Om Swastiastu Om

.

Otonan, Kawitan, Sulinggih, Potong Gigi & Tirta Yatra


Tanya:

Om Swastyastu,

Apakah setiap umat hindu di Bali melakukan otonan,di desa saya kalau seorang wanita sudah menikah tidak lagi melakukan otonan apkah itu dibenarkan?

Di masyarakat banyak yang saya lihat kalau seorang sudah menjadi pemangku kelihatannya tua padahal umurnya masih muda apa yang menyebabkan itu?

Tanah Bali adalah tanah yang sacral bila kita membangun rumah pada bekasa sawah kita harus melakukan upacara nyapuh pundukan bila tidak dilakukan akan bisa mendatangkan bencana,bagaimana denagan yang non hindu?

Kenapa umat hindu di Bali mempunyai kawitan sedangkan umat hindu di luar Bali tidak mempunyai kawitan,menurut sejarah leluhur orang bali adalah satu kenapa ada banyak kawitan?

Seorang sulinggih merupakan teladan bagi umatnya dan sudah melepaskan kemelekatan pada kenikmatan dunuawi,di masyarakat banyak yang saya lihat seorang sulinggih memakai cincin emas bahkan ada seorang sulinggih memakai cincin emas di semua jari beliau apa makna cincin tersebut?dan juga ada sulinggih yang merokok bagaimana menurut pedanda tentang itu?Maaf bila saya bertanya seperti itu.

Tujuan dari potong gigi atau metatah adalah menghilangkan SadRipu didalam dirinya kenapa orang yang sudah potong gigi sifatnya sama sebelum potong gigi bahkan ada yang lebih jelek?

Kalau kita metirtha berapa kali seharusnya yang benar?.

Om Shanti Shanti Shanti Om


Jawab (Ida Pedanda Made Gunung)

Om swastyastu,

Mengenai otonan, pedanda mengambil sumber dari lontar Dharma Kahuripan dan Jatma Prawerthi yang mana Ida Bhatara Siwa menganugerahkan kepada Bhatara Surya untuk menerima persembahan upacara dari manusia setiap ada perubahan status. Otonan dalam kalender bali adalah peringatan perubahan status umur. Walaupun pelaksanaannya dalam skala yang sangat kecil, namun dalam lontar disebutkan selama hidupnya manusia tidak boleh tidak membuat oton.

Menurut pedanda, seseorang yang menjadi pemangku kelihatan lebih tua dari umurnya bisa disebabkan karena faktor tanggung jawab. Seseorang yang menjadi pemangku adalah orang yang sudah mempunya kedudukan sosial di masyarakat yang sudah bisa dianggap panutan. Maka dari itu seseorang pemangku dituntut untuk bersikap yang baik dan dewasa. Tentu akan sangat aneh jika ada pemangku yang masih bersifat kekanak – kanakan serta emosian.

Untuk menjawab pertanyaan cening, maka pedanda akan menceritakan tentang sejarah pulau Bali terlebig dahulu. Pulau Bali sebelum dibangun menjadi pulau Bali dulunya bernama Gili Manuk yang dikarenakan bentuk pulau ini seperti ayam. Karena pulau itu dihuni oleh orang – orang suci, maka pulau ini disebut pulau Bali yang mana Bali berarti suci. Kemudian pulau bali dibangun dengan konsep Weda yang mana salah satu unsur ajaranya adalah memanusian alam dan lingkungan. Yang dimaksud memanusiakan adalah bagaimana kita menghormati, menghargai dan merawat alam tak ubahnya seperti memperlakukan seorang manusia. Dalam konsep Hindu, jika alam sudah terjaga dengan baik, maka pulau Bali beserta isinya akan terjaga pula, karena itulam pulau Bali secara spiritual dijuluki Bawa Maurip yang artinya hidup dan bersinar. Karena itu seluruh tempat di Bali ada parahyanganya. Sawah parahyanganya Ulun Carik, tegalan parahyanganya Alas Arum dan perumahan parahyanganya Kahyangan Tiga. Dalam konsep memanusiakan, maka parahyang tadi adalah bagian ulunya. Menurut pedanda, apa yang digembar gemborkan sebagai bahaya global warming sekarang ini sebenarnya sudah dipikirkan oleh para leluhur kita. Beliau sudah mengetahui akan efek yang terjadi jika alam sudah kita rusak, maka dari itu ada rerainan tumpek wariga yang pesan morilnya agar kita selalu ingat untuk menjada alam dan lingkungan. Itu hanya salah satu contoh dari ribuan konsep adiluhung dari para leluhur kita. Mengenai orang luar bali yang tidak melaksanakan konsep tersebut tentu bagi mereka efeknya tidak dirasakan karena mereka berbeda keyakinan dan tidak memahami dan menghayati maksud adiluhung dalam konsep tersebut, walaupun mereka juga akan kena akibatnya. Seharusnya kitalah yang menjaga pulau kita ini, karena jika alam sudah murka maka kitalah yang akan jadi korban yang paling parah, ini karena kesalahan kita yang tidak mampu menjaga tanah yang suci ini yang dikarenakan keserakahan kita akan kekayaan duniawi sehingga banyak orang Bali yang menjual tanah hanya dengan tujuan menjadi kaya dengan mudah. Merupakan tugas dan tanggung jwab kita bersama, baik itu masyarakat, pemuka agama dan pemerintah untuk menjaga tanah bali ini sebagai warisan yang suci.

