Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Puncak Pujawali Hari Ini ''Pamedek'' Mulai Padati Pura Dalem Ped


Pamedek dari seluruh Bali mulai memadati Pura Dalem Ped Nusa Penida. Puncak pujawali yang diselenggarakan setiap enam bulan sekali ini akan jatuh pada Buda Cemeng Klawu, Rabu (26/12) ini. Aktivitas penyeberangan di pelabuhan tradisional Banjar Bias, Kusamba, Dawan, Klungkung pun sudah nampak ramai sejak Minggu (23/12) lalu.

Kelian di Pura Dalem Ped Ketut Adi, Selasa (25/12) kemarin menyampaikan terkait pujawali di Pura Dalem Ped, Nusa Penida, pamedek dari seluruh Bali sudah mulai ramai sejak Senin. Sementara puncak pujawali akan berlangsung hari ini dan akan nyejer selama lima hari. Untuk memperlancar arus lalu lintas selama pelaksanaan Pujawali, pihak panitia Pujawali sudah menyediakan lahan parkir seluas 40 are yang terletak di sebelah barat Wantilan Pura. Ketut Adi juga mengimbau agar para pamedek yang datang ke Pura Dalem Ped menggunakan pakaian ada yang wajar, khususnya untuk para remaja, diharapkan menggunakan pakaian adat yang sopan, sesuai dengan pakaian adat orang yang bersembahyang. Karena selama ini dia mengakui tidak sedikit pemedek berpakaian tidak sopan. Misalnya remaja putri menggunakan kain di atas lutut. "Para pemedek juga diimbau agar ikut menjaga ketertiban dan kebersihan Pura di sini", katanya.

Untuk menjaga keamanan pamedek ke Pura Dalem Ped, Kapolsek Nusa Penida Kompol Wayan Sarjana, Selasa (25/12) kemarin mengatakan sudah mengeluarkan surat perintah pengamanan. Dalam surat tersebut, sebanyak dua regu sudah disiagakan di Pura Dalem Ped. Masing-masing regu yang beranggotakan 10 orang personil tersebut bertugas untuk mengatur lalu lintas, dan parkir di seputaran Pura Dalem Ped selama pelaksanaan Pujawali. Dua regu lainnya, juga disiagakan di masing-masing dermaga di Nusa Penida untuk memberi rasa aman kepada pamedek yang akan melakukan persembahyangan. "Puncak kepadatan pamedek diperkirakan akan terjadi besok (hari ini), karena merupakan puncak Pujawali", kata Sarjana.

Sementara dari pantauan di Pelabuhan Banjar Bias, salah satu petugas Dinas Perhubungan Made Sedana Yoga kemarin juga mengatakan memang terjadi lonjakan penyebrangan ke Nusa Penida. Penyebrangan dikatakan berjalan lancar karena didukung cuaca cerah yang mendukung penyebrangan menuju lokasi.

Sumber Balipost

Karya di Pura Pererepan, Batubulan dan Pucak Sari Peliatan, Ubud

 
Warga Banjar Pegambangan, Desa Pakraman Jero Kuta, Batubulan melaksanakan Karya mecaru panca kelud, mendem pedagingan dan piodalan pedudusan di Pura Pererepan. Serangkaian karya, dilaksanakan nyakapan karang, mecaru rsi gana dan mendem pedagingan dipuput oleh Ida Pedanda Gde Mas, Ida Pedanda Bhuda Gunung Sari Ubud dan Rsi Bhujangga Denjalan Batubulan, Rabu (19/12).
 
Menurut Ketua Panitia Karya I Dewa Gde Mayun Sugiana, pelaksanaan karya dimulai sejak tanggal 28 nopember 2012, Puncak tanggal 22 Desember dan Nyineb tanggal 29 Desember. Dewa Mayun menambahkan, pelaksanaan karya merupakan proses dari telah rampungnya pembangunan semua bangunan dan pelinggih di pura yang telah di pelaspas pada 1 september 1955.  Pelaksanaan pemugaran pura pada 30 Mei 2007, dimana menghabiskan dana sebesar Rp1,6 M, bersumber dari iuran dan sumbangan dari donator. Menurut Dewa Mayun, pumugaran pura dilaksanakan karena semakin banyaknya jumlah para pemedek yang datang menghaturkan bhakti. “Dengan telah rampungya dan dilaksanakan karya ini diharapkan umat yang menghaturkan bhakti ke Pura Pererepan bisa lebih leluasa dan kusuk,” ujar Mayun.
 
Bupati Gianyar, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati saat menghadiri prosesi upacara pecaruan dan mendem pedagingan menyampaikan dengan telah rampungnya pembangunan pura dan telah dihaturkanya bhakti diharapkan dapat mengembalikan kesucian pura dan meningkatkan srada dan bhakti seluruh krama.
 
Sementara itu, dalam kesempatan yang hampir bersamaan masyarakat pengempon Pura Pucak Sari Peliatan Ubud juga melaksanakan Karya memungkah , Ngenteg Linggih, Padudusan Alit di Pura setempat. Manggala Karya, Anak Agung Anom Bawa mengatakan Pura Pucak Sari merupakan Salah Satu Pura Kahyangan Desa yang ada di Desa Peliatan Ubud.
 
Sejak tahun 2005 lalu, Pura ini juga sekaligus sebagai salah satu Cagar Budaya Nasional karena adanya Peninggala Prasejarah berupa 3 buah Menhir dan 3 buah Tajak atau Kepala Tombak dari Perunggu. Peninggalan Jaman  Megalitikum dan  Jaman Perunggu tersebut sejak berdirinya Pura telah dijadikan sungsungan Lingga Ida Betara Pura Pucak Sari.
 
Terkait dengan Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, dan Padudusan Alit yang dilaksanakan pada hari ini, AA Anom Bawa mengatakan, karya ini pertama kali dilaksanakan sejak abad 19 lalu. Karya ini juga sekaligus menandakan rampungnya pembangunan beberapa pelinggih baru yang ada di Pura Pucak Sari.
 
Karya ini dipuput Ida Pedanda Gede Jelantik Geria Santian Ambengan Peliatan dan Ida Pedanda Griya Peling Padang Tegall, Ubud dengan disaksikan Wakil Bupati Gianyar, Dewa Made Sutanaya, Pengelingsir Puri Peliatan, Cokorda Putra Nindia, serta Unsur Muspika Ubud.
 
Sumber Metrobali

Cuaca Tak Menentu, Gelar Upacara ”Bumi Sudha” di Pura Watu Klotok

Upacara Bumi Sudha digelar di Pura Watu Klotok. Menurut Dewa Ketut Soma salah satu panpel, Upacara tersebut bertujuan untuk penyucian alam makro dan mikro. Juga untuk antisipasi pemanasan Global sehingga menjadi iklim tak menentu atau Kalisenggara.

Upacara ini sendiri berdasarkan atas keputusan paruman Sulinggih se-Bali yang dilakukan di Denpasar. Selain itu upacara ini juga sesuai dengan  Lontar Tutur Babad Dewa dan Lontar Roga Senggara Bumi. Dalam kondisi iklim dunia tidak menentu seperti sekarang ini wajib dilakukan upacara tersebut. Pemanasan Global yang terjadi telah membuat alam rentan akan bencana sehingga menimbulkan berbagai macam penyakit. Diantaranya ada enam penyakit yang rentan terjadi dalam kondisi alam seperti sekarang ini, diantaranya diare, filek dan Cikungunya serta beberapa penyakit lainya.

Menurut Dewa Soma yang juga pemerhati Lontar menambahkan kalau konsep yang diperggunakan adalah tapak dara. Di mana ke atas melakukan permohonan kepada Tuhan, ke samping sesama manusia, sementara ke bawah adalah dengan lingkungan. Upacara ini dipuput oleh Ide Pedanda Gede Putra Tembau dari Geria Aan, Banjarangkan. Dalam kesempatan itu Gubernur sempat mepunia kepada Pemangku dan  Kelian Pura Watu Klotok.

Hadir dalam upacara tersebut adalah para bendesa Adat se Bali dan SKPD Provinsi Bali. Adapun sarana yang dipergunakan adalah banten pebangkit, Caru Manca Sanak, Suci dan sorohan serta Penyegnyeg. Selain itu juga dipersembahkan Pekelem berupa Itik hitam (Bebek selem) dan Kucit Hitam (anak babi hitam red) di Laut Klotok. Saat dilakukan persembahyangan cuaca sempat mendung namun tidak sampai turun hujan

Sumber Metrobali

Upacara "Marisudha" Bumi di Pengubengan

Prosesi marisudha bumi digelar di Pura Pengubengan, Besakih, Karangasem, Kamis (13/12) kemarin. Dihadiri krama Bali dan ratusan warga Desa Pakraman Besakih. Tujuan dari persembahyangan marisudha bumi itu, di antaranya dalam rangka menyucikan ketiga dunia yakni alam bhur, buah dan swahloka.

