Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Tumpek Landep - Ida Pedanda Made Gunung



HINDU memiliki banyak hari raya. Hari raya keagamaan itu sesungguhnya memiliki makna cukup luas. Termasuk Tumpek Landep, tak hanya bermakna ritual. Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kesadaran pikiran. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
Dengan pikiran yang tajam, kata Ida Pedanda, diharapkan umat dapat menumpulkan gejolak indria dan menghindari perilaku menyimpang. Tumpek, kata Ida Pedanda, berarti pula tampek dan landep berarti tanying (tajam). Dalam perayaan ritual Tumpek Landep, umat diingatkan untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan.
''Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala,'' katanya.
Dalam kehidupan sehari-hari umat diisyaratkan untuk selalu menajamkan ilmu dan keterampilan agar mampu bersaing dalam era kesejagatan. ''Yang terpenting lagi, umat hendaknya selalu menajamkan keyakinannya terhadap Tuhan,'' katanya. Dalam situasi seperti sekarang, umat penting pula menajamkan rasa persatuan dan kesatuan dan membangkitkan kewaspadaan diri. Termasuk mewaspadai keamanan Bali. Jangan mau dipecah-belah, karena buta politik. Sebab, sejarah membuktikan, banyak orang Bali menjadi korban politik. Padahal politik dalam arti sesungguhnya memiliki tujuan mulia yakni untuk mensejahterakan masyarakat. Tetapi, praktiknya berbeda, politik justru untuk mensejahterakan kelompok dan diri sendiri.
Ditegaskan pula, ritual Tumpek Landep merupakan tonggak introspeksi (mulatsarira). Artinya, umat manusia dituntun agar bisa mengaktualisasikan diri pada pembentukan watak atau karakter yang sesuai dengan ajaran agama. Setiap Tumpek Landep, umat diharapkan mulatsarira, evaluasi diri apa yang telah dilakukan selama ini. Ini penting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam masa mendatang.
Di sisi lain Ida Pedanda mengatakan, tiada hari tanpa doa di Bali. Tetapi, kondisi di lapangan sangatlah kontradiktif. Ada orang bunuh diri, gantung diri, berlaku seperti buthakala, dan melakukan tindak kekerasan dll. Logikanya, jika umat selalu mendekatkan diri kepada Tuhan, sesungguhnya sikap buthakala semakin jauh dari pribadi umat. Nah, kenapa itu bisa terjadi? Menurut Ida Pedanda, karena umat tidak mampu menghayati diri sendiri dan Bali itu sendiri.
Bali merupakan Pulau Surga. Sebagai pulau surga mestinya orang Bali adalah memiliki sifat Bethara dan Bethari. Tapi kenyataanya ada yang berperilaku di luar sifat Bethara dan Bethari.
Karena itu, Ida Pedanda berharap umat menyeimbangkan keperluan jasmani dan rohani. Jika setiap hari umat masuk dapur tiga kali, hal yang sama mesti dilakukan untuk keperluan rohani. Itu berarti umat mesti bersembahyang tiga kali sehari ke merajan. Dengan demikian, ada keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
Ida Pedanda menegaskan, Tumpek Landep bukan otonan motor atau komputer. Tumpek Landep adalah pemujaan Tuhan karena saat itu beryoga Dewa Siwa. Makanya persembahyangan Tumpek Landep adalah di merajan masing-masing. Namun untuk otonan motor paling bagus dilakukan saat Tumpek Landep. ''Jadi, bukan karena ada motor kita merayakan Tumpek Landep,''ujarnya.
Sember: Balipost

 

Lontar Kemoksan



Menurut Lontar, Moksa ditentukan oleh Tri guna (sattwa, rajah, dan tamah) yang menentukan akan mendapatkan apa atma itu, apakah kamoksan, swarga atau lahir menjadi manusia, apakah menempati Paramasiwa yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi, Sadasiwa menengah, dan Siwa rendah (hingga memunculkan beragam pertanyaan di atas).
Tinggi rendahnya tingkat kesadaran itu tergantung dari kuat tidaknya pengaruh Maya.
Paramasiwa adalah bebas dari pengaruh Maya, Sadasiwa mendapat pengaruh sedang-sedang saja, sedangkan Siwa mendapat pengaruh Maya paling kuat.
