Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Waktu Menurut Wedha




Waktu Menurut Wedha

Satuan waktu terkecil adalah Nimesa, waktu satu kedipan mata adalah Nimesa, 15 Nimesa membentuk satu Kastha, 30 Kastha adalah satu Kala, dan 30 Kala membentuk satu Muhurta, satu hari terdiri dari 30 Muhurta.

Satu bulan terdiri dari 30 Hari dibagi atas dua Paksa ( dwimingguan) yaitu suklapaksa dan kresnapaksa. 30 bulan membentuk satu Tahun (Warsa).

360 Tahun manusia sama dengan satu Tahun Dewa dan setiap yuga dihitung berdasarkan Tahun Dewa

Satya Yuga berumur 4000 tahun Dewa, Treta Yuga berumur 3000 Tahun Dewa, Dwapara Yuga berumur 2000 Tahun Dewa dan Kali Yuga berumur 1000 Tahun Dewa.

Jadi satu Mahayuga terdiri atas 10.000 Tahun Dewa.

Kemudian waktu peralihan antara Kali Yuga denga Satya yuga dinamakan Sandhyamsa berlangsung selama 2000 tahun Dewa jadi satu Mahayuga dengan masa peralihan berlangsung selama 12.000 Tahun Para Dewa

Sumber: Indoforum

9 Cara Memuja Ida Sang Hyang Widhi




9 Cara Memuja Ida Sang Hyang Widhi

  1. Sravanam (Mendengarkan nama suci Tuhan)
  2. Kirtanam (Memuji / menyanyikan nama suci Tuhan)
  3. Smaranam (Mengingat nama suci Tuhan)
  4. Vandanam (Memuja dengan melantunkan ayat-ayat kitab suci)
  5. Padasyevanam (Melayani kaki padma Tuhan)
  6. Dasyam (bertindak sebagai pelayan Tuhan)
  7. Sakyam (melayani Tuhan seolah-olah sebagai kawan)
  8. Atmanivedanam (penyerahan diri total kepada Tuhan)
  9. Arcanam (melayani arca vigraha)

Pura Sad Kahyangan Bali




PENDAHULUAN

Dalam rangka mengadakan penelitian terhadap Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali secara konsepsional tidak bisa terlepas dengan Pura Kahyangan Jagat di Bali lainnya yang juga telah dijumpai landasan konsepsinya yaitu:

Kahyangan Jagat di Bali yang berlandaskan Rwabhineda.

Kahyangan Jagat di Bali yang berlandaskan konsepsi Catur Lokapala.

Kahyangan Jagat di Bali yang berlandaskan konsepsi Sad Winayaka.
 
PENGERTIAN

Sad Kahyangan adalah enam buah pura Kahyangan Jagat di Bali, yang menjadi tempat pemujaan seluruh Umat Hindu.
 

LANDASAN

Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali berlandaskan pada:

Landasan filosofis yaitu konsepsi Sad Winayaka (menurut lontar Dewa Purana Bangsul)

Landasan historis : Pura Sad Kahyangan itu sudah ada sebelum kedatangan Gajah Mada di Bali tahun 1343 Masehi.

Landasan Tradisi yaitu.: Masyarakat di Bali pada umumnya telah memandang bahwa, Pura- Pura itu adalah Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali.

 
RUMUSAN

Berdasarkan uraian di atas, maka Kahyangan Jagat di Bali ialah:
 
Yang berlandaskan konsepsi Rwabhineda ialah:

  • Pura Besakih sebagai Purusa di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Batur sebagai Pradhana di Kabupaten Bangli.

Yang berlandaskan konsepsi Catur Lokapala ialah:
  • Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Andakasa di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan.
  • Pura Pucak Mangu di Kabupaten Badung.
Yang berlandaskan konsepsi Sad Winayaka ialah:
  • Pura Besakih di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem.
  • Pura Gua Lawah di Kabupaten Klungkung.
  • Pura Uluwatu di Kabupaten Badung.
  • Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan.
  • Pura Puser Tasik (Pura Pusering Jagat di Pejeng) di Kabupaten Gianyar.

Kahyangan Jagat yang berlandaskan konsepsi Sad Winayaka inilah yang dimaksud Pura Sad Kahyangan Jagat di Bali.

Di samping Kahyangan Jagat tersebut di atas, masih banyak Kahyangan Jagat di Bali lainnya.

sumber: babadbali.com

Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti



Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi,

pinaka warna rupaning Ida Bhatara,

pinaka andha buwana.

Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya,

Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.

Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.

(Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti).

Pura Tempat Sthana Dewata Nawa Sanga






Pura Tempat Sthana Dewata Nawa Sanga:







Pura Ulun Danu Batur – Sthana Dewa Wisnu bersenjata Cakra







Pura Besakih – Sthana Dewa Sambhu bersenjata Trisula







Pura Lempuyang – Sthana Dewa Iswara bersenjata Bajra







Pura Goa Lawah – Sthana Dewa Maheswara bersenjata Dupa







Pura Andakasa– Sthana Dewa Brahma bersenjata Gada







Pura Uluwatu – Sthana Dewa Rudra bersenjata Moksala







Pura Batukaru – Sthana Dewa Mahadewa bersenjata Nagapasa







Pura Puncak – Mangu Sthana Dewa Sangkara bersenjata Angkus







Pura Besakih – Sthana Dewa Siwa bersenjata Padma Anglayang







Makna Meru Bagi Tahapan Kehidupan di Bumi



Bentuk pelinggih Meru yang ada di Bali terutama di Pura Padharman pada awalnya berbentuk candi. Seperti meru di Pura Padharman Ida Dalem Klungkung di Besakih, semuanya berbentuk Candi Prasada dibuat dari batu bata. Saat Gunung Agung meletus tahun 1963, semua pelinggih Candi Prasada itu hancur.

