Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Banten Rarapan - Sebagai Oleh-Oleh Untuk Alam Niskala


Bali selalu unik dan nanusia Bali Hindu benar-benar unik kalau tak mau dikatakan aneh. Banyak hal yang dilakukan oleh manusia Hindu Bali diluar nalar manusia. Banyak hal yang diluar logika menjadi kebiasaan manusia Bali Hindu. Hanya Manusia Bali yang bisa merasakan, hanya manusia Bali yang bisa membahasakan semua prilaku tersebut. Bagi orang awam itu di luar nalar, namun bagi manusia Hindu Bali tersebut adalah nyata dan logis. Sebagai contoh, manusia Bali Hindu akan senantiasa menghaturkan puspa/canang kehadapan Dewa-Dewi untuk memohon anugrah. Tak cukup sampai disana, manusia Bali juga menghaturkan segehan sebagai persembahan kehadapan para kala yang menguasai ruang dan waktu, sehingga terjadi keharmonisan hidup manusia. Tak cukup juga sampai disana selain canang, segehan, manusia Bali sudah terbiasa menghaturkan rarapan.

Rarapan yang dihaturkan manusia Bali itu biasanya berupa rokok kretek, ketela rebus, ubi, jagung laklak tape, jaja injin dan sebagainya. Dan karena perkembangan saat ini, rarapan yang dihaturkan tersebut bisa bermacam-macam seperti manisan (permen), snack-snack dan sebagainya. Pokoknya apa saja yang bisa dikonsumsi oleh manusia, itulah yang dijadikan rarapan.

Rarapan ini dihaturkan oleh manusia Bali di tempat-tempat yang diyakini atau dirasakan tenget ada penunggu gaibnya. Bisa di perempatan, di pinggir jalan, di jaba pura, di areal bekerja, di pohon-pohon besar yang ada penunggunya, di jembatan yang sering dilalui. Rarapan ini bisa dihaturkan setiap hari, atau ketika seseorang berkunjung atau kebetulan lewat di tempat yang diyakini ada penunggunya. Termasuk juga di rumah, manusia Bali menghaturkannya di pelinggih penunggun karang.

Jadi dengan demikian rarapan tersebut berupa makanan, minuman atau segala yang dikonsumsi manusia. Rarapan diibaratkan sebagai gagapan (oleh-oleh) untuk mereka-mereka mahluk gaib yang menunggu kawasan atau suatu tempat, dengan harapan si penunggu gaib tersebut menjadi senang, somia (tenang) dan kiranya dapat membantu aktifitas manusia dari alam niskala. Artinya disini manusia Bali telah melakukan komunikasi, telah melakukan kerjasama, telah menjalin keharmonisan dalam menjaga alam, dalam menjalankan kehidupan di dunia ini, walaupun satu sama lain tak saling melihat atau tak bisa melakukan kontak langsung. Paling tidak keyakinan dan hati nurani manusia Bali telah menghubungkannya dengan mahluk alam niskala.

Dengan rarapan ini manusia Bali telah memelihara keharmonisan alam sekala dan niskala yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Seperti para pedagang sebelum memulai usahanya, selalu menghaturkan rarapan apakah di sekitar dagangan bekerja atau di pura melanting. Bahkan ada yang menyajikan aturan rarapan tersaji dengan haturan untuk betara, sehingga bentuknya seperti gebogan. Itu dihaturkan setiap hari. Hal semacam ini banyak kita lihat di pasar-pasar senggol di Bali. Tujuannya adalah permohonan kehadapan Ida Betari Melanting agar usaha dagangannya menguntungkan, sekaligus agar para ancangan beliau dapat membantu dalam berusaha, atau paling tidak ancangan beliau tak mengganggu, namun membantu.

Jangankan para pedagang di pasar yang sudah disediakan pura Melanting, pedagang sepeda motor yang mangkal di pinggir jalan setiap hari juga menyediakan sebuah pelangkiran di tempatnya mangkal sebagai tempat menghaturkan canang untuk penghayatan kehadapan Dewa-Dewi memohon keselamatan, dan menghaturkan rarapan sebagai tanda komunikasi dan hubungan harmonis dengan mahluk gaib yang ada di sekitarnya, dengan harapan mereka akan dapat bekerja dengan nyaman, aman, lancar, dan menguntungkan.

Perhatikan pula banyak orang yang datang dari pasar atau sehabis berjualan di pasar selalu menghaturkan rarapan di tempat tertentu. Hal ini dilakukan karena mengetahui tempat tersebut angker, atau karena yang bersangkutan pernah mengalami suatu hal yang bersifat gaib di sana, atau orang tersebut mesesangi di tempat itu, atau hanya sekedar oleh-oleh sebagai ungkapan rasa syukur, sebagai ungkapan bagi-bagi rejeki dengan mahluk lain, dengan harapan selalu diberikan ketenangan dalam berusaha bahkan agar dibantu.

Perhatikan pula tempat mangkal ojek, semuanya ada plangkiran sebagai tempat yang sama dengan yang dilakukan oleh pedagang sepeda motor tadi. Artinya semua manusia Bali Hindu dalam kesehariannya, dalam bekerja dan dalam menjalankan kehidupan ini senantiasa untuk berdoa memohon kehadapan Ida Sanghyang Widhi, kehdapan Dewa-Dewi dan Betara Betara, kepada leluhur agar diberikan kekuatan dan kesejahteraan. Demikian juga selalu menjalin hubungan yang harmonis dengan para penguasa dan penghuni alam gaib sebagai upaya untuk menyelaraskan di dunia, dengan harapan aktifitas yang dilakukan manusia tak menganggu mereka, demikian juga mereka tak menggangu aktifitas manusia. Bahkan manusia berharap saling menguntungkan, saling membantu, saling memberi untuk mencapai kedamaian.

Mahluk alam gaib yang berada di suatu tempat yang diberi rarapan bisa berupa wong samar, tonye, banaspati, ancangan betara, dll. Termasuk juga atma kesasar yang gentayangan. Dengan rarapan tersebut, manusia berharap semuanya menjadi tenang dan menemukan kedamaian.


