Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Ribuan Umat Hindu Padati Pura Agung Kentel Gumi - Puncak Pe"ngusabaan" Jagat


 
Bertepatan dengan Purnamaning Kelima, Minggu (17/11/2013) lalu, berlangsung puncak karya Pangusabhan Jagat di Pura Agung Kentel Gumi. Puncak Pangusabhan Jagat ini dihadiri ribuan umat Hindu di Bali yang pedek tangkil ke Pura Pusehnya jagat Bali ini. Ida Batara katur nyejer selama sebelas hari, sebelum kasineb pada Kamis (28/11/2013) mendatang.

Pura Agung Kentel Gumi dikenal sebagai salah satu bagian dari Tri Guna Pura (Kahyangan Tiga-nya jagat Bali). Pura Agung Kentel Gumi sebagai Pura Pusehnya untuk memohon kedegdegan jagat, Pura Batur sebagai Pura Desanya untuk memohon kesuburan jagat dan Pura Agung Besakih sebagai Pura Dalemnya jagat Bali. Sesuai dengan dudonan karya Pangusabhan Jagat di Pura Agung Kentel Gumi, puncak karya diawali dengan Caru Manca Sanak, di Bale Agung Pura Agung Kentel Gumi, kapuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Manuaba dari Geria Gede Tusan dan Ida Pedanda Gede Putra Dharma dari Geria Buda Tusan.

Setelah itu, digelar upacara Pangusabhan Jagat di Utama Mandala Pura Agung Kentel Gumi, sekitar pukul 14.00 wita. Karya Pangusabhan Jagat ini kapuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Tembau dari Geria Gede Aan. Saat itu juga diselenggarakan wewalen tarian sakral Bali Rejang Dewa. Di saat bersamaan, juga dilaksanakan upacara majejiwan di paselang Pura Agung Kentel Gumi, di mana saat itu juga digelar wewalen Baris Gede, Topeng Sida Karya dan Wayang Gedog. Untuk upacara majejiwan ini, kapuput oleh Ida Pedanda Gede Putra Dharma dari Geria Buda Tusan, Ida Pedanda Gede Putra Manuaba dari Geria Gede Tusan, Ida Pedanda Nyoman Telaga dari Geria Telaga Banjarangkan dan Ida Pedanda Istri Geria Gede Tusan.

Manggala Prawataka Karya Pangusabhan Jagat, Ngakan Putu Gede Bawa mengatakan, usai melaksanakan puncak karya Pangusabhan Jagat, mulai Senin (18/11) kemarin, dilakukan upacara nganyarin oleh masing-masing kabupaten/kota di Bali. Dia juga tetap mengharapkan selama Ida Batara katur nyejer selama sebelas hari, umat Hindu di seluruh Bali pedek tangkil ngaturang bakti sebagai wujud bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi dan manifestasinya di Pura Agung Kentel Gumi. Pura Agung Kentel Gumi merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang terletak di Banjar Tusan Kawan, Desa Pakraman Tusan, Banjarangkan, Klungkung. Pura ini didirikan oleh Mpu Kuturan dan disempurnakan oleh Dinasti Kresna Kepakisan, sebagai tempat memuja Sang Hyang Reka Bhuana.
 
Sumber : balipost

Ida Pedanda Made Gunung - Galungan, Kemenangan Dharma

 
KEMENANGAN DHARMA.

OM SWASTIASTU, OM AWIGNAMASTU NAMO SIDAM.

Hari suci GALUNGAN sudah terkenal dengan istilah hari suci untuk merayakan kemenangan dharma atas adharma. Namun baru kemarin saya memberikan Dharma Wacaca di suatu Desa, muncul pertanyaan dari salah satu anak muda, pertanyaannya begini:

"Singgih Pedanda saya mau bertanya, Sehubungan dengan hari suci Galungan, yang mana pengertiannya... adalah merayakan kemenangan Dharma atas adharma. 1. Apakah dewasa ini,dijaman seperti ini masihkah Dharma itu menang? 2. Di mana wilayah pertempuran Dharma itu waktu melawan adharma? Dan banyak lagi yang ditanyakan, saya sangat bangga terhadap generasi muda yang peduli dengan ajaran agama dan ajaran kerokhanian.

Saya memberi jawaban semampu saya, sebab pertanyaannya sangat mendalam menurut saya. Sebenarnya Dharma itu selalu menang, dan tidak pernah kalah. Namun anggapan di Bali khususnya, Kata dharma itu ditambahi belakangnya dengan kata NING, sehingga menjadi Dharmaning, maka bisa bermakna berbeda-beda, antara lain: Dharmaning maling adalah selalu mengambil barang orang tanpa permisi, pada waktu itu Dharmanya maling itu menang. Dharmaning bebotoh, selalu berjudi, disaat dia menang waktu itu dharmanya menang. Dharmaning perokok, dia selalu merokok, saat mengisap rokok dharmanya menang.

Tetapi Dharma yang dimaksudkan kaitannya dengan Galungan adalah Dharmanya Agama ( Dharma Tuhan ). Dharma ini selalu menang bila mau dilakoni sesuai dengan tuntunannya. Apa tuntunan Dharma itu?; Panca Sradha, Trikaya Parisudha, Tattwamasi, Dasasila (Karmapata), dan banyak lagi tuntunan untuk memenangkan Dharma. Ajaran untuk memenangkan Dharma itu selalu ada, nah sekarang siapa yang patut memenangkannya? Yang paling patut adalah kita sendiri, itu jawabannya. Kembali pada pertanyaan tadi, Sudahkah Dharma itu menang? Jawabannya; Sudahkah kita melaksanakan sesuai tuntunan untuk memenangkan Dharma? Siapa yang harus menjawab? Yang patut menjawab adalah kita sendiri. Sebenarnya Dharma itu dimenangkan oleh pribadi-pribadi kita sebagai awalnya, kalau semua pribadi itu mampu memenagkan Dharma, maka secara bersama kita menikmati kemenangan Dharma itu, berupa Kedamaian, kesejahtraan, keamanan dan kebahagiaan. Sebab wilayah pertempuran Dharma itu ada di dalam diri manusia yaitu di dalam pikiran.

Untuk mencapai kemenangan Dharma tidak mudah dan tidak bisa dicapai dalam jangka waktu 6 bulan, namun ada cara memenangkan Dharma secara kredit, bulan pertama kita harus dapat mengalahkan adharma/kesombongan, bulan kedua lagi kalahkan keegoisan, demikian selanjutnya dalam jangka waktu tertentu pasti kita dapat mengalahkan adharma secara menyeluruh, dan berarti dalam waktu tersebut pula kita dapat memenangkan Dharma. Jadi setiap 6 bulan diwaktu Buda kliwon Dunggulan, kita rayakan kemengan Dharma yang kita dapat kredit untuk 6 bulan itu.

Demikianlah pemahaman saya tentang memaknai kemenangan Dharma kaitannya dengan pelaksanaan hari Suci Galungan.
 
OM SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
 
Sumber: Ida Pedanda Made Gunung

Ida Pedanda Made Gunung - Penjor dan Galungan di Dalam Tafsir

 
OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU NAMOSIDAM.

SELAMAT HARI SUCI GALUNGAN KEPADA UMAT HINDU DIMANAPUN SAUDARA BERADA, SEMOGA DAPAT MELAKONI HIDUP MENUJU TUJUAN HIDUP ITU SENDIRI.

Judul ini sengaja saja buat seperti itu, sebab akhir-akhir ini umat Hindu khususnya di Bali, sedang semaraknya membikin penjor untuk galungan, bahkan biaya yang dikeluarkan tidak canggung...-canggung lumayan besar bagi ukuran saya sendiri. Seiring dengan meriahnya penjor galungan saya sangat mengharapkan dapat dimaknai atau paling tidak ditafsir maknanya dikaitakan dengan peningkatan moralitas, untuk memenangkan Dharma.

