Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Tiga Cara Mencari Ilmu

Tad viddhipranipatena
Pariprasnenasevaya.
Upadeksyanti tejnyanam
jnyaninastattvadarsiah.(Bhagavad Gita,IV.34)

Maksudnya:Carilah ilmu kebijaksanaan itu dengan sujud bhakti, dengan bertanya-tanya dan dengan pelayanan. Orang bijaksana dapat melihat kebenaran, hal itu akan menyebabkan ilmu pengetahuan memberimu petunjuk. Jumlah ilmuwan di dunia kian bertambah banyak. Ada ilmuwan bidang eksakta, ada ilmuwan sosial, ada ilmuwan humaniora dan ada juga ilmuwan bidang agama dan spiritual.

Namun keadaan hidup manusia di berbagai belahan dunia ini masih saja dirundung berbagai masyalah yang pelik sulit diselesaikan. Seyogianya para ilmuwan itu dapat bersinergi memberikan pemikiran yang cerdas dan bijak dan aktual dalam menyelesaikan berbagai masalah yang muncul dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Ilmuwan seyogyanya dapat memberikan solusi dengan memakai daya nalar, dengan hati nurani dan dengan kepekaan emosi yang terkendali. Ilmuwan seperti itu belum banyak yang muncul. Hampir tidak ada masalah di dunia ini kalau tidak dipecahkan tanpa ilmuwan dengan cara bersinergi. Agar ilmuwan itu dapat berbuat bijaksana carilah ilmu dengan tiga cara sebagaimana dinyatakan dalam kutipan Sloka Bhagavad Gita di atas yaitu:

1. Pranipatena:Mencari ilmu dengan sujudbhakti pada Tuhan dan dengan rendah hati. Untuk mendapatkan kebijaksanaan mengelola hidup di bumi ini carilah ilmu pengetahuan dengan rasa bhakti.Ilmu pengetahuan yang mengandung nilai-nilai kebijaksanaan disebut viddhi dalam Bhagawad Gita yang dikutif di atas. Viddhi juga berarti yang mentakdirkan. Menurut Nitisastra ada tujuh penyebab mabuk (gelap hati) yang disebut Sapta Timira.

Salah satu dari tujuh penyebab mabuk itu adalah ilmu pengetahuan. Tetapi Nitisastra menyatakan barang siapa yang tidak mabuk oleh tujuh hal itu termasuk bagi mereka yang menguasai ilmu pengetahuan dialah diberi gelar Sang Mahardika. Ini artinya mencari ilmu itu amat utama, yang penting jangan mabuk seperti sombong dengan bersikap eksklusif.

Mencari ilmu dengan konsep prani patena bermaksud untuk mengikis sifat-sifat egois sebagai tujuan ilmu pengetahuan.Karena itu Swami Satya Narayana menyatakan bahwa tujuan mendalami Weda ada lima yaitu: vidya artinya mencari ilmu pengetahuan rokhani dan duniawi (para dan apara vidya), mencari viveka yaitu kemampuan untuk berpikir analitis. Karma siksana artinya memperbaiki tingkah laku, satsila artinya membangun kharakter yang mulia. Desa abhimana untuk memotivasi diri mengabdi pada tanah kelahiran.

Sebelum menjadi orang ahli dalam satu bidang ilmu terlebih dahulu bangunlah tiga kecintaan yang dalam yaitu dewa abhimana artinya kuatkan rasa bhakti pada Tuhan. Dharma abhimana yaitu kecintaan dan keteguhan berpegang pada kebenaran Veda atau dharma. Selanjutnya desa abhimana selalu bersemangat untuk mengabdi pada tanah kelahiran atas dasar kecintaan pada ibu pertiwi. Dalam tradisi Hindu di Bali ada tradisi Mawinten Saraswati saat akan memasuki jenjang pendidikan. Tujuan pemujaan Dewi Saraswati itu untuk memohon hyang-hyangning pangeweruh. Artinya mohon untuk mendapatkan ilmu pengetahuan suci.

