Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Kisah Leak 8 - Silur Bangbang


Silur bangbang (pengganti kuburan) merupakan rangkain ritual di Bali tatkala kuburan orang yang akan diaben dibongkar kembali untuk mengambil tulang yang yang bersangkutan. Ketika sudah selesai pekerjaan penggalian kuburan tersebut, maka di dalam kuburan dimasukkan, biasanya ayam hitam dan sesajen, sebagai penukar dari wadag (mayat) yang sudah di gali.


Ada suatu keanehan tatkala masyarakat melakukan pengabenan yaitu semua sambah yang terbuat dari tanah liat langsung akan hilang begitu ritual tersebut berakhir. Orang tua-tua bilang bahwa itu disebabkan oleh pasukan rerencangan Ida Bethara yang melakukan kerja bakti malam hari begitu upacara tersebut selesai. Nah hal itu yang akan menjadi titik tolak dari kisah yang akan diceritakan berikut ini.


Paman penulis yang bernama Nyoman M merupakan orang yang sangat lugu, pekerjaannya serabutan sebagai petani atau pemanjat pohon kelapa. Beliau sangat penasaran akan kisah tentang rerencangan Ida Bethara yang melakukan kerja bakti di malam hari begitu ritual pengabenan selesai. Oleh sebab itu waktu diadakan acara penggalian kuburan maka Nyoman M segara masuk ke kuburan sebagai silur bangbang. Dia tidak menghiraukan larangan keluarganya karena rupanya rasa penasarannya lebih besar untuk mengetahui hal sebenarnya.


Setelah semua orang pulang dari kuburan, tinggallah Nyoman M sendirian di dalam kuburan dengan hanya ditutupi tikar dan banten di atasnya. Dia sengaja membuat celah untuk dapat mengintip kejadian yang berlangsung di sekitarnya.


Suasana malam itu sangat sepi, maklum penduduk sudah pada kelelahan, hanya lolongan anjing yang terdengar di sana sini. Nyoman M dengan tekad yang bulat berkonsentrasi untuk dapat menangkap apa gerangan yang akan terjadi nanti.


Tepat tengah malam, terdengar suara-suara yang aneh seperti suara orang banyak atau pasukan yang sedang bergerak di setra (kuburan) tersebut. Suara itu makin lama makin keras ditimpali oleh lolongan anjing yang sangat menyayat hati dan suara jengkrik yang bersahutan. Nyoman M merinding sekali menghadapi situasi tersebut, namun karena tekadnya sudah bulat maka perasaan takut dikesampingkan oleh Beliau.


Tiba-tiba Nyoman M melihat gerakan-gerakan yang terjadi di setra tersebut, makin lama makin jelas terlihat mahluk-mahluk yang bentuknya aneh-aneh seperti raksasa besar hitam, ada juga yang sudah tua, anak-anak dan endihan juga terlihat di sana sini jumlahnya sangat banyak. Ada seorang pemipin mahluk tersebut yang bentuknya hitam besar sekali. Mahluk-mahluk tersebut secara kompak mengadakan kerjabakti mengambil sampah-sampah yang terbuat dari tanah liat dan membawanya ke suatu tempat. Karena keterbatasan sudut pandang, Nyoman M tidak secara jelas melihat tujuan dari mahluk-mahluk tersebut.


Kerjabakti tersebut berlangsung sangat ramai dipenuhi oleh suara-suara mahluk yang sangat aneh dan dalam waktu singkat setra tempat pengabenan tersebut menjadi bersih kembali. Dalam hatinya Nyoman M baru mempercayai perkataan orang tua-tua bahwa sehabis pengabenan akan ada kerja bakti untuk membersihkan areal setra tersebut.


Setelah setra menjadi bersih, maka tiba-tiba pemimpin mahluk tersebut menjadi beringas dan menoleh kanan kiri serta menggerakkan hidung seperti mencium sesuatu. Penglihatan mahluk tersebut akhirnya tertuju pada kuburan dimana Nyoman M telah menjadi silur bangbang.


Mahluk tersebut langsung berujar ” Matah Bonne” (bau manusia). Pas saat itu Nyoman M mengedipkan matanya, waktu dia membuka matanya tiba-tiba dia melihat setra tersebut sudah menjadi sepi sekali, tidak ada satu pun mahluk yang bisa dia lihat.


Akhirnya Nyoman M terbangun dari kuburan dan menuju ke sungai utnuk mandi sebelum menuju ke rumahnya.


Moral dari cerita ini adalah rasa penasaran bisa mengalahkan rasa takut.

Kisah Leak 7 - Mancut Pengleakan


Kisah ini dituturkan oleh keponakan dari Pekak R sebu saja namanya Nengah W ketika Pekak R mencabut ilmu pengleakan dari seorang Ibu. Seperti kisah-kisah sebelumnya Pekak R merupakan seorang penekun spiritual yang sangat termahsyur pada jamannya yang tinggal di daerah perbatasan Klungkung Gianyar. Sedangkan Nengah W adalah keponakannya yang selalu penasaran untuk ikut serta merasakan pengalaman spiritual dari Pekak R.

Suatu hari Pekak R kedatangan seorang tamu perempuan sebut saja namanya Ibu T yang didampingi oleh suaminya. Ibu T menceritakan masalah yang dia hadapi yaitu sering bermimpi melakukan perjalanan malam dan menengok keluarga yang sakit. Masalahnya adalah sehabis ditengok maka orang yang sakit itu besoknya langsung meninggal.

Mengalami hal itu Ibu T dan suaminya penasaran apakah dirinya bisa Ngleak atau tidak mengingat terlalu sering hal itu dialaminya. Pekak R lalu bertanya apakah Ibu T memiliki jimat dan sejenisnya, Ibu T merasa bahwa dia tidak memiliki barang barang seperti itu. Setelah diterawang oleh Pekak R, maka Ibu T baru tersadar bahwa dia waktu mudanya dulu adalah seorang penari. Dan setiap mau pentas, seorang pemangku akan meniup ubun-ubunnya agar tariannya menjadi memiliki taksu. Rupanya lama kelamaan ilmu yang ditiupkan oleh pemangku tersebut mendarah daging dan menjadikan Ibu T bisa ngleak.