Dalam perbaikannya hanya Candi Prasada yang bertingkat sebelas kembali dibangun dalam wujud Candi Prasada. Sedangkan yang lainnya dibangun kembali dalam wujud pelinggih Meru dari yang tumpang sembilan sampai dengan yang bertumpang tiga. Apa sesungguhnya makna meru bagi umat dalam mengarungi tahapan kehidupan di bumi ini?

Dalam Lontar Andha Bhuwana ada dinyatakan bahwa meru itu sebagai lambang alam semesta (Meru ngaran pratiwimba Andha Bhuwana). Dalam lontar yang sama juga dinyatakan sbb:

Pawangunan pelinggih makadi meru muang candi, juga pratiwimba saking pengelukunan wijaksara dasaksara mewastu manunggal dadi Om. Artinya: Bangunan suci (pelinggih) terutama meru dan candi juga simbol dari pemutaran huruf suci wijaksara dasaksara menunggal menjadi Om.

Dari penjelasan Lontar Andha Bhuwana ini yang menyatakan tumpang atap meru di samping melambangkan lapisan alam juga melambangkan pemutaran huruf suci yang disebut wijaksara sampai dasaksara. Huruf suci yang disebut aksara itu dinyatakan sebagai ”ruping bhuwana”. Pemutaran wijaksara sampai menjadi dasaksara dan kembali menjadi wijaksara Om itu melukiskan bahwa di setiap lapisan alam ini ada aksara sucinya. Misalnya di Tri Loka ada Tri Aksara Ang Ung Mang sebagai uripnya. Di Panca Loka ada Panca Aksara sebagai uripnya. Demikian seterusnya, di setiap lapisan alam itu ada aksara simbol urip yang menjadi sumber hidup dari setiap lapisan alam tersebut.

Apa yang dinyatakan dalam Lontar Andha Bhuwana ini sebagai penegasan dari pernyataan Mantra Veda yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Lebih lanjut lontar Andha Bhuwana menyatakan sbb:

Sowang panta ika maka sthananira mwah angalih aran. Catur Dasa panta ika, sapta Loka kaluhur mwang sapta Patala ming sor. Artinya, setiap lapisan itu sebagai sthana beliau (Hyang Widhi) yang masing-masing berganti nama.

Empat belas lapisan sthana beliau (Hyang Widhi) yang masing-masing berganti nama. Empat belas lapisan itu Sapta Loka ke atas dan Sapta Patala ke bawah. Apa makna dari pelukisan semua lapisan alam ini sebagai sthana Hyang Widhi Tuhan Yang Mahakuasa dengan sebutan yang berbeda-beda pada setiap lapisan.

Tuhan yang selalu berada di setiap lapisan alam ini hendaknya dimaknai sebagai suatu peringatan agar manusia selalu berlaku baik dan benar di setiap lapisan alam ini. Asih, Punia, dan Bhakti wajib dilakukan oleh umat manusia di setiap lapisan alam.

Asih dan Punia kepada alam dan semua makhluk hidup termasuk manusia di setiap lapisan alam ini. Melakukan Asih dan Punia kepada alam dan sesama umat manusia itu sebagai salah satu wujud bakti pada Tuhan. Tidaklah tepat di suatu lapisan alam tertentu manusia boleh saja berbuat semena-mena demi kenikmatan hidup di lapisan yang lain. Seperti di wilayah pemukimannya, manusia menciptakan berbagai fasilitas hidup yang memberi kenikmatan, tetapi di lapisan lain menimbulkan kerusakan alam yang hebat.

Misalnya manusia ingin memiliki mobil dengan berbagai merek dan jenisnya. Semuanya itu agar mereka dapat dengan mudah ke mana maunya. Untuk memenuhi itu, berbagai bagian bumi ini dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan akan bijih besi dan minyak bumi. Sudah semakin banyak perut bumi dilubangi dalam-dalam dan luas untuk mendapatkan berbagai mineral yang tak terbarukan yang dijadikan bahan-bahan baku untuk membuat barang-barang industri demi memenuhi kebutuhan umat manusia mendapatkan hidup yang nikmat.

Jika sudah datang gilirannya, maka alam yang dirusak itu akan membawa manusia pada hidup yang duka lebih dalam dari pada kenikmatan yang didapatkan. Demikian juga untuk memiliki rumah yang mewah, indah dan memberikan kenikmatan yang serba wah pada pemukimnya membutuhkan berbagai mineral yang tak terbarukan. Seperti besi, ubin, pasir, semen dan juga kayu yang dapat menimbulkan kerusakan hutan.

Seandainya semakin banyak orang yang mau tinggal di rumah yang tidak terlalu mewah dan serba wah itu, mungkin tidak banyak sumber-sumber alam yang dirusak. Alam pun akan asri dan lestari, hidup tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia pun akan seimbang, tidak saling terancam.