2. Pariprasnena: Carilah ilmu dengan bertanya-tanya. Dengan bertanya pada guru dalam menyerap ilmu, perhatian untuk menyerap ilmu itu lebih fokus. Kalau peserta didik belum mampu merumuskan berbagai pertanyaan, guru harus berusaha membingbing agar peserta didik memiliki kemampuan untuk merumuskan pertanyaan.

Ilmu yang diserap lewat bertanya jauh akan lebih berkesan dan lebih mendalam kalau dibandingkan dengan hanya mendengarkan ceramah. Namun demikian metoda ceramah tetap dibutuhkan untuk melatih peserta didik untuk bertanya. Bahkan ada baiknya peserta didik setelah ditugaskan membaca dan mendengarkan ceramah untuk menyusun pertanyaan dari apa yang dibaca dan di dengar. Demikian juga peserta didik diajak untuk mengamati sesuatu objek ilmu. Selanjutnya peserta didik ditugaskan membuat berbagai pertanyaan dari hasil pengamatannya itu. Mencari ilmu dengan bertanya-tanya itu lebih dapat mendorong peserta didik lebih kritis dan lebih berpeluang mengembangkan daya analisanya.

3. Sevanam:Carilah ilmu dengan melakukan pengabdian atas dasar bhakti. Kata seva dalam bahasa Sansekerta artinya melayani diBali disebut ngayah. Dalam Subha Sitha Weda dinyatakan: Para upakara puniaya para pidana papaya. Maksudnya: siapa yang senantiasa dalam hidupnya melayan (upakara) orang lain akan dapat punia, siapa yang menyakiti orang akan hidupnya menderita (papa). Melayani sesama dengan tulus ikhlas sesungguhnya juga sebagai wujud bhakti pada Tuhan yang disebut juga sevanam dalam pustaka Bhagavata Purana.

Dalam melakukan pelayanan berbagai masalah yang praktis kita akan jumpai. Saat itu kita bisa merasakan, melihat dan juga kembali memikirkan apakah suatu ilmu yang kita dapatkan dalam teori mampu atau tidak kita jadikan pegangan. Dalam pelayanan ilmu yang telah kita miliki akan terus berkembang. Kalau kita melakukan pelayanan dengan cerdas banyak ilmu lagi kita akan peroleh. Di samping ilmu yang tela kita miliki akan semakin teruji dalam praktek. Dalam Wrehaspati Tattwa 33, belajar terus sepanjang hidup disebut vidyayana.

Menerapkan ilmu dalam praktek kehidupa itu sebagai bentuk pengabdian disebut adalah tarka janyana. Puncaknya adalah dana artinya dapat memberikan manfaat. Dhana berbeda dengan dana. Dhana artinya harta benda/kekayaan. Sedangkan dana artinya memberikan. DalamWrehaspati Tattwa 25 dinyatakan dana ngaran paweweh. Artinya dana artinya pemerian. Ini berarti widyayana, tarka jnyana harus dapat memberikan kontribusi pada kehidupan indiidual dan sosial. Belajar terus mencari ilmu dan mengamalkan ilmu tersebut dalam praktek harus sampai memberikan kontribusi atau dana. Canakya Niti IV. 15menyatakan ilmu yang tidak diterapkan dalam praktek kehidupan akan menjadi racun (anabhyasevisamsastram).Ilmu itu bisa membuat orang mabuk kalau tidak bijak memilikinya

Ketut Wiana - Indoforum.Org

Taksu Merajan

Makna Pelinggih Taksu di Merajan

Indriyani parany ahur
indriyebhyah param manah.
manasas tu para budhir
yo buddheh pratas tusah.
(Bhagawad Gita Gita IV.42).

