Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Puncak Pujawali Hari Ini ''Pamedek'' Mulai Padati Pura Dalem Ped


Pamedek dari seluruh Bali mulai memadati Pura Dalem Ped Nusa Penida. Puncak pujawali yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali ini akan jatuh pada Buda Cemeng Klawu, Rabu (26/12) ini. Aktivitas penyeberangan di pelabuhan tradisional Banjar Bias, Kusamba, Dawan, Klungkung pun sudah nampak ramai sejak Minggu (23/12) lalu.

Kelian di Pura Dalem Ped Ketut Adi, Selasa (25/12) kemarin menyampaikan terkait pujawali di Pura Dalem Ped, Nusa Penida, pamedek dari seluruh Bali sudah mulai ramai sejak Senin. Sementara puncak pujawali akan berlangsung hari ini dan akan nyejer selama lima hari. Untuk memperlancar arus lalu lintas selama pelaksanaan Pujawali, pihak panitia Pujawali sudah menyediakan lahan parkir seluas 40 are yang terletak di sebelah barat Wantilan Pura. Ketut Adi juga mengimbau agar para pamedek yang datang ke Pura Dalem Ped menggunakan pakaian ada yang wajar, khususnya untuk para remaja, diharapkan menggunakan pakaian adat yang sopan, sesuai dengan pakaian adat orang yang bersembahyang. Karena selama ini dia mengakui tidak sedikit pemedek berpakaian tidak sopan. Misalnya remaja putri menggunakan kain di atas lutut. "Para pemedek juga diimbau agar ikut menjaga ketertiban dan kebersihan Pura di sini", katanya.

Untuk menjaga keamanan pamedek ke Pura Dalem Ped, Kapolsek Nusa Penida Kompol Wayan Sarjana, Selasa (25/12) kemarin mengatakan sudah mengeluarkan surat perintah pengamanan. Dalam surat tersebut, sebanyak dua regu sudah disiagakan di Pura Dalem Ped. Masing-masing regu yang beranggotakan 10 orang personil tersebut bertugas untuk mengatur lalu lintas, dan parkir di seputaran Pura Dalem Ped selama pelaksanaan Pujawali. Dua regu lainnya, juga disiagakan di masing-masing dermaga di Nusa Penida untuk memberi rasa aman kepada pamedek yang akan melakukan persembahyangan. "Puncak kepadatan pamedek diperkirakan akan terjadi besok (hari ini), karena merupakan puncak Pujawali", kata Sarjana.

Sementara dari pantauan di Pelabuhan Banjar Bias, salah satu petugas Dinas Perhubungan Made Sedana Yoga kemarin juga mengatakan memang terjadi lonjakan penyebrangan ke Nusa Penida. Penyebrangan dikatakan berjalan lancar karena didukung cuaca cerah yang mendukung penyebrangan menuju lokasi.

Sumber Balipost

Karya di Pura Pererepan, Batubulan dan Pucak Sari Peliatan, Ubud

 
Warga Banjar Pegambangan, Desa Pakraman Jero Kuta, Batubulan melaksanakan Karya mecaru panca kelud, mendem pedagingan dan piodalan pedudusan di Pura Pererepan. Serangkaian karya, dilaksanakan nyakapan karang, mecaru rsi gana dan mendem pedagingan dipuput oleh Ida Pedanda Gde Mas, Ida Pedanda Bhuda Gunung Sari Ubud dan Rsi Bhujangga Denjalan Batubulan, Rabu (19/12).
 
Menurut Ketua Panitia Karya I Dewa Gde Mayun Sugiana, pelaksanaan karya dimulai sejak tanggal 28 nopember 2012, Puncak tanggal 22 Desember dan Nyineb tanggal 29 Desember. Dewa Mayun menambahkan, pelaksanaan karya merupakan proses dari telah rampungnya pembangunan semua bangunan dan pelinggih di pura yang telah di pelaspas pada 1 september 1955.  Pelaksanaan pemugaran pura pada 30 Mei 2007, dimana menghabiskan dana sebesar Rp1,6 M, bersumber dari iuran dan sumbangan dari donator. Menurut Dewa Mayun, pumugaran pura dilaksanakan karena semakin banyaknya jumlah para pemedek yang datang menghaturkan bhakti. “Dengan telah rampungya dan dilaksanakan karya ini diharapkan umat yang menghaturkan bhakti ke Pura Pererepan bisa lebih leluasa dan kusuk,” ujar Mayun.
 
Bupati Gianyar, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati saat menghadiri prosesi upacara pecaruan dan mendem pedagingan menyampaikan dengan telah rampungnya pembangunan pura dan telah dihaturkanya bhakti diharapkan dapat mengembalikan kesucian pura dan meningkatkan srada dan bhakti seluruh krama.
 
Sementara itu, dalam kesempatan yang hampir bersamaan masyarakat pengempon Pura Pucak Sari Peliatan Ubud juga melaksanakan Karya memungkah , Ngenteg Linggih, Padudusan Alit di Pura setempat. Manggala Karya, Anak Agung Anom Bawa mengatakan Pura Pucak Sari merupakan Salah Satu Pura Kahyangan Desa yang ada di Desa Peliatan Ubud.
 