Saya akan mencoba menafsir makna penjor tersebut dikaitkan dengan peningkatan moralitas. Penjor itu yang paling menyolok adalah bambu yang digunakan sebagai sarana pokok pasti bentuknya melengkung (bengkong muncukne). Itu yang menarik perhatian saya, sebab selama yang saya tau penjor itu selalu bambunya begitu. Yang kedua di paling ujung dari tali pengikat ujung bambu itu pasti ada sebuah benda hasil kesenian (reringgitan) yang disebut Sampyan.

Dari keduanya inilah saya menafsir sebagai berikut; Manusia hidup harus menggantungkan cita-citanya mungkin lebih tinggi dari langit. Setelah cita-cita itu tercapai jangan lupa dengan asal (yang dibawah).

Contohnya: Seseorang yang bercita-cita menjadi Kepala Desa, menjadi Anggota Dewan dll, itu sangat bagus sekali, namun setelah cita-citanya itu tercapai jangan lupa pada rakyat di bawah, sebab dia dapat mencapai cita-citanya itu karena dukungan (pilihan rakyat). Itulah sebabnya penjor itu selalu mengrunduk melihat kebawah. Di dalam bahasa saya sendiri menafsir makna penjor itu, begini; AKU JADI BEGINI (PERBEKEL ATAU ANGGOTA DEWAN DLL) KARENA SAMPYAN. KALAU TIDAK SAMPYAN MEMILIH SAYA MANA SAYA BISA ADA DISINI, MAKANYA SAYA MENGABDI UNTUK SAMPYAN. Itulah sebabnya penjor itu bengkong kebawah, dan ujungnya ada sampyan.

Kalau makna itu dapat diresapi dan juga dipraktikan untuk rakyat maka rakyat akan sangat merasa bahagia memiliki pemimpin yang mampu memenangkan dharma atas adharma di dalam hidupnya.
Itulah seklumit tafsir keberadaan penjor Galungan terkait dengan peningkatan moral dalam istilah kemenaangan Dharma atas Adharma.

Sekian semoga para pemimpin kita dapat memaknai Penjor di dalam rangka berjuang memenangkan Dharma.

OM SANTIH, SANTIH, SANTIH OM
 
Sumber: Ida Pedanda Made Gunung

Ida Pedanda Made Gunung - Mensyukuri apa yang kita dapati sekarang


OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.
Kadang-kadang masih ada yang merasa bingung terhadap apa yang mereka dapati atau nikmati dimasa hidup sekarang ini. Mungkin mereka berpikir, kenapa saya sudah begini kok dapat begitu? Atau, kenapa mereka begitu kok dapat begini? Akhirnya penyesalan demi penyesalan akan muncul, untuk melemahkan semangat hidup, dan mengurangi keyakinan terhadap ajaran agama dan terhadap kebesaran Ida Hyang Widhi. Karena penyesalan itu sebenarnya tidak ada gunanya sama sekali. Lebih baik waspada sebelum dan diwaktu beraktivitas, dibandingkan dengan menyesal setelah mendapat hasil dari aktivitas itu. Karena apa yang kita perbuat itu sekaligus merupakan kehendak kita dan juga merupakan pernyataan kita atau permohonan kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Oleh karena Beliau sangat adil dan bijaksana, apapun yang menjadi keinginan manusia pasti akan dipenuhi. Kalau mereka menginginkan hidup tenang dan bahagia, mereka harus menyampaikan keinginan melalui perbuatan kepada Beliau. Jadi Beliau akan menilai, jenis kebahagiaan yang bagaimana diinginkan, apakah kebahagiaan di atas penderitaan orang lain atau kebahagiaan bersama, setelah itu pasti kita terima hasil dari permohonan tersebut. Pokoknya apa yang kita mohon kepada Beliau pasti dipenuhi, lalu mengapa kita harus menyesali pemberian atau anugrah Beliau. Apakah penyesalan itu tidak boleh disebut salah satu bentuk sifat durhaka?

Ambil saja satu contoh, seorang anak meminta uang jajan 10 rupiah kepada orang tuanya, mereka berbicara dan bergerak untuk menyatakan permintaanya itu agar orang tuanya mengerti. Lalu orang tuanya memenuhi permintaan anaknya, dengan memberikan uang sesuai dengan permintaan. Mengapa si anak menyesal atas pemberian orang tuanya? Dengan mangatakan bahwa uang 10 rupiah mana cukup untuk membeli jajan? Percuma saya minta uang. Jajan saja harganya 100 rupiah, kok sampai hati orang tua saya memberi uang segini? Bentuk prilaku seperti inilah sebenarnya sangat tidak berguna. Apa bila mereka menyadari, semestinya sebelum meminta harus waspada dahulu, baik tentang harga maupun yang lainnya. Setelah itu baru meminta, pasti tidak akan terjadi penyesalan.

Demikian gambaran sebagai contoh untuk dapat menghayati tentang apa yang kita nikmati sekarang adalah merupakan hasil dari karma kita sendiri, sehingga setiap mau berbuat (berkarma), harus dilandasi oleh pikiran yang sejati, perkataan yang sejati dan pelaksanaan yang sejati. Untuk mendapatkan semua kesejatian tersebut, tiada jalan lain selain mengikuti petunjuk-petunjuk sastra Agama. Di dalam kitab Agastya Purana ada dimuat tentang penjelmaan kembali, apabila kita tersebut dibaca secara teliti, ada penjelasan tentang penjelmaan yang erat kaitannya dengan karma wasana.

Misalnya seseorang yang lahir menjadi manusia cacat (cacat fisik), itu diakibatkan oleh sewaktu mereka hidup sebelum kelahiran sekarang, sangat senang berbicara yang kurang sedap didengar, sehingga sering menimbulkan perasaan yang kurang enak bagi yang mendengarkannya, bahkan tidak jarang menyebabkan sakit hati. Prilaku mereka yang demikian itu, merupakan kesenangan sekaligus merupakan permohonan kehadapan Beliau agar dikemudian hari dapat pahala sesuai dengan kesenangannya. Makanya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sangat adil menganugrahi mereka untuk menjelma menjadi orang sumbing. Nah kenapa setelah diberikan anugrah sesuai dengan permohonan, kita jadi menyesal? Jika tidak senang menjadi manusia sumbing atau cacat fisik janganlah berbuat yang bertentangan dengan ajaran agama. Kalau ingin menjadi orang kaya material dikemudian hari, mulai sekarang harus senang membantu (berderma) secara tulus dan ikhlas, pasti penjelmaan dikemudian hari menjadi orang kaya.

Pada dasarnya segala yang kita dapati dalam hidup sekarang, itu berdasarkan perbuatan kita terdahulu. Penyesalan demi penyesalan sebenarnya tidak bermanfaat. Untuk itu syukurilah apa yang kita dapati, dan selalu mengadakan evaluasi guna dapat meningkatkan atau menyempurnakan kehidupan dimasa datang. Masihkah saudara meyakini ajaran punarbawa? Atau, masihkah ada sisa-sisa keyakinan saudara tentang ajaran punarbawa, yang merupakan salah satu bagian dalam ajaran Panca Sraha? Yakin tidak yakin ajaran punarbawa akan terjadi di setiap manusia.

Maka dari itu, syukurilah apa yang kita terima sekarang merupakan hasil dari perbuatan kita. Tiada penyesalan yang mampu memberikan jawaban dan mengubahnya. Mengapa harus melakukan sesuatu yang tidak memberikan dampak positif terhadap diri kita?

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM

Ida Pedanda Made Gunung - Tindakan Brutal Menutup Kesucian


OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Disiang hari panas matahari menyengat, sepertinya Dewa Matahari berkeinginan untuk membakar bumi secepat mungkin, entah dosa apa yang sedang dilakukan di atas bumi ini, sehingga Dewa Matahari berkeinginan seperti itu. Dalam keadaan yang serba panas pikiran manusiapun terpengaruh, bahkan lebih panas dari pancaran sinar Matahari. Jala...n-jalan dipenuhi oleh antrian kendaraan dari berbagai jenis menunggu giliran lewat, asap mobil menyelimuti udara, manusiapun tidak henti-hentinya menghirup sisa pembakaran mesin mobil.

