Om Swastiastu Om

.

Ngelangkahin Karang Ulu dan Lungsuran


Tanya:

Om Swastyastu,

saya mau bertanya kepada pedanda,saya dengar di masyarakat katanya tidak boleh nak jaba menikah dengan nak dayu katanya di sebut dengan nglangkahin karang hulu,itu pertanyaan saya yang pertama dan pertanyaan saya yang kedua, teman-teman saya yang keturunan brahmana dan gusti tidak mau memakan lungsuran di merajan sedangkan minum arak sampai mabuk mereka mau itu yang saya tidak mengerti,apakah itu di benarkan ratu pedanda,saya mohon penjelasannya.Terima kasih.

Om Shanti Shanti Shanti Om


Jawab (Ida Pedanda Made Gunung)

Om swastyastu,

Pernikahan itu adalah jodoh, dan jodoh sesorang itu sudah ditentukan dan merupakan pemberian tuhan. Jika sudah merupakan jodoh maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi. Mengenai istilah "anglangkahin karang hulu" itu terjadi sebelum tahun 1961, memang sebelum tahun tersebut ada semacam istilah "asupundung ngelangkahin karang hulu" dan itu merupakan produk hukum warisan jaman kerajaan yang ada di Bali pada masa lampau. Namun hal tersebut sudah dihapuskan melalui pertemuan parisada di campuhan ubud pada tahun 1961. Jika sebuah hubungan cinta kasih dilaksanakan secara sadar dan bertanggung jawab, maka secara hukum tidak ada hal yang melarang, dan pedanda mendukung hal tersebut.

Yang kedua tentang makan lungsuran di merajan, jika dibandingkan dengan minum arak sudah pasti yang namanya mabuk itu dilarang oleh agama. Namun mengenai ngajeng lungsuran itu merupakan kepercayaan masing masing orang, dan untuk hal tersebut pedanda tidak bisa memaksakan karena itu berhubungan dengan keyakinan seseorang. Misalnya saja jika pedanda melaksanakan upacara meoton di gria, pedanda tidak berani memaksa sisya atau pengayah untuk ngajeng lungsuran karena ini kembali kepada masalah keyakinan, dan hal itu tidak boleh dipaksakan. Sesuatu yang dipaksakan umumnya berakibat kurang baik. Pada hakikatnya setipa manusia bersumber dari sumber yang sama,namun dalam perjalanan hidupnya terjadi perbedaan akibat karma masing masing. Seorang pedanda tidak diperkenankan oleh sesananing / aturan kesulinggihan untuk ngajeng lungsuran, dan itu adalah aturan karena posisi dan fungsi. Akan berbeda jika lungsuran dari pura kahyangan tiga atau pura kahyangan jagat, tentu secara aturan dan etika semua boleh ngajeng karena itu bersifat umum.

Di Bali pura di bagi dalam beberapa klasifikasi, yaitu pura umum atau pura kahyang jagat, pura dang khayangan, yaitu pura - pura yang di bangun sebagai pijakan dan landasan bagi para Maha Rsi kita yang datang ke bali, pura fungsional misalnya pura melanting untuk para pedagang, ataupun pura ulun carik untuk petani dan pura geniologi atau pura berdasarkan garis kawitan, misalnya saja pura paibon atau merajan di rumah dan ini bersifat khusus. Begitu pula dengan lungsuran dari pura - pura tersebut, ada tingkatan umum dan ada tingkatan khusus, dan ada orang yang tidak memakan lungsuran dari pura khusus orang lain karena aturan posisi dan fungsi, ada juga karena masalah keyakinan, dan itu tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, kebijaksanaan seseorang akan terlihat dari kerendahan hatinya.

Om Shanti Shanti Shanti Om

0 komentar:

Posting Komentar