Perilaku manusia Bali yang iklas ini sering kali dipandang miring oleh manusia dari golongan lain, yang mangatakan bahwa manusia Bali penyembah berhala, manusia Bali pemuja setan, manusia Bali melakukan kontrak usaha (kontrak ekonomi), kontrak politik dengan mahluk halus. Namun apapun kata mereka, manusia Bali harus tetap menjalankan keyakinan seperti apa adanya sesuai denganapa yang diwariskan oleh leluhur Bali. Bali metaksu karena manusia Bali Hindu itu sendiri, bukan karena mereka yang bersuara miring. 

Dari berbagai sumber

Banten Punjung - Sebagai Media Komunikasi Dengan Leluhur


Leluhur menempati tempatyang sangat istimewa pada orang Bali, dalam kehidupannya tak terlepas dengan yang namanya leluhur yang sudah meninggal. Manusia Bali senantiasa menjalin hubungan langsung dengan para leluhur yang sudah meninggal, walaupun tak kelihatan namun hubungan ini dapat dirasakan. Hukum Reinkarnasi, hukum karmapala melatarbelakangi hal tersebut. Bahkan baik buruk perilaku manusia di dunia ini juga akan mempengaruhi kehidupan para leluhur di alam sana.

Secara sekala tak tampak terjadi hubungan langsung dengan leluhur, namun secara niskala, sebenarnya manusia Bali setiap hari menjalin hubungan langsung dengan leluhur yang telah meninggal. Selain menyelanggarakan upacara pitra yadnya dan manusia yadnya secara khusus yang tujuannya untuk penebusan hutang kepada leluhur yang sudah meninggal maupun yang sedang numitis ke dunia, manusia Bali senantiasa menyelenggarakan upacara memunjung di rumah setiap hari. Mnusia Bali setiap menghaturkan saiban sebagai ucapan rasa syukur atas berkah Dewata, juga mengharmoniskan hubungan dengan alam semesta. Disamping itu juga manusia Bali juga setiap hari memunjung, yakni persembahan berupa hidangan kopi jaja, nasi dengan penyertanya. Punjung ini diletakkan di bale delod atau bale dangin atau tenpat khusus yang diperuntukkan memunjung. Biasanya disamping hidangan tersebut dilengkapi juga dengan pecanagan atau pabuan yang berisi seperangkat alat atau bahan nginang, yang terdiri dari base, gambir, buah, pamor, dan mako. Kadang juga dilengkapi dengan rokok. Ini semua sebenarnya adalah untuk dipersemahkan kepada leluhur yang sudah meninggal.

Keyakinan manusia Hindu Bali, bahwa para leluhur akan senantiasa datang mampir dan mengawasi para sentananya. Untuk itulah sebagai penyambatsara (penyambutan) atau sebagai jamuan bagi para leluhur, manusia Bali menyajikan punjung secara sederhana setiap pagi sehabis memasak. Ini adalah punjung disajikan setiap hari yang sifatnya rutin, diperuntukkan bagi para leluhur yang mungkin datang.

Ada juga punjung yang dipersembahkan pada rerahinan yang sifatnya khusus, lebih istimewa, lebih beragam, dan lebih banyak. Karena dilengkapi dengan kopi, jaja, buah-buahan, dan makanan yang dihidangkan juga lebih lengkap seperti nasi, lauk pauk, kuah, sayur, sambel, sate, dll. Pokoknya lebih lengkap dan istimewa. Punjung ini dihaturkan pada hari rerahinan untuk mempermaklumkan kepada para leluhur bahwa hari ini adalah hari rerahinan. Bahwa pretisentananya melakukan persembahan kehadapan Ida Betara berupa banten di merajan dan di pura. Dan bersamaan dengan itu para leluhur juga dipersembahkan hidangan dalam bentuk punjung, dengan harapan para leluhur di alam sana mendapatkan kerahayuan dan sekaligus mendoakan agar para pretisentananya yang hidup di dunia ini mendapat kerahayuan juga. Dalam menghaturkan punjung saat rerahinan sang ibu atau yang menghaturkan akan mesee (berdoa dengan bahasanya sendiri) seperti misalnya “ratu sang pitara-pitari sareng sami sane nuenang driki, titian pretisentana duwene ngaturang punjung, mangda pada ledang rawuh budal ngarsayang, mangda pada ngerastitiang damuh utr sentana sami mangda rahayu”. Mungkin seperti itu see-nya yang mengharapkan agar para leluhur berkenan hadir pulang untuk menikmati santapan yang mampu dihidangkan oleh pretisentananya, serta leluhur berkenan untuk ngerastitiang atau mendoakan agar para sentananya mendapatkan kerahayuan di dunia ini.

Punjung tersebut juga dilengkapi dengan canang dan dupa sebagai sarana penyucian bahwa agar yang dihaturkan tersebut adalah suci dan untuk mencapai kesucian, termasuk juga kalau misalnya para leluhur yang tak sempat hadir pulang ke rumah, agar sari-sari atau amerta dari punjung tersebut sampai kepada para leluhur semuanya dimanapun berada, sehingga para leluhur menjadi senang dan berkenan.

Pada saat memunjung, leluhur diperlakukan seperti mereka masih hidup. Disediakan base, disuguhi wedang, rokok, kemudian makanan, dan seperadeg (seperangkat) pakaian dalam bentuk rantasan. Demikian juga disediakan air untuk membasuh tangan. Setelah ritual munjung selesai, pretisentananya yang menghaturkan punjung tersebut ikut menikmati hidangan tersebut yang diistilahkan dengan ngesag punjung, sebagai simbul kebersamaan atau hubungan harmonis antara pretisentananya yang masih hidup dengan yang sudah meninggal, istilahnya makan bersama. Pada saat itulah para leluhur akan merasa senang kepada para sentananya. Seandainya punjung tersebut tak disaag atau tak dinikmati oleh sentananya, maka disebut dengan ngoga. Para leluhur akan sedih melihatnya, karena sentananya tidak mau dekat dan tak mau bersenang-senang dengan leluhurnya. Demikian keyakinan manusia Bali terhadap hubungannya dengan leluhur.

Selain punjung harian, punjung rerahinan, juga ada punjung yang dibawa pada hari tertentu kepada saudara yang sudah meninggal namun masih dikubur. Biasanya dibawakan punjung pada hari rahinan ke kuburan dimana ia dikuburkan. Disana yang membawa pujung kemudian secara bersama-sama menikmati punjung di kuburan. Dan kalau misalnya tak sempat membawa punjung tersebut ke kuburan, maka punjung tersebut dihidangkan di rumah di bale dangin. Dari sini sang pitra dipanggil dengan menyebut namanya, diharapkan untuk bisa pulang sejenak menikmati hidangan punjung yang disuguhkan kepadanya dengan harapan mendapat ketenangan dan kebahagiaan di alam sana.