Maksudnya:
Sempurnakanlah indriamu, tetapi kesempurnaan indria berada di bawah kesempurnaan pikiran, kekuatan pikiran berada dalam pencerahan kesadaran budhi. Yang paling suci adalah Atman.

Memelihara kesehatan indria agar dapat berfungsi secara sempurna merupakan upaya hidup sehari-hari yang wajib dilakukan. Indria tersebut adalah alat untuk dapat kita merasakan adanya suka dan duka dalam kehidupan ini. Cuma indria yang sehat sempurna itu harus digunakan di bawah kendali pikiran yang cerdas. Kecerdasan pikiran itu dilandasi oleh kesadaran budhi yang bijaksana. Struktur diri yang demikian itulah yang akan dapat mengimplementasikan kesucian Atman dalam wujud perilaku.

Indria, pikiran dan kesadaran budhi yang mampu menjadi media kesucian Atman itulah yang menyebabkan orang disebut mataksu dalam hidupnya. Kata ''taksu'' berasal dari kata ''aksi'' artinya melihat. Melihat itu dengan cara pandang yang multidimensi itulah menyebabkan orang disebut mataksu. Melihat sesuatu tidak hanya dengan mata fisik saja. Pandangan mata fisik itu dianalisis oleh pandangan pikiran yang cerdas dan dipandang dengan renungan rohani yang mendalam. Cara pandang yang demikian itulah yang akan dapat melihat sesuatu dengan multidimensi. Penglihatan yang multidimensi itulah menyebabkan orang mataksu.

Tempat pemujaan sebagai Ulun Karang atau hulunya rumah tempat tinggal bagi umat Hindu di Bali umumnya disebut Merajan atau Sanggah Merajan. Di tempat pemujaan yang disebut Merajan Kamulan itu ada salah satu pelinggihnya disebut Taksu. Pelinggih Kamulan umumnya didirikan di leret timur dari areal Merajan hulu pekarangan. Pelinggih Kamulan itulah sebagai pelinggih utama. Sebutan lain dari Merajan tersebut adalah Kemulan Taksu atau juga disebut Pelinggih Batara Hyang Guru.

Menurut Lontar Purwa Bhumi Kamulan, Atman yang telah mencapai tingkat Dewa Pitara atau Sidha Dewata distanakan di Pelinggih Kamulan. Lontar Gayatri menyatakan orang yang meninggal rohnya disebut Preta. Setelah diupacarai ngaben rohnya disebut Pitara. Selanjutnya dengan upacara Atma Wedana barulah disebut Dewa Pitara.

Menurut Lontar Siwa Tattwa Purana ada lima jenis upacara Atma Wedana berdasarkan besar kecilnya upacara yaitu: Ngangsen, Nyekah, Mamukur, Maligia dan Ngeluwer. Setelah roh diyakini mencapai status Dewa Pitara inilah ada prosesi upacara yang disebut upacara Dewa Pitra Pratistha. Umat Hindu di Bali umumnya menyebutnya upacara Nuntun Dewa Hyang atau juga disebut Ngalinggihan Dewa Hyang di Pelinggih Kamulan. Karena itulah berbagai lontar menyatakan bahwa Pelinggih Kamulan sebagai stana Sang Hyang Atma.

Di leret utara dari areal tempat pemujaan Merajan salah satu pelinggihnya ada yang disebut Pelinggih Taksu. Karena itu tempat pemujaan Ulun Karang itu juga disebut Pelinggih Kamulan Taksu. Dalam Lontar Angastya Prana ada diceritakan bahwa saat jabang bayi ada dalam kandungan berada dalam pengawasan Dewa Siwa. Setelah ada sembilan bulan lebih jabang bayi tersebut ada dalam kandungan maka Dewa Siwa minta agar jabang bayi itu lahir ke dunia.