Namun kejadian seperti itu tidak menjadi perhatian, karena masing-masing dari mereka sangat sibuk mencari sesuatu untuk memenuhi tuntutan hidup. Mereka membayangkan tuntutan hidup itu datangnya seperti antrian mobil macet di jalan raya, sehingga tidak kurang dari mereka yang kehilangan kesabaran, sebab sang waktupun mengejar semakin dekat. Tidurpun tak nyenyak, pikiran jadi berputar seperti kincir angin diterpa badai, bergaul tidak sempat, mendidik anak tidak ada waktu, kerja jadi membosankan, kebohongan dan penipuan diri menjadi subur, sifat persaudaraan menjadi langka, kasih sayang semakin sirna mengikuti punahnya burung jalak Bali.

Sifat dan karakter sedikit demi sedikit bergeser dengan pasti, sifat egois menjajah sifat sosial, sombong mengganti posisi rendah hati, sifat emosi menjadi pemimpin dalam dunia kesabaran, tindakan brutal menggeser sifat persaudaraan. Sehingga ajaran agama menjadi topeng kepentingan, TriHitta Karana, Tatwamasi, ajeg Bali dipakai bumbu penyedap masakan untuk melemaskan lidah memainkan kata-kata demi tercapainya kepentingan, aktivitas agamapun tak luput dari ajang pamer kekayaan, pamer perhiasan, pamer kemolekan tubuh, sehingga bau busuk, bau amis tertutup oleh kain halus dan mahal, serta bau minyak wangi yang menyengat. Bhutakalapun tersenyum karena merasa bangga atas keberhasilannya mendidik. Para Dewa menangis karena ajarannya dinyanyikan lewat bibir bau busuk yang menyengat.
Semuanya telah menjadi kenyataan dalam hidup ini, dengan munculnya teroris yang bertarap internasional, perampokan, perampasan datang silih berganti. Perkelahian, bentrok antar kelompok juga ikut menyemarakkan, judi dan mabuk, narkoba menjadi pilihan utama, berselingkuhpun tidak mau ketinggalan. Kalau sudah begini lalu apa artinya hidup ini?

Dalam keadaan seperti itu, mungkin ada sisa-sisa kesadaran yang belum terjamah habis. Marilah secara bersama-sama memupuk dan menyiangi, agar terkuak awan hitam yang menyelimuti hati, dan menghalangi pancaran kesucian menerangi batin. Hanya batin yang jernih dapat menerangi pikiran, pikiran yang terang dapat mengatur panca indria untuk merekam semua aktifitas sekaligus dapat membedakan yang mana baik dan yang mana buruk, guna memancing kesadaran bisa muncul untuk mengikis kegelapan, bahwa kita adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Beliau berdasarkan atas kesucian.

Ambil dan gunakanlah alat-alat penghapus kegelapan dan noda yang hampir kita lupakan, seperti; Telinga untuk mendengarkan nyanyian-nyanyian rohani, serta nasihat-nasihat Siwa Guru, mata melihat pemandangan yang mengarahkan bati menuju kesucian, hidung menghirup bau asap dupa cendana yang membuat pikiran melayang dan jatuh menerpa pangkuan Dewa Siwa, lidah mampu menikmati manisnya sorga Dewata, dan kulit dapat merasakan desiran angin kipas cendana dari para bidadari. Semuanya itu dapat menuntun kita menuju kebahagiaan sejati.

Beliau maha pengasih dan maha penyayang, kita yang terlalu manja. Bekal hidup telah diberikan, jalan dengan rambu-rambu yang jelas sudah disediakan, kenapa masih ingin mencari jalan pintas yang belum tentu arah yang akan dituju. Kita telah ditunggu dan disediakan tempat yang nyaman oleh Beliau, kenapa masih ragu-ragu?

Lepaskan selimut kotor yang penuh noda pakailah pakaian yang bersih, hapuslah noda-noda batin dan berjalan dengan langkah pasti menuju yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bukankah kita ingin mencapai kebahagiaan?

Jangan sampai salah pilih, sekarang musimnya perdagangan kebahagiaan semua atau kebahagiaan palsu, menjajakan dagangannya disertai janji-janji muluk yang menggiurkan yang satupun belum pernah terbukti bahkan sebaliknya akan bisa menjerumuskan kita kelembah neraka. Jangan dibiarkan terlalu lama tindakan brutal dan kebodohan memblenggu hidup kita.

Munculkan kesucian dalam diri untuk mencapai kesucian yang lebih besar. Mari kita bahagiakan leluhur kita di alam sana dan sejahtrakan keturunan kita di kemudian hari, serta damaikan hidup kita sekarang.

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
Sumber: Ida Pedanda Made Gunung

Kisah Leak 19 - Dikejar Ancangan Ida Bethara Dalem



Di atas langit ada langit, begitulah nasehat yang sering kita dengar yang menggambarkan bahwa seseorang itu tidak boleh sombong dalam menjalani kehidupan ini. Hal tersebut tergambar dari kejadian di bawah ini:
Sebut saja namanya Wayan A, seorang anak manusia yang tinggal di pesisir pantai di daerah Klungkung. Pekerjaannya formalnya tidak ada, boleh dibilang sebagai pengangguran, tapi punya kemampuan sebagai seorang Balian (dukun-red)
Wayan A punya sifat yang sombong merasa dirinya sakti, dimana suka sekali utnuk mempertunjukkan kemampuannya dan selalu berusaha untuk mencari perkara dengan orang lain.
Orang yang sudah mengerti akan sifat Wayan A selalu berusaha untuk menghindari konflik dengannya. Namun kadang ada pula yang berani melawan dan tidak jarang terjadi "siat peteng" untuk menentukan jalan keluarnya. Saking sakti nya Wayan A selalu keluar sebagai pemenang, sehingga menjadi semakin sombong. Kesombongannya semakin menjadi-jadi.

Di desa tersebut, juga tinggal seorang petani yang sangat polos, bahkan cenderung lugu yang bernama si Nengah. Petani ini sangat rajin dan ringan tangan dalam pergaulan, sehingga banyak orang yang suka akan si Nengah. Orangnya apa adanya, sehingga semakin banyak orang yang suka minta tolong dan bergaul dengan si Nengah. Hal yang sangat kontras dengan kehidupan Wayan A dimana banyak orang yang cenderung menjauhinya.

Hal tersebut membuat Wayan A menjadi marah dan iri akan si Nengah, berbagai alasan dia coba cari untuk mengajak si Nengah ngadu ilmu. Nengah yang dasarnya tidak tahu apa-apa alias tidak punya ilmu selalu berusaha untuk menghindar agar jangan sampai bentrok.

Hingga suatu saat karena Wayan A memaksakan suatu perkara kepada si Nengah sehingga Nengah mau gak mau harus melayani Wayan A. Wayan A menantang untuk "siat peteng" saat malam kajeng kliwon di suatu area yang memang dikenal sering dipakai ajang itu. Nengah pun dengan terpaksa meng iya kan tantangan Wayan.

Saat malam kajeng kliwon, Nengah sangat gelisah karena sadar tidak punya ilmu apapun untuk melayani tantangan Wayan. Dengan pasrah akhirnya Nengah pergi ke Pura Dalem di desa nya pas saat sandhya kala. Di Pura segera dia sembahyang dan dengan polos nya mengutarakan tantangan Wayan A terhadap dirinya. Setelah sembahyang si Nengah cuman bisa duduk terdiam dan tidak tahu mesti melakukan apa.

Tepat tengah malam seperti perjanjian adu ilmu dengan Wayan A, si Nengah melihat cahaya kecil (sebesar nyala api dupa) keluar dari Pelinggih Pejenengan di Pura dalem tersebut. Cahaya tersebut berputar-putar mengitari si Nengah dan akhirnya melesat cepat ke areal adu ilmu tersebut. Nengah mengamati api tersebut semakin lama semakin besar yang akhirnya menjadi sebesar bangunan rumah.

