Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Proses Penciptaan Alam Semesta


Alam semesta diciptakan dalam suatu proses evolusi yang panjang. Pada mulanya alam ini kosong, yang ada hanya Tuhan, sering disebut jaman "duk tan hana paran- paran anrawang anruwung" artinya ketika itu belum ada apa-apa dan semuanya belum menentu.

Dengan kemahakuasaan-Nya, kemudian Sanghyang Widhi Wasa menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (rohaniah) dan Prakerti (pradana) yaitu kekuatan kebendaan. Dari dua kekuatan ini kemudian timbul "cita" yaitu alam pikiran yang sudah mulai dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam, Rajah dan Tamah. Satwam adalah sifat-sifat dharma (kebenaran), Rajah adalah sifat-sifat dinamis kenafsuan, sedangkan Tamah adalah, sifat-sifat adharma, kebodohan dan apatis. Kemudian timbul Budi yaitu naluri pengenal, setelah itu timbul Manah yang merupakan akal dan perasaan, selanjutnya timbul Ahangkara yaitu rasa keakuan. Setelah ini timbul Dasa indria yaitu sepuluh sumber indria (gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan.

Lima gerak keinginan atau Panca Budi Indria itu ialah :

1 Caksu indria = rangsang penglihatan
2 Ghrana indria = rangsang penciuman
3 Srota indria = rangsang pendengaran
4 Jihwa indria = rangsang pengecap
5 Twak indria = rangsang rasa sentuhan atau rabaan

Lima gerak perbuatan atau Panca Karma Indria terdiri dari :

1 Wak indria = penggerak mulut
2 Pani indria = penggerak tangan
3 Pada indria = penggerak kaki
4 Payu indria = penggerak pelepasan
5 Upastha indria = penggerak kelamin

Setelah indria-indria ini barulah timbul lima jenis bibit alam yang disebut Panca Tanmatra yaitu :

1 Sabda Tanmatra = benih suara
2 Sparsa Tanmatra = benih rasa sentuhan
3 Rupa Tanmatra = benih penglihatan
4 Rasa Tanmatra = benih rasa
5 Gandha Tanmatra = benih bau (penciuman)

Dari Panca Tanmatra yang merupakan benih-benih benda alam lahirlah unsur-unsur benda materi yang bersifat nyata dinamai Panca Maha Bhuta. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta adalah
  • Akasa (ether)
  • Bayu (angin)
  • Teja (sinar)
  • Apah (zat cair) dan ...
  • Pretiwi (zat padat.)
Dari kelima unsur zat alam ini terbentuk paramanu yaitu atom-atom kelima zat padat ini mengalami proses perpaduan lebih lanjut sehingga terwujud benda-benda alam yang disebut Brahma anda (Brahmanda) yaitu planet-planet dan bintang- bintang sebagai bagian isi alam semesta.

Brahmanda artinya benda bulat berbentuk telur ciptaan Brahman. Semuanya terdiri dari tujuh Loka yang disebut Sapta Loka yaitu :
  • Bhur Loka
  • Bhuwah Loka
  • Swah Loka
  • Tapa Loka
  • Jana Loka
  • Maha Loka
  • Satya Loka.

Pada setiap Loka terdapat perbedaan kandungan unsur dari masing-masing Panca Maha Bhuta.

Proses Penciptaan Manusia dan Makhluk Lain.

Setelah tercipta alam semesta Sanghyang Widhi Wasa kemudian menciptakan isinya. Dalam proses penciptaan alam ini dibentuk lebih kasar, misalnya penciptaan Dewa-Dewa, Gandarwa. Paisacha. kemudian barulah yang berbadan kasar lainnya seperti binatang dan manusia. Proses penciptaan manusia adalah sari-sari dari Panca Maha Bhuta dan Sad Rasa yaitu zat dengan enam jenis rasa, manis, pahit, asin, asam, pedas, sepat. Unsur-unsur ini terpadu dengan unsur-unsur lain yaitu Cita. Budi. Ahangkara. Dasendria.

Panca Tanmatra dan Panca Maha Bhuta. Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini sama dengan pertemuan Purusa dengan Pradana. dengan ini terciptalah manusia. Maka di dalam diri manusia semua unsur alam itu ada.

Manusia pertama ciptaan Sanghyang Widhi dalam ajaran agama Hindu disebut Syayambhumanu. Syayambhumanu artinya makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri, itulah manusia pertama. Manu artinya berpikir. Dari kata Manu timbul kata manusia yang artinya keturunan Manu. Selanjutnya setelah tercipta manusia pertama atas kekuasaan Sanghyang Widhi Wasa, maka manusia itu sendiri yang berkembang.

Bhagavad-Gita III sloka 10.

Sahyajnah prajah srishtwa
Puro wacha praja patih
anena prasawishya dhwam
esha wo'stu ishta kama'dhuk

Dahulu kala Prajapati mencipta manusia
bersama bhakti persembahannya dan berkata
dengan ini engkau akan berkembangbiak
dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu

Diambil dari: Babadbali

Pura Luhur Muncak Sari - Tabanan



PURA Luhur Muncak Sari di Desa Sangketan, Penebel, Tabanan, menjadi salah satu pura yang paling terkenal di kabupaten ini. Lokasinya di atas ketinggian, kesakralannya terasa masih kental. Dipercaya, pura ini menjadi sumber kemakmuran dan sumber kehidupan bagi masyarakat, khususnya petani.