Upacara parisudha bumi itu rutin digelar tiap tahun. Di pura ini di-sungsung Ida Batara Lingsir Gunung Agung, serta adanya palinggih Hyang Naga Taksaka. Pura Pengubengan merupakan pura paling di atas dari tiga pura terkait di kompleks Pura Besakih, yakni Pura Bangun Sakti palinggih Batara Hyang Anantabhoga, Pura Basukian palinggih Hyang Naga Basuki dan Pengubengan palinggih Hyang Naga Taksaka. Ketiganya penting sebagai peringatan, yakni pada saat bumi baru terbentuk belum bisa menjadi tempat hidup makhluk.

Salah seorang pamangku di Besakih, Gusti Mangku Jana, menyampaikan beberapa waktu lalu, saat bumi baru terbentuk, ternyata belum bisa dijadikan tempat. Soalnya, tanah, air dan udara masih beracun. Saat itulah Ida Sang Hyang Widhi turun menyusup di bagian bawah sebagai naga Anantabhoga, sehingga tanah yang beracun bisa ditumbuhi tumbuhan menjadi tidak beracun dan subur, serta menjadi sumber penghidupan bagi manusia dan hewan. Sang Hyang Widhi menyusup di bagian tengah sebagai Naga Basuki yang memberikan keselamatan dan di Swahloka menyusup sebagai Naga Taksaka, sehingga udara atau oksigen tidak beracun dan menjadi sumber kehidupan.

Implementasi kekinian, tambah, Gusti Mangku Jana, umat manusia mesti menjaga kesucian bumi dan isinya yakni tanah atau lingkungan, air dan udara, tidak dicemari sehingga bisa menjadi tempat dan sumber penghidupan yang berkelanjutan

Sumber: Balipost

Balipost - Pura Agung Amerta Buana Batam - Padma Buana Barat Laut

DI tengah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), kini berdiri sebuah pura yang menjadi ikon Kota Batam. Melalui proses pendirian yang cukup sulit Pura Agung Amerta Buana berhasil didirikan oleh sejumlah inisiator dari tokoh Hindu yang bekerja di Batam. Pura Agung Amerta Buana menjadi satu-satunya pura milik umat Hindu di Kota Batam, bahkan menjadi padma buana bagian barat laut Indonesia, yang sudah di-bisama-kan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat. Demikian diungkapkan salah satu perintis Pura Agung Amerta Buana Batam Wayan Catra Yasa, Kamis (6/12).

Catra Yasa menjelaskan awal berdirinya pura ini cukup panjang. Sejumlah tempat yang direncanakan menjadi lokasi pura dibatalkan karena aspek keamanan. Setelah lama terbelit masalah lokasi, akhirnya beberapa perintis dari sejumlah tokoh agama Hindu di Batam mendapat tempat di sebuah hutan belantara. Hutan itu dinilai angker, karena banyak kejadian aneh yang dialami warga sekitar. Hutan itu cukup luas, lebih dari dua hektar. Karena masih berupa perbukitan, para perintis pura sempat kesulitan menentukan titik letak lokasi Padmasana pura. Untuk menentukan titik letak Padmasana, para inisiator itu melakukan meditasi bersama, dengan dapat menerima pawarah-warah dari sang meraga dwijati.

Pada 18 Maret 2000 meditasi bersama yang dipimpin Ida Pedanda Gede Oka Kemenuh itu akhirnya membuahkan hasil dan menemukan titik letak Padmasana yang akan dibangun. Lima bulan setelah itu tepatnya pada 4 Juni, para inisiator itu melakukan peletakan batu pertama yang disaksikan langsung oleh Dirjen Bimas Hindu dan Budha saat itu Wayan Suarjaya, dan dipuput Ida Pedanda Gede Oka Kemenuh. Tahun 2003 akhirnya di-pelaspas alit agar bisa digunakan sebagai tempat sembahyang. Tahun 2004 tepatnya 16 Juni, Pura Agung Amerta Buana diresmikan di Kota Batam oleh Menteri Agama saat itu Prof. Said Agil Al Munawar. Baru 2 November 2009, para inisiator berhasil melaksanakan upacara ngenteg linggih.

Pura Agung Amerta Buana Batam, memiliki satu palinggih yang cukup besar setinggi 21,7 meter. Penentuan tinggi pura juga menyimpan filosofi yang didapat dari Brahma Anariaka Upanisad. Catra Yasa yang pernah menjadi Ketua Parisada Batam, Ketua Parisada Kepri dan Sektretaris Parisada Pusat ini mengatakan semestinya umat Hindu mengucapkan kata Om Kara sebanyak 21 kali yang memaknai tinggi pura sebagai proses penciptaan pura. Lima kata “Om” yang pertama adalah lima rasa yang disebut dengan panca tan matra, kemudian lima “Om” yang kedua, adalah lima benih yang disebut dengan panca maha buta, lima “Om” yang ketiga adalah lima rangsangan yang disebut dengan Panca Budi Indria, lima “Om” adalah panca indria, yang disebut dengan panca karmendria dan “Om” yang terakhir adalah Siwa Sadha Siswa Parama Siwa, Paramaning Dumadi. Sementara itu koma tujuhnya diartikan sebagai tujuh Maharsi penerima wahyu kitab suci weda dalam Hindu. Di palinggih utama pura ini juga terdapat tiga naga yang melambangkan Naga Ananta Boga, Naga Basuki dan Naga Taksaka.

Setiap perayaan hari besar agama Hindu, Pura Amerta Buana dipadati sekitar 2.500 hingga 3.000 pemedek di Kota Batam. Piodalan setiap purnama kelima. Di madyaning mandala pura ini juga didirikan Pasraman Jnana Sila Bakti untuk sekolah agama kepada sekitar 150 anak-anak. Yang unik gurunya adalah orang tuanya sendiri. Pura Agung Amerta Buana dikelola oleh badan Otorita Pura yang diketuai oleh Komang Trisna Jaya, tokoh agama berasal dari Banjar Sampalan, Klungkung. (kmb31)
 Sumber: Balipost

“Tawur Agung” dan “Pedanaan” di Pura Dalem Tengaling Pejeng


Gianyar (Bali Post)-

Serangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih, Nubung Padagingan dan Ngusaba Dalem di Pura Dalem Tengaling, Jero Kuta Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kamis (22/11) kemarin dilaksanakan upacara Tawur Agung dan Pedanaan. Prosesi yang diikuti ribuan warga sajebag Jero Kuta Pejeng dan sameton Agung Pemayun Tatiapi, Pejeng Kawan, dipuput tujuh sulinggih.

Prosesi upacara Tawur Agung dan Pedanaan dihadiri Wakil Gubernur Bali A.A. Puspayoga, Wabup Gianyar Dewa Sutanaya, Penglingsir Puri Peliatan Cok Gde Putra Nindia dan sejumlah undangan lainnya.

Bendesa Pakraman Jero Kuta Pejeng Cokorda Rai Pemayun menjelaskan, karya agung ini dilaksanakan setelah rampungnya sejumlah palinggih di Pura Dalem Tengaling. Rangkaian karya agung ini mulai dilaksanakan sejak 3 Oktober 2012 lalu diawali dengan nyukat genah dan nanceb yang dilaksanakan Ida Pedanda Wayahan Bun, Griya Sanur Pejeng selaku Yajamana Karya. ''Karya agung ini kasanggra oleh 1.336 KK Jero Kuta Pejeng dan sameton Agung Pemayun Tatiapi,'' jelasnya.

Karya serupa terakhir dilaksanakan 55 tahun lalu. Untuk pelaksanaan karya sudah dimulai sejak 3 Oktober 2012 dan puncak karya akan jatuh pada Anggara Kasih, Selasa (27/11) dan nyineb pada 8 Desember 2012 bertepatan dengan Saniscara, Umanis, Bala.

Prosesi pedanaan dipuput tujuh sulinggih. Di antaranya, Ida Pedanda Wayahan Bun (Yajamana Karya), Ida Pedanda Gde Kemenuh (Ketewel), Ida Pedanda Griya Aan, Klungkung, Ida Pedanda Taman Sari Pawukudan (Batuan), Ida Pedanda Budha Taman (Sukawati), Ida Pedanda Nabe Griya Padang Tegal Delodan dan Rsi Bujangga Griya Angkling Gianyar.

