Om Swastiastu Om

.

Pura Dalem Waturenggong


Dari segi nama, Pura Dalem Waturenggong mengingatkan kita kepada Raja Dalem Waturenggong yang memerintah di Bali pada abad XVI (sekitar tahun 1550 M). Namun, apakah pura tersebut ada kaitannya dengan kebesaran Raja Dalem Waturenggong yang sempat membawa Bali ke zaman keemasan itu masih belum berani dipastikan.

Para tetua dan beberapa sumber prasasti yang ada, belum ada dengan jelas menerangkan hal tersebut. Yang jelas, Pura Dalem Waturenggong yang ada di Desa Taro Kecamatan Tegallalang, Gianyar ini merupakan salah satu pura tua di Bali dan memiliki sejarah yang cukup panjang.

Keberadaan Pura Dalem Waturenggong, letaknya tak jauh dari Pura Agung Gunung Raung, yang hanya sekitar 50 meter. Pura Dalem Waturenggong merupakan pura kahyangan jagat. Banyak umat yang datang ke pura untuk memohon kerahayuan jagat, keamanan dan pengayoman jagat ketika keadaan kurang stabil. Bendesa Taro Kaja, Made Wisersa, mengatakan, Pura Dalem Waturenggong juga dipercayai oleh masyarakat setempat untuk memohon anugerah ilmu pengetahuan, taksu dan kewibawaan. Jadi, tak heran banyak pajabat yang menyempatkan diri juga untuk tangkil ke pura, jelasnya.

Banyak umat dari berbagai daerah di Bali juga datang matirtayatra ke Pura Dalem Waturenggong. Keberadaan Pura Dalem Waturenggong dari awal berdirinya telah beberapa kali mengalami perubahan. Dulunya, pura ini memiliki struktur yang sangat sederhana. Karena sakral, masyarakat tak berani memugar pura ini sampai tumbangnya pohon beringin tua yang berada di mandala pura. Akhirnya sebagaimana hasil paruman dari seluruh pangempon pada tahun 2003, pura ini dipugar total dari pelinggih sampai tembok penyengker pura dan kini keberadan pura juga tampak lebih luas dan tertata dengan rapi, kenangnya.

Pemugaran dilaksanakan dalam waktu satu tahun dengan dukungan dari seluruh pangempon dan penglingsir pura. Setelah dilaksanakan pemugaran, dilanjutkan dengan karya pemelaspas dan mendem pedagingan yang dilaksanakan tanggal 7 April 2004.

Jro Mangku Gede Ketut Telaga menjelaskan, piodalan di Pura Dalem Waturenggong dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari, yang jatuh pada hari Anggar Kasih Julungwangi. Pura Dalem Waturenggong dalam eksistensinya didukung oleh pangempon yang berjumlah kurang lebih 500 KK, berasal dari warga Desa Pakraman Taro Kaja. Pura Dalem Waturenggong dibagi menjadi tiga mandala, dengan dihiasi pelinggih dengan bentuk, struktur dan fungsi yang berbeda di setiap mandala-nya. Seluruh mandala pura ini dikelilingi tembok panyengker sebagai batas kesucian pura.

Palinggih pokok di pura ini adalah pelinggih meru tumpang tiga yang terletak di utama mandala pura. Selain itu juga terdapat pelinggih taru, ngrurah dan pejenengan, serta pelinggih padmasana.

Pura Dalem Waturenggong juga dilengkapi dengan beberapa bangunan pelengkap seperti bale kulkul, bale angklung, pawedaan, pengaruman, dan bale paselang

Sumber: Balipost

0 komentar:

Posting Komentar