Pekak R kemudian menyuruh Ibu T agar datang lagi pada hari kajeng kliwon untuk lebih membuktikan hal itu. Pada kedatangan selanjutnya, dimana pas kajeng kliwon di malam hari, Ibu T disuruh untuk meludah di atas cawan. Pekak R kemudian mengambil tangkai daun sirih dan memakainya untuk mengaduk ludah tersebut. Sungguh ajaib, ludah tersebut menyala nyala kebiruan. Maka terbukti sudah Ibu T memang memiliki ilmu leak dengan tidak disadarinya.

Ibu T dan suaminya memohon agar Pekak R mau mencabut ilmu yang dimilikinya. Pekak R menyanggupinya dan menentukan hari baik, tempat serta bebantenan dan sarana yang diperlukan. Nengah W mohon agar diijinkan untuk melihat proses tersebut dimana diijinkan sama Pekak R.

Pada hari yang sudah ditentukan, di malam hari mereka menuju pesisir pantai di daerah Klungkung. Bebantenan dan sarana yang lain kemudian digelar. Ibu T disuruh duduk dan dikelilingi oleh tikar pandan agar tidak kelihatan dari luar.

Pekak R kemudian membuat garis penyengker untuk melindungi para keluarga yang ikut menyaksikan, Beliau mewanti-wanti agar jangan keluar dari garis penyengker tersebut.

Tepat tengah malam Pekak R kemudian mulai melakukan proses pencabutan ilmu leak dari Ibu T. Beliau diam konsentrasi dan melafalkan mantra-mantra, suasana mendadak sangat sunyi dan tegang hanya deburan ombak yang terdengar. Peluh menetes dari kening Pekak R saking dalamnya konsentrasi dan besarnya energi yang diperlukan untuk melakukan proses ini.

Tiba-tiba terdengar ledakan sangat sangat dahsyat, dan terlihat bola api keluar dari gulungan tikar pandan dimana Ibu T berada. Bola api tersebut kemudian terbang ke arah laut dan akhirnya pecah berpendar.

Terdengar rintihan dari Ibu T seperti menahan rasa sakit ayng amat sangat, diikuti oleh ledakan yang tidak kalah dahsyat dari yang pertama, bola api keduapun keluar dan langsung melesat menuju laut.

Para saksi yang ikut melihat menjadi sangat tegang dan merinding bulu kuduk mereka menyaksikan proses tersebut. Mereka tidak berani bergerak dan tetap berada dalam garis penyengker karena takut akan efek dari proses itu.

Setelah berkali kali terjadi ledakan dan bola api yang terlontar keluar dari tubut Ibu T, maka perlahan-lahan bole api itu habis. tapi kemudian tercium bau amis yang amat sangat seperti bau bangkai.

Pekak R kemudian memerintahkan suami dari Ibu T untuk mendekati istrinya dan membawanya mendekat ke air laut untuk dimandikan. Kondisi dari Ibu T sangat lemah tidak bisa berdiri, karena tenaganya habis. Suaminya kemudian menggendong dia ke arah laut dan segera memandikannya. Pekak R juga menyuruh suaminya ikut mandi agar "upas" dari ilmu leak tidak melekat pada dirinya.

Setelah mereka mandi, maka Pekak R langsung melukat Ibu T dan suaminya dengan air laut untuk membersihkan jasmani dan rohaninya. Sungguh ajaib karena bau amis tadi tiba-tiba hilang digantikan dengan bau harum.

Setelah prosesnya selesai merekapun kembali ke rumah, Pekak R menyarankan agar Ibu T rajin sembayang agar dikaruniai keselamatan. Semenjak itu kehidupan keluarga ibu T menjadi tenang

Moral dari cerita ini adalah, hilangkanlah hal negatif yang ada pada diri kita



Pengider Buana - Selatan


Arah : Selatan / Daksina

Dewa : Sang Hyang Brahma

Senjata : Gada

Aksara : Bang

Urip : 9

Warna : Merah

Pancawara : Paing

Saptawara : Saniscara

Pura : Andakasa

Nasehat Kehidupan 2


Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."

Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit." "Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama
kehidupan membuat kita sakit.

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."

Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!

Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu. "Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi.

Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih Tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku salah. "Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran,bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.

Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu hidup...

Pengider Buana - Tenggara


Arah : Tenggara / Ersania

Dewa : Sang Hyang Maheswara

Senjata : Pasepan

Aksara : Nang

Urip : 8

Warna : Pink

Pancawara : -

Saptawara : Wraspati

Pura : Goa Lawah

Pengider Buana - Timur


Arah : Timur / Purwa

Dewa : Sang Hyang Iswara

Senjata : Bajra

Aksara : Sang

Urip : 5

Warna : Putih

Pancawara : Umanis

Saptawara : Redite

Pura : Lempuyang

Kisah Leak 6 - Camre Berag


Camre Berag merupakan tingkatan ilmu pengleakan yang sudah sangat tinggi. Dalam tingkatan ini orang yang sudah menguasainya dapat merubah wujudnya menjadi seekor anjing kecil (camre) kurus (berag) yang lehernya diikat dengan rantai dimana ujung rantai satunya lagi diikatkan ke sebilah bambu. Tingkatan ini sangat susah dicapai karena memerlukan ketekunan dan pengorbanan dalam mempelajarinya.

Kisah yang akan diceritakan akan berkaitan dengan Camre Berag yang dialami oleh Pekak R waktu masih muda. Pekak R sendiri merupakan seorang penekun spiritual yang tinggal di perbatasan antara Klungkung dan Gianyar.

Suatu saat Pekak R didatangi oleh temannya yang lagi kena musibah, sebut saja namanya Gung B. Musibah yang dialami adalah anak perempuan dari Gung B dilarikan seorang cowok (melegandang - istilah Bali untuk cowok yang melarikan cewek untuk dinikahi paksa) untuk dipaksa menjadi istri. Anak dari Gung B sebenarnya sudah mempunyai pacar sehingga tidak suka terhadap cowok yang melarikannya.

Untuk meminta secara langsung anak dari Gung B tersebut dikhawatirkan akan terjadi pertumpahan darah. Maka diputuskan untuk mengambilnya dengan cara halus, yaitu mengerahkan pasukan leak untuk membikin seisi rumah si cowok tertidur.