Sementara itu Wayan A sudah mempersiapkan diri untuk melakukan pertempuran dengan si Nengah, dilihatnya dari kejauhan api menuju tempatnya menunggu. Awalnya dia mengira itu adalah perwujudan dari si Nengah. Ketika api itu sudah semakin dekat dan semakin besar, akhirnya dia sadar bahwa yang datang membela Nengah adalah Ancangan Ida Bethara Dalem dalam wujud nyala api yang luar biasa besar. Begitu kagetnya dia sehingga buru-buru mengambil langkah seribu alias kaburrrrr..

Api yang sebesar rumah itu tidak serta merta membiarkan si Wayan A kabur, tapi tetap mengejarnya kemanapun dia lari. Dengan nafas ngos-ngosan Wayan A terus berusaha untuk lepas dari kejaran Ancangan Ida Bethara, tapi bagaimanapun saktinya tetap saja dia bisa di kejar dan siap dibakar oleh api tersebut.

Saat kritis seperti itu, timbullah penyesalan dalam dirinya akan apa yang telah diperbuat selama ini, secercah pencerahan akan kebenaran yang tersembunyi di balik sifat sombongnya menyebabkan Wayan A sadar.

Tatkala tenaganya sudah habis dan api sudah dekat, Wayan A menjatuhkan diri dan bersujud dihadapan api itu, dengan melantunkan puja-puji kepada Ida Sesuhunan ring Pura Dalem, Wayan A mohon maaf akan segala kesalahannya.

Anehnya api sebesar rumah itupun mengecil seiring dengan lantunan puja puji kehadapan Ida Sesuhunan, dan ada bisikan dalam hatinya bahwa ini merupakan peringatan kepada Wayan A agar tidak menyombongkan segala ilmu yang dimiliki, ilmu itu hendaknya dipakai untuk menolong sesama manusia, bukan dipakai untuk "siat peteng".

Wayan A berjanji akan mematuhi hal itu, begitu dia selesai mengucap janjinya, maka api itupun hilang dari hadapannya. Wayan A kemudian pergi ke Pura Dalem untuk sembahyang, di sana di jumpainya si Nengah. Permohonan maafpun dimintakan ke si Nengah, Nengah sangat gembira akan perubahan pada diri Wayan A dan memaafkan segala kesalahannya.







Ida Pedanda Made Gunung - Harapan bagi Umat Hindu dari Bali yang berada di luar Bali

OM SWASTIASTU. OM AWIGNAMASTU.

Setelah runtuhnya kerajaan Mojopahit, kita dapat lihat bahwa perkembangan umat Hindu di tanah air berasal dari Bali. Karena Bali sangat identik dengan Hindu, seperti istilah rakyat ada yang menyebutkan: ingat Bali ingat Hindu, ingat Hindu jadi ingat Bali. Dunia internasionalpun mengakui seperti itu, bukan hanya istilah dari orang lokal saja. Dengan adanya program pemerintah tentang transmigrasi, yang bertujuan untuk pemerataan penduduk dari daerah yang berpenduduk padat (termasuk Bali), ke daerah yang masih jarang penduduknya. Walaupun kenyataan mengatakan lainyaitu Bali tetap padat penduduknya, dikarenakan oleh tidak terbendungnya urbanisasi membanjiri Bali, bahkan Bali sekarang bukannya jarang penduduknya melainkan lebih padat lagi. Hal ini tidak terlepas dari lemahnya system kependudukan dipemerintahan dan pihak pemerintah. Pernahkah pemerintah mengevaluasi keberhasilah transmigrasi. Apakah sudah mencapai tujuan, apa belum?

Selain penyebaran Hindu melalui program transmigrasi, juga dengan adanya perpindahan pegawai dan tugas lainnya keluar Bali, sehingga umat Hindu yang berada di luar pulau Bali, lebih dominan berasal dari Bali. Pembangunan pura pun berdasarkan konsep Bali, tatanan kemasyarakatannya juga meniru Bali, walaupun tidak persis. Seperti adanya istilah banjar dan lain sebagainya. Walaupun demikian keadaannya, masih tidak banyak orang Bali yang pikiranya, atau yang lainnya untuk kemajuan dan tetap terjaganya Bali secara utuh sebagai daerah asal mereka. Bahkan masih ada orang Hindu yang berasal dari Bali mengkritik Bali secara pedas dan tidak mampu memberi jalan keluar yang baik.

Saya sering memberi Dharmawacana di luar Bali, sering saya mendapat pertanyaan yang sifatnya mengkritik. Seperti contoh; Kenapa sistem desa pakraman di Bali sangat mengikat warganya sehingga sulit warganya dapat mengikuti kemajuan zaman? Kenapa agama Hindu di Bali hanya menitikberatkan pada pelaksanaan upacara saja, dan tidak pernah menyentuh tattwa? Kenapa upacara agama Hindu di luar Bali selalu menggunakan (mendatangkan) banten yang sangat rumit dan mahal dari Bali? Ada juga yang menilai bahwa adanya keinginan orang Hindu di Bali, membalikan Umat Hindu yang berada di luar Bali (mengintervensi).

Semestinya hal-hal seperti itu tidak perlu terjadi, karena bisa memancing sesuatu yang sama sekali tidak kita inginkan bersama. Bukan berarti orang Hindu di Bali tidak boleh dikritik, bahkan sebaliknya kritik itu sangat diharapkan tetapi yang sifatnya membangun demi masa depan kita.

Seperti yang sering kita dengan bahwa agama Hindu sangat menghormati budaya lokal, dengan cara mengangkat, memelihara dan memberinya makna tattwa, sehingga tidak menjadi asing bagi umat Hindu sendiri. Jika kita berada di luar Bali bisa melaksanakan aktivitas agama yang disesuaikan dengan budaya lokal, namun tidak keluar dari tattwa dan tutjuan yang mau dicapai. Apabila kita belum mampu mengangkat budaya lokal dimana kita berada untuk pelaksanaan aktivitas agama, bisa mengadopsi budaya Bali (model Bali), tetapi sesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Kiranya itu tidak salah. Tetapi tidak berarti Bali harus menyesuaikan dengan daerah lain, dan demikian sebaliknya.

Biarkanlah Bali berkembang sesuai dengan alamnya, karena telah terbukti bisa mendatangkan daya tarik tersendiri. Untuk itu marilah saudara-saudaraku jangan lupa pada asal mula kita, sumbangkanlah sesuatu demi terjaganya warisan leluhur kita. Bagi umat Hindu yang tetap berada di Bali semestinya sadar tentang tanggung jawab, sehingga secara bersama-sama kita menjaga ajegnya Bali dalam arti luas. Hentikan kebiasaan-kebiasaan jelek seperti main judi, mabuk-mabukan dan lain sebagainya yang senada dengan itu, mulailah menjadi atau menuju masyarakat produktif.

Satu lagi yang perlu diingat adalah bahwa pulai Bali tidak memiliki kekayaan alam yang dapat menghidupi Bali itu sendiri, seperti di daerah lain yang memiliki tambang, mengandalkan hasil hutan dan lain sebagainya. Bali hanya mengandalkan budaya dan seni yang bernafaskan Hindu. Jika budaya dan seni ini tidak terpelihara dengan baik, habislah sudah. Siapa lagi yang harus memeliharanya? Tidak ada lain adalah orang Bali, terutama yang masih tinggal di pulau Bali sebagai masyarakat pendukung budaya dan seni Bali, dan tidak ketinggalan juga masyarakat Hindu dari Bali yang tinggal diluar Bali.

Juga perlu diperhatikan pula oleh mereka yang non Hindu tinggal di Bali. Jangan seenaknya sampai kurang memperhatikan Bali. Kalau diumpamakan, mereka yang hidup di Bali memetik bunga dan buahnya, jangan lupa memelihara batangnya, memelihara akarnya. Jangan sampai sebaliknya menghancurkan melalui cara mencarikan bentuk baru Bali itu. Bali telah di buat seperti sebuah lukisan yang ditata apik oleh pelukis kawakan di zaman dahulu, janganlah mereka yang baru menjadi pelukis tingkat pemula coba-coba memoleskan warna, akan cacat jadinya. Nikmati saja keindahannya, jika kalian sangat berkeinginan untuk melukis baru, silahkan cari kertas lain untuk menuangkan lukisan anda, jangan di sini (Bali) dicoret-coret lagi, agar jangan karena anda cacat lukisan yang telah terkenal itu, apalagi karya anda belum pernah terbukti kehebatannya, dikagumi oleh dunia internasional.