Diceritakan jabang bayi itu takut lahir ke dunia. Mengapa takut, karena hidup di dunia itu banyak penderitaan yang akan dialami. Ada angin ribut, ada gempa, ada gunung meletus, ada kelaparan, ada banjir, ada perang dan banyak lagi ada hal-hal yang membuat orang menderita. Atas jawaban jabang bayi itu Dewa Siwa menyatakan bahwa engkau tidak perlu takut hidup di dunia, nanti saudaramu yang empat itu akan membantu kamu mengatasi segala derita.

Untuk itu kamu harus minta bantuan kepada saudaramu yang empat itu yang disebut Catur Sanak. Catur Sanak itu adalah ari-ari atau plasenta, darah, lamas dan yeh nyom. Empat hal itulah yang melindungi dan memelihara secara langsung sang jabang bayi dalam kandungan ibunya. Kedokteran dapat menjelaskan secara ilmiah apa fungsi keempat unsur yang melindungi bayi dalam kandungan ibunya itu.

Diceritakan secara mitologi dalam Lontar Angastia Prana sang jabang bayi bersedia minta tolong pada Sang Catur Sanak. Permintaan jabang bayi itu disanggupi oleh Sang Catur Sanak dengan catatan agar setelah lahir ke dunia sang bayi tidak boleh lupa dengan dirinya. Dengan kesepakatan itu Sang Catur Sanak mendorong sang jabang bayi lahir ke dunia.

Setelah sang bayi dan Catur Canak sama-sama lahir ke dunia, keduanya mendapatkan perlakuan sekala dan niskala. Setiap bayi diupacarai secara keagamaan. Sang Catur Sanak pun ikut serta diupacarai. Nama Sang Catur Sanak berubah menjadi seratus delapan kali. Demikianlah sampai sang bayi meningkat dewasa, tua dan sampai meninggal.

Saat bayi baru lahir Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana nasi kepel empat kepel. Saat sudah meninggal roh atau Atman dipreteka dengan upacara ngaben, saat itu Catur Sanak mendapatkan upacara dengan sarana beras catur warna. Sampai upacara Atma Wedana dan roh mencapai Dewa Pitara distanakan di Pelinggih Kamulan, maka Catur Sanak distanakan di Pelinggih Taksu. Karena itulah tempat pemujaan di Ulun Karang itu disebut Kamulan Taksu sebagai Batara Hyang Guru.

Dalam Vana Parwa 27.214 dinyatakan ada lima macam Guru. Atman adalah satu dari lima guru yang dinyatakan dalam Vana Parwa tersebut. Pendirian tempat pemujaan keluarga di Ulun Karang tempat tinggal adalah sebagai prosesi untuk menstanakan Atman sebagai Batara Hyang Guru dalam kehidupan keluarga inti bagi umat Hindu di Bali.

Dengan adanya Pelinggih Taksu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam Merajan Kamulan inilah ada suatu nilai spiritual yang patut dipetik sebagai penuntun hidup di bumi ini. Dengan adanya Pelinggih Kamulan Taksu ini dapat dikembangkan suatu pandangan bahwa bagaimana konsep taksu dari sudut pandang Hindu dalam sistem budaya spiritual di Bali. Dengan konsep yang benar itulah kita jaga taksu Bali ke depan untuk menghadapi pergolakan kehidupan global yang semakin dinamis


[Ketut Gobyah - nama yang dipergunakan oleh salah seorang Sabha Walaka Parisada untuk menulis di media massa] - Indoforum.org

Kisah Leak 11 - Garuda Anglayang 2

Dikisahkan seorang pemuda sedang memadu kasih dengan pacarnya. Dasar laki-laki si pemuda bersikap seperti seorang playboy kampungan. Dia suka mempermainkan cewek. Namun suatu ketika dia kena batunya karena yang dia permainkan adalah seorang gadis yang mempunyai nenek/dadong yang bisa ilmu leak.

Si gadis diajak main ke sana kemari oleh si pemuda tersebut. Si dadong tidak bisa menerima keadaan itu karena merasa bahwa si pemuda hanya mempermainkan cucunya.