Meru dengan tumpang-tumpang atapnya itu hendaknya dapat memberikan kita pemahaman bahwa hidup di lapisan alam tertentu jangan sampai merusak keadaan hidup di lapisan alam yang lain. Meskipun kita berbuat di Bhur Loka tetapi akibatnya dapat menembus Bhuwah Loka bahkan Swah Loka. Kalau kita berbuat tidak baik dan benar di Bhur Loka ini seperti merabas hutan, menggunakan sarana hidup yang serba mesin tetapi tidak laik operasional juga bisa menimbulkan kerusakan di angkasa.

Mesin yang tidak laik jalan misalnya mesin yang menimbulkan gas buang yang melebihi ambang batas dapat merusak langit bahkan menimbulkan gas rumah kaca di udara. Hal ini yang akan menghalangi panas naik ke angkasa dan balik ke bumi menimbulkan pemanasan global membuat suhu bumi meningkat. Udara yang dihirup oleh manusia pun menjadi semakin kotor. Hidup manusia pun akan semakin resah. Konon larutan logam berat yang melebihi ambang batas dalam darah manusia, dapat menimbulkan gangguan mental pada manusia.

Manusia bisa lebih emosional dan meledak-ledak karena ada gangguan mental. Sedih dan gembira akan diekspresikan secara ekstrim oleh manusia yang dalam darahnya mengandung larutan logam berat melebihi ambang batas. Kalau di setiap lapisan bumi ini kita mampu tegakan Rta dan Dharma sebagai dasar berbuat maka durian inilah yang akan menuntun kita menuju alam tertinggi yaitu Satya Loka yang dilukiskan oleh tumpang meru yang teratas yang juga disebut sebagai lambang Omkara.

Dunia ini dengan semua lapisannya berdimensi ganda. Bisa membawa manusia menuju surga dan bisa juga sebagai sarana mengantarkan menuju neraka. Kalau hukum alam dan hukum manusia (Rta dan Dharma) ditegakkan di setiap lapisan bumi ini maka manusia pun dapat mencapai Satya sebagai dasar menuju surga.


Ketut Wiana




Pengenalan dan Etika Japamala





PENGENALAN DAN ETIKA JAPA MALA



JAPA = mengulang-ulang kata suci atau bertuah atau mantra. Mengulang tersebut dilakukan hanya dalam ingatan (mental) yang disebut manasika japa, dengan berbisik disebut upamsu japa, dengan bersuara yang terdengar maupun keras disebut wacika japa, dan ada juga dilakukan dengan gerakan atau tulisan/gambar.


MALA = rangkaian biji-bijian, batu, permata, mutiara, mute, merjan, spatika, atau butiran yang terbuat dari keramik, gelas, akar lalang, kayu, seperti kayu tulasi tulsi) dan cendana. Kata mala juga padanan kata tasbih dan rosary. Tasbih yang utama adalah tasbih yang terbuat dari rangkaian biji buah rudraksa.


RUDRAKSA= rudra berarti Siwa dan aksa berarti mata, sehingga arti keseluruhannya berarti mata Siwa, yang sejalan dengan mitologinya bahwa di suatu saat air mata Siwa menitik, kemudian tumbuh menjadi pohon rudraksa menyebar di Negeri Bharatawarsa dan sekitarnya, Malaysia bahkan sampai ke Bumi Nusantara, yang popular dengan nama GANITRI atau GENITRI. Dalam bahasa latinnya disebut ELAEOCARPUS GANITRUS. Ada tiga macam jenis ganitri dan 4 jenis agak berlainan yang dinamai KATULAMPA.


RUDRAKSA = adalah buah kesayangan Siwa dan dianggap tinggi kesuciannya. Oleh karena itu rudraksa dipercaya dapat membersihkan dosa dengan melihatnya, bersentuhan, maupun dengan memakainya sebagai sarana japa (Siva Purana). Sebagai sarana japa atau dapat dipakai oleh seluruh lapisan umat atau oleh ke-empat warna umat, maupun oleh pria atau wanita tua ataupun muda.


Selain pengaruh spiritual/religius tersebut, kepada pemakai rudraksa juga dapat memberikan efek biomedis dan bio-elektomagnetis (energi), secara umum dapat dikatakan dapat memberi efek kesehatan, kesegaran maupun kebugaran. Hal ini terungkap dari buku tentang penyhelidikan secara mendalam terhadap keistimewaan rudraksa tersebut di India.


Untuk mendapat daya-guna sampai maksimal, tentu harus memenuhi etika dan syarat, apalagi untuk memperoleh manfaat-manfaat khusus, berkenaan dengan sifat-sifat tertentu yang dimiliki rudraksa sesuai dengan bentuk, rupa serta jumlah mukhi (juringan)-nya. Secara umum dapat disebutkan bahwa rudraksa harus tidak dipakai/dibawa ke WC, melayat, turut kepemakaman/crematorium, dan tidak dalam keadaan cuntaka (sebel), maupun sebel pada diri wanita. Sebelum dimanfaatkan sebaiknya tasbih genitri itu dipersembahkan di pura, kemudian dimohonkan keampuhannya denagan diperciki tirtha, yang berarti pemakaiannya melalui prosedur ritual. Hal itu ditempuh karena ber-japa dengan tasbih genitri bukan sekedar untuk menghitung-hitung, memakai rangkaian japa-mala rudraksa juga bukan sekedar asesori atau sebagai atribut status quo. Dengan ritual itu ingin dicapai kemantapan bathin yang berdimensi magis, dan memperlakukan japa-mala-rudraksa itu sebagai sarana sakral, di samping untuk kesehatan.


