Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Selamat Galungan & Kuningan



Om Swastiastu Om

Segenap Crew PuraGunungSalak.com mengucapkan

Selamat Merayakan Hari Raya

Galungan

&

Kuningan


Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu memberikan karunia Nya kepada umat manusia

Om Shanti Shanti Shanti Om




Sang Kala Tiga - Musuh yang Harus Diwaspadai


Om Swatiastu Om

Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan merupakan hari yang dirayakan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Dalam rangkaian persiapan penyambutan Galungan terdapat berbagai tahapan yang dimulai dari Tumpek Pengatag, Sugihan Jawa & Bali, Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan.

Di samping hal-hal tersebut di atas, ada hal lain yang penting yang harus kita waspadai yang merupakan godaan kita dalam menyambut Galungan. Hal tersebut adalah Sang kala Tiga yang selalu melakukan daya upaya untuk menjebak manusia agar gagal mendapatkan hikmah Galungan.

Sang Kala Tiga yang terdiri dari Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan dan Bhuta Amangkurat yang mengganggu manusia pada saat yang berbeda-beda. Mari telaah satu persatu agar bisa waspada dalam menghadapinya.
  • Sang Bhuta Galungan. Bhuta ini mengganggu manusia bertepatan dengan perayaan penyekeban, yaitu pada hari minggu sebelum Galungan. Bhuta Galungan akan menyerang manusia dengan berbagai cara agar bisa ditaklukan. Jadi pertarungan umat manusia dalam rangka kemenangan Dharma melawan Adharma diuji pertama kali oleh Sang Bhuta Galungan. Galungan sendiri berarti penyerangan. Dengan mengikuti proses penyekeban, dimana kita dituntut untuk berbuat baik, maka diharapkan serangan Bhuta Galungan dapat dinetralisir.
  • Sang Bhuta Dungulan. Dungulan berarti menaklukan. Bhuta ini menyerang pada hari Penyajaan Galungan. Apabila kita tidak waspada semenjak hari penyekeban, maka dapat dipastikan Bhuta Dungulan akan dengan mudah menaklukan kita. Penangkal dari Bhuta Dungulan adalah dengan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Penyajaan dengan serius dan memasrahkan hasilnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Secara logika, penaklukan sendiri dapat dihindari apabila kita menguasai pengetahuan seperti Widyadara-Widyadari. Sehingga betapa pentingnya kita melakukan prosesi hari Penyajaan untuk menyambut Galunga dan menghindarkan diri dari Bhuta Dungulan.
  • Sang Bhuta Amangkurat. Bhuta Amangkurat bersifat menguasai yang mengganggu manusia pada saat Penampahan Galungan. Bhuta ini sangat ganas dan bersifat tidak ada ampun terhadap manusia yang sudah dikuasainya. Itulah sebabnya maka leluhur kita memberikan cara yang sangat tepat untuk menghadapinya yaitu dengan Penampahan Galungan. Penampahan Galungan mengharuskan kita dengan simbolik untuk mematikan sifat hewani yang ada dalam diri kita agar bisa terhindar dari Bhuta Amangkurat dan berhasil merayakan Galungan. Bila dilihat dari segi filosofi tersebut, betapa pengertian Penampahan Galungan yang benar yaitu untuk memadamkan nafsu hewani akan menjadi sangat penting karena bisa menghindarkan kita dari kemunduran.
Kemenangan dalam menghadapi Sang Kala tiga diwujudkan dengan cara natab byakala pada saat sore hari di hari Penampahan Galungan. Inti dari byakala sendiri adalah penyucian diri kita setelah melalui berbagai godaan dan kemungkinan kekotoran yang melekat di diri kita.

Saat ini kebiasaan dalam melakukan byakala mendapatkan tantangan dari ketidaktahuan dan kesibukan masyarakat kita. Hal ini bisa disikapi dengan bijaksana dengan cara melakukan pembersihan diri yang dilakukan dengan cara sederhana yang intinya tetap pada tataran penyucian diri.

Bila melihat betapa proses dan godaan yang harus dilalui sebelum menyambut Galungan sangat berat, maka wajarlah leluhur kita mengatakan bahwa Galungan merupakan hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Sudah tentu disini harus ditekankan bahwa semua proses harus dilalui dengan benar dan penuh kesadaran akan pentingnya proses tersebut.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Mangku Pasar Agung & Melanting - Mangku I Nyoman Hari Kontha


Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan



patram pushpam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami pryatatmanah
 Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 26
Artinya adalah:
Meskipun seorang Bhakta hanya mempersembahkan Daun, Bunga, Buah dan Air yang  asalkan dilakukan dengan tulus iklhas, maka persembahan itu akan Aku terima
Om Swastiastu Om
Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan merupakan hari raya yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Hindhu di Indonesia. Hari raya ini jatuh setiap 210 hari sekali karena didasarkan atas pertemuan Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku.
Rentetan untuk menyambut Galungan tersebut sudah dimulai 25 hari sebelumnya yaitu waktu kita merayakan hari Tumpek Pengatag. Di hari Tumpek Pengatag tersebut pemeluk Hindhu melakukan ritual penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan agar berbuah dan berbunga yang lebat untuk digunakan menyambut Galungan.
Prosesi selanjutnya kita dihadapkan dengan hari Penyekeban Galungan, Penyajaan Galungan dan Penampahan Galungan. Mari kita telaah satu persatu:
  • Penyekeban Galungan jatuh pada hari minggu (Redite Paing Dungulan), yang secara nyata biasanya diikuti dengan proses "nyekeb" buah-buahan, terutama pisang, agar bisa matang pas digunakan di hari raya Galungan. Kenapa yang diutamakan pisang?, karena secara filosofis pisang merupakan tumbuhan yang dinilai paling sedikit memiliki ego disebabkan meskipun dia beranak pinak dengan tunas tapi tetep saja memberikan buahnya bagi kerpeluan mahluk lain. Secara filosofi penyekeban Galungan bisa diartikan agar manusia mengecilkan ego perbuatannya sehingga bisa lebih mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dilihat dari sudut ini bisa diartikan betapa penting arti dari penyekeban Galungan tersebut.
  • Penyajaan Galungan jatuh pada hari senin (Soma Pon Dungulan), merupakan waktu yang digunakan oleh masyarakat untuk membikin jajanan yang akan dipakai dalam bebantenan Galungan. Dalam sloka di kitab Yadnya Prakerti di sebutkan " Raka-raka pinaka widyadara-widyadari", ini mengacu kepada jajanan/buah-buahan hendaknya merupakan hasil dari jerih payah sendiri. Widyadara-widyadari mengacu kepada orang yang menguasai ilmu pengetahuan yang disimbolkan dengan membuat Jajanan sendiri untuk dipersembahkan dalam penyambutan Galungan. Oleh karena itu, alangkah pentingnya bila kita bisa membuat sendiri jajanan untuk Galungan, sudah tentu disesuaikan dengan kemampuan dan waktu kita. Secara filosofis bisa diartikan bahwa Penyajaan Galungan merupakan usaha untuk meghasilkan sesuatu ciptaan yang bersifat manis dan berguna bagi manusia. Ilmu pengetahuan yang bermoral merupakan efek yang diharapkan terjadi dengan perayaan Penyajaan Galungan ini. Bila ilmu pengetahuan tanpa moral, maka kehancuran dunia adalah taruhannya.
  • Penampahan Galungan jatuh pada hari Selasa (Anggara Wage Dungulan). Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat kita di Bali karena dirayakan dengan melakukan acara masak-memasak yang sangat meriah. Memotong babi sebagai acara utama merupakan hal yang lumrah dilakukan. Pada hari ini semua anggota masyarakat Hindhu akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyiapkan hidangan yang akan disantap di hari Galungan keesokan harinya. Bila kita tinjau secara filosofis maka perayaan penampahan Galungan sebenarnya dititik beratkan dalam usaha untuk membasmi sifat hewani yang ada di dalam diri manusia, sehingga dalam perayaan Galungan keesokan harinya kita bisa terbebas dari sifat hewani tersebut. Babi merupakan simbol dari kemalasan, sehingga dengan memotong babi maka secara simbolis kemalasan dapat dihilangkan. Penampahan Galungan juga diikuti dengan acara natab byakala di sore hari untuk pembersihan diri. Saat ini arti filosofi dari penampahan Galungan secara perlahan-lahan sudah digantikan dengan arti harfiahnya yaitu pemotongan babi untuk persiapan Galungan. Ketidak mengertian ini bisa jadi akan menimbulkan efe samping yaitu diikuti dengan mabuk-mabukan dan lain sebagainya.
Dilihat dari segi filosofi ketiga rentetan Galungan tersebut sebenarnya adalah proses untuk penyucian diri agar dalam perayaan Galungan kita bener-bener merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Bila arti filosofi tersebut dikesampingkan maka bukannya kebaikan yang kita dapat, tapi justru Adharma yang nanti merajalela di kehidupan masyarakat.
Berbagai prosesi yang mendahului hari raya Galungan merupakan suatu rangkaian yang sengaja dibuat oleh leluhur kita untuk menjadikan pemeluk Hindhu menjadi suci dan terjaganya keseimbangan Buana Agung dan Buana Alit.
Om Shanti, Shanyi, Shanti Om
Mangku Pasar Agung & Melanting - Mangku I Nyoman Hari Kontha
 

Tempat Untuk Membuang Gigi Anak Yang Sudah Dicabut


Pada waktu anak kita mengalami peristiwa dimana giginya sudah goyah dan harus dicabut, sering kita tidak memperhatikan tempat dimana sebaiknya gigi dicabut itu dibuang.