Tidak ada sumber tertulis yang mengisahkan sejarah Pura Luhur Muncak Sari. Kisah pura ini hanya menjadi cerita turun-temurun. Berdasarkan namanya, Muncak Sari berasal dari dua suku kata, muncak yang berarti puncak dan sari artinya sumber kehidupan. Jika diartikan, Muncak Sari berarti puncak sumber kehidupan.

Pura ini ditemukan sejak zaman kejayaan Kerajaan Tabanan. Namun, tidak ada prasasati yang menguatkannya. Hanya, tumpukan batu yang berada di ketinggian. ''Cerita Pura Luhur Muncak Sari hanya diwarisi turun-temurun dari leluhur kami. Namun, seluruhnya meyakini kisah itu ada,'' kata pemangku Pura Luhur Muncak Sari, Jro Mangku Made Sukarya, Sabtu (16/2) kemarin.

Diceritakan, sejarah penemuan pura ini berawal dari kegiatan warga di sekitar hutan yang suka mencari rotan. Kala itu, Pan Rum Rum, salah satu tokoh warga Dusun Puluk-uluk Desa Tengkudak, Penebel, berniat membangun rumah. Sesuai kebiasaan, warga mencari rotan untuk bahan tali pengikat kayu. Pan Rum Rum mengajak lima warga lain merambah hutan. Rombongan kecil ini bergerak ke utara. Tiba di hutan Desa Sangketan, mereka dengan mudah mendapatkan rotan atau penyalin. Keanehan muncul. Saat berniat pulang, hujan lebat disertai petir dan angin mendadak muncul. Kelima warga ini kebingungan dan bergegas pulang. Anehnya, mereka hanya berputar-putar di lokasi. Sadar sudah tersesat, Pan Rum Rum langsung duduk dan berdoa meminta maaf. Dia sadar sudah melakukan kesalahan mengambil rotan tanpa izin. Setelah meminta maaf dengan bahasa seadanya, hujan angin mereda.

Ketika membuka mata, kelima warga ini melihat tumpukan batu yang tertata rapi di bawah pohon besar. Mereka langsung bersujud di tempat ini, lalu mengucapkan kaul. Isinya, warga akan datang lagi dengan membawa sesaji besar.

Enam bulan kemudian, mereka bersama warga lain datang ke pelinggih ini untuk membayar kaul. Sesaji dihaturkan ke atas pelinggih. Sejurus kemudian, muncul suara gaib. Pelinggih batu itu ternyata bernama Bedugul Gumi, yang berstana Ida Batara Sedahan Agung, tugasnya memberikan kemakmuran kehidupan bagi warga melalui persawahan dan ladang. ''Pura ini menjadi amerta atau sumber kehidupan bagi persawahan,'' kata Jro Mangku Sukarya.

Usai hatur sesaji, Pekak Rum Rum dinobatkan menjadi pemangku pertama di pelinggih ini. Kala itu, bertepatan dengan Budha Umanis Medangsia. Waktu inilah yang dijadikan hari piodalan di pura ini setiap enam bulan sekali. Saat umat kembali menghaturkan sesaji, muncul lagi suara gaib. Isinya, pelinggih yang sudah disungsung warga dikenal dengan Muncak Sari atau pusatnya amrita kehidupan. Sejak itulah, pura ini dikenal dengan Pura Luhur Muncak Sari.

Pemangku yang menyungsung dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunan Pan Rum Rum hingga sekarang. Kini, sudah memasuki generasi keenam.

Luas Pura Luhur Muncak Sari mencapai 5 hektar yang membentang di lereng selatan Gunung Batu Karu. Ada empat desa pekraman yang me-nyungsung-nya, masing-masing Puluk-Puluk dan Tingkuh Kerep di Desa Tengkudak dan Banjar Anyar serta Kayu Puring di Desa Sangketan. Ada belasan pelinggih yang dibangun di pura ini. Di antaranya pelinggih Tri Murti, pesimpangan Rambut Sedana, pesimpangan Sura Laya, pesimpangan Jati Luwih, pelinggih Hyang Bethara Kriyenan dan beji kahyangan. Ada juga beberapa mata air atau beji suci di areal pura. Seperti beji Agung dan Beji Mayang Sari. Di sekitar pura terdapat pelinggih Sapu Jagat.

Saat perang kemerdekaan, laskar Gusti Ngurah Rai yang terluka diobati di pura ini. Konon, ada air tiga rasa di pura ini. Bukti yang masih tersisa adalah hutan bambu. Diyakini, hutan bambu itu bekas senjata bambu runcing dan tiang asrama bagi pejuang.

Saat pujawali kata Jro Mangku Sukarya, krama Bali dari berbagai kabupaten selalu tangkil ke Pura Muncak Sari. Bahkan, setiap hari ada saja warga, terutama krama subak yang meminta tirta ke pura ini. Dipercaya, tirta dari Muncak Sari bisa memberikan kesuburan tanaman petani. Selain tempat persembahyangan, di sekitar pura seringkali digunakan kegiatan perkemahan. Lokasinya yang sejuk dan indah menjadi kawasan paling tepat untuk melakukan outbond.

Sumber: Balipost