Yang dimaksud dengan etika berjapa, adalah termasuk hal-hal yang akan disebutkan berikut ini. Selama berjapa jagalah jangan sampai bagian bawah tangkainya terkulai begitu saja, apalagi sampai menyentuh tanah. Untuk itu perlu tangan kanan yang meniti butir genitri terangkat setinggi ulu hati dan bagian yang terjuntai ditadah dengan telapak tangan kiri. Ada juga dianjurkan, agar selama berjapa rangkaian rudraksa itu diperlakukan tertutup, bahkan diperlakukan dalam kantung khusus.


Melakukan japa dengan tasbih genitri sebaiknya dengan sikap bathin yang tenang, serta terpusatkan pada tujuan mantra, selagi ibu jari tangan kanan menggerakkan mala dibantu jari tengah dan satu persatu biji rudraksa itu akan melangkahi bagian ujung jari manis.



Jari telunjung maupun jari kelingking tidak diberikan tugas dan tidak menyentuh biji rudraksa.



Mala yang terdiri dari 108 biji rudraksa diuntai dengan benang katun/kapas, memiliki puncak yang diberi nama MERU . Rangkaian Japamala rudraksa ada juga diuntai dengan kawat, bahkan deberi berbagai variasi seperti emas, perak, tembaga, manik-manik yang berwarna-warni sesuai dengan “warna” pemakainya.



Melakukan japa mulai dari mala pertama di bawah Meru............. dan terus berakhir pada mala yang ke 108(terakhir). Kalau hendak melanjutkan lagi, maka mala yang terakhir tadi dianggap yang pertama digerakkan kembali (balik) arah, pantang melewati/menyebrangi Meru. Demikianlah berulang-ulang bolak-balik sampai mencapai jumlah yang dikehendaki.



MANTRA UNTUK BERJAPA



Kebiasaan berjapa dengan mala atau tasbih bagi umat Hindu di Indonesia nyaris tak dikenal, kecuali dikenal hanya dikalangan sulinggih yang memakainya sebagai pelengkap atribut dalam berpuja. Bahkan dikalangan beberapa generasi Hindu. Jika melihat umat agama lain sedang berjapa dengan mala/tasbih, tidak merasakan bahwa berjapa itu merupakan tradisi miliknya juga. Barulah pada penghujung abad XX ini, umat Hindu Indonesia melebarkan cakrawalanya terutama ke pusat kelahiran agama Hindu, dapat memungut kembali butir-butir Japa-mala yang sudah lama tercecer untuk dimanfaatkan kembali. Tidaklah berlebihan disebutkan di sini, bahwa kini sudah saatnya umat Hindu mengambil manfaat ber-japa dengan mala terutama yang terbuat dari rudraksa atau genitri.


MANTRA adalah kata suci atau bertuah yang dapat memberi pengaruh atau getaran yang bersifat magis, apabila disebutkan maupun dijapakan, baik secara ingatan (mansika), berbisik (upamsu), maupun dengan ucapan (wacika). Kata ataupun kata-kata bertuah itu antara lain:



BIJA AKSARA = Yang disebut juga BIJA MANTRA, adalah huruf,atau suku kata, ataupun unsur suku kata itu sendiri yang tak terpisahkan dari tuahnya yang bergetar abadi



NAMA-NAMA TUHAN= Bukan Tuhannya yang banyak. Tuhan hanya satu, tiada duan-Nya, Melainkan Brahman para cendekia yang bijaksana menyebut dengan berbagai nama.



PUJA TAWA = yang juga memiliki “nilai” mantra.



MANTRA-MANTRA:


Dengan memperbandingkan Bija aksara yang kita sudah dikenal dari dulu di Indoenesia dengan Bija mantra yang tersebut dalam buku-buku terbitan India boleh jadi Bija aksara itu juga bisa dipakai untuk mantra-mantra dalam ber-japa- mala.Yang jelas adalah Pranawa OM, Ongkara itu sendiri sebagai Udgita, disamping yang lain-lain seperti: dwi aksara/rwa bhineda, tri aksara, panca aksara, dasa aksara, dasa aksara-bayu dan bija aksara lain yang menjadi pegangan para Husadawan. Ketidak tegasan ini tentu akibat dari pada “tidak” atau “belum” terbiasanya umat Hindu di Indonesia ber-japa-mala.



Tanpa bermaksud meremehkan diri, baiklah kita kutipkan beberapa mantra dari buku-buku terbitan India.



1. OM : Tuhan itu sendiri, merupakan sumber serta asal muasal yang ada, sehingga wajib kita mendekatkan diri kepadaNya, sembah sujud kepadaNYa dengan berserah diri sepenuhnya ....... dstnya.


2. KSHRAUM : bija mantra Narasimha (Narasinga) untuk mengusir, rasa takut dan cemas.


3. AIM (ENG) : bija mantra Saraswati, sebagai perkenan/restu bagi remaja putra-putri agar pandai dalam berbagai cabang pelajaran.