Nah, jangan bingung, leluhur kita sudah memberikan suatu kearifan lokal yang berupa pedoman yang sebaiknya kita lestarikan dalam hal membuang gigi tersebut.

Pedomannya adalah:
  • Untuk gigi atas sebaiknya dibuang di bawah sendi/batu/pot
  • Untuk gigi bawah sebaiknya dilempar ke atas atap rumah.
Tujuannya adalah, seperti diceritakan orang tua kita di kampung, kalau gigi atas agas tumbuhnya bagus ke bawah, begitu juga sebaliknya, gigi bawah agar tumbuhnya bagsu ke atas.

Silahkan diterapkan.

Kidung - Brahmara Ngisep Sari


Om Om Sembah I Ketuman
Dumadak jwa kaaksi
Mungguing pangubaktin tityang
Dyastun langkung tuna sami
Pakirang artha wibawa
Nista solah lawan wuwus
Muwuh banget hina budhi

Kewanten sradaning manah
Miwah katlebaning hati
Kalawan eling tan pegat
Kanggen menyanggra
Manyuwun
Swecan i Ratu sang luwih

I Ratu langkung pawikan
Ring manah sarwa dumadi
Ne jati kalawan boya
Ne congah lan bhakti nulus
Ne patut kalawan rusit

Apan Paduka Bhatara
Ne mula nodyanin gumi
Warah ring sekanden jagat
Saluwir newus ngalangkung
Mangkin miwah ne ka wuri

Pura Luhur Uluwatu



Utpatti Bhagawan Brahma,
stithi Wisnuh tathewaca.
Pralina Bhagawan Rudrah,
trayastre lokya sranah.
(Buana Kosa. 25)
Maksudnya:
Tuhan sebagai Dewa Brahma sebagai pencipta Utpati, sebagai Dewa Wisnu menjadi pemelihara atau Stithi dan sebagai Dewa Rudra sebagai pemralina. Tuhan dalam wujud tiga Dewa itulah pelindung bumi.

PURA Luhur Uluwatu ini berada di Desa Pecatu Kecamatan Kuta Kabupaten Badung. Pura Luhur Uluwatu dalam pengider-ider Bali berada di arah barat daya sebagai pura untuk memuja Tuhan sebagai Batara Rudra. Kedudukan Pura Luhur Uluwatu tersebut berhadap-hadapan dengan Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih. Karena itu umumnya banyak umat Hindu sangat yakin di Pura Luhur Uluwatu itulah sebagai media untuk memohon karunia menata kehidupan di bumi ini.
Karena itu, di Pura Luhur Uluwatu itu terfokus daya wisesa atau kekuatan spiritual dari tiga dewa yaitu Dewa Brahma memancar dari Pura Andakasa, Dewa Wisnu dari Pura Batur dan Dewa Siwa dari Pura Besakih. Tiga daya wisesa itulah yang dibutuhkan dalam hidup ini. Dinamika hidup akan mencapai sukses apabila adanya keseimbangan Utpati, Stithi dan Pralina secara benar, tepat dan seimbang.
Menurut Lontar (pustaka kuna) Kusuma Dewa Pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke-11. Pura ini salah satu dari enam Pura Sad Kahyangan yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa. Pura yang disebut Pura Sad Kahyangan ada enam yaitu Pura Besakih, Pura Lempuhyang Luhur, Pura Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batukaru dan Pura Pusering Jagat.
Berhubung banyak lontar yang menyebutkan Sad Kahyangan, maka tahun 1979-1980 Institut Hindu Dharma (sekarang Unhi) atas penugasan Parisada Hindu Dharma Pusat mengadakan penelitian secara mendalam. Akhirnya disimpulkan bahwa Pura Sad Kahyangan menurut Lontar Kusuma Dewa keenam pura itulah yang ditetapkan. Lontar tersebut dibuat tahun 1005 Masehi atau tahun Saka 927, hal ini didasarkan pada adanya pintu masuk di Pura Luhur Uluwatu menggunakan Candi Paduraksa yang bersayap.

Candi tersebut sama dengan candi masuk di Pura Sakenan di Pulau Serangan Kabupaten Badung. Di candi Pura Sakenan tersebut terdapat Candra Sangkala dalam bentuk Resi Apit Lawang yaitu dua orang pandita berada di sebelah-menyebelah pintu masuk. Hal ini menunjukkan angka tahun yaitu 927 Saka, ternyata tahun yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa sangat tepat.
Dalam Lontar Padma Bhuwana disebutkan juga tentang pendirian Pura Luhur Uluwatu sebagai Pura Padma Bhuwana oleh Mpu Kuturan pada abad ke-11. Candi bersayap seperti di Pura Luhur Uluwatu terdapat juga di Lamongan, Jatim. Pura Luhur Uluwatu berfungsi sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa Rudra dan terletak di barat daya Pulau Bali. Pura Luhur Uluwatu didirikan berdasarkan konsepsi Sad Winayaka dan Padma Bhuwana.
Sebagai pura yang didirikan dengan konsepsi Sad Winayaka, Pura Luhur Uluwatu sebagai salah satu dari Pura Sad Kahyangan untuk melestarikan Sad Kertih (Atma Kerti, Samudra Kerti, Danu Kerti, Wana Kerti, Jagat Kerti dan Jana Kerti). Sedangkan sebagai pura yang didirikan berdasarkan Konsepsi Padma Bhuwana, Pura Luhur Uluwatu didirikan sebagai aspek Tuhan yang menguasai arah barat daya. Pemujaan Dewa Siwa Rudra adalah pemujaan Tuhan dalam memberi energi kepada ciptaannya.

Ida Pedanda Punyatmaja Pidada pernah beberapa kali menjabat Ketua Parisada Hindu Dharma Pusat mengatakan bahwa di Pura Luhur Uluwatu memancar energi spiritual tiga dewa. Kekuatan suci ketiga Dewa Tri Murti (Brahma, Wisnu dan Siwa) menyatu di Pura Luhur Uluwatu. Karena itu umat yang membutuhkan dorongan spiritual untuk menciptakan, memelihara dan meniadakan sesuatu yang patut diadakan, dipelihara dan dihilangkan sering khusus memuja Dewa Siwa Rudra di Pura Luhur Uluwatu.

Salah satu ciri hidup yang ideal menurut pandangan Hindu adalah menciptakan segala sesuatu yang patut diciptakan. Memelihara sesuatu yang patut dipelihara dan menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan. Menciptakan, memelihara dan menghilangkan sesuatu yang patut itu tidaklah mudah. Berbagai hambatan akan selalu menghadang.
Dalam menghadapi berbagai kesukaran itulah umat sangat membutuhkan kekuatan moral dan daya tahan mental yang tangguh. Untuk mendapatkan keluhuran moral dan ketahanan mental itu salah satu caranya dengan jalan memuja Tuhan dengan tiga manifestasinya. Untuk menumbuhkan daya cipta yang kreatif pujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma.
Untuk memiliki ketetapan hati memelihara sesuatu yang patut dipelihara pujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu. Untuk mendapatkan kekuatan untuk menghilangkan sesuatu yang patut dihilangkan pujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Siwa. Energi spiritual ketiga manifestasi Tuhan itu menyatu dalam Dewa Siwa Rudra yang dipuja di Pura Luhur Uluwatu.

Pura Luhur Uluwatu ini tergolong Pura Kahyangan Jagat. Karena Pura Sad Kahyangan dan Pura Padma Bhuwana itu adalah tergolong Pura Kahyangan Jagat. Di Pura Luhur Uluwatu ini Batara Rudra dipuja di Meru Tumpang Tiga. Di sebelah kanan dari Jaba Pura Luhur Uluwatu ada Pura Dalem Jurit sebagai pengembangan Pura Luhur Uluwatu pada zaman kedatangan Dang Hyang Dwijendra pada abad ke-16 Masehi.

Di Pura Dalem Jurit ini terdapat tiga patung yaitu patung Brahma, Ratu Bagus Dalem Jurit dan Wisnu. Ratu Bagus Dalem Jurit itulah sesungguhnya Dewa Siwa Rudra dalam wujud Murti Puja. Pemujaan energi Tri Murti dengan sarana patung ini merupakan peninggalan sistem pemujaan Tuhan dengan sarana patung dikembangkan dengan sistem pelinggih. Karena saat beliau datang ke Pura Dalem Jurit itu sistem pemujaan di Pura Luhur Uluwatu masih sangat sederhana karena kebutuhan umat memang juga masih sederhana saat itu.
Pura Luhur Uluwatu juga memiliki beberapa pura Prasanak atau Jajar Kemiri. Pura Prasanak tersebut antara lain Pura Parerepan di Desa Pecatu, Pura Dalem Kulat, Pura Karang Boma, Pura Dalem Selonding, Pura Pangeleburan, Pura Batu Metandal dan Pura Goa Tengah. Semua Pura Prasanak tersebut berada di sekitar wilayah Pura Luhur Uluwatu di Desa Pecatu. Umumnya Pura Kahyangan Jagat memiliki Pura Prasanak.
Demikianlah sekilas tentang Pura Luhur Uluwatu.
Ketut Gobyah - Indoforum

Anugerah Kuningan Saat ''Satvika Kala''


Datavyam iti yad danam
diyate'nupakarine
desa ala ca patre ca
tad danam sattvikam smrtam. (Bhagadgita XVII.20)

Maksudnya: Dana punya yang diberikan dengan tulus ikhlas yang diyakini sebagai swadharma atau kewajiban suci dan dilakukan sesuai dengan desa, kala dan patra. Dana punya itu disebut Sattvika Dana.

