Prasasti 007 Angseri adalah kelompok tertua dari ketiga prasasti yang ada. Namun, seluruhnya menggunakan aksara Bali kuno yang sezaman dengan prasasti di Desa Gobleg, Ujung dan beberapa prasasti Bali kuno lain. Sedangkan prasasti 508 Angseri dan 1009 Angseri dikeluarkan beberapa ratus tahun setelah prasasti 007 Angseri. ''Ini data yang kami dapatkan dari peneliti, termasuk Pemkab Tabanan,'' katanya Sabtu (20/4) kemarin.

Dalam prasasati 007 Angseri, diuraikan masyarakat membangun tempat suci yang disebut Hyang Api yang berarti Puser atau Pucak pada zaman pemerintahan Raja Ratu Cri Ugrasena tahun Icaka 837 atau 915 Masehi. Sedangkan Prasasti 508 Angseri dibuat pada jaman Raja Cri Curadhipa tahun Icaka 1041 atau 1115-1119 Masehi.

Disebutkan, Prabu Sakti Wisnumurthi yang diibaratkan seperti bulan dan matahari, memberikan sinar pada semua yang ada. Dalam prasasti ini juga disebutkan, Desa Sukhamerta (sekarang Angseri-red), dengan penglingsir Kaki Hyang Tatdwanyana menghadap Raja Cri Curadhipa terkait tempat pertapaan di Desa Sukhamerta pernah dijadikan tempat suci oleh Raja Sri Aji Tagendra Warmadewa yang memerintah tahun 955-967 Masehi. ''Kalau prasasti 1009 Angseri keadannya sangat rusak, sehingga tak bisa terbaca,'' katanya.

Selain prasasti, berdasarkan cerita tokoh masyarakat, Pura Pucak Tinggah memiliki sejumlah kisah sejarah. Di antaranya, ketika Rsi Markandya datang ke Bali pernah berstana di pura ini. Ketika Ida Hyang Pasupati ke Bali juga pernah berstana di pura ini. Kala itu, Hyang Pasupati berstana di Pura Pucak Semeru Agung. Ini dibuktikan dengan adanya palinggih pesimpangan Pura Pucak Semeru Agung di areal Pura Pucak Tinggah.

Pura ini juga diyakini pertemuan antara Ida Bhatara Wisnu dan Ida Bhatara Brahma. Hal ini dibuktikan dengan adanya mata air yang beraneka jenis di lokasi pura. Di antaranya, mata air dingin, air suam kuku, air panas, dan aneka rasa seperti asam, belerang, amis dan tawar.

Pura Pucak Tinggah juga perpaduan pengaruh jaman Rsi Markandya dan Mpu Kuturan. Ini terlihat dari keberadaan Pura Tri Kahyangan dan Batur Jati. Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah juga berkaitan dengan Pura Pucak Beratan, Pucak Bukit Sangkur, Pura Tratai Bang, Pura Pucak Batukaru, Pura Pucak Bukit Adeng, Pura Pucak Padang Dawa, Pura Pucak Batu Lumbang, Pura Pucak Sarinadi, dan Pura Penataran Dalem Ped. Sebab, saat Ida Ratu Gede Sakti Mas Mecaling datang ke Bali, beliau sempat berstana di Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah. Banyaknya kaitan pura ini, ketika pujawali, banyak pura di Bali membawa tapakan ke Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah. Bahkan, total tapakan bisa mencapai 30 tapakan, mulai dari Tabanan, Badung, hingga Gianyar.

Dari kajian Bappeda Tabanan, Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah berfungsi sebagai Pura Ulun Suwi yang membawahi Subak Angseri, Tinungan, Kambangan, Senganan, Bunutin, Pemanis, Payangan dan penyiwi bakti meliputi Tabanan, Badung, Gianyar, Denpasar, Bangli, dan Jembrana. ''Fungsi Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah adalah untuk memohon kemakmuran dan peneduh jagat serta tempat penyucian dan pasupati tapakan Ida Bhatara,'' jelasnya.

Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah hanya di-empon oleh 60 KK dengan luas pura mencapai 14 hektar. Di dalamnya terdapat sejumlah pelinggih. Pelinggih utama dahulunya adalah tumpukan batu di tengah hutan bambu yang dikenal dengan payogan atau tempat bersemadi. Kini, bekas hutan bambu itu masih dibiarkan tumbuh di dalam pura sebagai cikal bakal pura. Selain pelinggih utama, ada sejumlah pelinggih yang dibangun di sekitar areal pura. Di antaranya, Taman Purwa/Saren Kauh untuk penyucian Ida Batara, Dalem Purwa untuk menyimpan perlengkapan upacara kahyangan jagat, Lingga Jati untuk perlengkapan upacara pura dan Gunung Santun untuk penyimpanan bahan makanan.

Upacara pujawali digelar setahun sekali, setiap purnamaning jesta. Saat piodalan, ribuan pemedek dari seluruh Bali selalu memadati pura ini. Puncak pujawali tahun ini jatuh pada Kamis (26/4) atau Wrespati Wage Pujut. Ida Batara akan nyejer Jumat (26/4) hingga Senin (29/4) mendatang atau Soma Pon Pahang. Prosesi pujawali sudah dimulai sejak 26 Maret lalu. Rinciannya, ngaturang pengalang sasih, lalu 14 April lalu ngolemin, dilanjutkan 19 April pecaruan dan melaspas kori dan tembok penyengker serta bale kul-kul, diteruskan Minggu (21/4) Ida Betara masucian/melasti ke Pura Ulun Danu Beratan

Sumber: Balipost

0 komentar:

Posting Komentar