Sejak tahun 2005 lalu, Pura ini juga sekaligus sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional karena adanya Peninggala Prasejarah berupa 3 buah Menhir dan 3 buah Tajak atau Kepala Tombak dari Perunggu. Peninggalan Jaman  Megalitikum dan  Jaman Perunggu tersebut sejak berdirinya Pura telah dijadikan sungsungan Lingga Ida Betara Pura Pucak Sari.
 
Terkait dengan Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Alit yang dilaksanakan pada hari ini, AA Anom Bawa mengatakan, karya ini pertama kali dilaksanakan sejak abad 19 lalu. Karya ini juga sekaligus menandakan rampungnya pembangunan beberapa pelinggih baru yang ada di Pura Pucak Sari.
 
Karya ini dipuput Ida Pedanda Gede Jelantik Geria Santian Ambengan Peliatan dan Ida Pedanda Griya Peling Padang Tegall, Ubud dengan disaksikan Wakil Bupati Gianyar, Dewa Made Sutanaya, Pengelingsir Puri Peliatan, Cokorda Putra Nindia, serta Unsur Muspika Ubud.
 
Sumber Metrobali

Cuaca Tak Menentu, Gelar Upacara ”Bumi Sudha” di Pura Watu Klotok

Upacara Bumi Sudha digelar di Pura Watu Klotok. Menurut Dewa Ketut Soma salah satu panpel, Upacara tersebut bertujuan untuk penyucian alam makro dan mikro. Juga untuk antisipasi pemanasan Global sehingga menjadi iklim tak menentu atau Kalisenggara.

Upacara ini sendiri berdasarkan atas keputusan paruman Sulinggih se-Bali yang dilakukan di Denpasar. Selain itu upacara ini juga sesuai dengan  Lontar Tutur Babad Dewa dan Lontar Roga Senggara Bumi. Dalam kondisi iklim dunia tidak menentu seperti sekarang ini wajib dilakukan upacara tersebut. Pemanasan Global yang terjadi telah membuat alam rentan akan bencana sehingga menimbulkan berbagai macam penyakit. Diantaranya ada enam penyakit yang rentan terjadi dalam kondisi alam seperti sekarang ini, diantaranya diare, filek dan Cikungunya serta beberapa penyakit lainya.

Menurut Dewa Soma yang juga pemerhati Lontar menambahkan kalau konsep yang diperggunakan adalah tapak dara. Di mana ke atas melakukan permohonan kepada Tuhan, ke samping sesama manusia, sementara ke bawah adalah dengan lingkungan. Upacara ini dipuput oleh Ide Pedanda Gede Putra Tembau dari Geria Aan, Banjarangkan. Dalam kesempatan itu Gubernur sempat mepunia kepada Pemangku dan  Kelian Pura Watu Klotok.

Hadir dalam upacara tersebut adalah para bendesa Adat se Bali dan SKPD Provinsi Bali. Adapun sarana yang dipergunakan adalah banten pebangkit, Caru Manca Sanak, Suci dan sorohan serta Penyegnyeg. Selain itu juga dipersembahkan Pekelem berupa Itik hitam (Bebek selem) dan Kucit Hitam (anak babi hitam red) di Laut Klotok. Saat dilakukan persembahyangan cuaca sempat mendung namun tidak sampai turun hujan

Sumber Metrobali

Upacara "Marisudha" Bumi di Pengubengan

Prosesi marisudha bumi digelar di Pura Pengubengan, Besakih, Karangasem, Kamis (13/12) kemarin. Dihadiri krama Bali dan ratusan warga Desa Pakraman Besakih. Tujuan dari persembahyangan marisudha bumi itu, di antaranya dalam rangka menyucikan ketiga dunia yakni alam bhur, buah dan swahloka.

Upacara parisudha bumi itu rutin digelar tiap tahun. Di pura ini di-sungsung Ida Batara Lingsir Gunung Agung, serta adanya palinggih Hyang Naga Taksaka. Pura Pengubengan merupakan pura paling di atas dari tiga pura terkait di kompleks Pura Besakih, yakni Pura Bangun Sakti palinggih Batara Hyang Anantabhoga, Pura Basukian palinggih Hyang Naga Basuki dan Pengubengan palinggih Hyang Naga Taksaka. Ketiganya penting sebagai peringatan, yakni pada saat bumi baru terbentuk belum bisa menjadi tempat hidup makhluk.

Salah seorang pamangku di Besakih, Gusti Mangku Jana, menyampaikan beberapa waktu lalu, saat bumi baru terbentuk, ternyata belum bisa dijadikan tempat. Soalnya, tanah, air dan udara masih beracun. Saat itulah Ida Sang Hyang Widhi turun menyusup di bagian bawah sebagai naga Anantabhoga, sehingga tanah yang beracun bisa ditumbuhi tumbuhan menjadi tidak beracun dan subur, serta menjadi sumber penghidupan bagi manusia dan hewan. Sang Hyang Widhi menyusup di bagian tengah sebagai Naga Basuki yang memberikan keselamatan dan di Swahloka menyusup sebagai Naga Taksaka, sehingga udara atau oksigen tidak beracun dan menjadi sumber kehidupan.