Untuk membuat si pemuda itu jera, maka suatu malam si dadong mengunjungi si pemuda itru dalam wujudnya sebagai garuda anglayang, terbang dari rumahnya di sekitar Blahbatuh menuju ke arah Selatan untuk memberi peajaran pada si pemuda tersebut.

Tidak disangka, si pemuda juga mempunya kakek yang sangat sakti, sebut saja namanya Pekak T, yang dengan seketika mengetahui akan bahaya yang mengancam cucunya.

Dia lalu menyarankan agar keluarganya jangan tisur sebelum jam 12 karena akan ada bahaya yang mengancam. Tepat jam 12 malam, terdengar kepak sayap burung yang sangat besar dari arah Utara menuju ke rumahnya. Si kakek segera mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan si dadong yang berwujud burung garuda.

Akhirnya burung garuda tesebut tiba, dan segera terjadi pertarungan/siat peteng yang sangat seru. Dengan ganas garuda tersebut menyerang si kakek, tapi dengan tidak kalah lincahnya si kakek melayani serangan tersebut.

Akhirnya burung garuda tersebut dapat dikalahkan dan terjatuh tepat di depan pintu gerbang rumah si kakek. Burung tersebut kemudian kembalai ke wujud asalnya sebagai seorang nenek-nenek. Dan terjadilah dialog diantara meereka untuk menghilangkan kesalahpahaman yang terjadi. Untungnya semuanya bisa mengerti dan si pemuda tidak lagi mempermainkan si cewek cucunya si dadong.

Cara Sederhana Menjaga Kesucian Tanah Pekarangan/Rumah



Menjaga kesucian tanah pekarangan/rumah harus selalu dilakukan agar situasi dalam rumah tangga selalu baik dan terhindar dari hal-hal yang negatif.

Bagaimana caranya?

Orang tua kita dari jaman dahulu sudah melakukannya dengan sangat sederhana dan berhasil menjaga selalu kesucian tanah pekarangan. Caranya adalah dengan menggunakan air bekas dipakai untuk mencuci beras, dimana air bekas cucian beras tersebut di buang ke tanah pekarangan. Kekuatan air ini akan selalu menjaga kesucian tempat kita. Jadi dari pada air tersebut dibuang ke selokan, mendingan di buang di tanah pekarangan agar kegunaannya bisa dimaksimalkan

Selamat mencoba

Cara Aman Diskusi Tentang Leak


Sering sekali kita melakukan diskusi tentang leak, baik itu tentang ilmunya maupun tentang orang-orang yang kemungkinan mempunya ilmu tersebut. Ada satu hal yang diajarkan oleh orang-orang tua kita di Bali bahwa kalau melakukan diskusi tentang leak hendaknya kaki kita menyentuh lantai (pertiwi). Ini untuk mencegah agar apa yang akan kita diskusikan tidak akan disampaikan ke orang-orang yang bisa ilmu itu. Sebab, menurut orang tua kita, kursi atau tempat yang kita duduki mempunyai semacam 'nyawa' yang bisa memberikan informasi ke orang yang berilmu itu, jadi untuk mencegahnya hendaknya kaki kita menyentuh lantai (pertiwi)

Selamat mendiskusikan tentang leak

Pura Besakih - Padma Tiga

PURA Besakih banyak mengandung filosofi. Menurut Piagam Besakih, Pura Agung Besakih adalah Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga padma. Oleh karena itu, Pura Agung Besakih adalah pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya.

Pura Besakih juga pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. Di Pura ini setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra. Pura Agung Besakih secara spiritual adalah sumber kesucian dan sumber kerahayuan bagi umat Hindu.

Bangunan yang paling utama di Pura Besakih adalah palinggih Padma (Padmasana) Tiga. Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk padmasana berdiri di atas satu altar.