Mendapatkan anugerah dari Tuhan salah satu dari tujuan melakukan sraddha dan bhakti pada Tuhan. Meskipun bhakti yang demikian masih tergolong apara bhakti. Bhakti dan Tuhan yang lebih tinggi adalah para bhakti yaitu bhakti pada Tuhan hanya untuk bhakti tanpa pamrih apa-apa. Bagi umat pada umumnya sraddha bhakti itu masih dalam tahapan apara bhakti dengan adanya suatu permohonan mulia kepada Tuhan.

Perayaan Galungan adalah melambangkan perjuangan umat untuk menegakan kehidupan di bumi ini berdasarkan dharma dan jnyana. Anugerah dari hasil perjuangan itu dilambangkan akan diturunkan oleh Tuhan saat Kuningan. Anugerah itu diterima berdasarkan konsep desa, kala dan patra sebagaimana dinyatakan dalam Bhagawadgita XVII.20.

Artinya suatu pemberian Tuhan yang disebut anugerah atau karunia atas perjuangan umat menegakan dharma dengan jnyana disimbolkan saat hari raya Kuningan. Menurut ketentuan Bhagawadgita tersebut anugerah itu diberikan dengan dasar desa, kala dan patra. Desa artinya ketentuan rohani setempat. Kala artinya waktu yang baik yaitu saat satvika kala seperti saat sebelum mata hari tegak di atas kepala. Diberikan pada mereka yang patra.

Kata patra dalam desa, kala, patra ini bukan berarti keadaan. Pengertian patra dalam Sarasmuscaya 271 dinyatakan: Patra ngaranya sang yogia wehana dana. Artinya: patra namanya adalah orang yang sepatutnya diberikan dana. Orang yang tepat menerima dana punya itulah yang disebut patra. Sedangkan dasar pertimbangan untuk menyukseskan tujuan menerapkan dharma atau agama dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra VII.10 sebanyak lima dasar pertimbangan yaitu iksha, sakti, desa, kala dan tattwa.

Nampaknya ajaran desa, kala, patra hal inilah yang menjadi dasar pertimbangan mengapa dalam Lontar Sunarigama dinyatakan agar menyelenggarakan persembahan hari raya Kuningan saat pagi sebelum tajeg surya. Pagi sebelum tajeg surya itu tergolong satvika kala atau hari baik untuk menerima anugerah.

Upakara atau banten yang dipersembahkan saat Kuningan sebelum tajeg surya yang utama adalah banten tebog atau selanggi. Banten tebog ini bentuknya seperti topi terbalik yang di dasarnya muncul bertahap. Banten selanggi fungsinya sama dengan tebog cuma bentuknya lebih kecil. Bentuk banten tebog yang muncul pada bagian dasarnya itu melambangkan tahap-tahap perjuangan. Menuju keadaan hidup yang semakin baik.

Dalam diri manusia terdapat unsur kekuatan yang disebut aiswarya, artinya suatu kekuatan spiritual dalam citta atau alam pikiran yang mendorong manusia secara instinktif untuk terus-menerus memperbaiki diri menuju keadaan hidup yang makin dekat dengan Tuhan. Barang siapa yang terus-menerus berjuang untuk meningkatkan diri secara rohani menata hidup jasmani atau duniawi adalah yang akan mendapat karunia atau kasih sayang Tuhan.

Karunia Tuhan pada saat hari raya Kuningan disimbolkan dalam sampian Kuningan yaitu: sampian tamiang, ter, kolem dan endongan. Sampian Kuningan inilah sebagai banten utama selain tebog dan selanggi saat hari raya Kuningan. Upakara ini nampaknya sangat lokal Bali. Tetapi di balik simbol lokal tersebut terdapat nilai filosofis yang universal dan mengandung pengertian yang dalam.

Manawa Dharmasastra I.89 ada dinyatakan tentang kebutuhan pokok masyarakat sbb: Prajanam raksanam danam. Artinya yang paling dibutuhkan oleh masyarakat adalah adanya rasa aman (raksanam) dan sejahtera (danam). Anugerah tersebutlah yang disimbolkan dalam sampian Kuningan. Tamiang yang berbentuk bundar seperti perisai dalam tentara kerajaan tradisional. Ini lambang perlindungan diri dengan perisai dalam bentuk bulat sampian tamiang ini adalah simbol sakral untuk membangun daya tahan mental dalam menghadapi berbagai hambatan, tantangan dan godaan hidup yang dapat membuat kita merasakan rasa aman dalam menapaki hidup ini.

Bentuk bulat itu sesungguhnya lambang Bhuwana Agung stana Sang Hyang Dewata Nawa Sanga. Anugerah perlindungan Tuhan yang ada dimana-mana inilah sesungguhnya pelindung kita yang sejati. Mendapatkan rasa aman juga harus aktif menghilangkan sesuatu yang tidak benar yang menghambat hidup kita di bumi yang indah ini. Aktif menghilangkan sesuatu yang sepatutnya dihilangkan dilambangkan dengan ter sebagai alat melepaskan panah.

Demikian juga halnya dengan sampian kolem yang berbentuk seperti kantong tempat anak panah sebagai lambang logistik yang dibutuhkan dalam suatu pertempuran. Ini melambangkan dalam perjuangan itu kita butuh bekal lahiriah dan batiniah dalam menghadapi hidup ini. Di samping itu ada juga sampian endongan sebagai lambang kesejahteraan sebagai karunia Tuhan pada mereka yang benar-benar berjuang dalam hidupnya mensinergikan ilmu pengetahuan substansi dari pada perayaan Galungan.

Demikianlah simbol sampian Kuningan sebagai hari penutup perayaan Galungan dalam wujud anugerah bagi mereka yang sukses mencapai hidup yang galang apadang, sebagaimana dinyatakan dalam Lontar Sunarigama. Seyogianya perayaan Galungan dan Kuningan ini dijadikan suatu momentum membangkitkan kesadaran diri umat untuk mengevaluasi upaya kita mewujudkan rasa aman damai dan sejahtera agar dalam hari-hari selanjutnya ada peningkatan yang nyata dirasakan oleh umat.

Sudahkah rasa aman dan sejahtera itu kita rasakan secara adil. Kalau belum apa usaha-usaha kita selanjutnya agar rasa aman damai dan sejahtra itu benar-benar dirasakan oleh kita semua secara adil dan berkelanjutan. Hal inilah yang perlu dievaluasi setiap perayaan Galungan dan Kuningan, agar jangan perayaan itu mentok di tingkat ritual semata.

I Ketut Wiana - indoforum

Kisah Leak 16 - Mundut Ratu Ayu


Dalam tradisi masyarakat Bali di beberapa tempat ada kebiasaan untuk menarikan Sesuhunan yang disungsung di tempat yang bersangkutan sebelum Beliau disineb. Kisah yang diambil dalam menarikan (sesolahan) Sesuhunan biasanya adalah kisah calonarang yang terkenal aura mistisnya. Penonton kadang-kadang tidak berani beranjak pulang sebelum kisah ini selesai dibawakan.

Salah satu peran yang sangat vital adalah peran untuk mundut Sesuhunan untuk ditarikan. Peran ini disamping membutuhkan skill tari yang bagus juga membutuhkan olah batin dan kepasrahan yang tinggi untuk melakukannya.

Dalam tulisan ini akan diceritakan pengalaman seorang yang terbiasa untuk mundut Sesuhunan dalam pentas calonarang tersebut.

Sebut saja nama Beliau Aji S, pria berbadan tegap ini sudah terbiasa mendapat tugas untuk mundut Sesuhunan apabila dilakukan pentas calonarang di desa Beliau. Tugas ini memberikan Aji S berbagai pengalaman yang tidak terbayangkan sebelummnya.

Aji S bilang bahwa ilmu pengleakan ternyata pada saat ini sudah diturunkan ke generasi muda, ini Aji S dapatkan ketika mundut Sesuhunan keliling desa. Saat perjalanan mundut sesuhunan tersebut masyarakat sangat antusias untuk mengikutinya, nah disanalah Aji S menyaksikan bahwa para abg-abg di desa Beliau ternyata sebagian sudah mengerti dengan ilmu leak. Ini dibuktikan bahwa kalau dilihat lewat 'penyingakan' (penglihatan) Sesuhunan (maksudnya lewat mata topeng) maka para abg tersebut terlihat memiliki mata yang bersinar yang menandakan bahwa mereka setidaknya pernah bersinggungan dengan ilmu leak. Dengan berkelakar Aji S bilang jangan takut ilmu leak akan kehilangan pengikut.