Ada juga punjung yang diberikan kepada orang yang baru meninggal. Pada saat ia diupacarai ngaben atau di kubur, punjung yang dibuat sangat istimewa dan beragam. Berbagai hidangan makanan, minuman, jaja-jaja, dan raka-raka dihidangkan kepadanya. Punjung ini adalah istimewa, sebagai bekal keberangkatannya ke dunia lain, atau sebagai oleh-oleh kepada para kerabat, teman dan handai taulan yang ditemui di alam sana atau disepanjang perjalanan.


Dari semua itu, punjung merupakan sarana atau media komunikasi antara leluhur dengan pretisentana yang masih hidup di dunia, untuk saling mendoakan agar mendapatkan kesejahteraan di dunia akhirat bagi yang sudah meninggal, dan di mercapada bagi yang masih hidup. Artinya bahwa manusia Bali dengan keyakinannya tak dapat dipisahkan dengan leluhur, dengan kata lain manusia Bali dengan keyakinannya ia hidup dalam dua dunia.

Dari berbagai sumber

Dewa Yama Sang Dewa Penguasa Kematian


Bethara Yama atau Yamaraja yang dikenal sebagai Dewa Yama adalah satu dari Dewa-dewa Hindu yang mengembara paling jauh ke dunia dibandingkan dengan dewa-dewa lainnya. Yamaraja memiliki tugas untuk mengadili jiwa-jiwa,menentukan apakah jiwa tersebut harus dijatuhi hukuman neraka atau di kirim ke sorga. Dewa Yama menjatuhkan hukuman kepada para roh pemdosa berdasarkan dosa-dosa yang telah mereka lakukan semasih hidup di dunia. Karena Yamaraja memiliki kemampuan dalam menentukan jenis hukuman yang dijatuhkan kepada para roh pendosa sesuai dengan aturan-aturan agama, maka Yamaraja juga dikenal dengan nama Dharmaraja. Alhasil, Yamaraja menjadi Dewa yang paling andal dalam hal mengadili para roh.

Meskipun bagi sebagian masyarakat penganut ilmu modern Dewa Yama dianggap sebagai tokoh khayalan belaka, namun berdasarkan catatan-catatan dalam sastra suci dan penyelidikan langsung oleh para orang suci, maka telah terbukti bahwa Dewa Yama memang benar-benar ada
.
Dalam purana-purana diceritakan bahwa Yamaraja adalah putera Dewa Matahari, Vivasvat. Ia juga memiliki saudara kembar perempuan bernama Yami atau Sungai Yamuna. Keduanya, Yama dan Yami disebutkan sebagai pasangan manusia pertama yang menjadi asal muasal dari ras manusia. Yama adalah orang pertama yang mengalami kematian dan juga yang pertama menuju alam kematian sehingga ia behasil menemukan dunia bawah. Karena ia adalah orang yang tiba di dunia bawah tersebut, ia pun mendapatkan anugrah kekuatan untuk memimpin keseluruhan wilayah di dunia bawah tersebut dan mendapatkan jubah Dewa Kematian. Dalam menjalani perannya sebagai Dewa Kematian, Dewa yama bekerjasama dengan Sang Penghancur/Pelebur, Dewa Siva.

Dewa Yama menjatuhkan hukuman kepada roh pendosa dengan sangat adil dan bijaksana berdasarkan dosa-dosa yang mereka perbuat dalam kehidupan mereka di Bumi. Hukuman yang diberikan oleh Dewa Yamadapat berupa siksaan-siksaan yang terlihat sangat kejam, misalnya roh-roh pendosa dibakar dalam samudra minyak mendidih, dipukul tanpa henti dengan tulang bergerigi, dan lain-lain. 

Yamaraja adalah Raja bagi para pitra dan bertempat tinggal di Pitraloka bersama para prajurit pribadinya, Yamaduta. Ia diberi kekuatan resmi sebagai hakim di bagian selatan (bagian bawah) alam semesta, yaitu di Patala. Lebih tepatnya, ia berdiam di Samyamani, sebelah selatan gunung Sumeru dengan dikelilingi oleh sabuk abadi yang bernama Sungai Vaitarani di depan pintu masuk planet kediamanYamaraja. 

SOSOK DEWA YAMA

Menurut pengalaman para waskita dan juga merujuk pada catatan-catatan dalam kitab suci Hindu, Dewa Yama pada umunya muncul sebagai sosok yang menakutkan. Bagi para roh pendosa, yamaraja terlihat sebagai sosok hitam dengan tangan dan kaki yang sangat besar, bibir yang bergetar, mata yang cekung sedalam antariksa, dan rambut yang berupa kobaran api. Namun, bagi para roh yang baik, Yamaraja akan mewujudkan diri sebagai sosok yang tampan menyerupai Vishnu dengan empat lengan dan sepasang mata yang indah. Namun pada umumnya, Yamaraja sering digambarkan sebagai sosok berwarna hijau dan berpakaian merah dengan mengendarai seekor kerbau. Tangannya memegang gada (Yamadunda) dan tali jerat untuk membebaskan roh dari badan wadagnya ketika sedang dalam proses kematian. 

Yamaraja memiliki dua ekor anjing rakus, yang mana masing-masing dari anjing tersebut mempunyai empat mata dan lubang hidung yang sangat besar. Kedua anjing tersebut menjaga jalan di sekitar kediaman Dewa yama. Disebutkan bahwa anjing-anjing Dewa Yama turut berkeliaran di antara manusia sebagai pembawa pesan kematian dengan mengirimkan seekor burung yang menandakan bahwa Dewa Yama akan segera datang. 

KEDIAMAN DEWA YAMA

Dewa Yama tinggal di dunia bawah, di kota Yamapura. Di kerajaan yang bernama Kalichi, ia tinggal bersama beberapa istrinya, yaitu Hemamala, Sushila dan Vijaya, dan beliau sendiri duduk diatas takhta pengadilan bernama Vicharabhu. Dalam menjalankan tugasnya, Dewa Yama dibantu oleh penasehat dan tukang catat semua perbuatan manusia di bumi,Chitragupta. Ia juga didampingi oleh seorang ketua pelayan (Canda atau Mahacanda) dan seorang penjaga (Kalapurusha). Selain itu, ada pula Yavana sebagai pelayan Yamaraja dan para Yamaduta sebagai prajurit dan pembawa pesan.