Pengamat agama dan budaya Ida Bagus Gede Agastia mengatakan bangunan suci Padma Tiga yang berada di Pura Agung Besakih adalah tempat pemujaan Tri Purusa yakni Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa (Tuhan Yang Mahaesa).

Piodalan di Padmasana Tiga dilangsungkan setiap Purnama Kapat. Ini terkait dengan tradisi ngapat. Sasih Kapat atau Kartika, merupakan saat-saat bunga bermekaran. Kartika juga berarti penedengan sari. Padmasana tersebut dibangun dalam satu altar atau yoni.

Ida Bagus Agastia mengatakan palinggih padmasana merupakan stana Tuhan Yang Mahaesa. Padmasana berasal dari kata padma dan asana. Padma berarti teratai dan asana berarti tempat duduk atau singgasana. Jadi, padmasana artinya tempat duduk atau singgasana teratai.

Tuhan Yang Mahaesa secara simbolis bertahta di atas tempat duduk atau singgasana teratai atau padmasana. Padmasana lambang kesucian dengan astadala atau delapan helai daun bunga teratai. Bali Dwipa atau Pulau Bali dibayangkan oleh para Rsi Hindu zaman dulu sebagai padmasana, tempat duduk Tuhan Siwa, Tuhan Yang Mahaesa dengan asta saktinya (delapan kemahakuasaan-Nya) yang membentang ke delapan penjuru (asta dala) Pulau Bali masing-masing dengan dewa penguasanya. Dewa Iswara berada di arah Timur, bersemayam di Pura Lempuyang. Brahma di selatan bersemayam di Pura Andakasa. Dewa Mahadewa di barat (Pura Batukaru), Wisnu di utara (Pura Batur), Maheswara di arah tenggara (Pura Goa Lawah), Rudra di barat daya (Pura Uluwatu), Sangkara di barat laut (Pura Puncak Mangu), Sambhu di timur laut (Pura Besakih), Siwa bersemayam di tengah, pada altar dari Pura Besakih dengan Tri Purusa-Nya yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.

Tri Purusa tersebut dipuja di Padmasana Tiga Besakih. Palinggih Padmasana Tiga tersebut merupakan intisari dari padma bhuwana, yang memancarkan kesucian ke seluruh penjuru. ''Karena itu, sumber kesucian tersebut penting terus dijaga, sebagai sumber kehidupan,'' ujarnya.

Sementara pembangunan Pura Agung Besakih dan Pura-pura Sad Kahyangan lainnya adalah berdasarkan konsepsi Padma Mandala, bunga padma dengan helai yang berlapis-lapis (Catur Lawa dan Astadala). Pura Besakih adalah sari padma mandala atau padma bhuwana. Pura Gelap, Pura Kiduling Kerteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batumadeg adalah Catur Lawa. Sedangkan Pura Lempuyang Luhur, Goa Lawah, Andakasa, Luhur Uluwatu, Batukaru, Puncak Mangu, dan Pura Batur adalah Astadala. Pura-pura tersebut sangat disucikan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pura-pura tersebut pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.

Dosen IHDN Denpasar Ketut Wiana mengatakan Pura Besakih sebagai huluning Bali Rajya, hulunya daerah Bali. Pura Besakih sebagai kepala atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di bagian timur laut Pulau Bali.

Timur laut adalah arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi. Pura Besakih juga hulunya berbagai pura di Bali. Kata Wiana, di Padma Tiga ini Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa, tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta. Tri artinya tiga dan purusa artinya jiwa. Tuhan sebagai Tri Purusa adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara.

Palinggih padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam. Sebab, alam yang tertinggi (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam. Bangunan padma yang terletak di tengah adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sadha Siwa. Busana yang dikenakan pada padma tengah itu berwana putih. Warna putih lambang akasa. Sedangkan, bangunan padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka. Busana yang dikenakan berwarna merah. Di Bhur Loka inilah Tuhan meletakkan ciptaan-Nya berupa stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia. Jadi, palinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka. Karena itu dalam konsepsi rwa-bhineda, Pura Besakih merupakan Pura Purusa, sedangkan Pura Batur sebagai Pura Predana.