Berbagai usaha pengerahan pasukan leak tidak membawa hasil karena ternyata yang menjaga si cewek adalah seorang yang mumpuni sebut saja namanya Mangku T. Ilmu sirep yang digelar untuk membikin tidur seisi rumah tidak mampu membikin mangkut T tertidur. Dengan putus asa maka Gung B mencari pertolongan ke Pekak R.

Pekak R kemudian mengatur strategi dan langsung menghubungi temannya yang lain sebut saja namanya Mangku J yang tinggal di pesisii pantai untuk ikut membantu mengatasi Mangku T yang sangat sakti tersebut. Merekapun membagi tugas dengan dibantu oleh sanak kelaurga Gung B yang lain.

Pada hari yang telah ditentukan, Mangku J berubah wujud menjadi Camre Berag (anjing kecil kurus), dengan suaru kaing-kaing yang menyayat hati karena lehernya dirantai dan menarik bambu besar, maka camre berag berusaha mengitari rumah tempat anak Gung B disekap. Suasana menjadi sangat menggiriskan hati, lingkungan tempat si cewek disekap menjadi sangat sunyi, yang ada cuman suara Camre Berag yang terkaing-kaing menyayat hati. Camre berag melontarkan ajian sesirep tingkat tinggi agar seisi rumah menjadi tertidur.

Setelah beberapa kali Camre Berag mengitari rumah tersebut, maka Pekak R dan sanak saudara Gung B merasa sudah saatnya untuk mmemasuki rumah tersebut. Setelah mereka sampai di dalam yang terlihat adalah banyak orang yang tertidur sangat pulas termasuk Mangku T yang menjadi andalan keluarga si Cowok.

Dengan sukses akhirnya anak perempuan dari Gung B bisa diambil kembali dan dibawa ke rumah orang tuanya oleh Pekak R dan kawan-kawan berkat bantuan dari Mangku J yang berubah menjadi camre Berag.

Moral dari cerita ini adalah ternyata ilmu leak bisa digunakan untuk tujuan baik.






Kisah Leak 5 - Terbang


Kisah ini dituturkan oleh salah seorang keluarga penulis, sebut saja namanya Paman GA. Pengalaman Paman GA terjadi waktu Beliau masih ABG, dimana sedang senang-senangnya melakukan petualangan. Keluarga Paman GA mempunyai seorang sahabat, sebut saja namanya Pekak M. Pekak M merupakan seorang pemangku dan berdomisili di pesisir pantai di daerah Klungkung. Pekak M merupakan tokoh terkenal dan sering cerita tentang pengalaman-pengalaman yang dia miliki sebagai seorang penekun spiritual.


Mendengar akan hal itu, maka Paman GA meminta untuk diikutkan dalam perjalanan yang dilakukan Pekak M. Dengan berbagai rayuan, maka Pekak M bersedia untuk mengajak Paman GA.


Di hari yang sudah ditentukan, Paman GA disuruh menginap di rumah Pekak M. Sebelum tidur, Pekak M memberikan Paman GA bendera kecil-kecil yang dibuat dari kertas untuk dibawa ke tempat tidur di rumah Pekak M.


Paman GA pun segra tertidur di rumah Pekak M. Tepat tengah malam, Paman GA merasa seperti sukmanya keluar karena diajak sama Pekak M. Pekak M menyuruh untuk membawa bendera dalam petualangan tersebut. Mereka berdua pun terbang menuju ke sebuah gunung. Paman GA sangat senang melakukan perjalanan terbang tersebut.


Setelah sampai di pegunungan mereka pun berhenti. Paman GA sangat takjub dengan keindahan pemandangan dari puncak gunung tersebut. Tapi Beliau tidak bisa mengenali dimana gerangan tempat ini. Setelah puas memandang keadaan di sekitarnya maka Pekak M menyuruh Paman GA untuk menancapkan satu bendera di tempat itu sebelum pergi menuju tempat yang lain.


Merekapun melakukan perjalanan ke 3 gunung yang berbeda-beda, setelah menikmati pemandangan yang sangat indah, maka mereka meninggalkan tempat itu. Di masing-masing tempat mereka meninggalkan bendera kecil yang di bawa.


Setelah puas maka Pekak M mengajak Paman GA untuk kembali pulang kerumah. Setelah sampai di rumah maka sukma dari paman GA segera memasuki badan wadagnya.


Keesokan harinya setelah bangun pagi merekapun berbincang-bincang dengan ditemani kopi. Paman GA menasaran dan menanyakan kemana sebenarnya kita pergi kemarin, gunung apakah itu namanya. Dengan tersenyum Pekak M menunjuk ke atap rumah yang ada di sebelah Timur. Dengan terkejut Paman GA melihat bahwa di atas atap bangunan tersebut tertancap tiga buah bender kecil-kecil. Sadarlah Beliau bahwa pegunungan yang sangat indah tersebut ternyata hanyalah atap bangunan tersebut.


Moral dari cerita ini adalah, keadaan sekal niskala sangatlah berbeda jauh.

Kisah Leak 4 - Perjalanan Malam


Kisah ini menceritakan tentang Dadong R yang diajak suaminya, Pekak R, melakukan perjalanan tirta yatra ke Pura Pulaki malam hari.

Seperti telah diceritakan dalam kisah sebelumnya, Pekak R merupakan tokoh Balian yang berasal dari daerah antara Klungkung dan Gianyar. Beliau sangat disegani oleh kawan maupun lawan. Untuk menambah kemampuan Beliau sering melakukan Tirta Yatra ke Pura Besar yang ada di Pulau Bali. Tapi perjalanan tersebut biasanya dilakukan seorang diri.

Suatu saat, Pekak R mengajak Istrinya untuk ikut dalam perjalanan melakukan Tirta Yatra ke Pura Pulaki dimalam hari. Dadong R sangat antusias, mengingat inilah pengalaman pertama untuk melakukan perjalanan malam. Tapi Pekak R mewanti-wanti agar dadong R harus diam saja selama dalam perjalanan.

Setelah segala sesuatunya siap, maka tepat tengah malam mereka berdua berangkat menuju ke kuburan. Dadong R heran, kok menuju ke kuburan, bukannya ke terminal untuk mencari kendaraan. Tapi Beliau tidak berani bertanya karena ingat akan pesan suaminya tersebut.