Bagi siapapun juga baik di pihak pemerintah maupun pihak lain, perlu diingatkan bahwa hanya satu ada Bali di atas bumi ini, karena belum ada yang mampu memproduksi Bali yang ke dua.

OM, SANTIH, SANTIH, SANTIH, OM
Disunting dari FB Ida Pedanda Made Gunung

Tool untuk Mengembalikan File yang Terhapus

Kasus penghapusan file penting secara tak disengaja mungkin pernah menimpa Anda.

Sekarang, Anda bisa menggunakan tools khusus untuk mengembalikan file-file tadi. Berikut ini ada 4 tools yang bisa Anda gunakan untuk mengembalikan file yang terhapus. Tools ini dapat di-download secara gratis di internet.

1. Undelete Plus
Di antara aplikasi-aplikasi gratis yang beredar di luaran untuk mengembalikan file yang terhapus, Undelete Plus salah satu yang dapat digunakan. User interface-nya (antar muka) tergolong sangat simpel. Anda dapat mengembalikan file-file yang terhapus dengan mudah sesuai dengan tipe file, misalnya Application, GIF graphics, HTML Documents, PDF.

Tools ini beroperasi pada sistem operasi Windows 95, Windows 98, Windows Me, Windows NT, Windows 2000, Windows XP, Windows 2003 dan Windows Vista. Anda dapat men-download Undelete Plus di: http://www.undelete-plus.com/

2. Restoration
Restoration adalah salah satu aplikasi untuk mengembalikan file yang terhapus. Tools ini juga sangat mudah digunakan dan tidak perlu diinstal di komputer. Cukup download toolsnya di: http://www.snapfiles.com/get/restoration.html, lalu jalankan file executable-nya untuk mengembalikan file yang terhapus.

3. PC Inspector File Recovery
Meski user interface PC inspector File Recovery tidak begitu user friendly, aplikasi ini tergolong sangat ampuh untuk mendeteksi dan mengembalikan file yang terhapus. Sesudah dilakukan proses scanning, akan tersaji file-file yang terhapus dalam folder dengan struktur pohon (tree structure) untuk mempermudah pencarian. Dengan begitu, Anda dengan mudah dapat mencari dan memilih file/folder yang terhapus, lalu klik icon "save" untuk mengembalikan file. Tools ini dapat di-download di: http://www.pcinspector.de/Sites/file_re ... language=1

4. Recuva
Recuva sering disebut juga sebagai "Recover". User interface-nya sangat sederhana. Pada mode basic, tools ini akan menampilkan daftar file-file yang terhapus yang bisa dikembalikan. Jika Anda menggantinya ke mode advanced, maka proses scanning ulang akan dilakukan dan muncul pilihan untuk menampilkan informasi berisi daftar file-file yang terhapus. Tools ini dapat di-download di: http://www.recuva.com/

10 (Sepuluh) Pesan dari Beliau Dang Hyang Nirartha


10 (sepuluh) pesan dari Beliau Dang Hyang Nirartha sbb:

  1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal. Terjemahan Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
  2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya. Terjemahan Ayahnda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
  3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak.  Terjemahan Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
  4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat. Terjemahan Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
  5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya. Terjemahan Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
  6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang. Terjemahan Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
  7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang. Terjemahan Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
  8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang. Terjemahan Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
  9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah. Terjemahan Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
  10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya. Terjemahan Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditambah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun di bawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.

Permainan Kentang & Kebencian


Busuknya kebencian
Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan"permainan".
Ibu Gurumenyuruh tiap² muridnya membawa
kantong plastik transparan 1 buah dan kentang...^^

Masing² kentang tersebut diberi nam...a berdasarkan nama orang yang dibenci,
sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukanberapa ...
tergantung jumlah orang² yang dibenci...........................^^

Pada hari yang disepakati masing² murid membawa kentang dalam kantongplastik.
Ada yang berjumlah 2,
ada yang 3
bahkan adayang 5.
Sepertiperintah guru mereka tiap² kentang diberi nama
sesuai nama orang yangdibenci......................................^^
Murid² harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut
kemana saja mereka pergi,
bahkan ke toilet sekalipun,
selama 1 minggu......................................................^^

Hari berganti hari,
kentang² pun mulai membusuk,
murid² mulai mengeluh,
apalagi yang membawa 5 buah kentang,
selain berat..,baunya juga tidak sedap.....!!
Setelah 1 minggu murid² TK tersebut merasa lega
karena penderitaan mereka akan segera berakhir...............^^

Ibu Guru : "Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1minggu ?"

Keluarlah keluhan dari murid² TK tersebut,
padau mumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang² busuk tersebut kemanapun mereka pergi.........................................................^^
Gurupun menjelaskan apa arti dari "permainan" yang mereka lakukan.....^^

Ibu Guru : "Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa²
apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain.....
Sungguh sangat tidak menyenangkan
membawa kentang busuk kemana pun kita pergi....
Itu hanya 1minggu....
Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ?
Alangkah tidak nyamannya ..."..........................................

Pura Pangrebongan - Denpasar

PURA PETILAN - PURA PANGREBONGAN

PURA Petilan atau yang lebih dikenal dengan nama Pura Pangrebongan merupakan salah satu pura di Denpasar yang keberadaannya sangat erat kaitannya dengan sejarah puri di Kesiman. Pura yang terletak di sisi utara Jalan WR. Supratman, Denpasar tersebut memiliki nilai sejarah dan tradisi unik yakni Ngerebong setiap Redite Pon Medangsia.

Sekilas mengenai sejarahnya, awalnya Puri Kesiman bertempat di sebelah timur Sungai Ayung. Nama purinya waktu itu adalah Puri Kertalangu yang dipimpin oleh raja dari keturunan Arya Pinatih. Dalam bahasa Bali, kertalangu berarti tertib, indah, menyenangkan.

Atas prakarsa Raja waktu itu, di selatan Puri Kertalangu didirikanlah pura sebagai tempat pemujaan dan juga untuk menyatukan rakyat yang menjadi tanggung jawab kerajaan. Pura tersebut diberi nama Pura Dalem Kesiman. Meski namanya Pura Dalem Kesiman, namun pura tersebut bukanlah pura dalem unsur dari khayangan tiga melainkan hanya sebutan untuk tempat pemujaan raja zaman dahulu. Sebab, istilah dalem merupakan sebutan raja zaman dahulu.

Setelah beberapa lama, Raja di Puri Kertalangu ada masalah dengan Dukuh Sakti dari Pahang. Untuk menyelamatkan keluarga Puri Kertalangu, Raja berpindah ke daerah Sanur dan kemudian mendirikan pura di Pantai Sanur dengan nama Pura Jumenang. Dengan pindahnya Raja Puri di Kertalangu ke Sanur, maka rakyat Kesiman menjadi tidak terurus dengan baik. Keadaan ini kemudian didengar oleh Raja Badung yang bertahta di sebelah barat Sungai Badung. Untuk mengatasinya, maka Raja Badung (Pemecutan) mengutus putranya dan menetap di Puri Kedaton atau Puri Kesiman Ugi. Untuk memikat hati rakyat, maka berbagai tempat pemujaan diperbaiki termasuk juga Pura Petilan.

Saat pemerintahan Puri Kedaton, upacara tersebut dilakukan secara tetap di Pura Petilan atau yang lebih populer dengan nama Pura Pangrebongan. Upacara itu pun dilakukan secara tetap setelah Pura Petilan dipugar dan dilengkapi dengan berbagai pelinggih.

Perjalanan pemerintahan Puri Kedaton berjalan cukup lama. Setelah berjalan tiga keturunan, Raja Kesiman meninggal bersama permaisurinya dan meninggalkan seorang putri yang bernama Anak Agung Istri Putu Ngurah. Sebagai seorang putri yang ditinggal kedua orang tua dan saudaranya tentunya sangat kebingungan terutama dalam menyelenggarakan upacara pitra yadnya bagi orang tuanya yang meninggal itu. Dalam keadaan itu, sang putri berkaul barang siapa yang mampu menyelenggarakan upacara pitra yadnya ayahnya A.A. Istri Putu Ngurah Alan bersedia menjadi istrinya dan akan setia pada sang suami.