Berikut Lontar yang menuntun menuju Moksa:
*Lontar Sundarigama menggunakan bahasa Kawi, dan mengandung teks yang bersifat filosofis-religius karena mendeskripsikan norma-norma, gagasan, perilaku, dan tindakan keagamaan, serta jenis-jenis sesajen persembahan yang patut dibuat pada saat merayakan hari-hari suci umat Hindu Bali, mengajarkan kepada umatnya untuk berpegang kepada hari-hari suci berdasarkan wewaran, wuku, dan sasih dengan mempergunakan benda-benda suci/yang disucikan seperti api, air, kembang, bebantenan disertai kesucian pikiran terutama dalam mencapai tujuan yang bahagia lahir bathin (moksartam jagadhita) berdasarkan agama yang dianutnya. Teks Sundarigama merupakan penuntun dan pedoman tentang tata cara perayaan hari-hari suci Hindu yang meliputi aspek tattwa (filosofis), susila, dan upacara/upakara.
Teks sundarigama tidak hanya mendeskripsikan hari-hari suci menurut perhitungan bulan (purnama atau tilem) atau pun pawukon serta jenis-jenis upakara yang patut dibuat umat Hindu pada saat merayakan hari-hari suci tersebut, tetapi juga menjelaskan tujuan bahkan makna perayaan hari-hari suci tersebut. Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan dan makna perayaan hari-hari suci umat Hindu menurut Lontar Sundarigama adalah menjaga keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan /Ida Sanghyang Widhi Wasa; Hubungan manusia dengan manusia; dan hubungan manusia dengan alam lingkungan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa umat Hindu Bali melakukan upacara agama adalah dari dan untuk keselamatan alam semesta beserta seluruh isinya.
*Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah sebuah pustaka lontar yang memuat ajaran tentang hakikat Siwa. Lontar ini mengacu pada pustaka yang lebih tua seperti, Bhuwanakosa, Wrehaspati Tattwa, Tattwa Jnana, Jnana Siddhanta, Ganapati Tattwa.
Materi Pokok yang diajarkan dalam pustaka Tattwa Sangkaning Dadi Janma adalah pengetahuan rahasia, yaitu tentang ilmu kadyatmikan, ilmu untuk melepaskan Sang Hyang Urip untuk kembali ke asalnya atau kamoksan, kalepasan, kesunyataan. Janganlah mengajarkan kepada murid yang tidak mentaati tata krama.
Dan kepada orang yang tidak terpelajar, rahasiakanlah ajaran Beliau para Resi, sebab murid yang pandai tetapi tidak bermoral, tidak mentaati tata krama dan tidak hormat kepada guru, itu akan mendapat petaka besar bagi si murid.
Sebaliknya, walaupun murid itu agak kurang, kalau mentaati ajaran tata krama dari guru, pastilah murid itu akan berhasil.
*Tutur Bhuwana Mareka adalah lontar yang memuat ajaran tentang Siwa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa campuran antara Bahasa Jawa Kuno dan Bahasa Sansekerta yang disajikan dalam bentuk sloka. Adapun materi pokok yang diajarkan dalam Lontar Bhuwana Mareka ini adalah pengetahuan tentang “ilmu kadyatmikan” yang dapat dijadikan oleh para yogi atau para jnanin untuk mencapai kalepasan/kamoksan.
Sang Hyang Mareka sesungguhnya adalah awal dan akhir segala yang ada. Ia adalah Sunya, pokok ajaran Bhuwana Mareka. Ia adalah Sang Hyang Utama yang sesungguhnya tidak diketahui oleh siapapun. Rahasia diantara yang rahasia. Ia yang misteri ini selalu dirindukan oleh orang-orang suci, maka selalu direnungkan dalam sanubari. Ialah tujuan dan hakekat ajaran kamoksan. Sesungguhnya Ia esa dan suci, ada di mana-mana, ada pada segala, inti alam semesta. Ialah yang disebut dengan berbagai nama menurut kedudukan, fungsi dan harapan pemuja-Nya.