Setelah sampai di kuburan, ternyata di sana sudah menunggu mobil sedan mewah dengan spirnya seorang gadis yang sangat cantik. Merekapun langsung masuk ke mobil dan memulai perjalanan.

Dadong R heran karena mobil itu bunyinya sangat aneh dan tidak melakukan gerakan belok kiri atau kanan. Jalannya sangat lurus dan yang ada cuman gerakan naik bukit dan turun jurang. Selama dalam perjalanan mereka sama sekali tidak melakukan obrolan.

Setelah "sepemakan sirih" (kira-kira 15 menit) dalam perjalanan, maka mereka sudah sampai di depan Pura Pulaki. Merekapun segera melakukan persembahyangan. Setelah selesai maka mereka segera pulang ke rumah dengan menaiki mobil yang sama dengan kondisi perjalanan yang sama yaitu lurus dan naik turun.

Keesokan harinya Pekak R mengajak istrinya untuk berkunjung ke rumah supir mobil tersebut untuk mengucapkan terimakasih karena sudah diantarkan menuju Pura Pulaki. Siang hari mereka segera berangkat, rumah dari supir tersebut ternyata terletak di area tegalan yang tidak jauh dari rumah Pekak R. Dadong R penasaran untuk segera melihat dan ngobrol dengan supir tersebut.

Setelah mereka sampai, alangkah terkejutnya Dadong R, ternyata yang menjadi gadis cantik supir mobil tersebut adalah seorang nenek-nenek yang sudah sangat tua, keriput lagi. Sangat beda jauh dengan penampilannya waktu menjadi supir yaitu seorang gadis muda belia yang sangat canti. Dengan ramah nenek tersebut menyambut kedatangan mereka. Dengan penasaran Dadong R menanyakan dimana mobil yang tadi malam dipakai tersebut diparkir.

Si nenek segera menunjuk ke pelepah daun kelapa yang sudah kering, dan bilang bahwa mobil mewah yang mereka tumpangi kemarin sebenarnya adalah pelepah daun kelapa. Dadong R baru menyadari bahwa dia sudah mengalami peristiwa yang susah dianalisa dengan akal sehat. Kemudian mereka pun pamitan kepada si nenek

Moral dari cerita ini adalah, apa yang kita lihat sebenarnya bukanlah yang asli

Kisah Leak 3 - Bangkal


Kisah ini dituturkan oleh salah seorang keluarga penulis, sebut saja namanya dadong (nenek) R. Dadong R mempunyai suami yang bernama Pekak R yang namanya sangat mumpuni di daerah perbatasan Klungkung Gianyar di waktu yang lalu karena menjadi seorang Balian.


Menurut dadong R, suatu saat mereka berdua baru pulang dari perjalanan setelah mengobati seorang yang kena penyakit Bali waktu tengah malam. Waktu itu listrik masih belum ada sehingga mereka melakukan perjalanan dalam kegelapan. Ketika mereka sudah mendekati kediaman mereka, diujung jalan terlihat seekor babi (orang Bali menyebutnya Bangkal) yang sangat besar serta mempunyai taring yang sangat runcing.


Dadong R merasa ketakutan melihat mahluk tersebut, tapi suaminya Pekak R terlihat tenang-tenang saja dan memberitahukan Dadong R agar menepi sebentar karena Pekak R akan berurusan dengan Bangkal tersebut.


Dengan tenang Pekak R mendekati Bangkal tersebut, si Bangkal dengan asyik masih mengais-ngais selokan untuk mencari sesuatu. Setelah dekat maka dengan tiba-tiba Pekak R meloncat dan langsung duduk di punggung si Bangkal sambil berpegangan erat di kuping mahluk tersebut.


Si Bangkal sangat terkejut, dan langsung berusaha untuk melepaskan diri dari Pekak R dengan cara berlarian ke sana kemari. Pekak R dengan berpegangan erat pada kuping si Bangkal terus berupaya untuk menaklukan mahluk tersebut.


Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang dan menguras tenaga maka mahluk tersebut akhirnya menyerah dan mohon agar diampuni. Akhirnya Pekak R melepaskan mahluk itu, tapi sebelumnya caling (taring) si Bangkal di cabut terlebih dahulu oleh Pekak R sebagai tanda kekalahan mahluk tersebut.


Sampai di rumah Pekak R memperlihatkan taring tersebut ke istrinya, Dadong R sangat terkejut karena taring yang terlihat tajam tersebut sebenarnya terbuat dari kapas biasa. Keesokan harinya, datang seorang wanita yang minta maaf ke Pekak R dan memohon agar taring tersebut dikembalikan. Pekak R pun akhirnya mengembalikan taring yang dirampas tadi malam.


Pesan dari cerita ini adalah, janganlah usil terhadap orang lain.

Kisah Leak 2 - Berantem dengan Teluh


Kisah ini dituturkan oleh teman penulis yang berasal dari daerah Klungkung, sebut saja namanya Nyoman M yang berprofesi serabutan, kadang petani, kadang tukang panjat pohon kelapa. Nyoman M memang memiliki keunikan, orang Bali menyebutnya “melik” karena disukai oleh yang berbau alam Niskala. Meskipun dengan kehidupan yang sangat sederhana, ada saja orang atau tetangga yang sirik/iri terhadap Nyoman M, tapi dia menanggapinya dengan santai.


Suatu hari Nyoman M mendapat giliran untuk menjaga/mekemit di bale Banjar sehabis sekehe gong melakukan latihan. Seperti biasa dia segera menuju bale banjar begitu latihan selesai. Karena kondisi tubuh yang sangat lelah sehabis melakukan pekerjaan memanjat pohon kelapa, maka begitu kepalanya ditaruh dia langsung tertidur nyenyak.


Kira-kira lewat tengah malam, dia terbangun karena merasa ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Awalnya dia mengira bahwa itu adalah teman akrabnya yang suka jahil kepadanya. Tapi alangkah terkejutnya dia ketika meraba tangan yang memeluknya, tangan tersebut berbulu. Segera dia sadar ada hal yang tidak wajar sedang terjadi pada dirinya.