Mendengar kaul sang putri, maka perbekel kerajaan dari warga Tangkas menghadap Raja Badung melaporkan kaul sang putri. Raja Badung akhirnya mengutus putra kerajaan yang bernama Anak Agung Gede Pemecutan untuk memenuhi kaul sang putri. Setelah menyelenggarakan upacara pitra yadnya, akhirnya putra kerajaan menikahi sang putri.

Putra raja Badung inilah yang menjadi raja di Kesiman dengan gelar Cokorda Kesiman atau Batara Inggas. Sebagai raja baru, beliau mendirikan puri baru di sebelah barat Puri Kedaton atau Puri Kesiman Baru. Untuk menguatkan dukungan rakyat di Kesiman, maka tempat pemujaan di wilayah Kesiman pun diperbaiki. Di bagian timur Pura Petilan dibangun tempat pemujaan warga Pasek, Warga Gaduh, Warga Dangka. Demikian juga tempat pemujaan yang ada hubungannya dengan Pura Petilan dipugar oleh Raja. Pura tersebut antara lain Pura Kedaton, Pura Urasana, Pura Kesiman, dan Pura Tojan. Demikian juga upacara di Pura Petilan diteruskan dan saat upacara, Raja pun bersama rakyat ikut bersembahyang bersama-sama di Pura Petilan. Pengrebongan arca penambahan raja juga ikut diusung dan distanakan di Gedung Agung bersama arca Dalem Kesiman.

Di Pura Petilan Kesiman terdapat pelinggih gedong agung yang terletak di tengah-tengah dengan dasar bedawang nala tempat menstanakan arca. Ada juga gedong di sebelah gedong agung tempat menstanakan pura manca pengerob dan semua pecanangan atau pratima dari seluruh pura di daerah kesiman saat upacara pengerebongan di Pura Petilan.

Pura Petilan sangat menarik karena sebagai pemersatu rakyat dengan berbagai soroh atau warga dengan berbagai profesinya. Mereka disatukan atas dasar kekuatan keagamaan seperti keberadaan pura yang tidak hanya berfungsi sebagai media pemujaan pada Tuhan dan roh suci leluhur, melainkan juga untuk menjangkau aspek sosial budaya.


Sumber: Balipost

Pura Pucak Tinggah

MENJADI lumbungnya padi, Tabanan memiliki segudang pura berkaitan dengan krama subak. Salah satunya, Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah di Desa Angseri, Baturiti. Pura di puncak bukit ini dipercaya sebagai pertemuan Batara Brahma dan Wisnu dalam memberikan kemakmuran, khususnya petani.

Konon, pura ini awalnya hanya hutan bambu. Puncak Tinggah berarti puncak yang luas di tengah hutan bambu. Prajuru Pura Pucak Tinggah, Made Suarnata, menjelaskan, ada tiga kelompok prasasti yang mengisahkan asal-usul Pura Kahyangan Pucak Tinggah. Prasasti ini hasil penelitian ahli purbakala asal Belanda, Dr. R. Goris, bersama tim kepurbakalaan Museum Bali tahun 1977. Tiga prasasti itu masing-masing diberi nomor 007 Angseri A, 508 Angseri B dan 1009 Angseri C.

Dari bentuk dan huruf tulisan yang ditemukan, ketiga prasasti itu dibuat tidak bersamaan. Prasasti 007 Angseri adalah kelompok tertua dari ketiga prasasti yang ada. Namun, seluruhnya menggunakan aksara Bali kuno yang sezaman dengan prasasti di Desa Gobleg, Ujung dan beberapa prasasti Bali kuno lain. Sedangkan prasasti 508 Angseri dan 1009 Angseri dikeluarkan beberapa ratus tahun setelah prasasti 007 Angseri. ''Ini data yang kami dapatkan dari peneliti, termasuk Pemkab Tabanan,'' katanya Sabtu (20/4) kemarin.

Dalam prasasati 007 Angseri, diuraikan masyarakat membangun tempat suci yang disebut Hyang Api yang berarti Puser atau Pucak pada zaman pemerintahan Raja Ratu Cri Ugrasena tahun Icaka 837 atau 915 Masehi. Sedangkan Prasasti 508 Angseri dibuat pada jaman Raja Cri Curadhipa tahun Icaka 1041 atau 1115-1119 Masehi.

Disebutkan, Prabu Sakti Wisnumurthi yang diibaratkan seperti bulan dan matahari, memberikan sinar pada semua yang ada. Dalam prasasti ini juga disebutkan, Desa Sukhamerta (sekarang Angseri-red), dengan penglingsir Kaki Hyang Tatdwanyana menghadap Raja Cri Curadhipa terkait tempat pertapaan di Desa Sukhamerta pernah dijadikan tempat suci oleh Raja Sri Aji Tagendra Warmadewa yang memerintah tahun 955-967 Masehi. ''Kalau prasasti 1009 Angseri keadannya sangat rusak, sehingga tak bisa terbaca,'' katanya.

Selain prasasti, berdasarkan cerita tokoh masyarakat, Pura Pucak Tinggah memiliki sejumlah kisah sejarah. Di antaranya, ketika Rsi Markandya datang ke Bali pernah berstana di pura ini. Ketika Ida Hyang Pasupati ke Bali juga pernah berstana di pura ini. Kala itu, Hyang Pasupati berstana di Pura Pucak Semeru Agung. Ini dibuktikan dengan adanya palinggih pesimpangan Pura Pucak Semeru Agung di areal Pura Pucak Tinggah.

Pura ini juga diyakini pertemuan antara Ida Bhatara Wisnu dan Ida Bhatara Brahma. Hal ini dibuktikan dengan adanya mata air yang beraneka jenis di lokasi pura. Di antaranya, mata air dingin, air suam kuku, air panas, dan aneka rasa seperti asam, belerang, amis dan tawar.

Pura Pucak Tinggah juga perpaduan pengaruh jaman Rsi Markandya dan Mpu Kuturan. Ini terlihat dari keberadaan Pura Tri Kahyangan dan Batur Jati. Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah juga berkaitan dengan Pura Pucak Beratan, Pucak Bukit Sangkur, Pura Tratai Bang, Pura Pucak Batukaru, Pura Pucak Bukit Adeng, Pura Pucak Padang Dawa, Pura Pucak Batu Lumbang, Pura Pucak Sarinadi, dan Pura Penataran Dalem Ped. Sebab, saat Ida Ratu Gede Sakti Mas Mecaling datang ke Bali, beliau sempat berstana di Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah. Banyaknya kaitan pura ini, ketika pujawali, banyak pura di Bali membawa tapakan ke Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah. Bahkan, total tapakan bisa mencapai 30 tapakan, mulai dari Tabanan, Badung, hingga Gianyar.

Dari kajian Bappeda Tabanan, Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah berfungsi sebagai Pura Ulun Suwi yang membawahi Subak Angseri, Tinungan, Kambangan, Senganan, Bunutin, Pemanis, Payangan dan penyiwi bakti meliputi Tabanan, Badung, Gianyar, Denpasar, Bangli, dan Jembrana. ''Fungsi Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah adalah untuk memohon kemakmuran dan peneduh jagat serta tempat penyucian dan pasupati tapakan Ida Bhatara,'' jelasnya.

Pura Kahyangan Jagat Pucak Tinggah hanya di-empon oleh 60 KK dengan luas pura mencapai 14 hektar. Di dalamnya terdapat sejumlah pelinggih. Pelinggih utama dahulunya adalah tumpukan batu di tengah hutan bambu yang dikenal dengan payogan atau tempat bersemadi. Kini, bekas hutan bambu itu masih dibiarkan tumbuh di dalam pura sebagai cikal bakal pura. Selain pelinggih utama, ada sejumlah pelinggih yang dibangun di sekitar areal pura. Di antaranya, Taman Purwa/Saren Kauh untuk penyucian Ida Batara, Dalem Purwa untuk menyimpan perlengkapan upacara kahyangan jagat, Lingga Jati untuk perlengkapan upacara pura dan Gunung Santun untuk penyimpanan bahan makanan.