Menurut Wiana, busana hitam pada palinggih Padma Tiga bukanlah simbol Dewa Wisnu, tetapi Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian. Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap, karena tidak dijangkau oleh sinar matahari.

Tuhan juga maha-ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai jiwa agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman atau tanpa sifat. Manusia tidak mungkin melukiskan sifat-sifat Tuhan Yang Mahakuasa itu.

Padmasana yang berada di tengah, busananya putih-kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera. Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada padma paling kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Sthitti dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.

Sementara di kompleks Pura Besakih, manifestasi Tuhan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg, Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan Batara Iswara di Pura Gelap.

Di tingkat Pura Padma Bhuwana, Batara Wisnu dipuja di Pura Batur, simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Bhatara Iswara dipuja di Pura Lempuhyang Luhur, simbol Tuhan di arah timur dan Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa, simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan. Sementara di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Pura Kahyangan Tiga.


Sumber Balipost

Pura Se-Jabodetabek

Gambar. Pura Pasar Agung & Melanting 
Gunung Salak

Format: Pura, Alamat, Piodalan

1 Pura Segara DKI Jl. Kremasi RT. 07/04 Kel. Cilincing Jakarta Utara,Purnama Keenem

2 Pura Dalem Purnajati Jl. Cilincing Raya, Tj. Priok Jakarta Utara, Tumpek Kuningan

3 Aditya Jaya (Rawamangun) JL. Daksinapati Raya No 10 Rawamangun, Jaktim  Saraswati

4 Pura Penataran Agung Kerta Bumi Taman Mini Kel. Pasar Rebo, Kramat Jati Jakarta Timur, Purnama Kapat

5 Pura Mustika Dharma Komp. Kopasus Cijantung, Jakarta Timur, Budha Kliwon Dungulan, Galungan

6 Pura Chandra Praba Komp. Kav. Polri Jelambar, Jakarta Barat Purnama Kedasa

7 Pura Kstria Loka Komp. Pomad Pasar Minggu, Jakarta Selatan

8 Pura Amrthajati Jl. Punak No. 33 Pangkalan Jati,Cinere, Jakarta Selatan, Purnama Kesada

9 Pura Mertha Sari Jl. Kenikir Ds. Rengas Rempoa, Ciputat, Jakarta Selatan, Purnama Kesada

10 Pura Prajapati Purna Pralina Jl. Axes UI 74 Kelapa Dua, Jakarta Timur,Tilem Keenem

11 Pura Wdya Dharma Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Purnama Ketiga

12 Pura Agung Tirta Buana Jl. Jati Luhur I, Kali Malang Jaka Sampurna, Bekasi,Tumpek Landep

13 Pura Raditya Dharma Komp. TNI AD Cibinong Bogor, Jawa Barat,Tumpek Klurut

14 Pura Tri Buana Agung Jl. Kerinci Depok II Timur, Jawa Barat,Tumpek Wariga

15 Pura Kerta Jaya Jl. Pasar Baru No. 102 Tangerang, Banten,Tumpek Klurut

16 Pura Dharma Sidi Ds. Parung Serab, Perum. Parung Serab, Kec. Ciledug Tangerang, Banten,Budha Kliwon Ugu

17 Pura Eka Wira Anantha Serang, Banten  Purnama Kapat

18 Pura Agung Wira Satya Bhuana Jl. Kesehatan Raya. Komp. Paspampres Tn. Abang II, Jakarta Pusat,Purnama Kesanga

19 Pura Kstria Dharma Asrama Puspik Polwan, Jl. Ciputat Raya, Jakarta Selatan

20 Pura Widya Mandala Komp. Yonsikon 13 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Tumpek Wayang

21 Pura Prajapati Jl. Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur

22 Pura Agung Taman Sari Jl. Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur, Purnama Mala Jyesta

23 Pura Giri Kusuma Perum. Bogor Baru Bogor, Jawa Barat, Purnama Kapat

24 Pura Parahyangan Agung Jagat Kartha Ds. Taman Sari Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, Purnama Ketiga