Nyoman M segera bangun dan mendorong mahluk yang memeluknya. Mahluk tersebut yang ternyata berwujud orang yang memakai kain di atas lutut, segera bangkit dan menyerang Nyoman M. Dalam kondiri fisik yang segar habis tidur dan terbiasa bekerja keras, maka Nyoman M melayani mahluk itu dengan tidak kalah garangnya. Anehnya teman-temannya yang lain yang ikut mekemit tetap saja tertidur nyenyak, tidak tahu ada keributan di samping mereka


Perkelahian berlangsung lama, saling tendang, saling banting saling pukul. Tapi kondisi fisik dari orang yang menjadi mahluk tersebut masih berada di bawah Nyoman M, sehingga lama-lama mahluk itu menjadi lambat gerakannya.. Mungkin karena merasa bahwa tidak akan menang maka mahluk itu akhirnya melarikan diri.


Nyoman M pun langsung mengejarnya, akhirnya mahluk itu masuk ke rumah tetangganya. Nyoman M tersadar siapa orang yang menjadi mahluk tersebut. Akhirnya dia menghentikan pengejarannya dan langsung pulang untuk melanjutkan tidurnya. Keesokan harinya Nyoman M mendapati bahwa sekujur tubuhnya bengkak karena pertarungan tersebut. Berkat nunas wangsuh paica dari penugrahan yang diterimanya, maka Nyoman M menjadi sembuh kembali.


Moral dari cerita ini adalah jangan takut asal kita berada di pihak yang benar

Kisah Leak 1 - Leak Gundul


Kisah ini dituturkan oleh teman penulis yang berasal dari daerah Gianyar. Teman penulis (sebut saja Wayan S) mempunyai seorang paman yang sangat mumpuni dalam hal olah spiritual sebut saja bernama Paman A. Diceritakan bahwa terjadi perselisihan di keluarga besar Paman A, dimana ada pihak keluarga lain yang membikin onar (sebut saja Paman X). Sebab perselisihan yang terjadi tidak bisa dibicarakan detil disini.


Akibat perselisihan tersebut Paman X sering mengancam keluarga Paman A. Suatu saat Wayan S main ke rumah Paman A dan berniat untuk menginap, tujuannya melakukan silahturahmi karena lama tidak ketemu. Sesudah ngobrol ngalor ngidul Paman A mengingatkan Wayan S kalau mau menginap agar tidurnya di atas jam 12 malam. Wayan S menanyakan alasannya, dijawab bahwa nanti akan ada sesuatu yang terjadi.


Suasana malam itu terlihat sangat sepi, maklum di daerah pedesaan, sekitar jam 12 malam terdengar ledakan di depan angkul-angkul (pintu masuk khas Bali), buru-buru Paman A berlari kesana dan langsung meloncat di atas tanah yang meledak itu. Wayan S menyaksikan sesosok Mahluk yang berwujud raksasa gundul (Paman A menyebutnya dengan Leak Gundul) berusaha untuk muncul ke permukaan dari rekahan tanah yang meledak tersebut. Namun mahluk tersebut tidak bisa muncul karena keburu diinjak oleh Paman A.


Ledakan terjadi berkali kali di tempat terpisah, dimana Paman A pun bergerak kian kemari untuk menginjak kepala dari Leak Gundul tersebut agar tidak mampu muncul ke permukaan tanah. Akhirnya ledakan berhenti dan suasana malam itu kembali sunyi sepi dan tenang. Wayan S menanyakan siapa orang yang menjadi Leak Gundul tersebut, Paman A memberitahukan bahwa besok akan ada orang yang ke rumah untuk minta maaf, dialah yang menjadi Leak gundul itu.


Setelah kejadian Wayan S penasaran dan tetap tinggal di rumah Paman A, ternyata keesokan harinya Paman X datang ke rumah Paman A dan meminta maaf dan berjanji tidak akan membuat onar lagi, oleh Paman A dimaafkan asal dia memegang teguh janjinya.

Moral dari kejadian ini adalah janganlah kita memakai ilmu kita untuk melakukan kejahatan

Calonarang


Calonarang merupakan kisah yang sangat terkenal di Bali yang berlatar belakan kerajaan Kediri di Jawa pada saat diperintah oleh Prabu Erlangga. Prabu Erlangga merupakan Raja Kediri keturunan dari Raja Bali saat itu yaitu Prabu Udayana dan Ratu Warmadewa.


Dimulai dari kisah lima orang Maharesi yaitu yang sering dibebut Sang Panca Tirta yang terdiri dari:

  1. Mpu Gnijaya
  2. Mpu Semeru
  3. Mpu Ghana
  4. Mpu Kuturan
  5. Mpu Bharadah


Mpu Gnijaya, Mpu Semeru dan Mpu Ghana melakukan Dharma Yatra ke Bali dan berstana di Pura Lempuyang (Mpu Gnijaya), Pura Besakih (Mpu Semeru) dan Pura Dasar Buana Gelgel (Mpu Ghana).


Diceritakan pada kisah kehidupan Mpu Kuturan terjadi kesalahpahaman dengan Istri Beliau yang memperdalam aliran Bairawa Kala Cakra. Mpu Kuturan ,atas undangan Raja Bali saat itu, akhirnya pergi ke Bali melakukan Dharma Yatra sekaligus dan berstana di Pura Silayukti. Di Bali Beliau melakukan pekerjaan yang sangat besar yaitu menyatukan aliran-aliran keagamaan di Bali menjadi paham Tri Murti. Pesamuhan itu sendiri dilaksanakan di Pura Samuan Tiga - Gianyar. Di Jawa Beliau meninggalkan seorang Istri dan seorang anak gadis yang bernama Diah Ratna Menggali.


Sepeninggal Mpu Kuturan ke Bali, maka perhatian Prabu Erlangga kepada keluarga Beliau menjadi agak berkurang. Diah Ratna Menggali sudah besar sehingga sudah cocok untuk mendapatkan jodoh, tapi belum ada yang cocok untuk Beliau jadikan suami. Dari kondisi tersebut maka Istri Mpu semakin mendalami aliran Bairawa Kala Cakra yang menyebabkan wilayah Kediri menjadi sangat panas dan mengakibatkan kekeringan.


Akibat dari ilmu Bairawa Kala Cakra memang sangat menggiriskan hati, kerajaan Kediri yang tadinya adem ayem tentram raharja menjadi terkena wabah kekeringan dan penyakit. Menyadari kondisi ini, Prabu Erlangga segera mengutus seorang Mahapatih Beliau yang bernama Patih Madrim untuk melakukan penyelidikan.