Upacara pujawali digelar setahun sekali, setiap purnamaning jesta. Saat piodalan, ribuan pemedek dari seluruh Bali selalu memadati pura ini. Puncak pujawali tahun ini jatuh pada Kamis (26/4) atau Wrespati Wage Pujut. Ida Batara akan nyejer Jumat (26/4) hingga Senin (29/4) mendatang atau Soma Pon Pahang. Prosesi pujawali sudah dimulai sejak 26 Maret lalu. Rinciannya, ngaturang pengalang sasih, lalu 14 April lalu ngolemin, dilanjutkan 19 April pecaruan dan melaspas kori dan tembok penyengker serta bale kul-kul, diteruskan Minggu (21/4) Ida Betara masucian/melasti ke Pura Ulun Danu Beratan

Sumber: Balipost

Ke-Mahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa


Di dalam kitab Wrhaspatitattwa terdapat keterangan tentang sifat- sifat Tuhan yang disebut Asta Sakti atau Astaiswarya yang artinya delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.

1.      Anima
Kesaktian Tuhan yang disebut Anima. "Anu" yang berarti "atom". Anima dari Astaiswarya, ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Sang Hyang Widhi Wasa
2.      Lagima
Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata "Laghu" yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether.
3.      Mahima
Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima. Mahima berasal dari kata "Maha" yang berarti Maha Besar, di sini berarti Sang Hyang Widhi Wasa meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi
4.      Prapti
Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti. Prapti berasal dari "Prapta" yang artinya tercapai. Prapti berarti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.
5.      Prakamya
Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya. Prakamya berasal dari kata "Pra Kama" berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi
6.      Isitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa. Isitwa berasal dari kata "Isa" yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.
7.      Wasitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa. Wasitwa berasal dari kata "Wasa" yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa.
8.      Yatrakamawasayitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa. Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya

Pura Dalem Waturenggong


Dari segi nama, Pura Dalem Waturenggong mengingatkan kita kepada Raja Dalem Waturenggong yang memerintah di Bali pada abad XVI (sekitar tahun 1550 M). Namun, apakah pura tersebut ada kaitannya dengan kebesaran Raja Dalem Waturenggong yang sempat membawa Bali ke zaman keemasan itu masih belum berani dipastikan.

Para tetua dan beberapa sumber prasasti yang ada, belum ada dengan jelas menerangkan hal tersebut. Yang jelas, Pura Dalem Waturenggong yang ada di Desa Taro Kecamatan Tegallalang, Gianyar ini merupakan salah satu pura tua di Bali dan memiliki sejarah yang cukup panjang.

Keberadaan Pura Dalem Waturenggong, letaknya tak jauh dari Pura Agung Gunung Raung, yang hanya sekitar 50 meter. Pura Dalem Waturenggong merupakan pura kahyangan jagat. Banyak umat yang datang ke pura untuk memohon kerahayuan jagat, keamanan dan pengayoman jagat ketika keadaan kurang stabil. Bendesa Taro Kaja, Made Wisersa, mengatakan, Pura Dalem Waturenggong juga dipercayai oleh masyarakat setempat untuk memohon anugerah ilmu pengetahuan, taksu dan kewibawaan. Jadi, tak heran banyak pajabat yang menyempatkan diri juga untuk tangkil ke pura, jelasnya.

Banyak umat dari berbagai daerah di Bali juga datang matirtayatra ke Pura Dalem Waturenggong. Keberadaan Pura Dalem Waturenggong dari awal berdirinya telah beberapa kali mengalami perubahan. Dulunya, pura ini memiliki struktur yang sangat sederhana. Karena sakral, masyarakat tak berani memugar pura ini sampai tumbangnya pohon beringin tua yang berada di mandala pura. Akhirnya sebagaimana hasil paruman dari seluruh pangempon pada tahun 2003, pura ini dipugar total dari pelinggih sampai tembok penyengker pura dan kini keberadan pura juga tampak lebih luas dan tertata dengan rapi, kenangnya.

Pemugaran dilaksanakan dalam waktu satu tahun dengan dukungan dari seluruh pangempon dan penglingsir pura. Setelah dilaksanakan pemugaran, dilanjutkan dengan karya pemelaspas dan mendem pedagingan yang dilaksanakan tanggal 7 April 2004.

Jro Mangku Gede Ketut Telaga menjelaskan, piodalan di Pura Dalem Waturenggong dilaksanakan setiap enam bulan sekali atau 210 hari, yang jatuh pada hari Anggar Kasih Julungwangi. Pura Dalem Waturenggong dalam eksistensinya didukung oleh pangempon yang berjumlah kurang lebih 500 KK, berasal dari warga Desa Pakraman Taro Kaja. Pura Dalem Waturenggong dibagi menjadi tiga mandala, dengan dihiasi pelinggih dengan bentuk, struktur dan fungsi yang berbeda di setiap mandala-nya. Seluruh mandala pura ini dikelilingi tembok panyengker sebagai batas kesucian pura.

Palinggih pokok di pura ini adalah pelinggih meru tumpang tiga yang terletak di utama mandala pura. Selain itu juga terdapat pelinggih taru, ngrurah dan pejenengan, serta pelinggih padmasana.

Pura Dalem Waturenggong juga dilengkapi dengan beberapa bangunan pelengkap seperti bale kulkul, bale angklung, pawedaan, pengaruman, dan bale paselang

Sumber: Balipost

Proses Penciptaan Alam Semesta


Alam semesta diciptakan dalam suatu proses evolusi yang panjang. Pada mulanya alam ini kosong, yang ada hanya Tuhan, sering disebut jaman "duk tan hana paran- paran anrawang anruwung" artinya ketika itu belum ada apa-apa dan semuanya belum menentu.

Dengan kemahakuasaan-Nya, kemudian Sanghyang Widhi Wasa menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (rohaniah) dan Prakerti (pradana) yaitu kekuatan kebendaan. Dari dua kekuatan ini kemudian timbul "cita" yaitu alam pikiran yang sudah mulai dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam, Rajah dan Tamah. Satwam adalah sifat-sifat dharma (kebenaran), Rajah adalah sifat-sifat dinamis kenafsuan, sedangkan Tamah adalah, sifat-sifat adharma, kebodohan dan apatis. Kemudian timbul Budi yaitu naluri pengenal, setelah itu timbul Manah yang merupakan akal dan perasaan, selanjutnya timbul Ahangkara yaitu rasa keakuan. Setelah ini timbul Dasa indria yaitu sepuluh sumber indria (gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan.

Lima gerak keinginan atau Panca Budi Indria itu ialah :

1 Caksu indria = rangsang penglihatan
2 Ghrana indria = rangsang penciuman
3 Srota indria = rangsang pendengaran
4 Jihwa indria = rangsang pengecap
5 Twak indria = rangsang rasa sentuhan atau rabaan

Lima gerak perbuatan atau Panca Karma Indria terdiri dari :

1 Wak indria = penggerak mulut
2 Pani indria = penggerak tangan
3 Pada indria = penggerak kaki
4 Payu indria = penggerak pelepasan
5 Upastha indria = penggerak kelamin

Setelah indria-indria ini barulah timbul lima jenis bibit alam yang disebut Panca Tanmatra yaitu :

1 Sabda Tanmatra = benih suara
2 Sparsa Tanmatra = benih rasa sentuhan
3 Rupa Tanmatra = benih penglihatan
4 Rasa Tanmatra = benih rasa
5 Gandha Tanmatra = benih bau (penciuman)

Dari Panca Tanmatra yang merupakan benih-benih benda alam lahirlah unsur-unsur benda materi yang bersifat nyata dinamai Panca Maha Bhuta. Unsur-unsur Panca Maha Bhuta adalah
  • Akasa (ether)
  • Bayu (angin)
  • Teja (sinar)
  • Apah (zat cair) dan ...
  • Pretiwi (zat padat.)
Dari kelima unsur zat alam ini terbentuk paramanu yaitu atom-atom kelima zat padat ini mengalami proses perpaduan lebih lanjut sehingga terwujud benda-benda alam yang disebut Brahma anda (Brahmanda) yaitu planet-planet dan bintang- bintang sebagai bagian isi alam semesta.

