Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

“Tawur Agung” dan “Pedanaan” di Pura Dalem Tengaling Pejeng


Gianyar (Bali Post)-

Serangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih, Nubung Padagingan dan Ngusaba Dalem di Pura Dalem Tengaling, Jero Kuta Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kamis (22/11) kemarin dilaksanakan upacara Tawur Agung dan Pedanaan. Prosesi yang diikuti ribuan warga sajebag Jero Kuta Pejeng dan sameton Agung Pemayun Tatiapi, Pejeng Kawan, dipuput tujuh sulinggih.

Prosesi upacara Tawur Agung dan Pedanaan dihadiri Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga, Wabup Gianyar Dewa Sutanaya, Penglingsir Puri Peliatan Cok Gde Putra Nindia dan sejumlah undangan lainnya.

Bendesa Pakraman Jero Kuta Pejeng Cokorda Rai Pemayun menjelaskan, karya agung ini dilaksanakan setelah rampungnya sejumlah palinggih di Pura Dalem Tengaling. Rangkaian karya agung ini mulai dilaksanakan sejak 3 Oktober 2012 lalu diawali dengan nyukat genah dan nanceb yang dilaksanakan Ida Pedanda Wayahan Bun, Griya Sanur Pejeng selaku Yajamana Karya. ''Karya agung ini kasanggra oleh 1.336 KK Jero Kuta Pejeng dan sameton Agung Pemayun Tatiapi,'' jelasnya.

Karya serupa terakhir dilaksanakan 55 tahun lalu. Untuk pelaksanaan karya sudah dimulai sejak 3 Oktober 2012 dan puncak karya akan jatuh pada Anggara Kasih, Selasa (27/11) dan nyineb pada 8 Desember 2012 bertepatan dengan Saniscara, Umanis, Bala.

Prosesi pedanaan dipuput tujuh sulinggih. Di antaranya, Ida Pedanda Wayahan Bun (Yajamana Karya), Ida Pedanda Gde Kemenuh (Ketewel), Ida Pedanda Griya Aan, Klungkung, Ida Pedanda Taman Sari Pawukudan (Batuan), Ida Pedanda Budha Taman (Sukawati), Ida Pedanda Nabe Griya Padang Tegal Delodan dan Rsi Bujangga Griya Angkling Gianyar.

Sehari sebelumnya, tepatnya Rabu (21/11), sudah dilaksanakan upacara Melasti ke Pantai Masceti, Keramas, Blahbatuh dan dilanjutkan dengan Mendak Bagia Pulakerti di Pura Penataran Sasih yang diikuti ribuan krama panyungsung Pura Dalem Tengaling

Sumber: Balipost

Pura Luhur Mekori

PURA yang berdiri di Tabanan selalu identik dengan kemakmuran. Seperti Pura Luhur Penyungsungan Jagat Mekori, di Desa Blimbing, Pupuan.

Pura di tengah hutan lindung ini terbilang unik. Selain lokasinya menjorok ke tengah, di sekelilingnya dipenuhi kawanan monyet yang cukup banyak.

Tidak ada prasasti atau bukti otentik lain yang mengisahkan kemunculan pura ini. Menurut pemangku pura, Jero Mangku Gede Pan Sari (75), cerita terkait Pura Luhur Mekori hanya berdasarkan turun-temurun. Diyakini, pura itu sudah ada sejak tahun 1002 masehi. Ini berdasarkan dimulainya adat pakraman di wilayah tersebut. Cerita tentang pura ini hanya dari wejangan leluhur terdahulu, kata pemangku yang mengaku generasi ke-11 tersebut.

Diceritakan, zaman dahulu di lokasi pura tersebut terdapat sebuah puri yang memiliki murid atau sisya cukup banyak. Suatu ketika, digelar upacara yadnya besar-besaran. Keanehan muncul. Ketika yadnya dimulai, satu per satu sisya-nya menghilang secara misterius. Akhirnya, pemimpin di puri itu membekali seluruh sisya dengan tali ketika menggelar yadnya. Hasilnya, ketika satu sisya yang hilang bisa dideteksi dari tali. Ternyata, ada dua raksasa laki-perempuan yang mengambil para sisya. Warga bersama penghuni puri akhirnya menyerang raksasa yang tinggal di dalam tanah tersebut. Namun, karena cukup kuat, usaha warga tak membuahkan hasil. Salah satu raksasa laki-laki membocorkan rahasia agar dirinya bisa terbunuh yakni harus digantikan dengan kapur sirih. Namun, ketika raksasa terbunuh akan diikuti dengan hujan api. Ternyata benar, begitu warga memberikan kapur sirih, raksasa itu tewas dan diikuti hujan api. Warga pun lari tunggang langgang, sedang bangunan puri menjadi hancur.

Sejak itu, bangunan tersebut tertutup tanah dan hutan. Selanjutnya, leluhur warga setempat menemukan bekas bangunan itu ketika mendiami kawasan tersebut. Penemuan ini bermula ketika ternak sapi warga selalu hilang saat digembalakan. Setelah dicari, ternyata sapinya ditemukan di bekas reruntuhan batu, lalu muncul suara gaib agar bekas batuan itu dipelihara. Sejak itulah, warga mendirikan pelinggih dan terus berkembang hingga sekarang.

Di Pura Luhur Mekori terdapat sejumlah pelinggih, di antaranya, Ida Luhur Mas Kori, Yayu Mas Sari, Ida Bagus Made Mentang Yuda sebagai penguasa hutan, ada juga pelinggih Puseh Penataran, Putra Luhur Mas Kori, Puseh Mengkep, Petamanan, Penyimpenan dan Padmasana. Lalu, pelinggih Ratu Nyoman Sakti yang diyakini sebagai penjaga hutan. Sebelum tangkil ke Pura, pemedek wajib tangkil ke pelinggih ini. Yang unik lagi, setiap harinya, pemedek tidak harus masuk ke pura. Sebab, ada pelinggih cenik yang dibangun di pinggir jalan raya. Sehingga, warga hanya tinggal memarkir kendaraan, lalu tangkil ke pelinggih ini.

Kehadiran pura ini sebagai symbol kemakmuarn alam, kata Jero Mangku Gede Pan Sari. Piodalan pura ini jatuh setiap Buda Kliwon Gumreg. Namun, setiap hari, pura ini selalu ramai dikunjungi pemedek, khususnya di merajan cenik. Di pelinggih cenik ini terdapat dua patung harimau yang diyakini sebagai pengawal Ida Bethara yang melinggih di Pura Luhur Mekori.

Penyungsung Pura Luhur Mekori terdiri dari berbagai keturunan, di antaranya Kebayan Wongaya, Dalem Benculuk, Sidatapa dan lainya.

Sumber: Balipost