Om Swastiastu Om

.

Kisah Leak 7 - Mancut Pengleakan


Kisah ini dituturkan oleh keponakan dari Pekak R sebu saja namanya Nengah W ketika Pekak R mencabut ilmu pengleakan dari seorang Ibu. Seperti kisah-kisah sebelumnya Pekak R merupakan seorang penekun spiritual yang sangat termahsyur pada jamannya yang tinggal di daerah perbatasan Klungkung Gianyar. Sedangkan Nengah W adalah keponakannya yang selalu penasaran untuk ikut serta merasakan pengalaman spiritual dari Pekak R.

Suatu hari Pekak R kedatangan seorang tamu perempuan sebut saja namanya Ibu T yang didampingi oleh suaminya. Ibu T menceritakan masalah yang dia hadapi yaitu sering bermimpi melakukan perjalanan malam dan menengok keluarga yang sakit. Masalahnya adalah sehabis ditengok maka orang yang sakit itu besoknya langsung meninggal.

Mengalami hal itu Ibu T dan suaminya penasaran apakah dirinya bisa Ngleak atau tidak mengingat terlalu sering hal itu dialaminya. Pekak R lalu bertanya apakah Ibu T memiliki jimat dan sejenisnya, Ibu T merasa bahwa dia tidak memiliki barang barang seperti itu. Setelah diterawang oleh Pekak R, maka Ibu T baru tersadar bahwa dia waktu mudanya dulu adalah seorang penari. Dan setiap mau pentas, seorang pemangku akan meniup ubun-ubunnya agar tariannya menjadi memiliki taksu. Rupanya lama kelamaan ilmu yang ditiupkan oleh pemangku tersebut mendarah daging dan menjadikan Ibu T bisa ngleak.

Pekak R kemudian menyuruh Ibu T agar datang lagi pada hari kajeng kliwon untuk lebih membuktikan hal itu. Pada kedatangan selanjutnya, dimana pas kajeng kliwon di malam hari, Ibu T disuruh untuk meludah di atas cawan. Pekak R kemudian mengambil tangkai daun sirih dan memakainya untuk mengaduk ludah tersebut. Sungguh ajaib, ludah tersebut menyala nyala kebiruan. Maka terbukti sudah Ibu T memang memiliki ilmu leak dengan tidak disadarinya.

Ibu T dan suaminya memohon agar Pekak R mau mencabut ilmu yang dimilikinya. Pekak R menyanggupinya dan menentukan hari baik, tempat serta bebantenan dan sarana yang diperlukan. Nengah W mohon agar diijinkan untuk melihat proses tersebut dimana diijinkan sama Pekak R.

Pada hari yang sudah ditentukan, di malam hari mereka menuju pesisir pantai di daerah Klungkung. Bebantenan dan sarana yang lain kemudian digelar. Ibu T disuruh duduk dan dikelilingi oleh tikar pandan agar tidak kelihatan dari luar.

Pekak R kemudian membuat garis penyengker untuk melindungi para keluarga yang ikut menyaksikan, Beliau mewanti-wanti agar jangan keluar dari garis penyengker tersebut.

Tepat tengah malam Pekak R kemudian mulai melakukan proses pencabutan ilmu leak dari Ibu T. Beliau diam konsentrasi dan melafalkan mantra-mantra, suasana mendadak sangat sunyi dan tegang hanya deburan ombak yang terdengar. Peluh menetes dari kening Pekak R saking dalamnya konsentrasi dan besarnya energi yang diperlukan untuk melakukan proses ini.

Tiba-tiba terdengar ledakan sangat sangat dahsyat, dan terlihat bola api keluar dari gulungan tikar pandan dimana Ibu T berada. Bola api tersebut kemudian terbang ke arah laut dan akhirnya pecah berpendar.

Terdengar rintihan dari Ibu T seperti menahan rasa sakit ayng amat sangat, diikuti oleh ledakan yang tidak kalah dahsyat dari yang pertama, bola api keduapun keluar dan langsung melesat menuju laut.

Para saksi yang ikut melihat menjadi sangat tegang dan merinding bulu kuduk mereka menyaksikan proses tersebut. Mereka tidak berani bergerak dan tetap berada dalam garis penyengker karena takut akan efek dari proses itu.

Setelah berkali kali terjadi ledakan dan bola api yang terlontar keluar dari tubut Ibu T, maka perlahan-lahan bole api itu habis. tapi kemudian tercium bau amis yang amat sangat seperti bau bangkai.

Pekak R kemudian memerintahkan suami dari Ibu T untuk mendekati istrinya dan membawanya mendekat ke air laut untuk dimandikan. Kondisi dari Ibu T sangat lemah tidak bisa berdiri, karena tenaganya habis. Suaminya kemudian menggendong dia ke arah laut dan segera memandikannya. Pekak R juga menyuruh suaminya ikut mandi agar "upas" dari ilmu leak tidak melekat pada dirinya.

Setelah mereka mandi, maka Pekak R langsung melukat Ibu T dan suaminya dengan air laut untuk membersihkan jasmani dan rohaninya. Sungguh ajaib karena bau amis tadi tiba-tiba hilang digantikan dengan bau harum.

Setelah prosesnya selesai merekapun kembali ke rumah, Pekak R menyarankan agar Ibu T rajin sembayang agar dikaruniai keselamatan. Semenjak itu kehidupan keluarga ibu T menjadi tenang

Moral dari cerita ini adalah, hilangkanlah hal negatif yang ada pada diri kita



0 komentar:

Posting Komentar