Pengalaman lain yang tidak kalah menarik adalah bahwa leak manca warna yaitu leak putih, barak, kuning, selem dan brumbun yang Beliau panggil atas nama Sesuhunan memang benar-benar hadir dan ikut mengiringi Sesuhunan kemanapun Sesuhunan tersebut di-pundut. Leak-leak tersebut merupakan leak yang bukan jelmaan manusia, jadi sifatnya adalah leak baik-baik atau disebut juga leak Brahma.

Ketika didesak pengalaman yang paling tegang waktu Aji S mundut Sesuhunan, pria ini diam sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam. Dengan suara lirih Aji S bilang bahwa pernah suatu saat ketika Mundur Sehusuhan, ada orang yang bermaksud tidak baik dan sangat berani nantang Sesuhunan.

Peristiwa tersbut terjadi ketika Aji S sedang mundut Sesuhunan, tiba-tiba badannya seperti bergerak sendiri dan susah dikendalikan. Para penonton dan pengabihnya menjadi tercengang ketika Aji S sambil mundut Sesuhunan bisa melompati tembok Pura yang tingginya sekitar 2.5 Meter tanpa kesulitan dan terus berlari ke arah Timur.

Menurut Aji S, tiba-tiba saja ada kekuatan yang merasuki dirinya dan membuat Aji S mampu untuk melompati penyengker tinggi tersebut. Seperti ada medan magnit yang menarik badannya, maka Aji S terus berlari ke Timur.

Di Timur ternyata dalam penglihatan Aji S sudah menunggu manusia raksasa berwarna putih yang tingginya hampir mencapai langit. Sedemikian besarnya manusia atau raksasa itu sehingga Aji S dengan jelas dapat melihatnya. Tanpa dapat dikendalikan, tangan Aji S bergerak-gerak seolah-olah memukul kearah manusia raksasa tersebut.

Setiap gerakan pukulan yang dilakukan, terlontarlah bola api dari kain rurub Sesuhunan yang selalu dibawa dalam setiap pentas dan merupakan perlengkapan dari Sesuhunan menuju manusia raksasa tersbut. Kain tersebut berisi rerajahan yang bersifat magis.

Belasan bola Api yang terlontar dengan sangat dahsyat mengenai manusia raksasa tersebut. Pada tahap awal, manusia raksasa terssebut masih mampu bertahan, bahkan tertawa meledek. Namun seiring dengan semakin gencarnya lontaran bola api tersebut, maka manusia raksasa tersebut mulai kewalahan dan akhir nya tumbang dan segera melarikan diri. Aji S baru yakin bahwa akan dahsyatnya kekuatan kain rurub tersebut.

Aji S akhirnya dapat mengendalikan tubuhnya kembali begitu manusia raksasa tersebut melarikan diri. Para pengabihnya segera menuntun Beliau untuk kembali ke Pura dan melanjutkan pentas calonarang.

Besoknya Aji S mendengar kabar bahwa salah seorang tokoh di desa tetangga telah meninggal dunia tanpa sebab yang jelas.

Aji S hanya bisa bersyukur atas perlindungan yang telah Sesuhuhan berikan dimana Sesuhunan terjun langsung untuk menghadapi gangguan waktu pentas calonarang.

Pesan Aji S adalah, janganlah kita usil terhadap pentas calonarang apalagi yang bertujuan untuk Mundut Sesuhunan karena yang akan dihadapi adalah Sesuhunan secara langsung sehingga kalau usil akan fatal akibatnya.








Kisah Leak 15 - Sesapi Putih (Walet Putih)


Dalam tingkatan ilmu Leak, sesapi putih/walet putih merupakan salah satu tingkat tertinggi yang bisa dicapai oleh seseorang. Tingkatan ini membutuhkan waktu, ketekunan serta penugrahan dari Sesuhunan untuk bisa mencapainya.

Dengan menjelma menjadi sesapi putih, maka yang empunya ilmu tersebut bisa bepergian layaknya burung walet terbang tinggi di angkasa tanpa batas. Ilmu inipun bisa digunakan untuk proses penyembuhan penyakit kiriman dari manusa sakti.

Dalam kisah ini tidak akan membahas tentang bagaimana ilmu tersebut, tapi akan menceritakan kisah tentang seorang manusia yang sudah bisa menguasai ilmu tersebut.

Sebut saja namanya Oka (bukan nama sebenarnya) yang mempunyai hobby untuk terlibat pentas calonarang. Peran yang didapat Oka bukanlah peran sembarangan, tetapi peran sebagai Matah Gede. Matah Gede merupakan peran yang menggambarkan Walu Nateng Dirah sebelum berubah wujud, jadi masih dalam wujud manusia.

Untuk peran ini, Oka harus mempunyai bekal ilmu yang cukup, karena sering pada waktu pentas calonarang, terutama waktu ngundang leak, serangan datang bertubi-tubi ke arah Oka. Menurut Oka, kalau ilmu yang nyerang dia lebih rendah, maka serangan bisa diatasi dengan mudah. Lain halnya kalau yang menyerang Oka ilmunya lebih tinggi, maka Oka harus bertahan dengan segenap ilmu yang dimiliki.

Ketika didesak lebih lanjut bagaimana seandainya orang yang nyerang dia sangat tinggi ilmuya, jauh melampauinya, maka Oka dengan segan menceritakan suatu rahasia.

Sebenarnya kalau dia bepergian untuk pentas calonarang, dia tidaklah sendirian, tapi nun jauh diangkasa sana, Ibu dari Oka juga ikut bepergian mengawal sang anak dalam wujud sebagai sesapi putih. Bila si anak pentas di bawah, maka sang ibu dengan waspada akan selalu menjaga keselamatan si anak.

Pernah suatu ketika, si anak (Oka) mendapat serangan yang dahsyat, ketika baru mulai pentas sebagai matah gede, waktu acara ngundang leak dia agak kebablasan ngomongnya, Oka merasakan suatu pukulan yang mengantam dadanya. Dadanya kemudian menjadi sesak, dan tidak bisa bernafas, kemudian crew calonarang yang lain segera memapah dia masuk ke ruangan dibalik layar.

Dalam kondisi yang sangat kritis, apabila tidak mendapat pertolongan maka Oka dipastikan meninggal, tiba-tiba seekor sesapi putih terbang dan masuk ke dalam ruangan di balik layar dan segera hinggap mendekap dadanya Oka. Itulah perwujudan dari Ibunya Beliau yang segera memberi bantuan ketika situasi kritis terjadi.

Setelah dadanya didekap oleh sesapi putih, maka Oka seketika bisa bernafas kembali, sesapi putih tersebut segera terbang meninggalkan Oka, dan pertunjukan calonarang diteruskan kembali. Oka bercerita bahwa terjadi siat peteng yang luar biasa hebat pada malam itu. Dan syukurlah dia bisa mengatasi orang yang usil tersebut.

Saran Oka kepada para seniman calonarang bahwa para seniman harus punya bekal dan back up, siapa tahu ada serangan yang dahsyat jauh di atas kemampuan kita, dan dalam pentas hendaknya jangan sombong dan mengundang leak secara kebablasan.


I Nengah Gama - Photografer Profesional Pengayah di Gunung Salak


I Nengah Gama sedang beraksi

Senyumnya yang khas dari tokoh satu ini selalu mewarnai setiap perbincangan dengan siapa saja dengan berbagai topik perbincangan dapat diikutinya dengan antusias, selalu berpakaian ala orang mau sembahyang, dan tidak lupa menenteng kamera DSLR seolah semakin menguatkan kesan terhadap tohoh satu ini.

Ya Beliau kerap dipanggil dengan panggilan Pak Nengah Gama, nama lengkapnya adalah I Nengah Gama, seorang ahli photography landscape tamatan ISI Yogyakarta mendedikasikan hidupnya untuk selalu ngayah di Pura Gunung Salak sebagai Photographer.

Prestasi yang dimiliki Pak Nengah Gama tidaklah main-main, berbagai pameran dan penghargaan sampai ke tingkat ASEAN pernah disabetnya yang didapat dari Photography. Meskipun demikian, keikhlasan Beliau untuk ikut ngayah di Pura Gunung Salak tidak bisa dianggap remeh. Siang-malam selalu standby untuk melayani umat atapun order yang masuk.

Apalagi kalau diajak diskusi tentang Photography, Pak Nengah yang kelahiran tahun 1961 itu secara antusias akan menanggapi dan tidak pelit untuk membagikan ilmunya kepada umat yang lain.

Ketika ditanya motivasinya untuk ngayah di Gunung Salak, Pak Nengah yang menerima penghargaan produktivitas tingkat ASEAN itu dengan gamblang menyatakan keinginannya ngayah dan memajukan photography landscape yang berlatar belakang Pura.

Kenapa kita tidak mengambil manfaat dari indahnya Pura Gunung Salak?, kenapa mesti Photografer lain yang mendapatkan manfaatnya? pertanyaan semacam itu selalu terngiang di telinganya dan menjadi motivasi yang kuat untuk ngayah secara konsisten.

Dokumentasi yang sangat bagus tentang Pura Gunung Salak sudah dibukukan oleh Pak Nengah, dan bagi umat Hindhu yang pengin memilikinya dipersilahkan berhubungan langsung, atau lewat Jro Mangku Istri Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak.