PROSES PENGADILAN DI KEDIAMAN DEWA YAMA

Yamaraja dan para Yamaduta mengambil roh seseorang menuju ke tempat pengadilan.Setiba di kediaman Yamaraja, pintu pengadilan pun ditutup dan dijaga oleh seorang penjaga pintu bernama Vaidhyata. Lalu, Chitragupta, sang pencatat atau perekam semua perbuatan sang roh mulai membacakan catatannya dari buku besar bernama Agrasandhani. Kemudian Yamaraja menentukan apakah roh tersebut akan dikirim ke tempat kediaman para pitri (pitriloka) atau ke salah satu dari ribuan planet neraka berdasarkan dosa yang diperbuatnya, atau juga akan dilahirkan kembali ke dunia dalam bentuk tubuh yang lain. 

Yogi Sampurna memuji keagungan Yamaraja sebagai Dewa Kematian yang menjalankan tugasnya dengan dharma. Yamaraja memimpin dunia bawah bersama para prajurit dan pembantunya menjatuhi hukuman kepada para roh pendosa dengan seadil-adilnya, yang tujuannya adalah menyucikan roh-roh tersebut sehingga mereka dapat kembali ke jalan Tuhan. Meskipun Yamaraja terkenal sebagai sosok yang menjadi terror bagi hampir semua orang yang takut menghadapi kematian, namun ternyata Dewa Kematian ini adalah juga Bhakta agung dari Tuhan, yaitu sebagi Mahajana dan Vaisnava. Dewa Yama yang gagah perkasa dan ditakuti ini tidak akan mampu berbuat apa-apa dihadapan para penyembah Tuhan, atau mereka yang teguh menginginkan pengetahuan tentang kesadaran atma dan wanita yang setia kepada suaminya. Yamaraja melarang para prajuritnya mendekati dan ataupun menyentuh para Bhakta Tuhan yang walaupun karena suatu kesalahan atau dikaburkan oleh kebingungan dan ilusi pada suatu kesempatan melakukan perbuatan berdosa. Para Bhakta ini terlindungi dari reaksi dosa karena mereka selalu mengula-ulang nama suci Tuhan atau senantisa merenungkan-Nya.

Disarikan dari berbagai sumber      

Bhuta Yadnya


Bhuta Yajna adalah pengorbanan suci yang tulus ikhlas kepada para Bhuta dan Kala, yaitu berbagai macam rokh halus yang lebih rendah tingkat kedudukannya dari pada manusia, namun mempunyai peranan yang sangat berarti. Bhuta dan Kala diyakini mempunyai fungsi berikut :

  • Berfungsi sebagai penjaga tempat-tempat tertentu.
  • Berfungsi sebagai pengganggu manusia.

Fungsinya sebagai pengganggu lebih menonjol. Bhuta dan Kala selalu ingin menghambat manusia yang hendak menghubungkan dirinya dengan Ida Sanghyang Widhi. Pada dasarnya Bhuta dan Kala ingin menguasai dan mengendalikan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, maka manusia perlu memberikan perhatian untuk memuaskan keinginan Bhuta dan Kala tersebut. Kepadanya perlu diberikan suguhan, sedekah atau sesajen berupa makanan dan minuman yang biasanya dinamakan caru.

Caru yang dibuat biasanya berupa bahan makanan khususnya yang berbau amis seperti bawang, jahe, jeroan, darah, nasi dan berbagai minuman yang merangsang. Bahan-bahan ini diramu sedemikian rupa sehingga berbentuk banten caru. Banten caru yang paling sederhana adalah nasi putih disertai garam dan bawang.

Yang penting juga dalam banten caru adalah adanya doa-doa atau puja stawa dan api takepan (api dengan dua buahsabut kelapa yang disilangkan). Ini khususnya sangat bermanfaat bagi pengusirn Bhuta dan Kala yang tidak mau diajak berdamai. Adapun tujuan Bhuta Yajna dengan melaksanakan caru adalah :
  • Untuk mengusir roh-roh halus yang jahat.
  • Untuk memuaskan keinginan roh-roh halus.

Untuk mengadakan perdamaian dengan roh-roh halus agar tidak mengganggu. Tingkat-tingkatan caru dapat dibedakan dalam bentuk nista, madya, dan utama :

Caru tingkat nista, berupa:
  • Segehan
  • Gelar Sanga

Caru Tingkat Madya, berupa :
  • Caru Eka Sato
  • Caru Panca Warna
  • Caru Panca Sato
  • Caru Panca sanak
  • Caru Panca Sanak Madurga
  • Caru Rsigana

Caru Tingkat Utama, berupa :
  • Caru Panca Kelud
  • Caru Walik Sumpah
  • Caru Labuh Gentuh/Tawur Agung
  • Tawur Panca Wali Krama
  • Tawur Eka Dasa Ludra

Pada umumnya caru tersebut diatas bertujuan untuk mohon kepada Ida Sanghyang Widhi agar mengadakan pembersihan atau penyucian terhadap lingkungan, seperti pekarangan, perumahan, perkampungan, desa, daerah atau wilayah sampai kepada pembersihan atau penyucian terhadap bumi dan alam semesta, supaya Bhuta dan Kala atau roh yang jahat tidak mengganggu manusia. Maksud berikutnya adalah untuk mohon kepada Ida Sanghyang Widhi agar dapat diberikan perlindungan dan    keselamatan kepada umat manusia, termasuk meniadakan dan menjauhkan semua godaan, gangguan dan rintangan serta menjaga keharmonisan bumi dan alam semesta. 

Dari berbagai sumber

Kisah Leak 24 - Dihadang Bojog (Monyet)


Kisah ini terjadi ketika Nyoman bersama ayahnya ikut menengok ibunya melahirkan di rumah sakit Sanglah Denpasar. Tampaknya jalan Nangka 22 tahun silam belum beraspal, sehingga bila naik sepeda harus hati-hati, karena di sana sini terdapat lubang-lubang. Sekitar pukul sebelas malam ibu Nyoman melahirkan anak wanita. Tidak lama dari waktu melahirkan itu, dokter menyarankan agar ari-arinya segera dibawa pulang. Nyoman langsung menerima perintah itu, dan segera pula menyampaikan kepada orang tuanya.