Dalam rangka kamoksan dan kadyatmikan, Ia yang dimohon hadir berwujud Istadewata dalam meditasi penghayatnya. Untuk mencapai penghayatan sebagai yang diharapkan, ada sadana yang harus ditaati oleh si penghayat, sebagai yang tertuang dalam berbagai Kaputusan sebagai yang diajarkan dalam teks ini.
*Brahmokta Widhisastra adalah sebuah lontar yang cukup tua. Uraian di dalam lontar ini ditulis dalam bentuk sloka dengan menggunakan bahasa Sansekerta, sedangkan penjelasannya menggunakan bahasa Jawa Kuna. Lontar ini menguraikan ajaran Kalepasan yang bersifat Siwaistik, diantaranya menjelaskan tentang hakekat Sanghyang Pranawa (Om). Semesta alam dan badan (manusia) adalah perwujudannya yang sekaligus pula sebagai jiwanya. Ia adalah obyek tertinggi kalepasan. Menjelaskan manfaat pranayama. Pranayama yang benar akan dapat membakar habis semua pennyakit, termasuk pula papa, dosa-dosa, triguna, dasendriya, sadripu, sehingga orang terbebas dari penyakit. Orang yang bebas dari penyakit akan panjang umur.
Selain itu, lontar ini juga menjelaskan tentang Catur Dasaksara (empat belas aksara). Keempat belas aksara itu memiliki kadar kesucian yang sama dan pahala sorga dan kamoksan yang sama pula, karena keempat belas aksara itu adalah merupakan badan Tuhan atau perwujudan Siwa yang disebut Catur Dasa Siwa (empat belas Siwa), yang merupakan obyek kalepasan dalam arti untuk mencapai kalepasan, maka keempat belas tempat Siwa itu bisa dituju sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Om adalah kalepasan tertinggi. Aksara mana yang dapat dipusatkan dalam pikiran kala kematian menjelang, maka ke sanalah ia menuju ke salah satu tempat Siwa. Orang yang telah mencapai tempat Siwa akan menikmati kesenangan dan tidak akan kembali duka karena itu disebut Siwa atau Sadasiwa. Ia juga disebut Iswara karena ia adalah pemilik keempat belas istana itu. Lontar ini juga berisi himbauan kepada guru agar di dalam mengajarkan mutiara ajaran Siwasiddhanta tertinggi ini tidak pada sembarang siswa, dan lain-lain.
*LONTAR TUTUR KUMARATATWA, menguraikan tentang hakikat kamoksan. Kamoksan itu pada prinsipnya adalah suatu proses yang tidak dapat dicapai secara sekaligus tetapi dicapai secara bertahap. Kamoksan merupakan proses penunggalan Yang Ada dengan Yang Tiada setelah mengalami pembebasan dari keterikatan duniawi. Yang Tiada (kekosongan) merupakan sumber segala sesuatu dan tujuan terakhir yang meleburkan segala sesuatu. Kekosongan itu merupakan awal, tengah, dan akhir segala spekulasi.
Tutur Kumaratatwa berisi ajaran filosofis tentang mengapa manusia menderita, dan bagaimana manusia melepaskan diri dari penseritaan. Adapun sumber penderitaan manusia adalah Dasendriya, dan manusia harus mampu mengendalikannya dengan cara mengenali dan memahami kejatidiriannya sehingga manusia dapat mengerahkan segala kekuatan yang ada di dalam dirinya.