Implementasi kekinian, tambah, Gusti Mangku Jana, umat manusia mesti menjaga kesucian bumi dan isinya yakni tanah atau lingkungan, air dan udara, tidak dicemari sehingga bisa menjadi tempat dan sumber penghidupan yang berkelanjutan

Sumber: Balipost

Balipost - Pura Agung Amerta Buana Batam - Padma Buana Barat Laut

DI tengah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), kini berdiri sebuah pura yang menjadi ikon Kota Batam. Melalui proses pendirian yang cukup sulit Pura Agung Amerta Buana berhasil didirikan oleh sejumlah inisiator dari tokoh Hindu yang bekerja di Batam. Pura Agung Amerta Buana menjadi satu-satunya pura milik umat Hindu di Kota Batam, bahkan menjadi padma buana bagian barat laut Indonesia, yang sudah di-bisama-kan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat. Demikian diungkapkan salah satu perintis Pura Agung Amerta Buana Batam Wayan Catra Yasa, Kamis (6/12).

Catra Yasa menjelaskan awal berdirinya pura ini cukup panjang. Sejumlah tempat yang direncanakan menjadi lokasi pura dibatalkan karena aspek keamanan. Setelah lama terbelit masalah lokasi, akhirnya beberapa perintis dari sejumlah tokoh agama Hindu di Batam mendapat tempat di sebuah hutan belantara. Hutan itu dinilai angker, karena banyak kejadian aneh yang dialami warga sekitar. Hutan itu cukup luas, lebih dari dua hektar. Karena masih berupa perbukitan, para perintis pura sempat kesulitan menentukan titik letak lokasi Padmasana pura. Untuk menentukan titik letak Padmasana, para inisiator itu melakukan meditasi bersama, dengan dapat menerima pawarah-warah dari sang meraga dwijati.

Pada 18 Maret 2000 meditasi bersama yang dipimpin Ida Pedanda Gede Oka Kemenuh itu akhirnya membuahkan hasil dan menemukan titik letak Padmasana yang akan dibangun. Lima bulan setelah itu tepatnya pada 4 Juni, para inisiator itu melakukan peletakan batu pertama yang disaksikan langsung oleh Dirjen Bimas Hindu dan Budha saat itu Wayan Suarjaya, dan dipuput Ida Pedanda Gede Oka Kemenuh. Tahun 2003 akhirnya di-pelaspas alit agar bisa digunakan sebagai tempat sembahyang. Tahun 2004 tepatnya 16 Juni, Pura Agung Amerta Buana diresmikan di Kota Batam oleh Menteri Agama saat itu Prof. Said Agil Al Munawar. Baru 2 November 2009, para inisiator berhasil melaksanakan upacara ngenteg linggih.

Pura Agung Amerta Buana Batam, memiliki satu palinggih yang cukup besar setinggi 21,7 meter. Penentuan tinggi pura juga menyimpan filosofi yang didapat dari Brahma Anariaka Upanisad. Catra Yasa yang pernah menjadi Ketua Parisada Batam, Ketua Parisada Kepri dan Sektretaris Parisada Pusat ini mengatakan semestinya umat Hindu mengucapkan kata Om Kara sebanyak 21 kali yang memaknai tinggi pura sebagai proses penciptaan pura. Lima kata “Om” yang pertama adalah lima rasa yang disebut dengan panca tan matra, kemudian lima “Om” yang kedua, adalah lima benih yang disebut dengan panca maha buta, lima “Om” yang ketiga adalah lima rangsangan yang disebut dengan Panca Budi Indria, lima “Om” adalah panca indria, yang disebut dengan panca karmendria dan “Om” yang terakhir adalah Siwa Sadha Siswa Parama Siwa, Paramaning Dumadi. Sementara itu koma tujuhnya diartikan sebagai tujuh Maharsi penerima wahyu kitab suci weda dalam Hindu. Di palinggih utama pura ini juga terdapat tiga naga yang melambangkan Naga Ananta Boga, Naga Basuki dan Naga Taksaka.

Setiap perayaan hari besar agama Hindu, Pura Amerta Buana dipadati sekitar 2.500 hingga 3.000 pemedek di Kota Batam. Piodalan setiap purnama kelima. Di madyaning mandala pura ini juga didirikan Pasraman Jnana Sila Bakti untuk sekolah agama kepada sekitar 150 anak-anak. Yang unik gurunya adalah orang tuanya sendiri. Pura Agung Amerta Buana dikelola oleh badan Otorita Pura yang diketuai oleh Komang Trisna Jaya, tokoh agama berasal dari Banjar Sampalan, Klungkung. (kmb31)
 Sumber: Balipost