Begitupun kalau ada umat yang pengin mengadakan workshop Photography di Pura, Pak Nengah dengan sangat bersemangat akan mendukungnya dan siap membagikan ilmu yang dimiliki Beliau

Berbagai pengalaman aneh-aneh pernah disaksikan oleh Pak Nengah, diantaranya kesurupan, umat golongan lain yang datang sembahyang ke Pura, bahkan sepasukan pemimpin agama tertentu pernah datang dan menyatakan sujud bakti kehadapan sesuhunan di Pura Gunung Salak. Oleh sebab itu Pak Nengah sangat yakin akan Sesuhunan yang ber-Sthana di Pura, baik di Pura Luhur Jagatkarta maupun di Pura Pasar Agung dan Melanting.

Pesan yang ingin Beliau sampaikan adalah, ngayah ke Pura harus iklhas jangan dengan memakai itung-itungan karena Sesuhunan Maha Tahu dan Maha Welas Asih.

Terakhir pesan Pak Nengah, kalau ada umat yang membuthkan jasa Photography lanscape atau Pre-Wedding, dipersilahkan untuk menghubungi Beliau di no HP: 0813-9856-6561, dijamin photo dan kualitas yang didapat merupakan yang terbaik.





Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak - Renovasi Penyengker

Deretan Patung Menunggu untuk Ditempatkan

Gemuruh mesin gerinda pemotong batu terus terdengar seakan berlomba dengan denting genta Jro Mangku di Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak. Sekitar 6 orang tukang dari Bali dibantu dengan tenaga lokal terus berusaha untuk mengejar deadline sebelum odalan tanggal 31 Agustus 2012. Jejeran patung yang langsung didatangkan dari Bali tampak berjejer sedang menunggu untuk di tempatkan di bagian yang sudah ditentukan.

Ya, di Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak sedang berlangsung kegiatan renovasi penyengker Pura yang mana penyengker sebelumnya sudah harus diganti.

Menurut Jro Mangku Istri, Ibu Made Sadnya, penyengker yang sedang dipasang merupakan danapunia/aturan dari umat yang secara khusus mendesign penyengker tersebut sehingga kelihatan sangat indah dan sesuai dengan lingkungannya. Umat se-Dharma yang kebetulan tangkil ke Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak bisa menyaksikan keunikan dan kekhasan penyengker Pura tersebut.

Jro Mangku Isteri sendiri sama sekali tidak menyangka bahwa penyengker Pura tersebut akan bisa dipasang dan di selesaikan sebelum odalan mengingat banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Tapi dengan keyakinan dan kepasrahan kehadapan Ida Sesuhunan, maka segala tantangan tersebut satu persatu bisa dihadapi dan akhirnya penyengker tersebut siap untuk di pasang.

Tampak Jro Mangku Gede juga ikut sekali-sekali memberi arahan dengan gaya humorisnya yang khas, membuat semua yang hadir tersenyum. Tidak lupa pula teh dan kopi serta kue-kue ikut menemani kesibukan di Pura tersebut.

Progress dari renovasi tersebut sudah lebih dari setengahnya, diharapkan akan selesai sebelum odalan yang akan datang. Jro Mangku Istri yang selalu ramah tersebut sudah mulai mendiskusikan acara pemelaspasan yang rencananya akan dilakukan bersamaan dengan prosesi odalan di Pura tersebut.

Ida PedandaGde Panji Sogata sendiri waktu acara Matur Piuning dan Pewintenan pada tanggal 2 Agustus 2012, seperti mendapat firasat bahwa penyengker akan selesai, meskipun belum ada tanda-tanda akan adanya renovasi. Sekali lagi ini membuktikan bahwa Ida Sesuhunan yang ber-Sthana sangat pemurah dan penuh kasih sayang terhadap umat manusia.

Jro Mangku Istri berharap dengan selesainya penyengker tersebut diharapkan umat semakin banyak yang tangkil sesuai dengan fungsi Pura untuk mengayomi umat manusia sehingga Ida Sesuhunan yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa bisa menganugerahkan kesejahteraan.

Seperti diketahui, Pura Pasar Agung dan Melanting merupakan Sthana Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya untuk menganugerahkan kesejahteraan bagi umat manusia. Umat yang punya usaha apapun bisa tangkil dan mendapat anugerah di Pura tersebut.



 

Kisah Leak 14 - Barong Landung


Barong Landung merupakan salah satu kepercayaan masyarakat Bali yang berbentuk mahluk yang sangat tinggi dan besar. Perwujudan ini merupakan hasil dari personifikasi Raja Jayapangus dan Permaisurinya yaitu Kang Cing Wei. Setelah melalui berbagai cobaan, oleh rakyat yang memujanya, pasangan raja dan ratu tersebut dipersonifikasikan sebagai Barong Landung untuk meghormati Beliau berdua.

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas tentang asal usul Barong Landung tersebut, tapi lebih kepada pengalaman yang dimiliki oleh salah seorang tetua di desa yang pernah bertemu dengan Barong Landung secara tidak sengaja. Pengalaman ini terjadi jauh sebelum teknologi listrik mencapai desa tetua tersebut.

Sebut saja namanya Pan T, berprofesi seperti warga kebanyakan yaitu sebagai petani, jahil dan agaak cuek dengan situasi di sekitarnya. Sering pergi malam-malam untuk sekedar ngecek tanaman ataupun menonton pertunjukan di desa sebelah.

Rumah Pan T bisa dicapai dengan melalui sebuah gang, dimana gang tersebut secara sekala sangat sempit, tapi menurut orang tua, gaang tersebut merupakan jalan besar secara niskala. Tidak heran banyak anjing yang meraung-raung ketika tengah malam tiba, menambah suasana menjadi semakin seram karena penerangan listrik belum ada.

Suatu alam, Pan T menonton pertunjukan joged di desa sebelah, pertunjukkan itu sendiri sangat favorit dan berlangsung hingga lewat tengah malam. Kebetulan Pan T menonton sendirian dari desanya. Setelah pertunjukkan selesai maka bergeas Beliau pulang melewati jalan desa dan akhirnya harus melewati gang di depan rumahnya yang sempit tersebut.

Ketika melalui gang tersebut, tiba-tiba perutnya merasa mulas (kebelet), waktu itu belum ada yang namanya WC. Orang buang hajat biasanya mencari tegalan/teba yang terdekat. Dasar Pan T orang yang cuek, maka ketika perutnya tidak tertahan lagi, dia segera meloloskan sarungnya dan (maaf) mengambil posisi jongkok dengan (maaf) pantat menghadap ke gang tersebut.

Sedang asyiknya buang hajat, Pan T merasa ada orang mendekat karena tanah terasa bergetar, dia heran kok tanah sampai bergetar dan terdengar suara langkah semakin mendekat. Lolongan anjing ikut meramaikan susana malam itu.

Pan T yang pada dasarnya cuek tidak bermaksud menghentikan acara buang hajatnya malah penasaran dengan tanah yang bergetar, maka ketika suara langkah semakin mendekat, Pan T segera menengok ke belakang. Apa lacur, sepasang mahluk yang sangat besar dan tinggi, berwujud Barong Landung sedang lewat di belakangnya. Pan T panik, untuk melarikan diri tidak bisa, karena tiba-tiba kakinya lemas dan tidak bisa digerakkan.

Barong Landung tersebut menoleh ke arah Pan T seolah-olah menegur atas prilakunya yang buang hajat sembarangan. Pan T yang panik akhirnya rebah dan tidak sadarkan diri. Setelah sadar badannya penuh dengan kotorannra dia sendiri, rupanya posisi jatuhnya mengarah ke belakang sehingga badannya menimpa kotorannya.

Pan T segera pulang dan mandi, dengan masih gemeteran dia bercerita ke orang tuanya, orang tuanya mengingatkan bahwa gang tersebut adalah margi agung secara niskala, jadi jangan coba-coba untuk berbuat sesuatu yang kotor di sana. Pan T pun baru percaya akan tengetnya gang di depan rumahnya itu.





Sugihan Jawa - Sugihan Bali, Penyucian Alam dan Diri


Om Swastiastu Om

Sebentar lagi kita akan merayakan hari raya Galungan yang akan jatuh pada tanggal 29 Agustus 2012. Seperti biasanya, masyarakat Hindhu sangat antusia untuk melakukan perayaan sekaligus menyambut kemenangan Dharma melawan Adharma.

Leluhur kita dari jaman dahulu, sudah memikirkan akan proses yang harus dilalui oleh umat manusia sebelum tiba pada perayaan hari raya Galungan. Diantara proses tersebut, terdapat perayaan untuk Tumpek Wariga/Pengatag, yang merupakan perayaan untuk penghormatan ke tumuh-tumbuhan sekaligus pemuliaan ke diri kita yang terdiri dari badan hati nurani dan perbuatan.

Setelah Tumpek Wariga, maka proses selanjutnya adalah proses perbersihan buana agung dan buana alit yang biasa kita sebut sebagai Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Sebagian orang menyebut sugihan dengan sugimanik, sehingga sugihan Jawa menjadi sugimanik Jawa dan sugihan Bali menjadi sugimanik Bali.

Sugihan Jawa jatuh pada hari Wraspati Wage Sungsang, sedangkan Sugihan Bali Jatuh keesokan harinya yaitu Sukra Kliwon Sungsang. Kedua proses pembersihan/penglukatan buana tersebut, biasanya disambut oleh masyarakat Bali dengan antusias, karena merupakan proses pembersihan sebelum Galungan.