Kawitan itu berasal dari bahasa sansekerta yaitu Wit yang artinya asal mula. Asal mula manusia adalah Tuhan, maka sesungguhnya setiap orang punya kawitan. Di luar Bali kawitan itu ada tetapi tidak secara visual dalam bentuk merajan. Konsep merajan kawitan ada mulai abad ke 11 yang ditepkan oleh Ida Mpu Kuturan di Bali sebagai benteng, karena bercermin dari pengalaman sejarah runtuhnya kerajaan Hindu di Jawa. Di jawa kawitan tidak sedetail di bali, yang ada adalah dalam bentuk candi pemujaan kerajaan leluhur dan sebagainya yang lebih bersifat umum, yang ikatanya tidak sekuat konsep kawitan di Bali. Mengenai adanya banyak kawitan, ini bersumber dari kondisi sosial dan kedudukan leluhur kita di masyarakat pada jaman dahulu. Jika misalnya leluhur kita dahulu pernah menjadi raja, maka keturunannya akan memakai nama kawitan tersebut. Begitu pula jika seandainya leluhur kita dulu menjadi wiku, maka keturunannya akan memakai mana kawitan tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan kita, bahwa sesungguhnya kita punya kawitan para leluhur yang luar biasa, yang sakti, bijaksana, dharma dan berwibawa. Dengan mengingat kawitan maka seolah kita ditantang, apakah dengan sikap dan perilaku kita seperti sekarang ini kita layak menyandang nama kawitan sebagai keturunan beliau? Kawitan adalah pengingat wit atau asal.

Tentang cincin yang dipakai oleh seorang wiku, maka menurut pandangan pedanda ini bersumber dari Ithiasa yaitu cerita Ramayanana, yaitu bagaimana Sang Anoman yang tidak dipercaya oleh Dewi Sita sebagai utusan Sang Rama sampai akhirnya Sang Rama memberikan cincin beliau kepada Sang Anoman sebagai tanda bahwa dia adalah utusan Sang Rama. Cincin yang dipakai sulinggih juga bersungsi sebagai simbolis bahwa beliau adalah utusan, yang memposisikan diri sebagai sang wiku dan utusan Siwa. Itulah sebenarnya pentingnya fungsi cincin bagi sang sulinggih. Mengenai penggunaan cincin yang berlebihan sudah barang tentu kurang baik. Seorang sulinggih adalah seseorang yang sudah lahir kembali sebagai orang suci yang terlepas dari ikatan duniawi. Jika motivasi seorang sulinggih memamakai cicncin yang banyak untuk kebanggan semata, maka ini sudah barang tentu tidak baik. Mengenai sulinggih yang merokok, sebenarnya ini sudah sering pedanda sampaikan bahwa itu masuk kepada pelanggaran akan aturan kesulinggihan. Merokok adalah sifat keterikatan duniawi, maka seorang sulinggih seharusnya sudah mampu melepas ikatan duniawi karena tugas seorang sulinggih sangatlah berat yang memerlukan kesucian dan keiklasan bathin yang tinggi. Pedanda sendiri tidak merokok karena itu pedanda lakukan sebagai salah satu wujud bhakti pedanda kepada Tuhan. Karena jantung, paru – paru dan organ tubuh adalah semuanya karunia tuhan. Kalau kita bhakti kepada tuhan namun tidak mencintai dan menghormati karunia tuhan, maka itu sama saja dengan tidak bhakti.

Potong gigi sebenarnya bermakna sebuah titik tolak bagi mereka yang sudah melaksanakanya agar mulai melakukan pengendalian diri akan sifat – sifat sadripu tersebut. Metatah didaklah menghilangkan sifat sad ripu secara otomatis, namun sesunggunya ini bermakna sebagai sebuah penyadaran, sebuah titik tolak bahwa kita sudah mulai memasuki kehidupan yang suci. Sebenarnya pemahaman sperti inilah yang perlu di tingkatkan, agar jangan sampai kita melakukan upacara, menghabiskan biaya tapi tidak tau maknanya, sehingga tujuan dari upacara untuk meningkatkan kualitas kehidupan sudah barangtentu tidak tercapai.

Mengenai Tirta Yatra, Pedanda ingin terlebih dahulu meluruskan maknanya. Tirta yatra berarti pergi ke tempat yang jauh, menuntut Dharma dan tidak kembali lagi ke rumah, inilah sebenarnya yang disebut Tirta Yatra. Sedangkan mengenai Tirta Yatra yang sering dilaksanakan oleh umat, sebenarnya lebih tepat disebut Tirta Gemana yaitu pergi ke tempat suci lalu kembali pulang. Tirta Gemana dalam klasifikasi umum ada dua tempat, yaitu Tirta Gemana di Bhuana Agung dan Tirta Gemana di Bhuana Alit. Tidak ada ketentuan berapa kali harus melakukan Tirta Gemana, semakin sering semakin baik. Namun untuk Tirta Gemana di Bhuwana Alit atau kedalam diri sendiri hendaknya dilakukan setiap hari, karena hal ini akan mendukung Tirta Gemana yang di lakukan ke Pura – Pura di Bhuana Agung. Bagaimana Tirta Gemana ke dalam diri? Kunjungilah pura yang ada di dalah diri kita. Dalam sastra dijelaskan Bahwa Ida Bhatara Siwa berstana di Jantung, maka pertanyaannya sudah sehatkan jantung kita? Ida bhatara Brahma berstana di hati, sudah sehatkan hati kita? Ida Bhatara Wisnu berstana di paru – paru, sudah sehatkan paru – paru kita? dan Pura – pura dalam diri yang lainya. Jadi saran pedanda, semakin sering melaksanakan tirta gemana semakin baik, jika Pura di dalam diri sudah sehat maka dia akan memancarkan medan magnet untuk menarik energy di Pura yang ada di Bhuana Agung

Om Shanti Shanti Shanti Om

0 komentar:

Posting Komentar