Om Swastiastu Om

.

Selikur (21) Galungan, apa pas buat pewiwahan?

Om Swastiastu Om
Di Bali sangat terkenal dengan istilah selikur Galungan atau 21 hari sebelum hari raya Galungan untuk melakukan upacara pewiwahan (perkawinan). Apakah tepat kita melakukan perkawinan pas hari itu? Mari kita bahas berdasarkan panca wara, sapta wara serta wuku yang menaungi hari tersebut.
Selikur Galungan jatuh pada hari Budha Wage Warigadean.
·         Budha merupakan Sapta Wara dan berposisi di Barat mempunyai urip 7, dengan Mahadewa sebagai Dewanya, bersenjatakan Nagapasa. Nagapasa memberi aura yang sangat positif kepada perkawinan karena bersifat mengikat/melanggengkan perkawinan tersebut
·         Wage sebagai pancar wara berposisi di Utara dengan urip 4. Utara merupakan posisi dengan Dewa Wisnu sebagai penguasanya, bersenjatakan Cakra, juga memberikan aura positif karena bersifat sebagai air yang mengalir menyejukkan
·         Warigadean merupakan wuku yang berposisi di Barat Daya (Nairiti) dengan Dewa Rudra sebagai penguasanya, bersenjatakan Moksala yang merupakan simbul keseimbangan. Wuku ini juga memberikan aura positif asalkan yang hendak melakukan perkawinan bisa menjaga keseimbangan lahir batinnya.
Jika kita melihat dari segi panca wara, sapta wara dan wuku sebagai pertimbangan secara sendiri-sendiri, maka semuanya memberikan aura yang positif. Tapi di sini perlu dipertimbangkan perpaduan antara urip dari panca wara dan urip dari sapta wara untuk selikur Galungan yaitu 7 + 4 = 11. Total urip dari hari tersebut merupakan kunci bagus tidaknya hari selikur Galungan dijadikan pilihan untuk melakukan pewiwahan.
Menurut Ida Pedanda Gde Panji Sogata, untuk menentukan suatu hari baik dijadikan sebagai pilihan haruslah dimulai dengan memilih pedewasan yang baik, kemudian jumlah urip dari pedewasan tersebut dipadukan dengan urip dari yang empunya karya (dalam hal ini calon suami dari mempelai).
Dalam kasus selikur Galungan, urip 11 harus dipadukan dengan urip si calon suami sehingga mendapatkan hari yang pas untuk pewiwahan
Bisa jadi pedewasan yang baik contohnya selikur Galungan, belum tentu cocok untuk semua orang, karena kelahiran dari orang berbeda-beda sehingga menimbulkan urip yang berbeda pula yang apabila dijumlahkan dengan urip pedewasan tersebut menghasilkan hail yang berbeda.
Jadi kesimpulannya, Selikur gaulungan mungkin baik bagi sebagian orang, tapi belum tentu cocok dengan setiap orang, sehingga tidak bisa dijadikan acuan untuk melakukan suatu upacara pewiwahan.
Om Shanti, Shanti, Shanti
Mangku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak - Mangku I Nyoman Hari Kontha

0 komentar:

Posting Komentar