4. SHRI(SRI):bija mantra Dewi Laksmi (Laksmi), yang di Indonesia dikenal dengan nama Dewi Sri Mantra ini di-japa-kan seseorang untuk menuju kemakmuran dan kesenangan.


5. HRIM : bija mantra Bhuwana-ishwari, atau disebut juga mantra Maya.Kegunaannya diterangkan dalam Dewi Bhagwatma, bahwasanya seseorang bisa menjadi pemimpin dan mendapatkan seluruh yang diinginkan.


6. KLIM : bija mantra Raja Kama atau Dewa Kama untuk pemenuhan kemauan seseorang.


7. KRIM :Bija mantra Dewi Kali atau Durga untuk menghancurkan musuh dan memberikan kebahagiaan.


8. DUM : Bija mantra Durga, marupakan ibunya cosmos untuk mendapatkan perlindungan dari padaNya, serta memberikan apa saja yang diinginkan manusia.


9. GAM, GLAUM/GAM GLAUM : Bija mantra Ganesha untuk menyingkirkan rintangan serta mengembangkan sukses. Ga berarti Ganesha, La berarti sesuatu yang dapat meresap dan Au berarti cerdas atau daya pikir yang cemerlang.


10.LAM : Bija mantra Pertiwi (Pritvi), sebagai pertolongan yang menjamin hasil panen baik.


11.YAM : Bija mantra Bayu (Vayu), untuk mejamin hujan.



Masih banyak lagi bija mantra yang lain, terutama yang bersifat khusus, namun yang disajikan di atas sudah memadai, apalagi ditambah nama-nama Tuhan beserta ista dewata, awatara, maupun puja stawa, antara lain:



OM SRI MAHA GANAPATAYE NAMAH; OM NAMAH SIWAYA; OM NAMO NARAYANAYA; HARI OM; HARI OM TAT SAT; OM SRI HANUMAN NAMAH; OM SRI SARASWATYE NAMAH (OM SRI SARASWATYAI NAMAH) ; OM SRI DURGAYAI NAMAH; OM SRI LAKSHMYAI NAMAH; OM SO HAM; OM AHAM BRAHMANASMI; OM TAT TWAM ASI; OM HARE RAMA HARE RAMA RAMA RAMA HARE HARE; HARE KRISHNA HARE KRISHNA KRISHNA KRISHNA HARE HARE; OM SRI RAMA; JAYA RAMA; JAYA JAYA RAMA.



Puja Gayatri atau Sawitri juga dapat di-japa-kan dengan sangat populer dan mahautama. Demikian juga Mahamertyunjaya.



MANTRA MAHA-MRITYUNJAYA


OM TRYAMBAKAM YAJAMAHE SUGANDHIM PUSHTIVARDHANAM;URVAARUKAMIVA BANDHANAAN MRITYORMUKSHEEYA MAAMRITAAT.



Penjelasan:


Mantra Maha-Mertyunjaya (Mrityunjaya) adalah mantra untuk pang-hurip-an (anuggrah jiwa-kehidupan). Pada saat-saat kehidupan sangat komplek dewasa ini, kecelakaan karena gigitan ular, sambar petir, kecelakaan kendaraan ber-motor/sepeda, kebakaran, kecelakaan di air dan udara dan lain-lainnya.



Disamping itu, mantra tersebut mempunyai daya perlindungan yang besar, penyakit-penyakit yang dinyatakan tak tertangani secara medis (dokter), dapat diobati dengan mantra ini, apabila mantra di-uncar-kan (disebutkan secara manasika, upamsu maupun vacika) dengan sungguh-sungguh, jujur dan taat. Mantra tersebut merupakan senjata melawan penyakit-penyakit serta menaklukan kematian.



Mantra Mrityunjaya adalah juga mantra- moksha, mantra-Nya Siwa. Selain memberi berkah mohksha, mantra itu juga memberi berkah kesehatan (Arogya), panjang umur (Dirgha Yusa), kedamaian (shanty), kekayaan (Aiswarya), kemakmuran (Pushti), dan memuaskan (Tushti)



Pada saat ulang tahun mantra ini di-japa-kan sebanyak 100 ribu kali atau paling tidak 50.000 kali, haturkan makanan kepada orang-orang miskin dan orang sakit, akan mendapat berkah seperti tersebut di atas.




sumber: mailing list HDnet (IMW Yasa)

Panca Korsika






Beberapa sebutan lain manifestasi Sang Hyang Widhi di penjuru mata angin adalah Panca Korsika, yaitu :


1. Sang Hyang Korsika di Timur


2. Sang Hyang Garga di Selatan


3. Sang Hyang Mentri di Barat


4. Sang Hyang Kurusya di Utara


5. Sang Hyang Prutanjala di Tengah

Asta Dewata




Asta Dewata adalah delapan manifestasi sifat Hyang Widhi sebagai penguasa yaitu :



1. Indra menguasai Hujan



2. Baruna menguasai Lautan



3. Yama menguasai Arwah Manusia



4. Kuwera menguasai Kekayaan Alam



5. Bayu menguasai Angin



6. Agni menguasai Api



7. Surya menguasai Matahari



8. Candra menguasai Bulan

Dasa Indriya




Sepuluh macam hawa nafsu, yaitu:



Srotendriya = Ingin mendengar segala macam suara dengan telinga



Twikindriya = Keinginan meraba segala benda, padat, cair, gas dan lain sebagainya.