Sehari sebelumnya, tepatnya Rabu (21/11), sudah dilaksanakan upacara Melasti ke Pantai Masceti, Keramas, Blahbatuh dan dilanjutkan dengan Mendak Bagia Pulakerti di Pura Penataran Sasih yang diikuti ribuan krama panyungsung Pura Dalem Tengaling

Sumber: Balipost

Pura Luhur Mekori

PURA yang berdiri di Tabanan selalu identik dengan kemakmuran. Seperti Pura Luhur Penyungsungan Jagat Mekori, di Desa Blimbing, Pupuan.

Pura di tengah hutan lindung ini terbilang unik. Selain lokasinya menjorok ke tengah, di sekelilingnya dipenuhi kawanan monyet yang cukup banyak.

Tidak ada prasasti atau bukti otentik lain yang mengisahkan kemunculan pura ini. Menurut pemangku pura, Jero Mangku Gede Pan Sari (75), cerita terkait Pura Luhur Mekori hanya berdasarkan turun-temurun. Diyakini, pura itu sudah ada sejak tahun 1002 masehi. Ini berdasarkan dimulainya adat pakraman di wilayah tersebut. Cerita tentang pura ini hanya dari wejangan leluhur terdahulu, kata pemangku yang mengaku generasi ke-11 tersebut.

Diceritakan, zaman dahulu di lokasi pura tersebut terdapat sebuah puri yang memiliki murid atau sisya cukup banyak. Suatu ketika, digelar upacara yadnya besar-besaran. Keanehan muncul. Ketika yadnya dimulai, satu per satu sisya-nya menghilang secara misterius. Akhirnya, pemimpin di puri itu membekali seluruh sisya dengan tali ketika menggelar yadnya. Hasilnya, ketika satu sisya yang hilang bisa dideteksi dari tali. Ternyata, ada dua raksasa laki-perempuan yang mengambil para sisya. Warga bersama penghuni puri akhirnya menyerang raksasa yang tinggal di dalam tanah tersebut. Namun, karena cukup kuat, usaha warga tak membuahkan hasil. Salah satu raksasa laki-laki membocorkan rahasia agar dirinya bisa terbunuh yakni harus digantikan dengan kapur sirih. Namun, ketika raksasa terbunuh akan diikuti dengan hujan api. Ternyata benar, begitu warga memberikan kapur sirih, raksasa itu tewas dan diikuti hujan api. Warga pun lari tunggang langgang, sedang bangunan puri menjadi hancur.

Sejak itu, bangunan tersebut tertutup tanah dan hutan. Selanjutnya, leluhur warga setempat menemukan bekas bangunan itu ketika mendiami kawasan tersebut. Penemuan ini bermula ketika ternak sapi warga selalu hilang saat digembalakan. Setelah dicari, ternyata sapinya ditemukan di bekas reruntuhan batu, lalu muncul suara gaib agar bekas batuan itu dipelihara. Sejak itulah, warga mendirikan pelinggih dan terus berkembang hingga sekarang.

Di Pura Luhur Mekori terdapat sejumlah pelinggih, di antaranya, Ida Luhur Mas Kori, Yayu Mas Sari, Ida Bagus Made Mentang Yuda sebagai penguasa hutan, ada juga pelinggih Puseh Penataran, Putra Luhur Mas Kori, Puseh Mengkep, Petamanan, Penyimpenan dan Padmasana. Lalu, pelinggih Ratu Nyoman Sakti yang diyakini sebagai penjaga hutan. Sebelum tangkil ke Pura, pemedek wajib tangkil ke pelinggih ini. Yang unik lagi, setiap harinya, pemedek tidak harus masuk ke pura. Sebab, ada pelinggih cenik yang dibangun di pinggir jalan raya. Sehingga, warga hanya tinggal memarkir kendaraan, lalu tangkil ke pelinggih ini.

Kehadiran pura ini sebagai symbol kemakmuarn alam, kata Jero Mangku Gede Pan Sari. Piodalan pura ini jatuh setiap Buda Kliwon Gumreg. Namun, setiap hari, pura ini selalu ramai dikunjungi pemedek, khususnya di merajan cenik. Di pelinggih cenik ini terdapat dua patung harimau yang diyakini sebagai pengawal Ida Bethara yang melinggih di Pura Luhur Mekori.

Penyungsung Pura Luhur Mekori terdiri dari berbagai keturunan, di antaranya Kebayan Wongaya, Dalem Benculuk, Sidatapa dan lainya.

Sumber: Balipost

Kisah Leak 18 - Bangke Maong (Mayat Bau Tengik)


Dalam ranah per-leak-an, bisa menjadi Bangke Maong merupakan tingkatan yang sudah tinggi yang bisa dicapai oleh penekunnya dan membutuhkan kesabaran, ketekunan serta penugrahan dari Ida Sesuhunan.  Wujud Bangke Maong sendiri berupa mayat bau tengik yang berada di wadah-nya (bangunan untuk membawa mayat, ada yang menyebut wadah, pepaga  dll).

Para tetua di desa menasihatkan, kalau kita pas ketemu dengan Bangke Maong, kalau batin kita tidak kuat sebaiknya hal yang paling bagus dilakukan adalah menghindarkan diri agar jangan sampai melihat langsung. Efek bila kita melihat langsung Bangke Maong tersebut adalah kita bisa kedaut (dihipnotis - red) tidak sadarkan diri bahkan bisa menjadi gila. Di sini kekuatan batin dari orang yang bertemu Bangke Maong sangat menentukan, apabila batinnya lebih kuat maka justru Bangke Maong itu sendiri yang melarikan diri.

Kisah berikut dituturkan oleh Nyoman M (yang pernah berantem dengan teluh), orang desa yang berprofesi serabutan, kadang sebagai petani, kadang jasa pemetik kelapa, dimana Nyoman M sendiri merupakan orang yang melik atau disukai oleh yang berbau niskala.

Suatu hari di desa Nyoman M sedang dilakukan suatu ritual pengabenan karena ada seorang warga desa yang meninggal. Seperti biasanya, Nyoman M pergi ke tempat orang yang mempunyai kedukaan tersebut untuk sekedar membantu melakukan persiapan sebelum dilakukan pengabenan. Persiapan untuk pengabenan biasanya dilakukan di malam hari karena di siang hari kebanyakan warga desa pergi ke sawah untuk melihat hasil pertaniannya. Dia kebetulan membantu dalam penyiapan wadah (pepaga) yang akan dipakai sebagai tempat menguung jenasah.
Saking asyiknya ikut membantu di rumah duka, tidak terasa waktu sudah lewat tengah malam. Nyoman M bergegas minta ijin untuk pulang ke rumah. Jarak antara rumahnya dengan rumah duka sekitar satu kilometer.

Waktu itu belum ada program listrik masuk desa sehingga situasi di malam hari benar-benar gelap dan harus berhati-hati agar tidak terjatuh di tengah jalan. Di tengah perjalanan untuk mencapai rumahnya Nyoman M harus melewati tegalan yang cukup luas. Karena merasa bahwa dia sudah hafal betul dengan medan yang akan dilalui maka Nyoman M sama sekali tidak khawatir dengan situasi di tegalan tersebut.

Tiba-tiba dari kejauhan di dengarnya anjing yang melolong-lolong, Nyoman M masih cuek saja karena menganggap cuman kebetulan saja malam itu anjing melolong dengan panjangnya. Dia mulai agak waspada ketika indera penciumannya mencium bau yang tidak sedap, seperti bau sesuatu yang tengik. Ada apa gerangan?, apakah ada bangkai anjing yang sengaja dibuang di tegalan tersebut?.

Meskipun demikian karena tidak ada pilihan lain, maka Nyoman M meneruskan langkahnya untuk pulang ke rumah, memang tokoh kita satu ini termasuk orang yang sangat berani di malam hari.

Setelah masuk ke tegalan tersebut, dari jauh dia melihat sesuatu yang ganjil yang merintangi jalan setapak tersebut, dan bau tengik/busuk yang diciumnya semakin kuat saja. Namun demikian karena rasa penasarannya, Nyoman M meneruskan langkahnya mendekati penghalang jalan setapak tersebut.