Waktu telah menunjukkan pukul satu malam. Dengan sepeda jengkinya yang baru, Nyoman segera meluncur pulang dari rumah sakit Sanglah. Di kota hanya terpasang beberapa lampu di jalan, sehingga gelapnya malam itu tidak dirasakan. Ayahnya dengan menaiki sepeda laki torpedo mengikuti Nyoman dari belakang. Cukup dirasakan oleh Nyoman, bahwa bau ari-ari yang dia bawa sangat amis/andih yang konon sangat disenangi oleh para leak. Ketika memasuki ujung selatan jalan Nangka di Taensiat, gelapnya malam begitu dirasakan, karena sama sekali tidak terpasang lampu sepanjamg jalan Nangka. Penerangan dari lampu sepedanya tidaklah mampu menerangi dengan baik jalan yang ia lalui. Kadang kala terdengar suara kengseng-kengseng akibat ban sepedanya jatuh ke beberapa lubang ringan di jalan. Nyoman pun agak takut di depan dan takut pula ari-ari yang dibawa jatuh, sehingga harus berhati-hati.

Kini memang tampaknya jalan Nangka sangat halus dan aman. Namun dulu di kiri kanan jalan tumbuh berjejer pohon glagah sepanjang jalan, sehingga menambah angkernya suasana malam. Jalan seolah-olah tertutup oleh rimbunan glagah itu, karena sebagian ujung-ujungnya bertemu diatas jalan. Ketika sampai di kawasan bengang sebelah selatan banjar Tangguntiti, secara remang-remang dari kejauhan terlihat sesosok hitam bersembunyi di batang rumpun pohon glagah. “Wah apakah itu jangan-jangan anjing”. Demikian pikiran Nyoman. Orang tuanya berada dalam jarak kurang lebih 7 meter di belakang Nyoman. Seketika dalam jarak kurang lebih 5 meter dari sosok hitam itu lampu sepeda Nyoman mati. Namun lampu sepeda orang tuanya tetap menyala. Nyoman pun agak kaget karena lampu sepedanya mendadak mati. Terlihat olehnya sesosok hitam itu meloncat dari sisi barat jalan menuju sisi timur jalan tepat di depan sepedanya. Bukan main kagetnya, bahkan hampir saja ia jatuh. “Apa to Man?” demikian kata-kata adiknya yang kebetulan dibonceng ketika itu.


Nyoman dengan jelas melihat bahwa itu adalah bojog ketika meloncat di depannya. Kemungkinan besar tujuannya untuk mengambil ari-ari yang dibawa oleh Nyoman yang tergantung pada stang sepedanya. Namun ketika lewat sekitar 10 meter dari tempat kejadian, lampu sepeda Nyoman kembali menyala. Orang tuanya dapat merasakan bahwa ada orang jahil ingin mengambil ari-ari yang dibawa oleh Nyoman. Ketika sampai di rumah Nyoman bertanya kepada ayahnya, kenapa lampu sepedanya mati ketika melihat bojog itu. Ayahnya menyatakan bahwa lampu yang dibawa Nyoman tidak berisi penolak leak atau desti. Kalau bisa hati-hatilah membawa ari-ari pada malam hari, karena bau amis/andihnya disenangi para leak.

Pernak-Pernik Upakara untuk Bayi


Upacara Manusa Yadnya  memiliki beberapa perangkat upacara yang memiliki makna penting yang perlu diketahui. Uparengga tersebut antara lain :

1.      Magedong-gedongan
Pada upacara ini terdapat sebuah gedong (bangunan gedong) yang dibuat dari daun janur, dan didalamnya diisi sebuah bungkak kelapa gading yang dirajah (digambar) seorang bayi.Dimana gedong tersebut sebagai simbul kandungan, sedangkan bungkak kelapa gading menjadi simbul seorang bayi yang sedang dalam kandungan. Pada waktu pelaksanaan upacara mandi di sungai sang calon bapak membersihkan pinggir sungai memakai sabit. Hal ini mengandung makna pembersihan jalan lahir si bayi.             
   
2.      Bayi baru lahir
Pada saat menanam ari-ari mempergunakan kelapa yang kulit serabutnya telah terkupas tetapi masih ada batok kelapanya dan dibelah dua, memakai ijuk, kain putih, dan rental yang berisi tulisan atau aksara dasa bayu,pisau, dari bambu (ngaad). Semua itu mengandung makna masing-masing sebagai berikut :  
  • Kelapa merupakan simbul kekuatan Sang Hyang Basunari, agar bayinya dilindungi
  • Kain putih sebagai pembungkus sebagai simbul kesucian, agar nanti anak setelah dewasa memelihara kesuciannya.
  • Pisau dari bambu menjadi simbul ketajaman pikiran atau kecerdasan.
  • Daun rontal yang ditulis menjadi simbul sebagai kesehatan rohani dan jasmani dan kelak dikemudian hari memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.
  • Ijuk merupakan simbul sebagai rambut si bayi agar lebat.
  • Setelah ari-arinya ditanam di atasnya disi batu hitam menjadi simbul keteguhan iman dan umur panjang.
  • Kemudian ditanamkan pohon pandan sebagai simbul buaya rakrik untuk menolak perbuatan jahat.
  • Ditanamkan pohon kantawali menjadi simbul nagapasa juga sebagai simbul penolak  jahat. 
  • Yang terakhir ditancapkan sebuah sanggah tutuan menjadi simbul stananya Sang Hyang Mahayoni Sakti sebagai dewanya si bayi.    
  • Diatas batu hitam /batu bulitan diletakkan sebuah lampu dari minyak kelapa dan ditutup dengan sangkar ayam (guwungan).Lampu tersebut menjadi simbul sinarnya Sang Hyang Surya Candra, supaya nanti si bayi memiliki kecemerlangan di dalam  batinnya.
  • Sangkar ayam menjadi simbul kekuatan dari Sang Hyang Mertyunjaya, agar jiwa Si bayi selalu dilindungi.