Apa beda kedua sugihan tersebut?. Menurut Ida Pedanda Made Gunung, beda kedua sugihan tidak lain adalah object dari pembersihan itu sendiri. Sugihan Jawa adalah hari untuk membersihkan alam atau buana agung, sedangkan sugihan Bali adalah waktu yang diperuntukkan untuk membersihkan diri-sendiri.

Pembersihan/sarana apa yang mesti digunakan?

Untuk sugihan jawa, permbersihan bisa dilakukan dengan melakukan pecaruan ekasata di rumah masing-masing. Bila kita tidak sempet melakukan pecaruan, maka cukup dengan bungkak nyuh gading yang dipercikkan ke semua penjuru rumah/pekarangan kita yang sebelumnya sudah didoakan akan bisa menjadikan rumah/lingkungan kita menjadi bersih. Sudah tentu perlu juga dilengkapi canang sari dihaturkan ke hadapan pelinggih yang ada di lingkungan kita.

Untuk sugihan bali, bisa dilakukan dengan melakukan penglukatan. Di web site ini pernah dibahas tentang tip untuk membersihkan diri sendiri.

Semua macam-macam pembersihan terhadap buana alit dan buana agung tidak lain bertujuan agar keseimbangan alam menjadi kekal, sehingga energi negatif bisa dikurangi dalam rangka menyambut Galungan.

Bisa kita bayangkan kalau pembersihan tidak kita lakukan, maka godaan waktu menyambut hari raya Galungan akan semakin besar, berbagai macam bhuta kala siap menggoda/menjerumuskan kita ke dalam suatu keadaan yang buruk dan merugikan.

Banyak kalangan di masyarakat kita yang sekarang ini yang tidak menyadari akan pentingnya makna dari kedua proses pembersihan tersebut. Ini dikarenakan karena ketidak tahuan mereka akan rangkaian yang harus dilalui sebelum menyambut Galungan tersebut.

Bagi yang belum tahu, setelah membaca artikel ini, hendaknya bisa mempersiapkan segala sesuatunya agar bisa melakukan pembersihan, meskipun dengan cara yang paling sederhana. Janganlah kita bersikap cuek, apalagi meremehkan, akan ajarn leluhur kita yang sudah lama menjadi pegangan untuk meniti kehidupan di mayapada ini.

Om Namo Siwa Ya, Om Namo Budha Ya

Om Shanti, Shanti, Shanti Om



Mangku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak - Mangku I Nyoman Hari Kontha

Kisah Leak 13 - Banaspati Raja


Berikut merupakan kisah yang dituturkan sesepuh desa penulis yang terjadi waktu Beliau masih muda. Waktu itu belum ada listrik ataupun alat penerangan canggih lainnya.
Sesepuh tersebut, sebut saja namanya Nang R, mempunyai profesi sebagai petani yang rajin sekali pergi ke sawah tanpa mengenal waktu. Kadang-kadang Beliau menghabiskan malamnya di sawah hanya untuk menungguin tanamannya.
Untuk menuju ke areal persawahan, Beliau harus melewati jalanan yang sangat sepi, kuburan/setra Pura Dalem dan seterusnya. Situasi waktu masih sangat rimbun karena masih sangat banyak pepohonan besar yang tumbuh di daerah Beliau tinggal ketika itu.
Suatu hari Nang R seperti biasa pergi ke sawah untuk mengawasi tanamannya, waktu itu bulan menerangi bumi dengan sejuknya, setelah lewat tengah malam barulah Nang R sadar bahwa ada sesuatu yang harus dikerjakan di rumah. Dengan tidak memperhitungkan waktu, Beliau segera berkemas untuk pulang ke rumah.
Suasana yang sepi dan gelap hanya diterangi cahaya bulan tidak menghalangi gerak langkahnya untuk segera pulang. Pas sampai di jalan yang berdekatan dengan kuburan/setra (baca: Dewa Shiva), Beliau berhenti karena melihat ada sesuatu yang menghalangi/menutup jalan di depannya.
Dengan bantuan cahaya bulan, Beliau melakukan pengamatan, dan mendapatkan kenyataan yang mengherankan, karena sesuatu yang menghalangi jalan tersebut adalah mahluk hidup yang sedang tertidur terlentang.
Dengan rasa penasaran Nang R mendekati mahluk itu, dan Beliau menjadi bingung akan bentuk mahluk itu. Kalau diperhatikan, mahluk itu seperti Barong, Nang R heran, siapa yang meninggalkan Barong di tengah jalan malam-malam begini.
Diperhatikan lebih seksama, Nang R menjadi bingung karena mahluk ini memiliki (maaf) buah pelir yang sangat besar seperti sapi jantan. Kok barong bisa memiliki begituan ya, dengan ngak habis pikir dia terus mengamati mahluk tersebut.
Pada dasarnya Nang R memiliki sifat iseng dan usil, dengan santainya tanpa memikirkan resikonya, kemaluan dari mahluk tersebut disentil dengan jari tangannya. Yang terjadi sungguh sangat mengagetkan, mahluk tersebut tiba-tiba bersin, huaaasiiiitttt, dan udara yang keluar dari hidung mahluk tersebut membuat Nang R terpental jatuh dan tidak sadar diri. Setelah kesadarannya pulih, pelan-pelan dia mengamati keadaan sekitarnya, dia tersadar bahwa dia berada di debat bale banjar, dimana jarak antara tempat mahluk itu dengan bale banjar sekitar 2 km.
Bisa dibayangkan alangkah kuat nya semburan bersin mahluk tersebut, dan alangkah mujurnya Nang R sehingga Beliau masih selamat dari kemarahan mahluk tersebut. Ternyata, selain sebagai petani, Nang R juga sangat rajin sembahyang ke pura, sehingga Ida Sesuhunan menyelamatkan Nang R ketika berada dalam keadaan genting. Nang R penasaran akan mahluk tersebut, dan ketika ditanyakan ke orang yang lebih pintar, Beliau mendapat keterangan bahwa mahluk tersebut adalah Banaspati Raja, yang kebetulan bersemayam dan sedang istirahat di tempat tersebut.
Moral dari cerita ini adalah, jangan usil dan rajinlah sembahyang (baca: Kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa)


Nabinya Orang Termiskin - Tulisan Prof. Syafii Maarif

Tulisan ini adalah pengalaman dari Prof. Syafii Maarif, Mantan Ketua Muhammadiyah yang dimuat di koran kompas edisi 26 Nov 2011