Setelah dekat alangkah terperanjatnya Nyoman M karena melihat bahwa yang menghalangi jalan setapak tersebut adalah wadah (pepaga) tempat jenasah persis seperti yang dia kerjakan di rumah duka. Cuman wadah/pepaga ini memancarkan bau yang sangat tengik/busuk. Nyoman M yang punya rasa penasaran berlebih segera menghampiri dan memastikan apa isi bagunan wadah tersebut.

Ternyata setelah dia tengok di dalam wadah/pepaga tersebut terbujur jenasah yang keliatan hanya mukanya saja karena dibungkus kain kafan, yang memancarkan bau tengik/busuk banget. Nyoman M segera sadar bahwa dia sedang dikerjai oleh orang yang menggunakan wujud Bangke Maong (mayat bau tengik). Ada perasaan takut mengingat akan resiko yang dihadapi apabila batinnya tidak kuat berhadapan dengan wujud leak tersebut.

Tapi Nyoman M memang termasuk orang nekat, dia berpikir biar basah sekalian nyemplung saja, maka segera dia bersiap membuka kain kafan yang membungkus jenasah tersebut dengan berdoa dalam hati memohon keselamatan pada Ida Sesuhunan. Moment waktu membuka kain kafan itu adalah moment yang sangat kritis karena terjadi pertarungan kekuatan batin antara Nyoman M dengan pelaku ilme pengeleakan tersebut.

Dengan gerakan cuek namun pasti Nyoman M kemudian mulai membuka kain kafan tersebut dengan maksud mengeluarkan jenasah yang terbujur didalamnya. Merasa bahwa usahanya untuk mengerjai Nyoman M gagal, maka tiba-tiba mayat yang terbujur tersebut membuka matanya dan loncat lari dengan cara meloncat loncat, anehnya wadah/pepaga tempat jenasah tersebut juga ikut kabur bersamaan.

Nyoman M memang tidak bermaksud untuk mengejarnya sehingga dia membiarkan saja mereka kabur dan melanjutkan perjalanan menuju rumahnya.

Moral dari cerita ini adalah, keberanian sangat menentukan dalam menghadapi ilmu per-leak-an.



Kisah Leak 17 - Mengintip Paruman leak


Kehidupan di alam per-leak-an juga mirip dengan yang ada di dunia manusia. Menurut penuturan orang-orang yang pernah berkecimpung di dunia itu, mereka para Leak juga mempunyai perkumpulan dan sekali-sekali mengadakan pertemuan (bahasa kerennya meeting) untuk membicarakan berbagai hal. Biasanya topik yang dibahas seputar ilmu yang baru atau kemungkinan akan terjadi perang leak (siat peteng) dan diakhiri dengan membayar utang-piutang di antara para Leak.

Sebut saja namanya Ketut A (sekarang berprofesi sebagai Pemangku di salah satu Pura di Jabodetabek) mengisahkan kepada penulis pengalamannya ngintip yang namanya paruman/pertemuan Leak waktu Beliau masih muda.

Ketut A mempunyai sifat yang agak jahil/usil suka menggoda/ngerjain teman-temannya sewaktu muda. Di usia yang relatif muda Ketut A sudah mendengar tentang adanya dunia Leak dan hal ini membuatnya penasaran akan kebenaran dunia tersebut.

Kebetulan Ketut A memepunyai seorang paman yang mempunyai kemampuan di bidang tersebut. Dengan segala upaya Ketut A merayu pamannya agar mau diikutkan dalam pengalaman di dunia per-Leakan. Akhirnya Pamannya menyanggupi dengan syarat Ketut A mematuhi segala perintah pamannya. Dengan tanpa berpikir panjang Ketut A pun menyanggupi persyaratan tersebut.

Suatu hari sebelum Kajeng Kliwon, pamannya mengajak Ketut A untuk pergi ke suatu Pura (Ketut A lupa nama Pura tersebut) yang berada di puncak perbukitan. Dengan sangat bersemangat Ketut A ikut langkah pamannya tersebut dan berangkatlah mereka ke sana.

Mereka tiba sore hari Pura tersebut dan melihat keadaan tempat itu  berada di puncak perbukitan yang banyak ditumbuhi pepohonan. Ada bale pertemuan (semacam bale banjar) di madya mandala Pura tersebut. Pura itu mempunyai arsitektur yang kuno menambah suasana magis. Pamannya mengajak Ketut A untuk melakukan persembahyangan untuk memohon keselamatan sebelum melakukan aksinya. Ketut A sendiri masih menebak-nebak karena belum dikasih tahu pamannya tentang hal yang akan dilakukan di Pura tersebut.

Yang lebih mengejutkan hati Ketut A, setelah sembahyang pamannya menyuruhnya untuk membaluri semua badannya dengan kotoran sapi. Kebetulan di tegalan deket Pura ada kotoran sapinya. Ketika ditanya kenapa harus melumuri badan dengan kotoran sapi, maka pamannya menjawab itu untuk menyembunyikan bau badan Ketut A sebagai seorang manusia.

Selanjutnya pamannya Ketut A menyuruhnya untuk naik ke atas plafon dari bangunan yang menyerupai bale banjar tersebut dan bersembunyi di sana. Setelah Ketut A mengambil posisi sembunyi, maka pamannya Ketut A meninggalkannya di sana sendirian, dengan berpesan apapun yang terjadi, jangan pernah turun dari plafon tersebut sampai pagi hari.

Sendirian si Ketut bersembunyi di atas plafon, dia agak bete juga karena suasana gelap dan dikerubutin nyamuk, apalagi badannya dilumuri oleh kotoran sapi. Setelah kira-kira jam 11 malam si Ketut bersembunyi, tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah yang sangat berat, bumi bagai bergetar karena langkah tersebut. Si Ketut penasaran, tapi mengingat pesan pamannya dia dengan tabah bersembunyi dan tidak berani bergerak.

Ternyata yag datang adalah sesosok mahluk yang berukuran raksasa, berkepala gundul, orang menyebutnya leak gundul, dengan suara menggeram segera duduk di dalam bangunan bale banjar tersebut. Si Ketut terkejut, tapi dia tidak bisa mengelurakan suara, saking takutnya.

Tidak berapa lama kemudian menyusul mahluk Leak yang lain, diantaranya bojog (monyet), bangkal (babi), jaka punggul, bangke maong, raksasa, celuluk, rangda, burung garuda, semua pada datang dan mengambil tempat di bangunan yang menyerupai bale banjar tersebut.

Berbagai macam endihan api juga ikut meramaikan malam itu. Si Ketut baru sadar bahwa yang sedang terjadi adalah paruman Leak di tempat tersebut. Dengan cermat dia menguping apa yang mereka bicarakan, rupanya para Leak mendiskusikan berbagai macam hal, mulai dari ilmu, perang malam atau yang disebut siat peteng, dan terakhir adalah utang piutang yang harus dilunasi.

Rupanya diantara Leak ada yang mencium keanehan, seperti ada manusia yang ngintip, tapi pimpinan Leak yang berupa raksasa gundul segera bilang itu mungkin sapi, karena berbau kotoran sapi. Rupanya baluran kotoran sapi di tubuh si Ketut sangat menjur untuk mengelabui Leak (sebaiknya jangan dicoba deh-red).

Pas lagi rame-rame nya para Leak berdiskusi, maka si Ketut A yang pada dasarnya iseng dan jahil dengan sengaja mendorong talenan (alas untuk mencincang sayur/bumbu/daging) yang berdiameter sekitar 50 cm dan dijatuhkan dari atas.

Bunyi talenan jatuhpun berdebum, dan peristiwa itu sangat mengejutkan para Leak, merekapun segera lari tunggang langgang, dikiranya rerencangan (pengiring) dari Ida Bathara di Pura tersebut tedun dan marah. Saking tergesa-gesanya mereka, maka buku tempat catatan semua kegiatan perkumpulan Leakpun tertinggal di tempat itu.

Setelah situasi sepi, si Ketut segera turun dan tertawa terpingkal-pingkal, diapun langsung mengambil buku tersebut dan ngacir pulang ke rumah.

Besoknya pamannya datang ke rumah dan dengan kesal memaki-maki si Ketut dan meminta buku catatan tersebut. Rupanya yang memimpin para Leak tersebut yang berwujud raksasa gundul adalah pamannya.

Si Ketut A pun segera mengembalikan buku itu, dan atas nasehat pamannya dia langsung merantau ke Jawa untuk menghindari balas dendam perkumpulan leak yang sudah dia kerjai.

Mangku Ketut A menceritakan kisah ini dengan tertawa, mengingat bahwa betapa jahilnya dia waktu mudanya.