Patih Madrim mendapatkan kesimpulan bahwa wabah ini adalah akibat dari kesempurnaan ajian Bairawa Kala Cakra yang digelar oleh Mpu Istri (Dayu Datu) di desa Dirah. Mendapati hal itu Patih Madrim melakukan penyerangan ke Desa Dirah, dalam pertarungan tersebut Patih Madrim dapat dikalahkan oleh Mpu Istri.


Mengetahui kekalahan dari Patih Madrim, maka Prabu Erlangga meminta bantuan dari Ida Mpu Bharadah, yang merupakan adik dari Mpu Kuturan, agar menangani masalah tersebut.


Mpu Bharadah kemudian mengustus Putra Beliau yang bernama Mpu Bahula untuk pergi ke desa Dirah untuk menjenguk Saudara Sepupu Beliau (Diah Ratna Manggali) dan sekaligus mencari menjajagi apakah cocok dijadikan pendamping hidup.


Kedatangan Mpu Bahula di desa Dirah sangat menyenangkan Mpu Istri dan Diah Ratna Manggali, karena kecocokan antara mereka berdua maka Mpu Bahula kemudian menikahi Diah Ratna Manggali (Keturunan dari Mpu Bahula & Diah Ratna Manggali menjadi cikal bakal keluarga Brahmana di Bali).


Setelah pernikahan itu, maka kondisi kerajaan Kediri menjadi tenang kembali, Raja Erlangga menjadi senang karenanya. Sebagai seorang menantu maka Mpu Bahula diperkenankan untuk ikut mempelajari Bairawa Kala Cakra, disinilah terjadi kesalahpahaman antara Mpu Baradah dan Mpu Istri (Dayu Datu, yang merupakan ipar Mpu Baradah)


Beliau Berdua sepakat untuk mengadu ilmu, dalam pertarungan batin tersebut, Mpu Istri (Dayu Datu) bisa dikalahkan oleh Mpu Baradah. Karena kekalahan tersebut maka Mpu Istri menyingkir ke daerah Wetan (Barat). Inilah sebabnya di daerah Wetan banyak berkembang berbagai macam ilmu.


Kitab dari Bairawa Kala Cakra terbang dan jatuh di daerah Selat Duda (Karangasem bali), menyebabkan berbagai macam penugrahan bisa dimohonkan di tempat ini. Kain rurub dari Mpu Istri terbang dan jatuh di daerah Sanur, menyebabkan di Sanur sangat mudah untuk belajar Ilmu tersebut, cukup di kepalanya ditutup dengan rurub, maka seseorang yang berniat belajar ilmu sudah bisa. Salah seorang murid dari Mpu Istri pergi ke daerah Kalimantan, yang menyebabkan tumbuh berkembangnya ilmu di pedalaman Kalimantan.


Kidung Pitra Yadnya 5


Rikala Ngayud - Larung abu ke laut.

Ring wetan hana telaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sarira.
Sakwehing malapataka. kalebura ring tanane.

Ring kidul hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.

Ring kulon hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.

Ring lor hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.

Ring madya hana talaga. Rikata hulun adyusa.
Asalin raja bhusana. Anglebur awak tan porat.
Hilanganing dasa mala. Sebel kandel ring sanra.
Sakwehing malapetaka. kalebura ring tanane.

Sampun ta sira abresih, anambut raja bhusana.
Binurating sarwa sari. Mrebuk arum gandaning wang.
Matur sira ring Hyang Guru. Sinung wara nugraha sira.
Keasunganing mandi swara. Paripurna tur nyewana.


Kidung Pitra Yadnya 4


Ngeseng Sawa - Membakar Jenazah.

Sang atapa sakti bhakti, astiti purwa sangkara.
Yan mati maurip malih. Wisesa sireng bhuwana.
Putih timur abang wetan. Rahina tatas apadang.
Titisning jaya kamantyan. Mapageh ta samadinira.

Nghulun angadeg ring natar. Kamajaya cintanya.
Sang atunggu parawean. Mawungu pakarab-karab.
Ilangani dasa-mala, amrtang gangga asuci.
Pamunggal rwaning wandira. Pinaka len prehanira.

Yan sampun sira araup. Isinikang kundi manik.
Anut marga kita mulih. Yan sira teka ring umah.
Tutugaken samadinta. Sapangruwat sariranta.
Isenikang pangasepan. Kunda kumutug samiddanya.

Wewangen dadi tembaga. Rurube kang dadi emas.
Arenge kang dadi wesi, Awune kang dadi selaka.
Kukuse kang dadi mega. Yeh iku manadi ujan.
Tumiba ring Mrecapada. Yeh iku dadi amretta.

Kidung Pitra Yadnya 3


Mamarga ka setra - (Perjalanan ke Kuburan)

Indra - Wangsa

Mamwit narendratmaja ring tapowana.
Manganjali ryagraning indra parwata.
Tan wis mrti sangka nikang hayun teka.
Swabhawa sang sajana rakwa mangkana.

Mangkat dateng toliha rum wulat nira.
Sinambaying camara sangkaring geger.
Panawanging mrak panangisnikungalas.
Erang tininggal masaput-saput hima.

Lunghang lengit lampahira ngawe tana.
Lawan Sang Erawana bajranaryama.
Tan warnanen decanikang katungkulan.
Apan leyep muksa sahinganing mulat.

Kidung Pitra Yadnya 2


Nyiramang layon - Memandikan Jenazah

Bala - Ugu.

Bala ugu dina melah, manuju tanggal sasih.
Pan Brayut panamaya. Asisig adyus akramas.
Sinalinan wastra petak. Mamusti madayang batis.
Sampun puput maprayoga, tan swe ngemasin-mati.

Ikang layon ginosongan, ne istri tuhu satya, de pamayun matingkah.
Eteh eteh sang paratra. Toya hening pabresihan.
Misi ganda burat-wangi. Lengise pudak sategal.
Sumar ganda mrbuk arum.

Pusuh menuhe uttama. Malem sampun macawisan.
Tekening edon intaran. Bebek wangi lengis kapur.
Monmon mirah windusara. Waja meka panca datu.
Don tuwung sampun masembar. Sikapa kalawan taluh.