Silahkan dibaca dan di renungkan

Admin



Nabinya Orang Termiskin
Oleh. Prof Syafii Maarif
Judul yang lengkap sebenarnya adalah ”Asketik Hindu Nabinya the Poorest of the Poor”. Ini adalah artikel refleksi kesaksian saya atas realitas spiritual seorang asketik Hindu.
Asketik berarti sederhana ekstrem. Saya mendapat undangan dari seorang asketik spiritual untuk mengunjungi kota Bhubaneswar, Negara Bagian Orissa, India, 14-16 November 2011. Saya diajak menyaksikan proyek pendidikan, sosial, dan kemanusiaan dahsyat yang telah digelutinya sejak 20 tahun lalu.
Sosok itu bernama Dr Achyuta Samanta, lahir 20 Januari 1965. Ia berasal dari Desa Kalarabanka, salah satu tempat tinggal suku termiskin di negara bagian itu. Samanta yatim sejak berumur empat tahun. Ibunya yang kini 83 tahun tetap tinggal di desa, sementara saudara-saudaranya tak seorang pun mengikutinya.
Melalui perjalanan hidup yang sangat sulit, Samanta berhasil sekolah dan mendapatkan beasiswa untuk meraih sarjana kimia dari Universitas Utkal.
Aneh bin ajaib, ia melepaskan profesinya sebagai dosen dan kemudian beralih posisi menjadi nabinya ”the poorest of the poor” (kalangan termiskin di antara yang miskin). Nabi di sini hendaklah dipahami sebagai seorang pembebas dari ketertindasan: kasta, ekonomi, pendidikan, sosial, dan politik.
Tuan dan puan jangan kaget membaca kesaksian berikut dari saya (76) yang sudah bersyahadat sejak usia sangat dini. Senin 14 November pagi pukul 07.19, Dr Mahendra Prasad, Direktur Hubungan Internasional Universitas Kalinga Institute of Industrial Technology (KIIT), menjemput saya di Bandara Biju Patnaik dengan sebuah mobil cukup mewah.
Belum ada lini penerbangan internasional langsung ke Orissa. Dengan demikian, saya harus berjam-jam transit di Bandara Delhi yang sangat melelahkan.
Asketisme
Sampai jam itu saya belum dikenalkan dengan nama asketik Hindu yang fenomenal itu, otak dari semua proyek kemanusiaan yang mungkin hanya dia seorang saja di muka Bumi ini dalam makna asketisme: tak terbayangkan di tengah aset proyek ratusan juta dollar AS. Sebuah aset yang tidak akan diwariskan kepada keluarga, melainkan untuk publik, seperti yang ia tegaskan kepada saya.
Dalam perjalanan ke Hotel Trident, Prasad memberi saya beberapa informasi tercetak tentang KIIT, Kalinga Institute of Social Sciences (KISS), dan tentang Samanta. Di hotel secara selintas saya membaca informasi itu, termasuk sosok Samanta yang beberapa jam kemudian datang menemui saya di kamar hotel.
Saya terkejut bukan main, seorang humanis besar datang dengan baju putih lengan panjang, celana jeans, dan sandal lusuh. Langsung saya berucap, ”Tak ada gunanya Anda mengundang saya ke sini. Saya bukan siapa-siapa dibanding Anda.” Dengan sikap penuh hormat sambil mengangkat kedua tangan ke dahi, Samanta menjawab, ”Jangan berkata begitu.Saya mengagumi Anda.
”Terus terang saya malu sekali karena dia tak punya alasan untuk mengagumi saya. Syahadat usia dini tidak mengarahkan saya menjadi humanis yang berarti. Sewaktu saya tanya tentang inti filosofinya, Samanta hanya menjawab, ”Untuk membahagiakan orang lain.” Sebuah filosofi yang melawan sifat mementingkan diri sendiri.
Hari itu juga Samanta untuk kedua kalinya datang ke kamar saya. Pakaiannya tetap saja tak berganti, itu-itu saja. Ia memberikan serangkai bunga berwarna merah, lagi-lagi untuk menyatakan rasa hormat yang sebenarnya tidak patut saya terima. Saya merasa kualitas spiritual saya jauh berada di bawah.
Sore itu saya diajak keliling kota oleh pemuda Chitta Ranjan Panda, asisten liaison officer (staf penghubung) Universitas KIIT. Kami mengunjungi Candi Surya, peninggalan Kerajaan Kalinga, dan ke pantai melihat matahari terbenam dengan mobil KIIT yang cukup mewah.
Sebaliknya mobil Samanta yang sudah berusia 10 tahun tidak juga ditukar. Selasa 15 November pagi, saya diajak mengelilingi semua kampus KIIT dan KISS yang sedang membangun gedung-gedung lain untuk pengembangan lebih lanjut.
Untuk yang Miskin
Belum berumur 20 tahun, KIIT dan KISS sudah tampil sebagai salah satu universitas kelas dunia dengan 36.000 mahasiswa, termasuk mahasiswa asing. KISS dibangun untuk mendidik anak-anak termiskin dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Ada 10.000 siswa dan mahasiswa miskin ditampung dan dididik secara gratis oleh KISS.
Tuan dan puan dapat membayangkan dana yang harus tersedia untuk menghidupi lautan manusia papa itu. Samanta yang merasa hanya sebagai media Tuhan punya mimpi untuk memberdayakan 2.000.000 anak miskin dalam beberapa tahun mendatang. KIIT sekarang sudah punya 16 kampus, termasuk fakultas kedokteran dan fakultas hukum, melengkapi fakultas lain dari berbagai cabang ilmu.
Gambaran tentang sosok yang kita bincangkan ini belum lagi utuh sebelum tuan dan puan mengikuti yang berikut ini. Samanta tetap membujang, tinggal di rumah sewaan, berkantor di bawah pohon, dengan sebuah meja kuno dan beberapa kursi plastik. Jika panas menerpa ”kan – tornya ”, ia bergeser ke sisi lain. Di sinilah dia menerima tamu: presiden, menteri, gubernur, pemenang Hadiah Nobel, Hadiah Magsaysay, pejabat KIIT/KISS, dan tokoh-tokoh dunia lainnya. Semua akan sampai kepada kesimpulan: Samanta humanis yang belum ada duanya.
Pejabat-pejabat KIIT dan KISS bekerja di ruangan ber-AC, mobil mewah, dan berdasi. Samanta tetaplah Samanta, asketik Hindu. Di sebuah ruang di tempat tinggalnya, Samanta pagi-sore bersemedi. Saya diajak menengok ruang ini.
Dua kali dalam seminggu dia berpuasa. Dalam SMS-nya kepada saya tanggal 22 November, Samanta mengatakan akan tetap bertahan sebagai nabi orang miskin dalam asketisme yang membuat saya merasa malu. Samanta adalah pengikut Mahatma Gandhi, tokoh yang paling dikagumi pemikir sejarah AJ Toynbee.
Sore hari 15 November, saya bersama tamu yuris dari Inggris, Prof J Martin Hunter, dan dokter aktivis lingkungan, dr Shri Rajendra Singh, diminta berpidato di depan 15.000 siswa dan mahasiswa miskin yang berdisiplin tinggi. Acara berlangsung di lapangan terbuka kampus KISS.
Akhirnya, tentu amatlah sulit bagi kita menjadi asketik seperti Samanta dengan karya besarnya itu. Sekiranya kita mau hidup jujur dan lurus saja sudah lebih dari cukup, pasti akan banyak sekali proyek pengentasan orang miskin yang dapat kita laksanakan di Indonesia.
Mau studi banding? Temuilah Samanta di KIIT dan KISS, tak perlu ke Yunani atau negara industri lain. Jika memang mau menghalau kemiskinan dari bumi Nusantara, halaulah secara sungguhan!

Meredakan Celegukan Pada Bayi


Jika mempunyai anak yang masih bayi (apalagi yang baru lahir), kadang kita dihadapkan situasi dimana si bayi celegukan sehabis menyusui atau minum ASI. Sebagai orang tua, sering merasa kasihan atau kadang-kadang panik melihat si kecil celegukan.

Ternyata, para Leluhur kita sudah memberikan cara agar celegukan tersebut bisa diredakan. Bagaimana caranya?. Sederhana sekali, dengan memakai ujung daun sirih. Daun sirih?. Ya, kita ambil daun sirih kemudian ujungnya yang berbentuk segitiga kita potong (kecil aja) dan di tempelkan di kening si bayi.

Bagaimana hasilnya?. Pernah penulis alami sendiri dan percaya tidak percaya celegukan si bayi akan mereda.

Itulah salah satu kearifan Lokal Bali yang diwariskan leluhur kita, tidak ada salahnya kalau di coba.


Pengetahuan Dasar Tentang Bios, Cara Kerja dan Fungsinya

Tahukah anda tentang BIOS? Bios merupakan sumber informasi dan sangat penting disaat kita akan melakukan troubleshooting komputer. Seperti pada contoh sederhana dimana komputer kita mati total maka hanya dengan cara mereset BIOS saja komputer kita dapat kembali nyala seperti sebelum masalah.

BIOS sendiri merupakan singkatan dari Basic Input Output System yang merupakan sumber informasi dalam suatu software dalam komputer yang ditulis dalam bahasa assembly yang mengatur fungsi dasar hardware (perangkat keras) pada komputer. BIOS tertanam didalam chip sebuah memory (ROM ataupun Flash Memory yang berbahan Comlpimentari Metal Oxide Semiconductor-CMOS)  yang ada terdapat pada mainboard. Pada sebuah baterai yang biasa kita sebut dengan baterai CMOS yang mempunyai fungsi untuk menjaga agar waktu atau tanggal dan setingan lainnya yang sebelumnya telah kita set pada BIOS tidak hilang atau akan kembali ke konfigurasi awal meskipun komputer dimatikan yang fungsinya akan terus berjalan layaknya sebuah jam


Tip Prosedur menggoreng Bumbu (Sambal) Bali

Sering kita dihadapkan pada situasi dimana kita ditugaskan untuk menggoreng bumbu/base dalam kegiatan nge-lawar di bale banjar di pedesaan di Bali. Kita diserahin tanggung jawab untuk membereskan masalah goreng-menggoreng tanpa diberikan petunjuk yang memadai. Sebagai seorang new-bie, tentu hal ini akan menjadikan kita bingung, apa yang mesti digoreng terlebih dahulu?, Apakah cabe, terasi atau bawang?, apabila salah prosedurnya maka akan menjadikan kita boros akan minyak goreng.

Penulis berhasil berdiskusi dengan seorang tokoh nge-lawar dan mendapatkan rincian prosedur yang harus dilakukan dalam hal menggoreng bumbu/base. Berikut adalah tips dalam menggoreng base bali :
  1. Bawang merah. Yang pertama harus digoreng adalah bawang merah, setelah diangkat dari penggorengan biasanya dicampur dikit dengan gula pasir tujuannya agar keringnya lebih tahan lama
  2. Cabe. Yang kedua harus digoreng adalah cabe, jangan terlalu lama agar kesegerannya masih terasa
  3. Terasi. Selanjutnya adalah terasi, campur sedikit dengan garam agar jangan batuk kalau menghisap asapnya
  4. Base sune cekuh (bawah putih + kencur), ini adalah base/sambal yang didominasi bawah putih + kencur
  5. Base Rajang. Dilanjutkan dengan menggoreng base rajang, base rajang merupakan campuran semua unsur bumbu, tapi dalam prosesnya hanya dirajang
  6. Base Gede. Terakhir digoreng adalah Base Gede, unsur base gede adalah sama dengan base rajang, bedanya adalah base gede diintuk (dihancurkan dengan mesin agar halus)
Setelah semua siap, maka dimulailah proses ngadukang lawar. Proses ini disesuaikan dengan selera, mungkin ada dari para pembaca yang bersedia mengupas?.

Jadi selamat ngelawar, pakailah tip menggoreng base bali di atas



Selikur (21) Galungan, apa pas buat pewiwahan?