Padewasan - Wewaran - Wuku


Dari dasar pengetahuan Wariga, yaitu wuku menimbulkan padewasan, demikian pula antara pertemuan wewaran dengan wuku menimbulkan beberapa padewasan, sebagai berikut :
1.      Wuku Rangdatiga
Wariga, Warigadian, Pujut, Pahang, Menail, Prangbakat.
Tidak baik melakukan wiwaha (pernikahan).
2.      Wuku Tan Paguru
Gumbereg, Kuningan, Medangkungan, Kelawu.
Tidak baik untuk memulai belajar, tidak baik melakukan pekerjaan yang penting-penting atau yadnya.
3.      Was panganten
Jatuhnya pada hari Redite dan Saniscara, pada wuku Tolu, Dungulan, Krulut, Menail dan Dukut.
Baik untuk membuat suatu yang runcing, mengadakan pertemuan, membuat tembok, dasar tembok/bangunan, membuat pagar. Tidak baik untuk wiwaha dan mengubur mayat.
4.      Wuku Salahwadi
Sinta, Landep, Gumbereg, Sungsang, Dungulan, Pahang, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Wayang, Watugunung.
Tidak baik untuk upacara potong rambut, pernikahan dan atiwa-tiwa.
5.      Ingkel Wong
Sinta, Wariga, Langkir, Tambir, Bala.
Pantang untuk melakukan pekerjaan penting-penting, Manusa Yadnya, Pernikahan dan pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan manusia.
6.      Ingkel Sato
Landep, Warigadian, Medangsia, Medangkungan, Ugu.
Pantang untuk memulai memelihara binatang kaki 4 (sato = wewalungan)
7.      Ingkel Mina
Ukir, Julungwangi, Pujut, Matal, Wayang.
Pantang untuk mengambil/memindahkan dan memulai memelihara ikan.
8.      Ingkel Manuk
Kulantir, Sungsang, Pahang, Uye, Klawu.
Pantang untuk mengambil atau memulai memelihara binatang berkaki 2
9.      Ingkel Taru
Tolu, Dungulan, Krulut, Menail, Dukut.
Pantang untuk menanam, menebang, menempel  pohon-pohonan sehubungan dengan bangunan.
10.  Ingkel Buku
Gumbereg, Kuningan, Merakih, Prangbakat, Watugunung.
Pantang untuk menanam,menebang tanaman yang beruas, seperti tebu dan bambu.
11.Ratu Mangure
Wrespati Medangkungan.
Baik untuk menanam tanaman yang buahnya berbatu.
12.  Ratu Magelung
Buda Menail.
Baik untuk menanam kelapa.
13.  Ratu Manyingal
Wrespati Matal.
Baik untuk menanam papaya.
14.  Sri Bagia
Soma Gumbereg, Pujut, Matal.
Buda Kulantir, Saniscara Sinta, Bala.
Baik memulai membina persahabatan.
15. Sarik Agung
Buda Kulantir, Dungulan, Merakih, Bala.
Tidak baik untuk memulai pekerjaan.
16. Tutut Masih
Redite Mrakih
Soma Julungwangi, Kuningan, Langkir, Wayang.
Anggara Krulut, Prangbakat.
Wrespati Sinta.
Sukra Tambir, Uye.
 Baik untuk melas rare (memisah anak netek), mulai mengajar/melatih ternak, membentuk perkumpulan, melubangi hidung sapi, membuka sekolah/perguruan.
17. Tutur mandi.
Redite Ugu.
Wrespati Julungwangi, Pujut, Medangkungan, Matal, Prangbakat.
Sukra Landep.
Saniscara Ugu.
 Baik melakukan yang bersifat gaib, memberikan petuah/nashat.
18. Uncal Balung.
Anggara Dungulan s/d Buda Pahang.
Tidak baik melakukan segala jenis pekerjaan yang dianggap penting.
19. Wuku Katadah Kalarau
Redite Julungwangi, Klawu.
Soma Pahang, Prangbakat.
Anggara Ukir, Krulut, Bala. 
Buda Kulantir.
Wrespati Langkir.
Sukra Tolu, Gumbereg, Ugu.
Saniscara Pujut, Matal, Dukut.
 Tidak baik melakukan yadnya atau pekerjaan yang penting.
20. Titi Buwuk.
Redite Mrakih, Ugu, Wayang, Klawu, Watugunung.
Soma Wrigadean, Julungwangi, Medangkungan.
Anggara Sinta, Wariga, Matal.
Buda Landep, Kulantir, Tolu, Sungsang, Pujut, Tambir, Bala.
Wrespati Gumbereg, Langkir, Krulut, Uye, Prangbakat.
Sukra Ukir, Dungulan, Kuningan. Saniscara Pahang, Matal, Menail, Dukut.
Baik untuk melakukan upacara menghilangkan segala penyakit, karena kena guna-guna dan sejenisnya. Tidak baik untuk membuat tangga/banggul, tidak baik untuk memulai suatu pekerjaan yang penting, hindari bepergian.
21. Taliwangke.
Soma Uye.
Anggara Wayang.
Buda Landep,
Wrespati Wariga.
Sukra Kuningan,
Saniscara Krulut.
Baik untuk memasang tali rambat di sawah, di kebun, memperbaiki pagar, membuat tali pengikat padi. Tidak baik untuk membuat tali pengikat ternak dan benang tenun.

Sumber : Drs. I Nyoman Sukada

Pitra Puja



Doa yang diucapkan untuk mendoakan arwah orang yang sudah meninggal

Om Swargantu Pitara Dewa, Swargantu Pitara Ganam
       Swargantu Pitara, Sarwa Ya Namah Swada

Om Moksantu Pitara Dewa, Moksantu Pitara Ganam
       Moksantu Pitara, Sarwa Ya Namah Swada

Om Suniantu Pitara Dewa, Suniantu Pitara Ganam
       Suniantu Pitara, Sarwa Ya Namah Swada

Om Bagyantu Pitara Dewa, Bagyantu Pitara Ganam
       Bagyantu Pitara, Sarwa Ya Namah Swada

Om Ksamantu Pitara Dewa, Ksamantu  Pitara Ganam
       Ksamantu Pitara, Sarwa Ya Namah Swada