Buku-buku panyosalasan. Pagamelane salaka.
Kawangene panyelawean. Gegalenge satak-seket.
Sampun puput pabersihan. Winiletang dening kasa.
Tikeh halus wijil jawa. Lante maulat panyalin.

Kidung Pitra Yadnya 1


Menurunkan Jenazah untuk dimandikan

Cewana - Girisa

Ata sedengira mantuk sang suralaga ringayun.
Tucapa aji wiratan. Karyasa nagisi weka.
Pinahajongira laywan sang putra mala piniwa.
Pada litu hajenganwam. Lwir kandarpa pina telu.

Lalu laranira nasa sambat putranira pejah.
Lakibi sira sumengkem ring putra luru kinusa.
Ginamelira ginanti kang laywan lagi ginugah.
Inutusira masabda kapwa ajara bibi aji.

Kidung Manusa Yadnya (Perkawinan) 2


Demung Sawit (bawak, dawa)

Tuhu atut bhiseka Nrapati. Sri Eswaryadala.
Dala kusuma patra nglung,
Eswarya raja laksmi.
Sang kulahamenuhi rajya.
Kwening bala diwarga.
Mukya sira.
Kryana patih Sangniti Bandeswarya patrarum.

Nityasa angulih- ulih amrih sutrepting nagara,
lan sang paradimantriya.
Tuhu widagda ngelus bhumi.
Susandi tinut rasaning aji,
Kutara manawa.
Mwang sastra sarodrsti.
Matangyan tan hanang baya kewuh.

Pirang warsa Sri Nrapati Swaryadala.
Tusta ngering sana.
Kaladiwara hayu.
Sri narapati.
Lagya gugulingan ring taman.
Ring yaca ngurddha angunggul.
Yayamireng tawang.
Tinum pyata tinukir.
Kamala kinanda-kada.
Langu inipacareng santun.

Mangamyat kalangenikang nagara.
Tisoba awiyar.
Indra bhuwana nurun,
Kweh tang pakwana titip.
Pada kabhi nawa.
Dening sarwendah linuhung.
Liwar sukanikang wong.
Anamtami kapti.
Arumpuka sari sama angrangsuk bhusana aneka marum.

Kidung Manusa Yadnya (Perkawinan) 1


Kawitan Tantri

Wuwusan Bhupati. Ring Patali nagantun.
Subaga wirya siniwi. Kajrihin sang para ratu.
Salwaning jambu warsadi. Prasama hatur kembang tahon.

Tuhu tan keneng api. Pratapa sang prabu Kesyani ruktyeng sadnyari.
Sawyakti Hyang Hari Wisnu. Nitya ngde ulaping ari.
Sri dhara patra sang katong.

Wetning raja wibawa, mas manik penuh.
Makinda yutan ring bahudanda. Sri Narendra, Sri Singapati,
Ujaring Empu Bhagawanta. Ridenira panca-nana.
Bratang penacasyan.
Hatur Hyang Dharma nurageng bhuh.

Kadi kreta yuga swapurneng nagantun Kakwehan sang yati.
Sampun saman jayendrya. Weda Tatwa wit. Katinen de Sri Narendra.
Nityasa ngruci tutur. Tan kasareng. wiku apunggung wyara brantadnya ajugul.

Nunas Tirtha Wangsuhpada


Turun tirtha saking luhur. nenyiratang pemangkune.
Mekalangan muncrat mumbul. Mapan tirtha mrtajati.
Paican Bhatara sami, panglukatan dasa-mala.
Sami pada lebur. Malane ring gumi.

Pamuspan - Sembahyang Merdu - Komala


Ong sembah ning anatha. Tinghalana de Triloka sarana.
Wahya dyatmika sembahing hulun ijeng ta tan hana waneh.
Sang lwir agni sakeng tahen kadi minyak sakeng dadhi kita.
Sang saksat metu yan hana wwang hamuter tutur pinahayu.

Wyapi-wyapaka sarining paramatatwa durlabha kita.
Icantang hana tan hana ganal alit lawan hala-hayu.
Utpatti sthiti lina ning dadi kita ta karananika.
Sang sangkan paraning sarat sakala-niskalatmaka kita.

Sasi wimbha haneng: ghata mesi banyu.
Ndan asing suci nirmala mesi wulan.
lwa mangkana rakwa kiteng kadadin.
Ring angambeki yoga kiteng sakala.

Katemun ta mareka sitan katemu.
Kahidepta mareka si tankahidep.
Kawenang ta mareka si tan ka wenang.
Paramartha Siwatwa nira warana.

Pangayat - Menghaturkan Banten


Ida Ratu saking luhur. Kawula nunas lugrane.
Mangda sampun titiang tanwruh. Mengayat Bhatara mangkin.
Titiang ngaturang pajati. Canang suci lan daksina.
Sami sampun puput. Pratingkahing saji.

Asep menyan majagau. Cendana nuhur dewane,
Mangda Ida gelis rawuh. Mijil saking luhuring langit.
Sampun madabdaban sami. Maring giri meru reko.
Ancangan sadulur, sami pada ngiring.

Bhatarane saking luhur. Nggagana diambarane.
Panganggene abra murub. Parekan sami mangiring.
Widyadara-widyadari, pada madudon-dudonan,
Prabhawa kumetug. Angliwer ring langit.

Geguritan Warga Sari


Purwakaning angripta rumning wana ukir.
Kahadang labuh. Kartika penedenging sari.
Angayon tangguli ketur.
Angringring jangga mure.