*LONTAR KAMOKSAN, berisi tentang cara-cara untuk mencapai tujuan hidup dengan melalui praktek-praktek/pelaksanaan ajian-ajian (mantra). Berbagai ajian-ajian ditawarkan dalam naskah lontar ini, dan apabila seseorang tersebut mampu menerapkan ajian tersebut maka akan tercapai apa yang dikehendakinya, baik itu Kawisesan maupun Kamoksan. Ajian-ajian yang terdapat dalam naskah ini memiliki nilai kesakralan tinggi. Hakikat ajian tersebut bersifat sangat rahasia dan tidak semua bisa mempraktekkannya sehingga memerlukan kesigapan, ketelitian, ketekunan dan ketajaman batin pembacanya. Oleh karena itu perlulah kiranya pembaca bila ingin mempraktekkan ajian-ajian ini dituntun oleh seorang guru agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Di dalam Lontar Kamoksan, ajian yang berhubungan dengan kamoksan antara lain Aji Kalepasan Ring Sarira, Aji Tuturira Sanghyang Kalepasan, Aji Wekasing Ujar, Aji Sanghyang Dharma, Aji Wekasing Aputih, Aji Dharma Kalepasan Kamoksan. Kamoksan atau Kalepasan mengacu pada makna terlepasnya Atma dari tubuh manusia untuk manunggal dengan Paramatma. Supaya Atma dengan mulus dapat melepas dari tubuh juga memerlukan pengetahuan spiritual khusus, baik dalam hal mengenal, mengetahui tanda-tanda, kapan waktu, maupun jalan yang akan ditempuh oleh Atma ketika melepas dari tubuh. Di dalam lontar Kamoksan, dijelaskan beberapa ajian atau ilmu tentang pelepasan Atma dari tubuh, antara lain Aji Pakekesing Pati, Aji Tengeraning Pati, Aji Wekasing Bhuwana, Aji Patyaning Tiga, Aji Patitisan, Aji Pakeker, Aji Pamancutan.
Di dalam Lontar Kamoksan dijelaskan bahwa moksa dapat dicapai melalui suatu tahapan spiritual, yang dimulai dengan memahami nama dewa, besarnya, warnanya, dan tempat bersemayam dewa tersebut. Dewa-dewa tersebut dikenali satu per satu secara bertahap, baik dalam posisi horisonta maupun vertical, sampai pada tataran tertinggi, yaitu “berada dalam diam”.
*TUTUR ANGKUS PRANA, secara garis besarnya, isi dari lontar ini dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu Kawisesan dan Kamoksan. Kawisesan berhubungan dengan sakti yang erat hubungannya dengan hidup keduniawian. Sedangkan Kamoksan berhubungan dengan pembebasan terakhir dan harapan hidup bahagia di sorga.
Isi yang mengandung ajaran Kawisesan tersimpul dalam berbagai ilmu yang disebut dengan Tutur, yaitu: Tutur Pranajati, Tutur Jati Ening, Sanghyang Aji Lwih, Tutur Samuccaya, Tutur Jagatnatha dan Jagat Guru, Tutur Upadesa, Pangelepasan Tedung Jati (Aji Pawasan), Tutur Yoga Meneng, Tutur Bhagawan Kasyapa, Tutur Kawakyan. Sedangkan isi yang mengandung ajaran Kamoksan tampak pada Aji Pangelepasan Siwi (Siwer) Mas.
Kedua ilmu itu, meskipun terlihat berbeda namun sesungguhnya berhubungan erat, dan kawisesan itu penting untuk melakoni kamoksan. Keberhasilan seseorang dalam mempelajari ilmu ini sangat ditentukan oleh beberapa hal seperti: tidak mempunyai dosa besar, dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk mempelajari ilmu itu, dapat memusatkan pikiran dan tidak berkata-kata, dan ada berkat dari Widhi (Tuhan). Ilmu ini memiliki manfaat/kegunaan yang luar biasa dalam kehidupan ini utamanya bagi yang menekuninya seperti: dapat memperpanjang usia, untuk membersihkan diri, untuk menumbuhkan sifat-sifat baik, untuk membebaskan leluhur dan keluarga dari neraka, untuk mendapatkan cinta wanita, untuk kesidian balian, untuk memperoleh kebahagiaan sorgawi setelah meninggal dan duniawi setelah lahir kembali, dan lain-lain.
Oleh karena demikian hebatnya ilmu ini, maka dianjurkan agar dalam mempelajari ilmu ini tidak boleh menyombongkan diri karena ilmu itu banyak disembunyikan oleh Dewa, dan agar selektif dalam mengajarkan apalagi terhadap orang lain karena belum tentu sama pikirannya.
* LONTAR SIWAGAMA, merupakan teks yang tergolong jenis tutur yang juga disebut Purwagamasasana. Siwagama merupakan salah satu karya Ida Padanda Made Sidemen dari Geria Delod Pasar, Intaran, Sanur. Karya ini diciptakan pada tahun 1938, konon atas permintaan raja Badung.