Om Swastiastu Om
Di Bali sangat terkenal dengan istilah selikur Galungan atau 21 hari sebelum hari raya Galungan untuk melakukan upacara pewiwahan (perkawinan). Apakah tepat kita melakukan perkawinan pas hari itu? Mari kita bahas berdasarkan panca wara, sapta wara serta wuku yang menaungi hari tersebut.
Selikur Galungan jatuh pada hari Budha Wage Warigadean.
·         Budha merupakan Sapta Wara dan berposisi di Barat mempunyai urip 7, dengan Mahadewa sebagai Dewanya, bersenjatakan Nagapasa. Nagapasa memberi aura yang sangat positif kepada perkawinan karena bersifat mengikat/melanggengkan perkawinan tersebut
·         Wage sebagai pancar wara berposisi di Utara dengan urip 4. Utara merupakan posisi dengan Dewa Wisnu sebagai penguasanya, bersenjatakan Cakra, juga memberikan aura positif karena bersifat sebagai air yang mengalir menyejukkan
·         Warigadean merupakan wuku yang berposisi di Barat Daya (Nairiti) dengan Dewa Rudra sebagai penguasanya, bersenjatakan Moksala yang merupakan simbul keseimbangan. Wuku ini juga memberikan aura positif asalkan yang hendak melakukan perkawinan bisa menjaga keseimbangan lahir batinnya.
Jika kita melihat dari segi panca wara, sapta wara dan wuku sebagai pertimbangan secara sendiri-sendiri, maka semuanya memberikan aura yang positif. Tapi di sini perlu dipertimbangkan perpaduan antara urip dari panca wara dan urip dari sapta wara untuk selikur Galungan yaitu 7 + 4 = 11. Total urip dari hari tersebut merupakan kunci bagus tidaknya hari selikur Galungan dijadikan pilihan untuk melakukan pewiwahan.
Menurut Ida Pedanda Gde Panji Sogata, untuk menentukan suatu hari baik dijadikan sebagai pilihan haruslah dimulai dengan memilih pedewasan yang baik, kemudian jumlah urip dari pedewasan tersebut dipadukan dengan urip dari yang empunya karya (dalam hal ini calon suami dari mempelai).
Dalam kasus selikur Galungan, urip 11 harus dipadukan dengan urip si calon suami sehingga mendapatkan hari yang pas untuk pewiwahan
Bisa jadi pedewasan yang baik contohnya selikur Galungan, belum tentu cocok untuk semua orang, karena kelahiran dari orang berbeda-beda sehingga menimbulkan urip yang berbeda pula yang apabila dijumlahkan dengan urip pedewasan tersebut menghasilkan hail yang berbeda.
Jadi kesimpulannya, Selikur gaulungan mungkin baik bagi sebagian orang, tapi belum tentu cocok dengan setiap orang, sehingga tidak bisa dijadikan acuan untuk melakukan suatu upacara pewiwahan.
Om Shanti, Shanti, Shanti
Mangku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak - Mangku I Nyoman Hari Kontha

Fenomena Gunung Es (Ice Berg) dalam Sad Ripu

Om Swastiastu Om

Brahman Atman Aikyam

Seperti diketahui bahwa masuknya Atman ke dalam wadag dalam proses kelahiran akan menyebabkan Atman diliputi oleh kegelapan/Awidya seperti asap yang menyelimuti api. Hal ini mengakibatkan manusia terjerumus dalam kegelapan batin dan bingung akan kenyataan diri sejati.

Hasil dari penciptaan itu sendiri memiliki 3 sifat yang alamiah yang sering kita sebut sebagai Tri Guna yaitu Satwam, Rajas dan Tamas. Ketiganya merupakan bahan bakar yang menyebabkan aktifitas di  dunia ini.

Selanjutnya dari Tri Guna lahirlah berbagai macam sifat baik dan buruk. Diantara sifat itu terdapat 6 sifat yang merupakan musuh kita yang sering di sebut Sad Ripu. Sad artinya enam, Ripu artinya musuh. Jadi Sad Ripu merupakan 6 musuh yang terlahir dari ketiga sift Tri Guna tersebut. Sad Ripu terdiri dari
  1. Kama - Keinginan
  2. Loba - Ketamakan
  3. Krodha - Kemarahan
  4. Moha - Kebingunan
  5. Mada - Kesombongan
  6. Matsarya - Irihati/Dengki
Kalau kita perhatikan, Sad Ripu dimulai dari Kama yang artinya keinginan. Keinginan di sini merupakan sifat manusia yang paling alamiah. Keinginan sangatlah berbeda dengan kebutuhan.

Sebagai contoh, apabila kita haus maka yang kita butuhkan adalah air untuk mengihilang haus tersebut. Tapi sering kita menginginkan minuman yang lain (bir, cola dst) untuk menghilangkan rasa haus kita. Di sini kita bisa terjerembab dalam keadaan yang lebih buruk apabila kita tidak bisa mengendalikan keinginan tersebut.

Apabila kita tidak mengontrol keinginan itu maka, bila keinginan terpenuhi akan menyebabkannya menjadi tidak terkendali sehingga akan menimbulkan ketamakan (Lobha), apabila keinginan tidak terpenuhi maka akan menyebabkan kemarahan (Krodha) yang akan muncul di diri kita.

Lobha dan Krodha, baik yang terpenuhi maupun yang tidak, akan menyebabkan kebingungan (Moha) dilanjutkan dengan kesombongan (Mada). Semua proses tersebut baik yang terpenuhi maupun yang tidak akan berujung pada irihati/dengki (Matsarya)

Jadi kita harus berhati-hati dengan situasi diri kita, apabila kita mempunyai perasaan iri hati/dengki maka waspadalah bahwa itu merupakan akumulasi dari berbagai macam sifat Sad Ripu yang tentu saja diawali dengan Kama (keinginan).

Dalam Kitab Bhagavad Gita ketika Arjuna menanyakan penyebab dari manusia melakukan dosa yang betentangan dengan hati nurani, maka Sri Bhagavan menjawab dalam bab III sloka 37 dinyatakan

kama esa krodha esa
rajo-guna-samudbhavah
mahasano maha-papma
viddhy enam iha vairinam
Yang artinya:

Itulah keinginan, itulah nafsu
yang berasal dari rajaguna
sangat membinasakan
bebaskan dirimu dari padanya


Di sini secara jelas diberitahukan oleh Tuhan sendiri, bahwa Kama & Krodha adalah penyebab manusia kehilangan jati diri. Mereka seperti asap yang menyelimuti api, mnyebabkan sang diri kehilangan sifat aslinya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dan bebaskan diri kita dari sifat-sifat tersebut.

Leluhur kita lebih lanjut menganalisis sifat-sifat itu, dan terumuskan dengan nama Sad Ripu yang merupakan pengejawantahan dari Kama dan Krodha.

Memerangi Sad Ripu harus dimulai dari membatasi keinginan/Kama, karena keinginan/kama yang berlebihan merupakan sumber dari penderitaan, baik terpenuhi ataupun tidak. Dengan terkendalikannya Kama tersebut, maka otomatis element-elemen yang akan sulit berkembang sehingga kita terhindar dari kehancuran dan Sang Diri sejati akan menampakkan jati dirinya.

Dalam catur Purusa Artha dikatakan bahwa satu-satunya keinginan yang boleh ada di dalam diri kita adalah keinginan akan Moksa atau Kama Moksa. Keinginan akan moksa akan membawa kita lebih dekat dengan Sang Pencipta dan akan menghilangkan asap yang menyelimuti Sang Diri Sejati, menjadikan manusia menjadi lebih baik.

Om Namo Siwa Ya, Om Nama Budha Ya
Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Mangku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak - Mangku I Nyoman Hari Kontha



Update - Jadwal Piodalan Pura Pasar Agung Melanting Gunung Salak

Berikut adalah Update - Jadwal Piodalan Pura Pasar Agung Melanting Gunung Salak

NO

HARI - TANGGAL - JAM
AKTIFITAS
PESERTA - PEMUPUT
1
Wraspati, Purnama Karo,
2    Agustus 2012
10.00 - selesai
1.       Matur Piuning
2.       Nuasen Karya
3.       Pawintenan
Umat Hindu Pengayah
Ida Pedande Gde Panji Sogata

2
Anggara, 24 Agustus 2012
09.00 - selesai
1.    Ngayah Membuat Sarana Upacara
2.    Masang Pengangge
Umat Hindu Pengayah

3
Budha, 29 Agustus 2012
09.00 - selesai
1.    Persembahyangan Galungan
2.    Ngayah Membuat Sarana Upacara
Umat Hindu Pengayah
Mangku Gde Pura Pasar Agung - Melanting
4
Wraspati  30 Agustus 2012
08.00 - selesai
1.    Ngias Ida Bathara
2.    Ngayah Membuat Sarana
Umat Hindu Pengayah
Mangku Istri Pura Pasar Agung - Melanting

4
Sukra, Purnama Katiga
31  Agustus  2012
10.00 - selesai
1.    Mecaru & Melaspas
2.    Upacara Pujawali
3.    Persembahyangan Bersama
Umat Hindu Pengayah
Ida Pedande Gde Panji Sogata

6
Saniscara, 1 September  2012
10.00 - selesai
1.    Nganyarin
2.    Persembahyangan
Umat Hindu Pengayah
Mangku Gde Pura Pasar Agung - Melanting
7
Redite 2 September-12
10.00 - selesai
1.    Nganyarin
2.    Persembahyangan Bersama
3.    Upacara Nyineb
Umat Hindu Pengayah
Mangku Gde Pura Pasar Agung - Melanting