Sukania harja winangun winarne sari.
Rumrumning puspa priyaka, ingoling tangi.
Sampun ing riris sumar.
Umungguing srengganing rejeng

Ida Pedanda Made Gunung


Lahir, di Geria Gede Kemenuh Purnawati Blahbatuh pada tahun 1952 dengan nama Walaka Ida Bagus Gede Suamem mulai usia 15 tahun sudah mulai terjun ber organisasi yaitu pada tahun 1967 di GSNI Blahbatuh, persatuan Bola Volly Blahbatuh, DPD Gojukai, PHDI Kecamatan Blahbatuh, PHDI Kecamatan Gianyar, PHDI Bali dan terakhir sebagai Ketua PHDI Bali ( Campuhan)
Ida Bagus Gede Suamem memulai karirnya di PLKB Gianyar pada tahun 1972 s/d 1974, sebagai Guru SD 3 Semawang Ubud ( 1975 s/d 1974 ), Guru SD 3 Pering, Blahbatuh ( 1983 s/d 1985 ), Kordinator Penyuluh Lapangan Agama Hindu, Kec. Blahbatuh, Guru SD 7 Saba Blahbatuh, Guru SD Teladan Kecamatan Blahbatuh dan terakhir adalah sebagai Dosen Luar Biasa Fak. Usada UNHI ( 2002 s/d sekarang )
Dengan berbekalkan pengalaman sebagai guru dan pengalaman berorganisasi Ida Bagus Gede Suamem kini berhasil menjadi seorang Wiku yang sangat populer dan disegani dengan Dharma Wacananya yang kini mampu menumbuhkan bakat-bakat pe-Dharmawacana baru yang berbakat yang kini marak kita dengarkan di media lokal maupun nasional.
Kini Ida Bagus Gede Suamem yang sudah mebiseka Ida Pedanda Gede Made Gunung telah berhasil membangun sebuah pusat Pendidikan agama ( pesraman ) yang sangat asri dengan areal cukup luas yang menurut beliau dikumpulkan dari sari  (hasil ) yang didapat selama memberikan Dharma Wacana ditambah dengan sumbangan dari para donatur.

Ngelangkahin Karang Ulu dan Lungsuran


Tanya:

Om Swastyastu,

saya mau bertanya kepada pedanda,saya dengar di masyarakat katanya tidak boleh nak jaba menikah dengan nak dayu katanya di sebut dengan nglangkahin karang hulu,itu pertanyaan saya yang pertama dan pertanyaan saya yang kedua, teman-teman saya yang keturunan brahmana dan gusti tidak mau memakan lungsuran di merajan sedangkan minum arak sampai mabuk mereka mau itu yang saya tidak mengerti,apakah itu di benarkan ratu pedanda,saya mohon penjelasannya.Terima kasih.

Om Shanti Shanti Shanti Om


Jawab (Ida Pedanda Made Gunung)

Om swastyastu,

Pernikahan itu adalah jodoh, dan jodoh sesorang itu sudah ditentukan dan merupakan pemberian tuhan. Jika sudah merupakan jodoh maka tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi. Mengenai istilah "anglangkahin karang hulu" itu terjadi sebelum tahun 1961, memang sebelum tahun tersebut ada semacam istilah "asupundung ngelangkahin karang hulu" dan itu merupakan produk hukum warisan jaman kerajaan yang ada di Bali pada masa lampau. Namun hal tersebut sudah dihapuskan melalui pertemuan parisada di campuhan ubud pada tahun 1961. Jika sebuah hubungan cinta kasih dilaksanakan secara sadar dan bertanggung jawab, maka secara hukum tidak ada hal yang melarang, dan pedanda mendukung hal tersebut.

Yang kedua tentang makan lungsuran di merajan, jika dibandingkan dengan minum arak sudah pasti yang namanya mabuk itu dilarang oleh agama. Namun mengenai ngajeng lungsuran itu merupakan kepercayaan masing masing orang, dan untuk hal tersebut pedanda tidak bisa memaksakan karena itu berhubungan dengan keyakinan seseorang. Misalnya saja jika pedanda melaksanakan upacara meoton di gria, pedanda tidak berani memaksa sisya atau pengayah untuk ngajeng lungsuran karena ini kembali kepada masalah keyakinan, dan hal itu tidak boleh dipaksakan. Sesuatu yang dipaksakan umumnya berakibat kurang baik. Pada hakikatnya setipa manusia bersumber dari sumber yang sama,namun dalam perjalanan hidupnya terjadi perbedaan akibat karma masing masing. Seorang pedanda tidak diperkenankan oleh sesananing / aturan kesulinggihan untuk ngajeng lungsuran, dan itu adalah aturan karena posisi dan fungsi. Akan berbeda jika lungsuran dari pura kahyangan tiga atau pura kahyangan jagat, tentu secara aturan dan etika semua boleh ngajeng karena itu bersifat umum.

Di Bali pura di bagi dalam beberapa klasifikasi, yaitu pura umum atau pura kahyang jagat, pura dang khayangan, yaitu pura - pura yang di bangun sebagai pijakan dan landasan bagi para Maha Rsi kita yang datang ke bali, pura fungsional misalnya pura melanting untuk para pedagang, ataupun pura ulun carik untuk petani dan pura geniologi atau pura berdasarkan garis kawitan, misalnya saja pura paibon atau merajan di rumah dan ini bersifat khusus. Begitu pula dengan lungsuran dari pura - pura tersebut, ada tingkatan umum dan ada tingkatan khusus, dan ada orang yang tidak memakan lungsuran dari pura khusus orang lain karena aturan posisi dan fungsi, ada juga karena masalah keyakinan, dan itu tidak bisa dipaksakan. Yang jelas, kebijaksanaan seseorang akan terlihat dari kerendahan hatinya.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Bunga Mitir


Tanya:

Om Swastyastu,

Ratu Peranda tiang metaken,kocap bunga gemitir punika nenten dados keanggen metanding canang. napi mawinan? wantah punika petaken tiang. suksma

Om Shanti Shanti Shanti Om


Jawab (Ida Pedanda Made Gunung)

Om Swastyastu,

Hal tersebut bersumber dari sastra atau cerita Tebu Sala dalam epos Mahabrata / pewayangan. Diceritakan pada saat Dewi Dhurga di supat / di lebur menjadi Dewi Uma (sebagai simbul pelepasan kekotoran duniawi) oleh Sang Nakula, organ - organ tubuh Dewi Dhurga menjadi tumbuh - tumbuhan, yang salah satunya darah beliau membasahi bunga mitir, sehingga setelah Dewi Dhurga menjadi Dewi Uma, beliau bersabda jika membuat banten / canang untuk di Haturkan ke Pura Dalem maka tidak diperbolehkan menggunakan bungan mitir. Namun jika digunakan untuk persembahyang di merajan atau selain Pura Dalem maka hal itu diperbolehkan

Om Shanti Shanti Shanti Om