Om Swastiastu Om

.

Pura Watu Klotok


PURA Watu Klotok merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang terletak di Banjar Celepik, Desa Tojan, Klungkung. Sesuai dengan namanya, Pura Watu Klotok terletak di pinggir pantai Watu Klotok. Watu berarti batu dan Klotok berarti krotok yang berarti berbunyi, sehingga nama Watu Klotok artinya batu yang mekocok atau berbunyi.

Sejarah keberadaan pura ini cukup panjang dan dipercaya sudah ada sejak zaman megalitikum. Dalam buku yang ditulis Dewa Soma seorang tokoh agama di Klungkung, dijelaskan Pura Watu Klotok dibangun oleh Raja Kertha untuk memohon kesuburan dan keselamatan di sawah. Ini sesuai dengan isi lontar Dewa Purana Bangsul yang digunakan untuk menjabarkan sejarah pura ini.

Raja Kertha tiada lain adalah Mpu Kuturan, seorang tokoh yang dikenal membangun pura kahyangan jagat dan sad kahyangan di Bali. Hal itu disebutkan dalam lontar Kusuma Dewa dan dipertegas lagi dalam lontar Babad Bendesa Mas.

Dewa Soma dalam buku itu menjelaskan keberadaan Pura Watu Klotok sebagai genah pesucian Ida Batara Besakih, seperti dijelaskan dalam lontar Raja Purana Besakih.

Ketika Rsi Markandhya meletakkan panca datu di Pura Basukihan dan selanjutnya ditata dan disempurnakan pada abad VIII oleh Mpu Kuturan, pada jaman itu, Pantai Watu Klotok dipakai sebagai pusat pesucian Ida Batara Kabeh di Besakih. Dalam perkembangan selanjutnya, dari adanya batu mekocok yang mengeluarkan sinar di pantai itu, manusia yang saat itu dijelaskan giat mengolah tanah sawah memohon keselamatan dan kesuburan disawah agar terbebas dari merana (hama penyakit) yang menyerang sawah mereka. Kepercayaan itu masih melekat hingga sekarang, sehingga selain dipercaya sebagai genah pesucian Ida Batara Besakih, masyarakat juga melaksanakan upacara mohon pekuluh jika sawah warga terserang wabah. Sekaligus memohon keselamatan dan kesuburan tanam-tanaman yang kemudian dikenal dengan upacara neduh lan pengusabhan.

Dalam kaitan Pura Watu Klotok sebagai tempat pemujaan, pura ini merupakan salah satu pura kahyangan jagat di Bali sebagai sthana Ida Batara Baruna. Pura Watu Klotok juga disebutkan memiliki fungsi ganda, sebagai linggih pesucian Ida Batara Besakih sesuai kata lontar Raja Purana Besakih dan sebagai tempat Nangluk Merana sebagaimana yang dipaparkan dalam lontar Dewa Purana Bangsul. Buktinya diselengggarakkan aci rutin setiap tahun pada purnamaning kalima berupa upacara pangusabhan.

Pura Watu Klotok terbagi menjadi empat bagian. Pada bagian utama mandala terdapat 16 bangunan, di antaranya, linggih Ida Batara Lingsir Watu Mekocel, Sumur, Meru Tumpang Lima linggih Ida Batara Danu, Gedong Alit Pule, Meru Tumpang Lima linggih Ida Batara Segara, Padmasana, Sapta Petala, Ngerurah, Panggungan, linggih Ida Batara Sapu Jagat, Bale Peringgitan, Bale Pengaruman, Bale Piasan, Bale Paselang, Bale Gegitaan dan Candi Kurung. Pada bagian madya mandala, ada empat bangunan, di antaranya, Bale Pemedek, Bale Gong, Bale Kulkul, Candi Bentar dan Api Lawang Kiwa-Tengen. Pada Bagian Nista Mandala, terdapat linggih Ida Sang Hyang Kala Sunia, linggih Ida Batara Dalem Ped, Bale Pawedan, Panggungan, Candi Bentar dan Patung Dwara Pala. Sementara pada bagian pesucian terdapat Lumbung, Bale Petandingan, Peratenan, Bale Sakepat, Linggih Sri Sedana dan Bale Pebat.

Di Pura Watu Klotok ada tiga aci yang dilaksanakan secara rutin. Diantaranya aci panyabran, aci pengenembulan (piodalan) dan aci ngatiban (pangusabhan jagat). Aci panyabran dilaksanakan pada hari-hari suci, seperti purnama, tilem, kajeng kliwon, pagerwesi, Saraswati dan Siwaratri. Aci Pengenembulan dilaksanakan pada hari Anggarkasih Julungwangidan aci pangusabhan jagat dilaksanakan setiap purnama sasih kelima. Karya pengusabhan jagat bertujuan untuk memohon waranugraha Hyang Widhi agar alam ini memiliki kekuatan dan kesuburan, sehingga alam semesta beserta isinya dapat tumbuh dengan subur dan dapat dinimati oleh umat manusia.

Sumber: Balipost

0 komentar:

Posting Komentar