Teksnya dimulai dengan menyebutkan bahwa kisah cerita diawali dengan perbincangan raja Pranaraga dengan pendeta istana (Bagawan Asmaranatha) tentang tattwa mahasunya. Agama Hindu sesungguhnya menganut paham monotheisme bukan politheisme. Tuhan hanya satu tidak ada duanya, namun orang bijaksana menyebut-Nya dengan banyak nama. Berbagai sebutan Tuhan muncul dalam agama Hindu karena Tuhan tidak terbatas adanya. Akan tetapi, kemampuan manusia untuk menggambarkan hakikat Tuhan sangat terbatas adanya. Di dalam teks Siwagama disinggung berbagai sebutan Tuhan, seperti Sanghyang Widhi, Sanghyang Adisuksma, Sanghyang Titah, Sanghyang Anarawang, Sanghyang Licin, Sang Acintya, dll.
Disamping kepercayaan kepada Sanghyang Widhi, juga menegaskan kepercayaan adanya roh leluhur. Dalam hal ini, manusia diajak untuk berbakti kepada leluhur. Sebab pada hakikatnya antara atma dan dewa itu tunggal, sebab semua makhluk berasal dari Sanghyang Widhi. Kepercayaan adanya karmaphala juga dijelaskan pengarang dalam teks Siwagama. Tidak ada suatu perbuatan yang sia-sia, semua perbuatan akan membuahkan hasil, disadari atau tidak. Selain itu disinggung juga mengenai kepercayaan akan adanya samsara dan moksa. Hal ini dikaitkan dengan pahala-pahala yang ditemukan bagi orang-orang yang senantiasa rajin membaca, mendengarkan, dan mendiskusikan ajaran-ajaran teks suci, seperti Astadasaparwa, Itihasa, dan Purana-Purana. Konon sebagai pahala membaca, mendengarkan, dan mendiskusikan teks-teks suci tersebut, selama hidupnya manusia dapat mencapai ketenangan pikiran, melenyapkan niat-niat jahat, kotoran diri, noda, dan dosa, serta ketika ajal tiba akan menemukan sorga dan moksa.
Di dalam teks Siwagama juga banyak didapatkan kutukan-kutukan yang menimpa sejumlah tokoh akibat perbuatan-perbuatan yang dilakukannya. Sebagaimana dikisahkan, Bhatari Uma dikutuk menjadi Durga sebagai pahala atas perbuatan serongnya dengan Si Pengembala, Dyah Mayakresna (putri Bhatara Guru) dikutuk menjadi Kalika sebagai pahala atas kejahatannya membunuh suami-suaminya. Sang Sucitra dan Sang Susena (Raja Gandarwa) menerima kutukan dari Bhatara Guru menjadi Sang Kalantaka dan Sang Kalanjaya sebagai pahala perbuatan jahatnya memperkosa Sang Batringsa dan Sriyogini (juru bunga Bhatara Guru). Ada pula tokoh-tokoh yang dikisahkan mendapat pahala baik akibat perbuatan baik yang dilakukan. Seperti Sang Kumara dinobatkan menjadi Sang Wredhakumara atas kemuliaan yoganya. Demikian pula pada dewa-dewa lainnya, seperti Bhatara Surya yang diberi gelar Siwaraditya oleh Bhatara Guru sebagai pahala atas ketekunannya menjadi saksi dunia dan atas kepatuhannya kepada Bhatara Guru.
* SANGHYANG MAHAJNANA, mengandung ajaran Siwatattwa, ajaran untuk mencapai kelepasan, disajikan dalam bentuk tanya jawab antara sang putra dengan sang ayah, Bhatara Kumara dengan Bhatara Guru. Adapun ajaran-ajarannya itu ialah:
• Apakah yang disebut tidur dan jaga? Dasendriya itu disebut tidur, dan Pancabayu yaitu prana, apana, samana, udana, dan wyana disebut jaga.