Hari Raya Galungan dan Kuningan


Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.
Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.
Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.
Artinya:
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.
Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
Makna Filosofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia.
Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.
Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Artinya:
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.
Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara).
Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Oleh karenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan.
Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung j├▒ana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan.
Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, "Pangastawaning sang ngamong yoga samadhi." Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri.
Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melam-piaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria.
Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaitu hidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksana-kan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara "diceritakan" kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).
Demikianlah makna Galungan dan Kuningan ditinjau dari sudut pelaksanaan upacaranya.
Macam-macam Galungan
Meskipun Galungan itu disebut "Rerahinan Gumi" artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Galungan
Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan "Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan." Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan.
Galungan Nadi
Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober.
Disebutkan dalam lontar itu, bahwa pulau Bali saat dirayakan Galungan pertama itu bagaikan Indra Loka. Ini menandakan betapa meriahnya perayaan Galungan pada waktu itu. Perbedaannya dengan Galungan biasa adalah dari segi besarnya upacara dan kemeriahannya. Memang merupakan suatu tradisi di kalangan umat Hindu bahwa kalau upacara agama yang digelar bertepatan dengan bulan purnama maka mereka akan melakukan upacara lebih semarak. Misalnya upacara ngotonin atau upacara hari kelahiran berdasarkan wuku, kalau bertepatan dengan purnama mereka melakukan dengan upacara yang lebih utama dan lebih meriah. Disamping karena ada keyakinan bahwa hari Purnama itu adalah hari yang diberkahi oleh Sanghyang Ketu yaitu Dewa kecemerlangan. Ketu artinya terang (lawan katanya adalah Rau yang artinya gelap). Karena itu Galungan, yang bertepatan dengan bulan purnama disebut Galungan Nadi. Galungan Nadi ini datangnya amat jarang yaitu kurang lebih setiap 10 tahun sekali.
Galungan Nara Mangsa
Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut:
"Yan Galungan nuju sasih Kapitu, Tilem Galungan, mwang sasih kesanga, rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa ngaran."
Artinya:
Bila Wuku Dungulan bertepatan dengan sasih Kapitu, Tilem Galungannya dan bila bertepatan dengan sasih Kesanga rah 9, tenggek 9, Galungan Nara Mangsa namanya.
Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala ada menyebutkan hal yang hampir sama sebagai berikut:
Nihan Bhatara ring Dalem pamalan dina ring wong Bali, poma haywa lali elingakna. Yan tekaning sasih Kapitu, anemu wuku Dungulan mwang tilem ring Galungan ika, tan wenang ngegalung wong Baline, Kala Rau ngaranya yan mengkana. Tan kawasa mabanten tumpeng. Mwah yan anemu sasih Kesanga, rah 9 tenggek 9, tunggal kalawan sasih Kapitu, sigug ya mengaba gering ngaran. Wenang mecaru wong Baline pabanten caru ika, nasi cacahan maoran keladi, yan tan anuhut ring Bhatara ring Dalem yanya manurung, moga ta sira kapereg denira Balagadabah.
Artinya:
Inilah petunjuk Bhatara di Pura Dalem (tentang) kotornya hari (hari buruk) bagi manusia, semoga tidak lupa, ingatlah. Bila tiba sasih Kapitu bertepatan dengan wuku Dungulan dan Tilem, pada hari Galungan itu, tidak boleh merayakan Galungan, Kala Rau namanya, bila demikian tidak dibenarkan menghaturkan sesajen yang berisi tumpeng. Dan bila bertepatan dengan sasih Kasanga rah 9, tenggek 9 sama artinya dengan sasih kapitu. Tidak baik itu, membawa penyakit adanya. Seyogyanya orang mengadakan upacara caru yaitu sesajen caru, itu nasi cacahan dicampur ubi keladi. Bila tidak mengikuti petunjuk Bhatara di Pura Dalam (maksudnya bila melanggar) kalian akan diserbu oleh Balagadabah.
Demikianlah dua sumber pustaka lontar yang berbahasa Jawa Kuna menjelaskan tentang Galungan Nara Mangsa. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Galungan Nara Mangsa disebutkan "Dewa Mauneb bhuta turun" yang artinya, Dewa tertutup (tapi) Bhutakala yang hadir. Ini berarti Galungan Nara Mangsa itu adalah Galungan raksasa, pemakan daging manusia. Oleh karena itu pada hari Galungan Nara Mangsa tidak dilang-sungkan upacara Galungan sebagaimana mestinya terutama tidak menghaturkan sesajen "tumpeng Galungan". Pada Galungan Nara Mangsa justru umat dianjurkan menghaturkan caru, berupa nasi cacahan bercampur keladi.
Demikian pengertian Galungan Nara Mangsa. Palaksanaan upacara Galungan di Bali biasanya diilustrasikan dengan cerita Mayadanawa yang diuraikan panjang lebar dalam lontar Usana Bali sebagai lambang, pertarungan antara aharma melawan adharma. Dharma dilambangkan sebagai Dewa Indra sedangkan adharma dilambangkan oleh Mayadanawa. Mayadanawa diceritakan sebagai raja yang tidak percaya pada adanya Tuhan dan tidak percaya pada keutamaan upacara agama.
Galungan di India
Hari raya Hindu untuk mengingatkan umat atas pertarungan antara adharma melawan dharma dilaksanakan juga oleh umat Hindu di India. Bahkan kemungkinan besar, parayaan hari raya Galungan di Indonesia mendapat inspirasi atau direkonstruksi dari perayaan upacara Wijaya Dasami di India. Ini bisa dilihat dari kata "Wijaya" (bahasa Sansekerta) yang bersinonim dengan kata "Galungan" dalam bahasa Jawa Kuna. Kedua kata itu artinya "menang".
Hari Raya Wijaya Dasami di India disebut pula "Hari Raya Dasara". Inti perayaan Wijaya Dasami juga dilakukan sepuluh hari seperti Galungan dan Kuningan. Sebelum puncak perayaan, selama sembilan malam umat Hindu di sana melakukan upacara yang disebut Nawa Ratri (artinya sembilan malam). Upacara Nawa Ratri itu dilakukan dengan upacara persembahyangan yang sangat khusuk dipimpin oleh pendeta di rumah-rumah penduduk. Nawa Ratri lebih menekankankan nilai-nilai spiritual sebagai dasar perjuangan melawan adharma. Pada hari kesepuluh berulah dirayakan Wijaya Dasami atau Dasara. Wijaya Dasami lebih menekankan pada rasa kebersamaan, kemeriahan dan kesemarakan untuk masyarakat luas.
Perayaan Wijaya Dasami dirayakan dua kali setahun dengan perhitungan tahun Surya. Perayaan dilakukan pada bulan Kartika (Oktober) dan bulan Waisaka (April). Perayaan Dasara pada bulan Waisaka atau April disebut pula Durgha Nawa Ratri. Durgha Nawa Ratri ini merupakan perayaan untuk kemenangan dharma melawan adharma dengan ilustrasi cerita kemenangan Dewi Parwati (Dewi Durgha) mengalahkan raksasa Durgha yang bersembunyi di dalam tubuh Mahasura yaitu lembu raksasa yang amat sakti. Karena Dewi Parwati menang, maka diberi julukan Dewi Durgha. Dewi Durgha di India dilukiskan seorang dewi yang amat cantik menunggang singa. Selain itu diyakini sebagai dewi kasih sayang dan amat sakti. Pengertian sakti di India adalah kuat, memiliki kemampuan yang tinggi. Kasih sayang sesungguhnya kasaktian yang paling tinggi nilainya. Berbeda dengan di Bali. Kata sakti sering diartikan sebagai kekuatan yang berkonotasi angker, seram, sangat menakutkan.
Perayaan Durgha Nawa Ratri adalah perjuangan umat untuk meraih kasih sayang Tuhan. Karunia berupa kasih sayang Tuhan adalah karunia yang paling tinggi nilainya. Untuk melawan adharma pertama-tama capailah karunia Tuhan berupa kasih sayang Tuhan. Kasih sayang Tuhanlah merupakan senjata yang paling ampuh melawan adharma.
Sedangkan upacara Wijaya Dasami pada bulan Kartika (Oktober) disebut Rama Nawa Ratri. Pada Rama Nawa Ratri pemujaan ditujukan pada Sri Rama sebagai Awatara Wisnu. Selama sembilan malam umat mengadakan kegiatan keagamaan yang lebih menekankan pada bobot spiritual untuk mendapatkan kemenangan rohani dan menguasai, keganasan hawa nafsu. Pada hari kesepuluh atau hari Dasara, umat merayakan Wijaya Dasami atau kemenangan hari kesepuluh. Pada hari ini, kota menjadi ramai. Di mana-mana, orang menjual panah sebagai lambang kenenangan. Umumnya umat membuat ogoh-ogoh berbentuk Rahwana, Kumbakarna atau Surphanaka. Ogoh-ogoh besar dan tinggi itu diarak keliling beramai-ramai. Di lapangan umum sudah disiapkan pementasan di mana sudah ada orang yang terpilih untuk memperagakan tokoh Rama, Sita, Laksmana dan Anoman.
Puncak dari atraksi perjuangan dharma itu yakni Sri Rama melepaskan anak panah di atas panggung yang telah dipersiapkan sebelumnya. Panah itu diatur sedemikian rupa sehingga begitu ogoh-ogoh Rahwana kena panah Sri Rama, ogoh-ogoh itu langsung terbakar dan masyarakat penontonpun bersorak-sorai gembira-ria. Orang yang memperagakan diri sebagai Sri Rama, Dewi Sita, Laksmana dan Anoman mendapat penghormatan luar biasa dari masyarakat Hindu yang menghadiri atraksi keagamaan itu. Anak-anak ramai-ramai dibelikan panah-panahan untuk kebanggaan mereka mengalahkan adharma.
Kalau kita simak makna hari raya Wijaya Dasami yang digelar dua kali setahun yaitu pada bulan April (Waisaka) dan pada bulan Oktober (Kartika) adalah dua perayaan yang bermakna untuk mendapatkan kasih sayang Tuhan. Kasih sayang itulah suatu "sakti" atau kekuatan manusia yang maha dahsyat untuk mengalahkan adharma. Sedangkan pada bulan Oktober atau Kartika pemujaan ditujukan pada Sri Rama. Sri Rama adalah Awatara Wisnu sebagai dewa Pengayoman atau pelindung dharma. Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan filosofi dari hari raya Wijaya Dasami adalah mendapatkan kasih sayang dan perlindungan Tuhan. Kasih sayang dan perlindungan itulah merupakan kekuatan yang harus dicapai oleh menusia untuk memenangkan dharma. Kemenangan dharma adalah terjaminnya kehidupan yang bahagia lahir batin.
Kemenangan lahir batin atau dharma menundukkan adharma adalah suatu kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau kebutuhan rohani seperti itu dapat kita wujudkan setiap saat maka hidup yang seperti itulah hidup yang didambakan oleh setiap orang. Agar orang tidak sampai lupa maka setiap Budha Kliwon Dungulan, umat diingatkan melalui hari raya Galungan yang berdemensi ritual dan spiritual.

(Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)

Piodalan Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak


Mangku Gde sedang ber-Dharma Wacana

Rangkaian piodalan di Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak dimulai dengan matur piuning dan pewintenan yang dilaksanakan tanggal 2 Agustus 2012 bertepatan dengan Purnama Sasih Karo, kemudian pemasangan pengangge pada tanggal 28 Agustus 2012 bertepatan dengan hari Penampahan Galungan.

Dilanjutkan dengan menghias Daksina Pelinggih yang akan di-Stanakan di masing-masing pelinggih seperti Padmasana, Pelinggih Pasar Agung, Pelinggih Ratu Ayu Mas Melanting, Pelinggih Dewi Kwan Im dan Pelinggih Ganesha. Dengan sangat indah disertai kombinasi warna-warni kembang masing-masing Daksina Pelinggih di hias dengan penuh bhakti oleh umat yang ngayah.


Kegiatan Menghias Daksina Pelinggih

Tepat pada jam 10.00 pagi Purnamaning Sasih Ketiga tanggal 31 Agustus 2012, piodalan Pura Pasar Agung dan Melanting mulai dilaksanakan dengan melakukan Caru di Pelataran Pura Melanting. Ritual piodalan tersebut di puput oleh Ida Pedanda Panji Sogata dari Geriya Lenteng Agung.

Dentingan genta yang diiukuti oleh kidung umat yang hadir membludak untuk engikuti ritual Piodalan yang dilakukan setahun sekali. Banyak pemedek yang baru pertama kali tangkil menghaturkan sembah bhakti kehadapan Ida Sesuhunan dengan membawa permohonan masing-masing.

Pemedek yang tangkil berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek, Bali, Kalimantan, Sumatera memenuhi halaman Pura Pasar Agung dan Melanting tersebut.

Para pengayah yang dikomandoi oleh Mangku Istri Made Sadnya terlihat sangat sibuk demi suksesnya Piodalan tersebut. Tampak umat yang berpakaian adat Jawa juga ikut terlibat dengan sangat antusias demi rasa bhakti kehadapan Ida Sesuhunan.

Dengan diiringi teriakan yang membahana, maka acara Pecaruan selesai dengan diakhiri acara Ngelurug banten caru. Suara kentongan dan suara sapuan sapu lidi juga ikut memeriahkan acara tersebut.

Lalu acara Piodalan pun mulai dilakukan dengan penuh khidmat yang dipimpin oleh Sang Sulinggih. Proses men-Stanakan Daksina Pelinggih di masing-masing Pelinggih yang ada dilakukan dengan penuh rasa haru, tidak sedikit umat yang hadir meneteskan air mata kebahagian akan suksesnya Piodalan tersebut.

Acara selanjutnya adalah Pengelukatan yang dilakukan terhadap umat yang hadir oleh Ida Pedanda. Seluruh umat dengan sangat antusias ikut serta melakukan ritual pengelukatan tersebut karena sangat jarang ada pengelukatan yang dilakukan di areal suatu pura, apalagi pura tersebut adalah Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak yang merupakan pintu gerbang ke arah kesejahteraan umat manusia.

Persembahyanganpun dimulai dengan dipimpin oleh Mangku Gde dan diiringi Puja Sang Sulinggih. Setelah prosesi sembahyangan selesai, maka Mangku Istri kemudian nedunang tirta wangsuh pada Ida Bethara dan memercikkannya ke pemedek sekalian dibantu dengan semua Pinandita yang hadir.

Setelah Ida Pedanda selesai memuja dan menuju ke balai Pesandekan, maka gelombang persembahyangan selanjutnya dipimpin oleh Mangku I Nyoman Hari Kontha yang merupakan Mangku asal Klungkung dan  berdomisili di Cibinong. Persembahyangan gelombang inipun diikuti oleh pemedek yang sangat melimpah yang memenuhi areal Pura Pasar Agung dan Melanting tersebut.

Di hari pertama Piodalan ini, pemedek tidak henti-hentinya berdatangan bahkan setelah jam 12 malam pun pemedek masih banyak yang tangkil. Bahkan pada malam hari pada saat Mangku I nyoman Hari Kontha sedang memuja ada pemedek yang karauhan dan dalam proses kerauhannya mengasih nasehat ke pemedek lain yang hadir.

Pak Nengah Gamma yang merupakan seorang Photografer juga sibuk untuk ngayah dan menghaturkan sembah bhaktinya kehadapan Ida Sesuhunan begitu juga Wayan Siana asal desa Kramas Bali dan Saudara Agus yang merupakan warga Jawa tapi tetap dengan keyakinan leluhurnya yaitu Hindhu juga sibuk ngayah dengan pakaian khas Jawa

Pada hari kedua Piodalan dimulai dengan proses Nganyarin yang dipimpin Jro Mangku Gde dan diikuti oleh pemedek yang kebetulan hadir saat itu. Proses Nganyarin berlangsung dengan sangat khidmat. Pemedek yang tangkil di hari kedua juga berasal dari semua penjuru Indonesia. Ini mebuktikan betapa Ida Sesuhunan selalu diingat dan dipuja oleh umat Beliau sehingga setiap Piodalan selalu dilaksanakan dengan kemeriahan pemedek yang tangkil. Menurut Jro Mangku Istri, semua Pengangge dan peralatan yang dipakai untuk Piodalan ini adalah aturan dari umat sekalian yang bhakti dan selalu ingat akan Beliau Ida Sesuhunan.

Kopi dan teh serta jajanan tidak luput untuk selalu menemani pemedek yang tangkil selama proses Piodalan dan semua itu dapat dinikmati dengan tanpa biaya alias gratis karena merupakan aturan dari umat yang merasa begitu welas asihnya Sesuhunan akan umat Beliau.

Pada hari ketiga yang merupakan hari Penyineban dipimpin langsung oleh Jro Mangku Gde didampingi oleh Jro Mangku Subadra Dana dan Jro Mangku Nyoman Hari Kontha serta para Mangku istri dan pemedek yang hadir. Ternyata pemedek yang hadir juga tidak kalah jumlahnya dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya karena tetep melimpah sampai memenuhi areal Pura tersebut.

Para pemedek yang hadir meneteskan air mata ketika Daksina Pelinggih di tuwur dari Stana nya di masing-masing Pelinggih untuk dilebar dan dikembalikan ke Sunia. Pemedek merasa betapa waktu tiga hari untuk Piodalan dirasa belum cukup untuk menghaturkan sembah Bhakti kehadapan Sesuhunan.

Bahkan setelah acara Penyineban Ida Bathara selesai, masih saja pemedek hadir diantaranya dari Karangasem yang menyewa 3 bus besar untuk menghaturkan sembah Bhakti kehadapan Beliau. Para Pemangku dengan sabar melayani umat yang hadir tersebut dengan diiringi oleh sapaan yang ramah dan lembut.

Beberapa hal yang pelu dievaluasi dari Piodalan saat ini untuk dilakukan di Piodalan yang akan datang, diantaranya perlunya tangga besi yang panjang untuk memudahkan men-Sthanakan Daksina Pelinggih di Padmasana.

Om Sriyam Bavantu, Sukham Bavantu, Purnam Bavantu
Om Ksama Sampurna Ya Namah Swaha

Sampai ketemu di Piodalan selanjutnya di 2013.


Selamat Galungan & Kuningan



Om Swastiastu Om

Segenap Crew PuraGunungSalak.com mengucapkan

Selamat Merayakan Hari Raya

Galungan

&

Kuningan


Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu memberikan karunia Nya kepada umat manusia

Om Shanti Shanti Shanti Om




Sang Kala Tiga - Musuh yang Harus Diwaspadai


Om Swatiastu Om

Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan merupakan hari yang dirayakan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma. Dalam rangkaian persiapan penyambutan Galungan terdapat berbagai tahapan yang dimulai dari Tumpek Pengatag, Sugihan Jawa & Bali, Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan.

Di samping hal-hal tersebut di atas, ada hal lain yang penting yang harus kita waspadai yang merupakan godaan kita dalam menyambut Galungan. Hal tersebut adalah Sang kala Tiga yang selalu melakukan daya upaya untuk menjebak manusia agar gagal mendapatkan hikmah Galungan.