Jihwendriya = Keinginan mengecap segala macam rasa



Granendriya = Keinginan mencium segala bau-bauan dengan hidung.



Caksundriya = Keinginan melihat dengan mata segala keindahan



Wakindriya = Keinginan berkata-kata dengan bibir, makan dan minum



Panindriya = Keinginan memegang, mengambil dan menarik dengan tangan



Payundriya = Keinginan buang kotoran, kentut dengan dubur



Padendriya = Keinginan bergerak denan kaki, berjalan.



Pastendriya = Keinginan kenikmatan dengan alat kelamin, bersenggama

Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu



Asta Dasa Berata Pramiteng Prabu

Delapan belas kekuasaan/kewenangan seorang Raja/Pemimpin. (petuah Sang Rama kepada Adiknya / Menurut theori Patih Gajah Mada).



1. Wijaya; bersikap tenang dan bijaksana.Pemimpin hendaknya tenang, sabar dan bijaksana, tidak cepat panic menghadapi persoalan;



2. Matri Wira; berani membela yang benar. Pemimpin harus berani mebela kebenaran secara universal.



3. Matangguan; harus mendapat kepercayaan rakyat. Pemimpin harus mendapat kepercayaan rakyat, karenanya ia harus bertindak atas landasan Tri Kaya Parisudha.



4. Satya bhakti a prabhu; taat kepada pemimpin/pemerintah. Pemimpin harus taat kepada atasan. Artinya untuk siap diangkat sebagai pemimpin dan siap bertindak kalau dipimpin.



5. Wagmi wak; pandai bericara dan meyakinkan pendengar. Maksudnya. Pemimpin harus bisa beragetasi untuk membangunkan semangat rakyat dalam menunaikan tugas baktinya kepada Nusa dan Bangsa.



6. Wicak Saneng Naya; cerdik menggunakan pikiran. Pemimpin harus cerdik mengemukakan buah pikirannya.



7. Sarjawa Upasama ; selalu bersikap rendah hati. Bersifat rendah diri/hati. Jadi pemimpin tidak patut merasa diri super dan sombong.



8. Dirotsaha; rajin dan tekun bekerja. Rajin dan tekun dengan segala daya, karsa dan ciptanya sebagai Asewaksa Jagat (Abdi Masyarakat).



9. Tan Satresna; jangan terikat/mengikatkan diri pada satu golongan atau persoalan. Tidak mengikat diri atau tidak memihak kepada salah satu golongan atau aliran.



10. Masihi Samasta Buwana; bersikap kasih sayang kepada semuanya. Menyayangi isi alam semesta. Maksudnya, mempunyai rasa peri-kemanusiaan yang tebal.



11. Sih Semesta buwana; dikasihi oleh semuanya; Pemimpin harus berusaha agar betul-betul dicintai oleh rakyat.



12. Negara Gineng Pratidnya; selalu mengabdi dan mendahulukan kepentingan negara. Selalu mengutamakan kepentingan Negara dari pada kepentingan pribadi maupun keluarga atau golongan.



13. Dibyacita; toleran terhadap pendirian orang lain. Toleran terhadap pendirian orang lain dengan lapang dada dan pandangan luas.



14. Sumantri; tegas dan jujur. Pemimpin hendaknya tegas dan jujur sehingga tegaknya wibawa dan simpatik.



15. Nayakemeseh; selalu dapat menguasai musuh. Seorang Pemimpin, hendaknya dapat menguasai musuh, baik yang ada di luar maupun dalam Negeri, lebih-lebih musuh dalam diri sendiri.



16. Ambeg Paramartha; pandai mendahulukan hal-hal yang lebih penting. Pemimpin hendaknya bijaksana mengutamakan yang lebih penting.



17. Waspada Pubha Wisesa; waspada selalu/introspeksi diri. Pemimpin hendaknya selalu mengadakan selfkoreksi, introspeksi dan retrospeksi secara objektip.



18. Prasaja; hiduplah sederhana. Seorang pemimpin senang hidup sederhana

Dasa Mala




Sepuluh macam cacat / cela, yaitu:



Tandri = Orang yang malas, lemah, suka makan dan minum, enggan kerja, doyan melakukan kejahatan.



Kleda = Suka menunda-nunda pikiran buntu dan tak mengerti maksud orang lain.



Leja = Pikiran selalu diliputi kegelapan, Nafsu besar, ingin segala dan gembira jika melakukan kejahatan.



Kutila = Suka menyakiti orang lain, pemabuk dan penipu



Kuhaka = Pemarah dan selalu ingin mencari kesalahan orang lain, berkata tak menentu dan keras kepala



Metraya = Nyapa kadi aku, suka mengganggu dan melarikan isteri orang



Megata = Kata-katanya manis dan merendah, tetapi dibalik itu tingkah lakunya kejam dan jahat.



Ragastri = Suka memperkosa perempuan baik-baik dan memandang mereka dengan nafsu



Bhaksa Bhuana = Suka membuat orang lain agar hidupnya melarat. Suka menipu orang jujur, hidup berfoya-foya.



Kimburu = Orang yang suka menipu kepunyaan orang jujur, tak pandang kawan saudara atau keluarga.