3.      Kambuhan/Bulan Pitung Dina (42 hari)
Pada upacara ini juga memerlukan beberapa perangkat upacara sebagai berikut:
  • Pelepah kelapa yang berlubang (papah bolong), buki, perangkat tersebut menjadi simbul pengikut si bayi lahir yang disebut bajang papah, bajang bukal, sebanyak 108 bajang supaya keluar dari diri si bayi. 
  • Dua ekor ayam yang masih hidup menjadi simbul bajang colongan. Memakai benang dari benang hitam merupakan simbul bahwa si bayi masih dalam status, pengaruh kekuatan Bhuta (Asuri Sampad)atau sebel kandelan (cuntaka).
  • Batu hitam kecil diberi kain hitam, telor itik diberi kain putih, pusuh biu diisi kain merah dan buah blego/mentimun diisi kain kuning, semua itu adalah merupakan personifikasi dari saudara si bayi yang diajak lahir (Sang Catur Sanak).

4.      Nyambutin (tiga bulanan)
Pada upacara penyambutan ini memiliki beberapa perangkat upacara antara lain :
  • Tetamanan yang dibawahnya disangga oleh sebuah lesung batu yang diberikan pembungkus kain poleng. Lengkap berisi sasat. Perangkat ini mengandung makan sebagai berikut : taman merupakan simbul stananya Sang Hyang Dewi Gangga sebagai dewa kesucian dan keindahan. Lesung batu dibungkus kain poleng menjadi stananya
  • Sang Hyang Bayu Bajera sebagai Dewa penunggun urip.Kain poleng menjadi simbul kesucian kecerdasan.
  • Tongkat bumbung merupakan simbul penuntunan kepada si anak berupa budi pekerti agar nantinya setelah dewasa selalu berpijak kepada kebenaran dan kebajikan.
  • Ayunan, kata ayunan ini adalah berasal dari kata “ayu” yang dapat diartikan keindahan atau rahayu. Merupakan simbul dari stananya Sang Hyang Ratih sebagai kekuatan kasih sayang.
  • Kumara. Kumara ini dibuat berbentuk pelangkiran kecil sebagai simbul stananya Sang Hyang Kumara merupakan Dewa pengasuh si bayi. Memakai gelang benang putih/perak/emas. Biasanya pada upacara ini diadakan pergantian gelang pada bayi, yang tadinya memakai gelang benang hitam, sekarang diganti dengan gelang benang putih atau perak/emas.Perangkat ini mengandung makna simbul bahwa, si bayi telah terlepas dari pengaruh bhuta dan telah masuk kea lam kedewataan( kealamkesucian).
  • Memakai pupuk. Pada upacara ini juga biasanya dilangsungkan dengan pemasangan pupuk, perangkat ini mengadung simbul dan makna bahwa, ubun-ubun si bayi telah rapat sempurna. Mengenai maknanya bahwa, kekuatan Sang Hyang Siwa secara sempurna telah berfunsi pada ubun-ubun (Siwa Dwara).

    
5.      Pawetonan turun ke tanah
Pada upacara ini mempergunakan beberapa perangkat upacara antara lain :
  • Memakai pane berisi air dan udang, ketam (yuyu) dan ikan nyalian, kalau tidak ada biasanya dibuatkan ikan tiruan seperti udang dibuatkan dari tembaga, ikan ketam dibuatkan dari besi dan ikan nyalian dibuatkan dari perak. Perangkat ini menjadi simbul Tri Pramana yaitu: Udang sebagai simbul sabda, Ketam sebagai simbul bayu, Ikan nyalian sebagai simbul idep.
  • Memakai cincin emas bermata mirah, adalah menjadi simbul jiwatman. Dengan demikian simbul-simbul diatas mengandung makna permohonan kepada Sang Hyang Widhi agar jiwatman, sabda, bayu dan idep si bayi dikembalikan ke dalam dirinya secara utuh.
  • Upacara pemetikan. Biasanya pada upacara pawetonan dilangsungkan dengan upacara pemetikan. Dalam upacara pemetikan mempergunakan gunting sebagai simbul kekuatan pelebur kekotoran lahir (sebel kandelan )yang bernama bhagawan Citrangkara/ Memakai cincin emas bermata mirah.
  • Perangkat upacara ini mengandung makna dan simbul kekuatan sinar suci Sang Hyang Mahadewa sebagai pengelebur kekuatan lahir.
  • Memaki langlang (sat ming-mang). Lalang ini memiliki makna dan simbul sebagai kekuatan Sang Hnyang Purusa yang bernama sang Hyang Panca Kusika sebagai kekuatan pengelebur segala kekotoran lahir.
  • Memakai bunga tunjung (teratai). Pada waktu  memotong  ujung rambut si anak, biasanya dilakukan pemotongan bunga tunjung terlebih dahulu sebelum memotong ujung rambut. Perangkat ini menjadi simbul Sang Hyang Siwa Guru. Sebagai kekuatan adharma yang ada pada diri si anak.
  • Memakai karawista. Perangkat upacara ini dipakai pada saat memulai mejaya-jaya dan karawista  ini dibuat dari daun lalang tiga lembar.  Karawista ini dipakai sebagai simbul arda candra, windu dan nada ( simbul suci) yang memiliki kekuatan untuk penyucian.

Tumpek Wayang & Tumpek Landep


Rainan Tumpek Wayang

Sebuah fenomena yang sangat menarik di Bali berkenaan tentang kelahiran anak pada hari yang dianggap keramat yaitu pada waktu wuku Wayang. Fenomena tersebut diyakini oleh orang Bali bahwa yang dilahirkan pada hari tersebut patutlah diupacarai lukatan besar yang disebut sapuh leger. Bagi anak yang diupacarai lahir bertepatan dengan waktu itu dimaksudkan supaya ia terhindar dari gangguan (buruan) Dewa Kala.

Menurut lontar Sapuh Leger dan Dewa Kala, Batara Siwa memberi izin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku Wayang. Atas dasar isi lontar tersebut, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada wuku Wayang, demi keselamatan anaknya itu, semeton Bali berusaha mengupacarainya dengan didahului mementaskan Wayang Sapuh Leger berikut aparatusnya dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen jenis wayang lainnya.

