Om Swastiastu Om

.

Banten Mebayuh



Tanya:

Om Swastiastu...saya mau bertanya kepada pedanda yang saya hormati sebelumnya saya mohon maaf memakai bahasa indonesia. yang mau saya tanyakan ,apakah banten otonan mebayuh disetiap desa itu sama atau berbeda?apakah banten mebayuh itu banyak,karena saya agak bingung sebelumnya saudara sepupu saya ke mangku,dan banten mebayuhnya banyak sekali ,memakai banyak dulang ,dan sedangkan saya ke mangku lain ,banten otonan mebayuh saya tidak banyak! hanya memakai satu dulang saja, mohon penjelasan nya lebih lanjut biar saya tidak bingung


Jawab (Ida Pedanda Made Gunung):

Om Swastyastu, Ada banyak jenis mebayuh, ada bayuh yang bersifat regular yaitu mebayuh setiap terjadi perubahan status misalnya dari anak – anak menjadi dewasa, dari belum menikah menjadi menikah, perubahan status menjadi orang tua ataupun menjadi kakek atau nenek. Disamping itu ada jenis mebayuh yang dilaksanakan jika ada hal – hal yang bersifat marabahaya, misalnya sering sakit, kecelakaan dan sebagainya. Banten mebayuh ada banyak jenisnya, tergantung jenis bayuh dan otonan yang mebayuh. Disamping itu setiap tempat mempunyai bentuk banten yang berbeda, ini mengacu kepada konsep desa kala patra, yaitu tentang kekayaan nilai lokal atau budaya setempat. Jika ingin mengetahui jenis mebayuh yang cocok, maka pedanda sarankan agar berkonsultasi langsung dengan pedanda atupun sulinggih yang lain. Disamping itu, agar tidak membingungkan dan tidak mengurangi keyakinan akan banten mebayuh tersebut, maka saat menanyakan mengenai banten mebayuh kepada pemangku atupun sulinggih, maka umat berhak menanyakan darimana sumber sastra/ lontarnya. Jika banten mebayuh tersebut sudah sesuai dengan salah satu sastra/lontar maka itu wajib diyakini kebenaranya.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om


Sumber: Ida Pedanda Made Gunung Web's

0 komentar:

Posting Komentar