Om Swastiastu Om

.

Pura Luhur Muncak Sari - Tabanan



PURA Luhur Muncak Sari di Desa Sangketan, Penebel, Tabanan, menjadi salah satu pura yang paling terkenal di kabupaten ini. Lokasinya di atas ketinggian, kesakralannya terasa masih kental. Dipercaya, pura ini menjadi sumber kemakmuran dan sumber kehidupan bagi masyarakat, khususnya petani.

Tidak ada sumber tertulis yang mengisahkan sejarah Pura Luhur Muncak Sari. Kisah pura ini hanya menjadi cerita turun-temurun. Berdasarkan namanya, Muncak Sari berasal dari dua suku kata, muncak yang berarti puncak dan sari artinya sumber kehidupan. Jika diartikan, Muncak Sari berarti puncak sumber kehidupan.

Pura ini ditemukan sejak zaman kejayaan Kerajaan Tabanan. Namun, tidak ada prasasati yang menguatkannya. Hanya, tumpukan batu yang berada di ketinggian. ''Cerita Pura Luhur Muncak Sari hanya diwarisi turun-temurun dari leluhur kami. Namun, seluruhnya meyakini kisah itu ada,'' kata pemangku Pura Luhur Muncak Sari, Jro Mangku Made Sukarya, Sabtu (16/2) kemarin.

Diceritakan, sejarah penemuan pura ini berawal dari kegiatan warga di sekitar hutan yang suka mencari rotan. Kala itu, Pan Rum Rum, salah satu tokoh warga Dusun Puluk-uluk Desa Tengkudak, Penebel, berniat membangun rumah. Sesuai kebiasaan, warga mencari rotan untuk bahan tali pengikat kayu. Pan Rum Rum mengajak lima warga lain merambah hutan. Rombongan kecil ini bergerak ke utara. Tiba di hutan Desa Sangketan, mereka dengan mudah mendapatkan rotan atau penyalin. Keanehan muncul. Saat berniat pulang, hujan lebat disertai petir dan angin mendadak muncul. Kelima warga ini kebingungan dan bergegas pulang. Anehnya, mereka hanya berputar-putar di lokasi. Sadar sudah tersesat, Pan Rum Rum langsung duduk dan berdoa meminta maaf. Dia sadar sudah melakukan kesalahan mengambil rotan tanpa izin. Setelah meminta maaf dengan bahasa seadanya, hujan angin mereda.

Ketika membuka mata, kelima warga ini melihat tumpukan batu yang tertata rapi di bawah pohon besar. Mereka langsung bersujud di tempat ini, lalu mengucapkan kaul. Isinya, warga akan datang lagi dengan membawa sesaji besar.

Enam bulan kemudian, mereka bersama warga lain datang ke pelinggih ini untuk membayar kaul. Sesaji dihaturkan ke atas pelinggih. Sejurus kemudian, muncul suara gaib. Pelinggih batu itu ternyata bernama Bedugul Gumi, yang berstana Ida Batara Sedahan Agung, tugasnya memberikan kemakmuran kehidupan bagi warga melalui persawahan dan ladang. ''Pura ini menjadi amerta atau sumber kehidupan bagi persawahan,'' kata Jro Mangku Sukarya.

Usai hatur sesaji, Pekak Rum Rum dinobatkan menjadi pemangku pertama di pelinggih ini. Kala itu, bertepatan dengan Budha Umanis Medangsia. Waktu inilah yang dijadikan hari piodalan di pura ini setiap enam bulan sekali. Saat umat kembali menghaturkan sesaji, muncul lagi suara gaib. Isinya, pelinggih yang sudah disungsung warga dikenal dengan Muncak Sari atau pusatnya amrita kehidupan. Sejak itulah, pura ini dikenal dengan Pura Luhur Muncak Sari.

Pemangku yang menyungsung dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunan Pan Rum Rum hingga sekarang. Kini, sudah memasuki generasi keenam.

Luas Pura Luhur Muncak Sari mencapai 5 hektar yang membentang di lereng selatan Gunung Batu Karu. Ada empat desa pekraman yang me-nyungsung-nya, masing-masing Puluk-Puluk dan Tingkuh Kerep di Desa Tengkudak dan Banjar Anyar serta Kayu Puring di Desa Sangketan. Ada belasan pelinggih yang dibangun di pura ini. Di antaranya pelinggih Tri Murti, pesimpangan Rambut Sedana, pesimpangan Sura Laya, pesimpangan Jati Luwih, pelinggih Hyang Bethara Kriyenan dan beji kahyangan. Ada juga beberapa mata air atau beji suci di areal pura. Seperti beji Agung dan Beji Mayang Sari. Di sekitar pura terdapat pelinggih Sapu Jagat.

Saat perang kemerdekaan, laskar Gusti Ngurah Rai yang terluka diobati di pura ini. Konon, ada air tiga rasa di pura ini. Bukti yang masih tersisa adalah hutan bambu. Diyakini, hutan bambu itu bekas senjata bambu runcing dan tiang asrama bagi pejuang.

Saat pujawali kata Jro Mangku Sukarya, krama Bali dari berbagai kabupaten selalu tangkil ke Pura Muncak Sari. Bahkan, setiap hari ada saja warga, terutama krama subak yang meminta tirta ke pura ini. Dipercaya, tirta dari Muncak Sari bisa memberikan kesuburan tanaman petani. Selain tempat persembahyangan, di sekitar pura seringkali digunakan kegiatan perkemahan. Lokasinya yang sejuk dan indah menjadi kawasan paling tepat untuk melakukan outbond.

Sumber: Balipost

0 komentar:

Posting Komentar