Dasa Yama Brata




Sepuluh macam pengendalian hawa nafsu yaitu:



Anresangsia = Tidak mementingkan diri sendiri



Ksama = Suka mengampuni kesalahan orang lain



Satya = Kejujuran



Ahimsa = Kasih sayang terhadap sesama makhluk



Dama = Kesabaran / dapat menasihati diri sendiri



Priti = Kasih sayang yang mendalam



Ajarwa = Kejujuran



Prasada = Memiliki hati suci



Madurya = Tutur katanya manis dan sopan santun



Mardawa = Kelembutan hati atau orang yang tidak tinggi hati

Dasa Niyama Brata




Sepuluh macam pengekangan diri yang merupakan disiplin latihan moral yang ke dua sesudah Yama Berata, yaitu:

Dana = Ikhlas berkorban / beramal

Ijwa = Pemujaan terhadap Ida Sang Hyang Widhi

Tapa = Tahan uji

Dhyana = Menghubungkan diri terhadap Ida Sang Hyang Widhi

Upasthaningraha = Menahan nafsu hubungan kelamin (khrtaning upaska)

Upawasa = Membatasi diri dalam hal makan dan minum (kahrtaning pangan kinum)

Mona = Menahan kata-kata, hati-hati dalam berbicara

Snana = Membersihkan hati dengan jalan bersembahyang dan berdoa

Swadhyaya = Belajar sendiri dengan tekun mengenai ilmu kesucian

Berata = Taat akan sumpah / setia janji

10 Udara di Angga Sarira





Sepuluh macam udara dalam badan manusia, yaitu:

Prana = Udara pada paru-paru

Samana= Udara pada pencernaan

Apana = Udara pada pantat

Udana = Udara pada kerongkongan

Byana = Udara yang menyebar ke seluruh tubuh

Naga = Udara pada perut yang keluar pada saat perut mengempis

Kurmara = Udara yang keluar dari badan oleh tangan dan jari

Krkara = Udara pada saat bersin

Dewadatta = Udara saat menguap

Dananjaya = Udara yang memberi makan pada badan

KEAGUNGAN PANCA BRAHMA MISTERI DIBALIK 5 AKSARA SUCI SANGHYANG SIWA



Konfigurasi aksara Panca Brahma, tersusun sebagai berikut: ANG – TANG- SANG- BANG- ING, menggambarkan proses involusi ciptan atau peleburan (penyerapan kembali, pralina). ANG yang mewakili ketegori Panca Mahabhuta, Dasendriya dan Manah tercipta dari Panca Tanmatra, Ahamkara dan Buddhi (Wijaksaranya TANG) dan tiga yang belakang ini dihasilkan oleh prinsip awyakta (wijaksaranya SANG). Awyakta kembali pada purusa (BANG) dan Purusa menyatu dengan Maha Brahma (Rudra Tattwa) wijaksaranya ING.
Formula praline ini juga telah diringkas dalam istilah SIDDHANTA itu sendiri, SIDDHANTA = Sa-kara-, I-kara, Da-kara adalah simbol Triloka (bhur, bhuvah, svah) diwakili oleh wijaksara ANG. Dha-kara adalah Mahaloka (TANG), A-kara adalah Hanaloka (SANG), Na-kara adalah Tapoloka (BANG) dan TA-kara adalah Satyaloka (ING) (baca: Dasa Aksara)
Jadi ajaran Saiwa Siddhanta mengingatkan pengikutnya bahwa semua ciptaan berasal dari Tuhan (Parama Siwa). Rumus A-TA-SA-BA-A-I juga menunjukkan jalan untuk kembali pulang menuntun para sadhaka guna pencapaian Siwatwa (realisasi diri, moksa), sebagai tujuan akhir cita-cita spiritual tertinggi Agama Veda (umat Hindu). Pencapaian tujun akhir melalui proses involusi Rudra Tattwa seperti yang terpapar diatas itu, dengan sangat indahnya dilukiskan dalam mantra suci panca parama artha dibawah ini:
Agni madhyetu rawiccaiwa, Rawi madhyetu candrama
Candra madhye bhawet sukla, Sukla madhye sthito Siwa
Ditengah tenagh api itu ada matahari
Ditengah matahari ada bulan
Ditengah bulan ada kesucian
Ditengah kesucian inilah Siwa berada
Api yang dimaksud dalam manra diatas mewakili pikiran (+indriya dan elemen alam) wijaksaranya ANG. Matahari dikaitkan dengan Buddhu (+ahamkara dan Panca Tanmatra) yakni TANG. Bulan dihubungkan dengan prinsip awyakta (SANG). Kesucian menunjukkan prinsip atma purusa (BANG) dan sebagai inti purusa adalah Siwa Maha Brahma (ING).(6). Sebaliknya proses evolusi ciptaan (parinama, prasara) dimuali dari Rudra Tattwa, dimana hakekat Ketuhanan dkenal dengan nama Maha Brahma (Maha Purusa) yang diwakili wijaksara ING ——BANG (Purusa atau atma)—-SANG (Awyakta)——TANG (Buddhi-aahamkara-TAnmatra) ——ANG(Manah-indriya-Panca Maha Bhuta)
Jika diringkas formula itu berbunyi:
ING-BANG-SANG-TANG-ANG, untuk utpatti (evolusi atau parinama)
ANG-TANG-SANG-BANG-ING, untuk praline (involusi atau penyerapan)
Sedangkan formula sthiti (operasi kehidupan) rumusannya adalah SANG-BANG_TANG ANG-ING, dengan interpretasi makna sebagai berikut: SANG adalah wijaksara dari prinsip awyakta yang merupakan asas materi:asal muasal segala ciptaan. SANG mendapat “sentuhan” Purusa (BANG), terciptalah Buddhi, Ahamkara, dan Tanmatra (TANG).
Dari tiga kategori terakhir ini kemudian tercipta pikiran atau manah, indriya dan akhirnya Panca Mahabhuta (ANG). Semua ciptaan ini bersumber dari Maha Brahma (Rudra Tattwa);inilah kesimpulan yang terkandung dlam wijaksara ING
Wijaksara BANG untuk mengingat prinsip atma sebagai purusa, diperingati melalui pemujaan di Pura Andakasa,Sanghyang Tat Purusa (atau Bhatara Mahadewa) dimuliakan di Pura Batukaru (Barat). Nada simbolis ANG untuk Sanghyang Agora atau Bhatara Wisnu disthanakan dibagian utara yakni di pura Batur; sebagai rasa syukur atas perwujudan aghora tattwa (pikiran, indriya dan pancabhuta) Akhirnya wijaksara ING untuk Sang Hyang Isana (salah satu aspek Tri Purusa; Sadasiwa) ditempatkan di tengah pura pusat Besakih. Dari pusat inilah Maha Brahma atau Sadasiwa akan membentuk gambaran kemahakuasaan melalui konsep astadala (8 arah=singasana teratai 8 dewata) plus Sadasiwa (ditengah) menjadi Dewata Nawa Sanga. Selanjutnya jika arah bawah dan atas (ardah dan urdah) dikaitkan dengan Siwatattwa (Tri Purusa, Siwa SAdasiwa dan Paramasiwa) akan menjadi EKA DASA RUDRA kekuasaan Tuhan yang Tidak terbatas meresapi segala ciptaan memenuhi 11 arah.Itulah Padmasana. Konsep singasana teratai Tuhan di bumi;penjabaran ajaran saiwa Siddhanta yang sangat luhur.
Posisi arah dimana aksara Panca Brahma ditempatkan, sesuai dengan ajaran Sang Hyang Siwa Basma (Wejangan Siwa tentang Basma) yang menyatakan “Panca bhagancirah kuryyat, panca matram udaharet, purwwa SA daksina Basyat, pascima TA nyaset wudhah, Uttarya Aghorakam sthanam, murddhim Isanam evaca”. Jadi SA (purwa), BA(daksina), TA (pascima), A (uttara) dan I (murdha, tengah menghadap atas).
Sedangkan dewata yang diwakili oleh aksara-aksara tersebut kemudian dipuja sesuai dengan matra (arah) yang telah ditetapkan . “Purwwasyadh Iswara Wndhyat, Brahma daksina gomukam, pascime tu Mahadewa, uttarae wesnawam mukam, murddhim Isanam evaca”
Kelima nama ini: Iswara, Brahma Mahadewa, Wisnu dan Sadasiwa (Isana) disebut Dewata Panca Brahma atau sering disingkat Panca Brahma atau Panca Dewata.
Nama-nama yang menjadi kapanjangan dari aksara SA-Ba-TA-A-I, yakni Sadyojata, BAmadewa, TAtpurusa, Aghora, dan Isana, pada awalnya lebih dikenal sebagai Panca Waktra atau Pancanana yang merupakan lima muka dari perwujudan Sadasiwa Murti. Menurut Siwa Purana, panca waktra atau pancanana tersebut dikaitkan dengan panca krtya (lima kegiatan Tuhan/ Sada Siwa) yakni srsti, sthiti, samhara, tirobhawa dan anugraha
Sumber:
DRS.KADEK YUDHIANTARA,MAP
GURU BESAR PADEPOKAN MARUTI SUTA BALI
PENULIS PEMERHATI MASALAH MASALAH SUPRANATURAL SPIRITUAL
PENDIRI BALI YOGA CENTER

Daksina




DAKSINA

Terdiri atas:

o serembeng, simbol arda candra


o kelapa dengan sambuk maperucut, simbol brahma dan nada


o bedogan, simbol swastika


o kojong pesel-peselan, simbol ardanareswari


o kojong gegantusan, simbul akasa/ pertiwi


o telur bebek simbol windu dan satyam


o tampelan, simbol trimurti


o irisan pisang, simbol dharma


o irisan tebu, simbol smara-ratih


o benang putih, simbol siwa


Dengan demikian maka daksina (baik daksina alit, pekala-kalaan dan krepa) adalah simbol Sanghyang Widhi, stana Sanghyang Widhi, sarana inti yadnya, persembahan terima kasih, dan pesaksi.

PEJATI

Adalah gabungan dari: daksina, tegteg, peras, ajuman.

o tegteg, simbol kelanggengan/ kestabilan


o peras, simbol kebulatan tekad dan bukti persembahan


o ajuman, simbol persembahan/ bhakti


SESANTUN


Adalah sesayut pengambian terdiri dari:


o pengambian, simbol permohonan kehadiran ista dewata

o dapetan, simbol anugrah Sanghyang Widhi

o peras, simbol kebulatan tekad dan bukti persembahan

o sodaan (lebih banyak jenis rerasmenannya daripada ajuman), simbol persembahan/ Bhakti