Menurut sistem perhitungan wuku, satu siklus lamanya 210 hari, karena tiap wuku lamanya 7 hari (Saptawara) dikalikan banyaknya wuku yang berjumlah 30 jenis. Satu bulan wuku lamanya 35 hari, dan setiap akhir bulan wuku itu disebut tumpek. Sehingga ada 6 jenis tumpek yaitu : Tumpek Landep, Tumpek Pengatag/Uduh, Tumpek Krulut, Tumpek Kuningan, Tumpek Kandang, dan Tumpek Wayang. Perhitungan Saptawara kemudian dikombinasikan pula dengan Pancawara (lima hari) dan setiap tumpek adalah jatuh pada Kliwon. Makanya, Tumpek Kliwon dirayakan secara besar di seluruh Bali, seperti Tumpek Kliwon Kuningan yang merupakan rentetan hari raya Galungan, dan diakhiri dengan Tumpek Kliwon Wayang.

Tiap anak yang lahir pada Tumpek Wayang, terutama pada Saniscara Kliwon Tumpek Wayang akan diadakan pergelaran Wayang Sapuh Leger. Kedudukan hari-hari tersebut secara special sangat sakral karena merupakan rentetan terakhir dari tumpek yang menurut orang Bali adalah angker dan bahaya, karena hari itu dikuasai oleh bhuta dan kala. Secara mitologis wuku Wayang dianggap sebagai salah satu wuku yang tercemar atau kotor, karena pada waktu inilah lahirnya seorang raksasa bernama Dewa Kala sebagai akibat pertemuan (sex relation) yang tidak wajar antara Batara Siwa dan istrinya, Dewi Uma. Mereka melakukan tidak pada tempatnya yang disebut kama salah.

Dari karakteristik hari-hari tersebut, Masyarakat Bali percaya bahwa setiap anak yang lahir pada wuku wayang harus mendapatkan penyucian yang khusus dengan upacara sapuh leger serta menggelar wayang. Pertunjukan wayang kulit yang ada sampai saat ini kenyataannya tidak dapat dilepaskan dengan upacara ritual dengan cerita mitologi. Hal ini dikisahkan karena isinya dianggap bertuah dan berguna bagi kehidupan lahir dan batin yang dipercayai serta dijunjung tinggi oleh pendukungnya.

Hipotesis yang menguatkan tentang latar belakang upacara nyapuh leger dengan media wayang kulit pada Tumpek Wayang adalah data sastra dalam naskah lontar. Salah satunya lontar Kala Purana berbunyi :

“Muwah Binuru sang Pancakumara, katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep/gender/nya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum…”

Artinya, setelah dikejar sang Pancakumara oleh Dewa Kala, sampai menjelang tengah malam ada seorang pria/dalang bernama Mpu Leger mempertunjukkan wayang pada waktu Tumpek Wayang. Setelah menghadap di depan kelir segera juru gender membunyikan gambelannya, suaranya merdu dan nyaring…

Gelar Wayang Sapuh Leger pada saat Tumpek Wayang bersifat religious, magis, dan spiritual, yang berhubungan dengan wawasan mitologis, kosmologis, dan arkhais, sehingga memunculkan simbol-simbol yang bermakna bagi penghayatan dan pemahaman budaya masyarakat Bali. Simbul-simbul tersebut terungkap baik lewat lakon, sajian artistic, fungsi, sarana, dan prasarana yang digunakan. SEdangkan maknanya mengendap dan menjadikan sistem nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tinggi bagi kelakuan manusia Bali. Dalam konteks ritual, Wayang Sapuh Legerberfungsi sebagai pemurnian bagi anak/orang yang lahir pada hari yang oleh orang Bali dianggap berbahaya yaitu pada wuku wayang, sehingga ia berfungsi sebagai pengukuhan atau pengesahan dari bentuk ritual keagamaan dan institusi-institusi sosial budaya masyarakat Bali. Karena salah satu perwujudan dari sistem religi mempunyai fungsi sosial untuk mengintensifkan solidaritas komunitasnya.

Tumpek wayang juga bermakna “hari kesenian” karena hari itu secara ritual diupacarai (kelahiran) berbgai jenis kesenian seperti wayang, barong, rangda, topeng, dan segala jenis gambelan. Aktifitas ritual tersebut sebagai bentuk rasa syukur terhadap Sang Hyang Taksu sering disimboliskan dengan upacara kesenian wayang kulit, karena ia mengandung berbagai unsur seni atau teater local. Dalam kesenian ini, semua eksistensi dan esensi kesenian sudah tercakup.

TUMPUKAN WAKTU TRANSISI

Tumpek wayang dan drama ritual wayang diamati dari aspek filosofinya, berorientasi temporal, spasial dan spiritual. Secara temporal pertunjukan Wayang Sapuh Leger diselenggarakan pada saat-saat tertentu yaitu pada tumpek Wayang., sehingga mitologi sapuh leger mengharuskan masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa dilarang bepergian pada tengai tepet (tengah hari), sandyakala (sore hari), dan tengah lemeng (tengah malam). Oleh karena diyakini waktu-waktu tersebut adalah waktu transisi yang sering mengancam keamanan seseorang saat melakukan perjalanan.

Tumpek Wayang itu sendiri merupakan tumpukan dari waktu-waktu transisi dan hari itu jatuh pada sabtu/saniscara kajeng kliwon, wayang. Saniscara merupakan hari terakhir dalam perhitungan saptawara, kajeng adalah hari terakhir dalam perhitungan triwara, dan kliwon merupakan hari terakhir dalam perhitungan pancawara. Sedangkan tumpek wayang adalah tumpek terakhir dari urutan enam tumpek yang ada dalam siklus kalender pawukon Bali. Dengan demikian dapat disimpulkan, tumpek wayang menjadi hari yang penuh dengan waktu-waktu peralihan, dan oleh karenanya anak-anak yang lahir pada saat ini ditakdirkan menderita karena mengalami gangguan gangguan emosi dan menyusahkan orang lain.

Untuk melawan akibat keadaan yang tidak menguntungkan itu, orang Bali melakukan upacara “penebusan dosa khusus” yang dinamakan lukatan sapuh leger, dengan harapan Hyang Widhi akan menganugerahkan nasib baik pada anak itu dan menjamin bahwa hari “lahir yang tidak baik” itu tidak akan berpengaruh buruk pada perkembangan selanjutnya.