• Pradhana adalah malam hari, Purusa adalah matahari malam hari, dan atma adalah jnana (kebijaksanaan)
• Purusa adalah kusir, pradhana adalah badan, kereta adalah Dasendriya, dharma-dharma adalah tali tali lisnya
• Bhatara Wisnu adalah kereta, Bhatara Brahma adalah lembu, Bhatara Iswara adalah kusir, Bhatara Siwa berada di tengah kereta sebagai jiwanya
• Di dalam tribhuwana ada Brahma bhuwana, Wisnu bhuwana, dan Rudra bhuwana. Pada inti bhuwana terdapat trikona, tempat Bhatara Siwa
• Tryaksara dan tripada (Brahmapada, Wisnupada, dan Rudrapada) adalah Ongkara. Pikiran yang teguh berlindung pada Bhatara Siwa, Siwalingga yang tidak ada bandingannya
• Dewanya jagrapada ialah Bhatara Brahma, dewanya Swapnapada ialah Bhatara Wisnu, dewanya Susuptapada ialah Bhatara Rudra, dewanya Turyapada ialah Bhatara Maheswara, dewanya Turyantapada ialah Bhatara Mahadewa, dewanya Kewalyapada ialah Bhatara Isana, dan dewanya Paramakewalyapada ialah Bhatara Paramasiwa yang disebut Kamoksan

• Omkara amat mulia, paling mulia diantara mantra, amat halus. Dengan sarana Omkara, seorang Yogiswara mendapatkan Kamoksan
• Untuk dapat memahami akan adanya Bhatara amat sulit. Orang yang mengetahui Tattwa Bhatara akan mencapai moksa.
* TUTUR SIWA BANDA SAKOTI, pada pokoknya menguraikan tentang ajaran Siwa, namun dalam beberapa uraiannya juga terdapat penyatuan antara ajaran Siwa dan Buddha, terutama yang berkaitan dengan cara mencapai kalepasan (kamoksan) yang menjadi inti dari isi lontar ini.
Siwa Banda Sakoti menguraikan wejangan Sang Hyang Siwa Banda Sakoti yang disampaikan kepada Mupu Kuturan mengenai kalepasan di dalam diri yang patut diajarkan oleh para Dang Guru kepada muridnya yang benar-benar ingin mengetahui tentang hal itu. Ada satu pesan yang disampaikan bahwa ajaran ini hendaknya hanya diajarkan kepada mereka yang benar-benar ingin berguru, dan jangan sekali-kali diajarkan kepada mereka yang bodoh, karena ajaran ini sangat rahasia, dan tidak patut untuk dibicarakan mengenai kesempurnaannya.
Pembicaraan diawali dengan pengutaraan dewa-dewa dan stananya di dalam tubuh, serta wujud, aksaranya, dan fungsinya. Di samping kalepasan menurut ajaran Siwa juga dupadukan dengan ajaran Buddha, seperti adanya penunggalan Sang Hyang Siwa Adnyana dengan Sapta Boddha yang meliputi: darana, diana, yoga, tarka, samadi, isawara-pramidana, kasunian, yang semuanya ini dapat digunakan sebagai jalan menuju kalepasan.
Di dalam lontar Siwa Banda Sakoti memang banyak diuraikan berbagai jalan atau cara mencapai kalepasan, termasuk stana dewa-dewa di dalam tubuh, dewa-dewa dalam benih aksara (bijaksara) yang memenuhi jagat raya ini. Namun sebagai inti ajarannya adalah panunggalan Sang Hyang Ongkara baik pada badan manusia, maupun pada alam semesta, yang bersifat sakala niskala dan sangat rahasia.
*TUTUR AJI SARASWATI, pada dasarnya berisi ajaran tentang kesukseman, ajaran kerohanian tinggi yang isinya dapat dipilah menjadi dua yaitu: berisi ajaran tentang kesehatan dan ajaran hidup setelah mati yang dikenal dengan kamoksan. Dalam menguraikan ajarannya diawali dengan penyusunan Dasaksara, pengringkesannya menjadi Pancabrahma, Pancabrahma menjadi Tri Aksara, Tri Aksara menjadi Rwa Bhineda, Rwa Bhineda menjadi Ekaksara, dan juga diuraikan mengenai kedudukan dalam badan serta kegunaannya. Bila ingin menggunakan naskah ini sebagai sebuah tuntunan maka sebelumnya haruslah teliti, harus membandingkannya terlebih dahulu dengan naskah lain, dan juga perlu tuntunan seorang yang mumpuni di bidang itu untuk membukakan jalan karena jika sedikit saja keliru dalam mempelajari dan mempraktekkan maka akan berakibat fatal
Sumber: Indoforum.org (Bro Goesdoen)