Brahmanda artinya benda bulat berbentuk telur ciptaan Brahman. Semuanya terdiri dari tujuh Loka yang disebut Sapta Loka yaitu :
  • Bhur Loka
  • Bhuwah Loka
  • Swah Loka
  • Tapa Loka
  • Jana Loka
  • Maha Loka
  • Satya Loka.

Pada setiap Loka terdapat perbedaan kandungan unsur dari masing-masing Panca Maha Bhuta.

Proses Penciptaan Manusia dan Makhluk Lain.

Setelah tercipta alam semesta Sanghyang Widhi Wasa kemudian menciptakan isinya. Dalam proses penciptaan alam ini dibentuk lebih kasar, misalnya penciptaan Dewa-Dewa, Gandarwa. Paisacha. kemudian barulah yang berbadan kasar lainnya seperti binatang dan manusia. Proses penciptaan manusia adalah sari-sari dari Panca Maha Bhuta dan Sad Rasa yaitu zat dengan enam jenis rasa, manis, pahit, asin, asam, pedas, sepat. Unsur-unsur ini terpadu dengan unsur-unsur lain yaitu Cita. Budi. Ahangkara. Dasendria.

Panca Tanmatra dan Panca Maha Bhuta. Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini sama dengan pertemuan Purusa dengan Pradana. dengan ini terciptalah manusia. Maka di dalam diri manusia semua unsur alam itu ada.

Manusia pertama ciptaan Sanghyang Widhi dalam ajaran agama Hindu disebut Syayambhumanu. Syayambhumanu artinya makhluk berpikir yang menjadikan dirinya sendiri, itulah manusia pertama. Manu artinya berpikir. Dari kata Manu timbul kata manusia yang artinya keturunan Manu. Selanjutnya setelah tercipta manusia pertama atas kekuasaan Sanghyang Widhi Wasa, maka manusia itu sendiri yang berkembang.

Bhagavad-Gita III sloka 10.

Sahyajnah prajah srishtwa
Puro wacha praja patih
anena prasawishya dhwam
esha wo'stu ishta kama'dhuk

Dahulu kala Prajapati mencipta manusia
bersama bhakti persembahannya dan berkata
dengan ini engkau akan berkembangbiak
dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu

Diambil dari: Babadbali

Pura Luhur Muncak Sari - Tabanan



PURA Luhur Muncak Sari di Desa Sangketan, Penebel, Tabanan, menjadi salah satu pura yang paling terkenal di kabupaten ini. Lokasinya di atas ketinggian, kesakralannya terasa masih kental. Dipercaya, pura ini menjadi sumber kemakmuran dan sumber kehidupan bagi masyarakat, khususnya petani.

Tidak ada sumber tertulis yang mengisahkan sejarah Pura Luhur Muncak Sari. Kisah pura ini hanya menjadi cerita turun-temurun. Berdasarkan namanya, Muncak Sari berasal dari dua suku kata, muncak yang berarti puncak dan sari artinya sumber kehidupan. Jika diartikan, Muncak Sari berarti puncak sumber kehidupan.

Pura ini ditemukan sejak zaman kejayaan Kerajaan Tabanan. Namun, tidak ada prasasati yang menguatkannya. Hanya, tumpukan batu yang berada di ketinggian. ''Cerita Pura Luhur Muncak Sari hanya diwarisi turun-temurun dari leluhur kami. Namun, seluruhnya meyakini kisah itu ada,'' kata pemangku Pura Luhur Muncak Sari, Jro Mangku Made Sukarya, Sabtu (16/2) kemarin.

Diceritakan, sejarah penemuan pura ini berawal dari kegiatan warga di sekitar hutan yang suka mencari rotan. Kala itu, Pan Rum Rum, salah satu tokoh warga Dusun Puluk-uluk Desa Tengkudak, Penebel, berniat membangun rumah. Sesuai kebiasaan, warga mencari rotan untuk bahan tali pengikat kayu. Pan Rum Rum mengajak lima warga lain merambah hutan. Rombongan kecil ini bergerak ke utara. Tiba di hutan Desa Sangketan, mereka dengan mudah mendapatkan rotan atau penyalin. Keanehan muncul. Saat berniat pulang, hujan lebat disertai petir dan angin mendadak muncul. Kelima warga ini kebingungan dan bergegas pulang. Anehnya, mereka hanya berputar-putar di lokasi. Sadar sudah tersesat, Pan Rum Rum langsung duduk dan berdoa meminta maaf. Dia sadar sudah melakukan kesalahan mengambil rotan tanpa izin. Setelah meminta maaf dengan bahasa seadanya, hujan angin mereda.

Ketika membuka mata, kelima warga ini melihat tumpukan batu yang tertata rapi di bawah pohon besar. Mereka langsung bersujud di tempat ini, lalu mengucapkan kaul. Isinya, warga akan datang lagi dengan membawa sesaji besar.

Enam bulan kemudian, mereka bersama warga lain datang ke pelinggih ini untuk membayar kaul. Sesaji dihaturkan ke atas pelinggih. Sejurus kemudian, muncul suara gaib. Pelinggih batu itu ternyata bernama Bedugul Gumi, yang berstana Ida Batara Sedahan Agung, tugasnya memberikan kemakmuran kehidupan bagi warga melalui persawahan dan ladang. ''Pura ini menjadi amerta atau sumber kehidupan bagi persawahan,'' kata Jro Mangku Sukarya.

Usai hatur sesaji, Pekak Rum Rum dinobatkan menjadi pemangku pertama di pelinggih ini. Kala itu, bertepatan dengan Budha Umanis Medangsia. Waktu inilah yang dijadikan hari piodalan di pura ini setiap enam bulan sekali. Saat umat kembali menghaturkan sesaji, muncul lagi suara gaib. Isinya, pelinggih yang sudah disungsung warga dikenal dengan Muncak Sari atau pusatnya amrita kehidupan. Sejak itulah, pura ini dikenal dengan Pura Luhur Muncak Sari.

Pemangku yang menyungsung dilanjutkan secara turun-temurun oleh keturunan Pan Rum Rum hingga sekarang. Kini, sudah memasuki generasi keenam.

Luas Pura Luhur Muncak Sari mencapai 5 hektar yang membentang di lereng selatan Gunung Batu Karu. Ada empat desa pekraman yang me-nyungsung-nya, masing-masing Puluk-Puluk dan Tingkuh Kerep di Desa Tengkudak dan Banjar Anyar serta Kayu Puring di Desa Sangketan. Ada belasan pelinggih yang dibangun di pura ini. Di antaranya pelinggih Tri Murti, pesimpangan Rambut Sedana, pesimpangan Sura Laya, pesimpangan Jati Luwih, pelinggih Hyang Bethara Kriyenan dan beji kahyangan. Ada juga beberapa mata air atau beji suci di areal pura. Seperti beji Agung dan Beji Mayang Sari. Di sekitar pura terdapat pelinggih Sapu Jagat.

Saat perang kemerdekaan, laskar Gusti Ngurah Rai yang terluka diobati di pura ini. Konon, ada air tiga rasa di pura ini. Bukti yang masih tersisa adalah hutan bambu. Diyakini, hutan bambu itu bekas senjata bambu runcing dan tiang asrama bagi pejuang.

Saat pujawali kata Jro Mangku Sukarya, krama Bali dari berbagai kabupaten selalu tangkil ke Pura Muncak Sari. Bahkan, setiap hari ada saja warga, terutama krama subak yang meminta tirta ke pura ini. Dipercaya, tirta dari Muncak Sari bisa memberikan kesuburan tanaman petani. Selain tempat persembahyangan, di sekitar pura seringkali digunakan kegiatan perkemahan. Lokasinya yang sejuk dan indah menjadi kawasan paling tepat untuk melakukan outbond.

Sumber: Balipost