Sang Kala Tiga yang terdiri dari Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan dan Bhuta Amangkurat yang mengganggu manusia pada saat yang berbeda-beda. Mari telaah satu persatu agar bisa waspada dalam menghadapinya.
  • Sang Bhuta Galungan. Bhuta ini mengganggu manusia bertepatan dengan perayaan penyekeban, yaitu pada hari minggu sebelum Galungan. Bhuta Galungan akan menyerang manusia dengan berbagai cara agar bisa ditaklukan. Jadi pertarungan umat manusia dalam rangka kemenangan Dharma melawan Adharma diuji pertama kali oleh Sang Bhuta Galungan. Galungan sendiri berarti penyerangan. Dengan mengikuti proses penyekeban, dimana kita dituntut untuk berbuat baik, maka diharapkan serangan Bhuta Galungan dapat dinetralisir.
  • Sang Bhuta Dungulan. Dungulan berarti menaklukan. Bhuta ini menyerang pada hari Penyajaan Galungan. Apabila kita tidak waspada semenjak hari penyekeban, maka dapat dipastikan Bhuta Dungulan akan dengan mudah menaklukan kita. Penangkal dari Bhuta Dungulan adalah dengan melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Penyajaan dengan serius dan memasrahkan hasilnya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Secara logika, penaklukan sendiri dapat dihindari apabila kita menguasai pengetahuan seperti Widyadara-Widyadari. Sehingga betapa pentingnya kita melakukan prosesi hari Penyajaan untuk menyambut Galunga dan menghindarkan diri dari Bhuta Dungulan.
  • Sang Bhuta Amangkurat. Bhuta Amangkurat bersifat menguasai yang mengganggu manusia pada saat Penampahan Galungan. Bhuta ini sangat ganas dan bersifat tidak ada ampun terhadap manusia yang sudah dikuasainya. Itulah sebabnya maka leluhur kita memberikan cara yang sangat tepat untuk menghadapinya yaitu dengan Penampahan Galungan. Penampahan Galungan mengharuskan kita dengan simbolik untuk mematikan sifat hewani yang ada dalam diri kita agar bisa terhindar dari Bhuta Amangkurat dan berhasil merayakan Galungan. Bila dilihat dari segi filosofi tersebut, betapa pengertian Penampahan Galungan yang benar yaitu untuk memadamkan nafsu hewani akan menjadi sangat penting karena bisa menghindarkan kita dari kemunduran.
Kemenangan dalam menghadapi Sang Kala tiga diwujudkan dengan cara natab byakala pada saat sore hari di hari Penampahan Galungan. Inti dari byakala sendiri adalah penyucian diri kita setelah melalui berbagai godaan dan kemungkinan kekotoran yang melekat di diri kita.

Saat ini kebiasaan dalam melakukan byakala mendapatkan tantangan dari ketidaktahuan dan kesibukan masyarakat kita. Hal ini bisa disikapi dengan bijaksana dengan cara melakukan pembersihan diri yang dilakukan dengan cara sederhana yang intinya tetap pada tataran penyucian diri.

Bila melihat betapa proses dan godaan yang harus dilalui sebelum menyambut Galungan sangat berat, maka wajarlah leluhur kita mengatakan bahwa Galungan merupakan hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Sudah tentu disini harus ditekankan bahwa semua proses harus dilalui dengan benar dan penuh kesadaran akan pentingnya proses tersebut.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Mangku Pasar Agung & Melanting - Mangku I Nyoman Hari Kontha


Penyekeban, Penyajaan, Penampahan Galungan



patram pushpam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami pryatatmanah
 Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 26
Artinya adalah:
Meskipun seorang Bhakta hanya mempersembahkan Daun, Bunga, Buah dan Air yang  asalkan dilakukan dengan tulus iklhas, maka persembahan itu akan Aku terima
Om Swastiastu Om
Hari Raya Galungan yang jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan merupakan hari raya yang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Hindhu di Indonesia. Hari raya ini jatuh setiap 210 hari sekali karena didasarkan atas pertemuan Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku.
Rentetan untuk menyambut Galungan tersebut sudah dimulai 25 hari sebelumnya yaitu waktu kita merayakan hari Tumpek Pengatag. Di hari Tumpek Pengatag tersebut pemeluk Hindhu melakukan ritual penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan agar berbuah dan berbunga yang lebat untuk digunakan menyambut Galungan.
Prosesi selanjutnya kita dihadapkan dengan hari Penyekeban Galungan, Penyajaan Galungan dan Penampahan Galungan. Mari kita telaah satu persatu:
  • Penyekeban Galungan jatuh pada hari minggu (Redite Paing Dungulan), yang secara nyata biasanya diikuti dengan proses "nyekeb" buah-buahan, terutama pisang, agar bisa matang pas digunakan di hari raya Galungan. Kenapa yang diutamakan pisang?, karena secara filosofis pisang merupakan tumbuhan yang dinilai paling sedikit memiliki ego disebabkan meskipun dia beranak pinak dengan tunas tapi tetep saja memberikan buahnya bagi kerpeluan mahluk lain. Secara filosofi penyekeban Galungan bisa diartikan agar manusia mengecilkan ego perbuatannya sehingga bisa lebih mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dilihat dari sudut ini bisa diartikan betapa penting arti dari penyekeban Galungan tersebut.
  • Penyajaan Galungan jatuh pada hari senin (Soma Pon Dungulan), merupakan waktu yang digunakan oleh masyarakat untuk membikin jajanan yang akan dipakai dalam bebantenan Galungan. Dalam sloka di kitab Yadnya Prakerti di sebutkan " Raka-raka pinaka widyadara-widyadari", ini mengacu kepada jajanan/buah-buahan hendaknya merupakan hasil dari jerih payah sendiri. Widyadara-widyadari mengacu kepada orang yang menguasai ilmu pengetahuan yang disimbolkan dengan membuat Jajanan sendiri untuk dipersembahkan dalam penyambutan Galungan. Oleh karena itu, alangkah pentingnya bila kita bisa membuat sendiri jajanan untuk Galungan, sudah tentu disesuaikan dengan kemampuan dan waktu kita. Secara filosofis bisa diartikan bahwa Penyajaan Galungan merupakan usaha untuk meghasilkan sesuatu ciptaan yang bersifat manis dan berguna bagi manusia. Ilmu pengetahuan yang bermoral merupakan efek yang diharapkan terjadi dengan perayaan Penyajaan Galungan ini. Bila ilmu pengetahuan tanpa moral, maka kehancuran dunia adalah taruhannya.
  • Penampahan Galungan jatuh pada hari Selasa (Anggara Wage Dungulan). Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat kita di Bali karena dirayakan dengan melakukan acara masak-memasak yang sangat meriah. Memotong babi sebagai acara utama merupakan hal yang lumrah dilakukan. Pada hari ini semua anggota masyarakat Hindhu akan berusaha sebaik-baiknya untuk menyiapkan hidangan yang akan disantap di hari Galungan keesokan harinya. Bila kita tinjau secara filosofis maka perayaan penampahan Galungan sebenarnya dititik beratkan dalam usaha untuk membasmi sifat hewani yang ada di dalam diri manusia, sehingga dalam perayaan Galungan keesokan harinya kita bisa terbebas dari sifat hewani tersebut. Babi merupakan simbol dari kemalasan, sehingga dengan memotong babi maka secara simbolis kemalasan dapat dihilangkan. Penampahan Galungan juga diikuti dengan acara natab byakala di sore hari untuk pembersihan diri. Saat ini arti filosofi dari penampahan Galungan secara perlahan-lahan sudah digantikan dengan arti harfiahnya yaitu pemotongan babi untuk persiapan Galungan. Ketidak mengertian ini bisa jadi akan menimbulkan efe samping yaitu diikuti dengan mabuk-mabukan dan lain sebagainya.
Dilihat dari segi filosofi ketiga rentetan Galungan tersebut sebenarnya adalah proses untuk penyucian diri agar dalam perayaan Galungan kita bener-bener merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Bila arti filosofi tersebut dikesampingkan maka bukannya kebaikan yang kita dapat, tapi justru Adharma yang nanti merajalela di kehidupan masyarakat.
Berbagai prosesi yang mendahului hari raya Galungan merupakan suatu rangkaian yang sengaja dibuat oleh leluhur kita untuk menjadikan pemeluk Hindhu menjadi suci dan terjaganya keseimbangan Buana Agung dan Buana Alit.
Om Shanti, Shanyi, Shanti Om
Mangku Pasar Agung & Melanting - Mangku I Nyoman Hari Kontha