25 Pura Agung Wira Dharma Samudra Jl Cilandak KKO, Marinir Cilandak, Jakarta Selatan,Tumpek Uduh

26 Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak Ds. Taman Sari Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat,Purnama Ketiga



Cara Aman Menengok Orang Sakit

Sering kita dihadapkan situasi dimana kita harus menengok orang yang sedang sakit parah, entah itu saudara, teman atau kenalan.


Para leluhur Bali sudah memberikan cara-cara yang aman bagi si sakit apabila kita harus menengok ke rumahnya, yaitu apabila kita sudah sampai ke rumah si sakit, jangan langsung menengok ke kamarnya/tempat dimana si sakit di tempatkan. Usahakan untuk istirahat sejenak, atau bila situasi memungkinkan usahakan untuk ke dapur terlebih dahulu. Tujuan dari semua ini agar apabila ada mahluk lain yang jahil/jahat yang mengikutin kita secara niskala dari luar rumah si sakit , agar si mahluk tidak bisa mencelekai si sakit.


Semoga bermanfaat




Cara Praktis Penyucian Diri







Sering kita dihadapkan pada situasi dimana kita merasa bahwa diri kita sedang kotor/leter karena suatu hal, misalnya habis menengok orang meninggal. Banyak orang yang menganggap remeh tentang penyucian diri sehabis mengalami ke-leteh-an, tapi banyak juga yang merasa bahwa proses penyucian diri itu rumit.



Orang Bali jaman dahulu sudah memberikan tuntunan untuk melakukan penyucian diri agar segala leteh kita bisa dihilangkan. Adapun caranya adalah:



  1. Melukat ke griya (Ida Pedande), alangkah bagusnya kalau hal ini bisa dilakukan, dengan melukat ke Ida Pedanda maka segala leteh dasa mala kita bia dilebur



  2. Menggunakan Bungkak Nyuh Gading (kelapa gading muda). Ini juga bisa dilakukan untuk penyucian diri, cara nya dengan memakai air dari kelapa muda gading tersebut dan dipercikkan seperti memercikkan tirta, sudah tentu sebelumnya harus dimohonkan kehadapan Ida hyang Widhi Was agar dianugrahkan penyucian diri



  3. Dengan menggunakan air yang dilempar ke atas atap dapur, leluhur kita jaman dulu melakukan hal ini dimana air sebanyak satu gayung dilemparkan atas atap dapur, rembesan air dari atap dapur diusahakan agar mengenai kepala dan badan kita sehingga semua kekotoran/leteh bisa sirna



  4. Melukat ke segara/pantai atau ke tempat suci sepeti Tirta Empul di Tampaksiring

Yang mana yg paling manjur?, semuanya manjur, yang harus dilakukan adalah menyesuaikan situasi dan kondisi kita sehingga penyucian diri bisa kita lakukan sesegera mungkin setelah kita melakukan kegiatan yang akan mencemari kesucian diri seperti sehabis menengok orang meninggal.



Selamat mencoba

Piodalan di Pura Gunung Salak







Piodalan di Pura Gunung Salak akan dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2012 sampai dengan 2 September 2012. Piodalan ini akan mencakup piodalan di Pura Pahyangan Agung Jagatkarta dan Pura Pasar Agung & Melanting di Gunung Salak

Rentetan piodalan akan dimulai pada tanggal 2 Agustus 2012 dengan acara matur piuning dan pewintenan yang akan dilaksanakan di kedua Pura tersebut.

Umat Hindhu diharapkan untuk mneghaturkan bhakti sekaligus ngayah di kedua Pura tersebut.