Kata “Kala” secara etimologi berarti waktu, ketika, saat, zaman. Jadi Batara Kala artinya Dewa waktu atau penguasa waktu. Dari asal-usul etimologi tersebut, dapat disimpulkan bahwa mitos sapuh leger mengandung ajaran, petunjuk, dan pesan yang berdimensi temporal, yakni hendaknyalah orang dapat menguasai waktunya sendiri dan tidak membuang-buang waktu untuk perbuatan yang tak ada manfaatnya bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Mengatur waktu dengan sebaik-baiknya, niscaya akan besar sekali pengaruhnya bagi keselamatan dan kesejahteraan.

Rainan Tumpek Landep

Rainan Tumpek Landep akan segera kita rayakan pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Landep. Pada Hari Tumpek Landep terkenal dengan ritual keagamaan yang berhubungan dengan senjata tajam, baik itu berupa pusaka atau alat-alat rumah tangga yang lain.

Pada Rainan Tumpek Landep inilah semua hal yang bersifat tajam itu kembali di-Pasupati/disucikan dengan tujuan agar semua ke-leteh-an itu bisa diberishkan kembali.

Agama Hindhu memiliki banyak hari raya. Hari raya keagamaan itu sesungguhnya memiliki makna cukup luas. Termasuk Tumpek Landep, tak hanya bermakna ritual. Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kesadaran pikiran. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Menurut Ida Pedanda Made Gunung, dengan pikiran yang tajam diharapkan umat dapat menumpulkan gejolak indria dan menghindari perilaku menyimpang. Tumpek, kata Ida Pedanda, berarti pula tampek dan landep berarti lanying (tajam). Dalam perayaan ritual Tumpek Landep, umat diingatkan untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala.

Dalam kehidupan sehari-hari umat diisyaratkan untuk selalu menajamkan ilmu dan keterampilan agar mampu bersaing dalam era kesejagatan. ''Yang terpenting lagi, umat hendaknya selalu menajamkan keyakinannya terhadap Tuhan,'' katanya. Dalam situasi seperti sekarang, umat penting pula menajamkan rasa persatuan dan kesatuan dan membangkitkan kewaspadaan diri. Termasuk mewaspadai keamanan Bali. Jangan mau dipecah-belah, karena buta politik. Sebab, sejarah membuktikan, banyak orang Bali menjadi korban politik. Padahal politik dalam arti sesungguhnya memiliki tujuan mulia yakni untuk mensejahterakan masyarakat. Tetapi, praktiknya berbeda, politik justru untuk mensejahterakan kelompok dan diri sendiri.

Di samping itu, ritual Tumpek Landep merupakan tonggak introspeksi (mulatsarira). Artinya, umat manusia dituntun agar bisa mengaktualisasikan diri pada pembentukan watak atau karakter yang sesuai dengan ajaran agama. Setiap Tumpek Landep, umat diharapkan mulatsarira, evaluasi diri apa yang telah dilakukan selama ini. Ini penting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam masa mendatang.

Keperluan untuk menyeimbangkan keperluan jasmani dan rohani sangat diperlukan. Jika setiap hari umat masuk dapur tiga kali, hal yang sama mesti dilakukan untuk keperluan rohani. Itu berarti umat mesti bersembahyang tiga kali sehari ke merajan. Dengan demikian, ada keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.

Ida Pedanda menegaskan, Tumpek Landep bukan otonan motor atau komputer. Tumpek Landep adalah pemujaan Tuhan karena saat itu beryoga Dewa Siwa. Makanya persembahyangan Tumpek Landep adalah di Merajan/Pura masing-masing. 

Disarikan dari berbagai sumber


"Pemurtian" sebagai Pemagpag Kajeng Kliwon


Orang tua selalu mengatakan, jangan mengobral pembicaraan pada saat hari rerainan. Apalagi “Rerahinan Gede”. Lalu jangan sekali-kali berbicara yang cah cauh atau ngawur pada hari rerahinan seperti pemagpag kajeng kliwon, kajeng kliwon atau rerahinan lainnya. Sebab akan menimbulkan sesuatu yang tak baik seperti cekcok, pertengkaran ,dll.

Lain cerita lagi, ada seseorang yang memiliki karakter dimana setiap menjelang rerahinan atau saat rerahinan, maka orang tersebut mudah tersinggung, mudah marah. Sehingga ketika menjelang rerahinan atau pada saat rerahinan seringkali marah-marah, sering kali terjadi pertengkaran, padahal masalah yang dipertengkarkan tersebut adalah masalah yang sangat sepele. Dan bahkan penyebab marahnya kadangkala tak masuk akal.

Kenapa bisa demikian? Hal ini konon disebabkan oleh hari tersebut seperti kajeng kliwon, memiliki aura atau energy yang berbeda dengan hari lainnya. Pancaran energy pada hari ini cenderung memiliki aura magis, yakni aura “pemurtian”. Jadi apabila seseorang yang sensitif dalam artian tak kuat daya pikir atau daya nalar dan pengendalian dirinya, serta tak kuat mentalnya, maka orang tersebut pada hari itu cenderung akan terpengaruh oleh kekuatan energy pada hari itu. Sinyal dari kekuatan hari itu akan mempengaruhi pikiran orang yang bersangkutan sehingga mudah terganggu, mudah kacau, sehingga ia akan mudah marah, mudah tersinggung. Yang bersangkutan cenderung menunjukkan kemarahannya, menunjukkan kekuatannya yang disebut dengan “memurti”.

Karena sifat energy pada hari itu adalah magis dan pemurtian, maka banyak para penekun ilmu kedigjayaan dari berbagai aliran yang bertujuan untuk membangkitkan kekuatan magis atau pemurtian, sangat baik melakukan ritual pada hari tersebut. Karena hari itu energy pemurtiannya sangat kuat dan besar, sehingga segala sesuatu baik itu kekuatan didalam tubuh maupun kekuatan magis, sebuah benda akan dilakukan ritual pada hari itu yakni pada hari kajeng kliwon, seperti pemasupatian, ngerehang sabuk, jimat, dll.

Sehari sebelum hari kajeng kliwon disebut dengan pemagpag kajeng kliwon. Pamagpag berasal dari kata pagpag yang artinya sambut atau menyambut. Sehingga dengan demikian pemagpag kajeng kliwon artinya hari menjelang kajeng kliwon. Bagi para penekun spiritual yang mengutamakan kekuatan magis, maka hari pemagpag kajeng kliwon adalah hari yang sangat istimewa. Sebab pada hari itu segala rencana dipersiapkan dengan sangat matang, yang sudah tentunya yang bersifat magis.

Pada hari pemagpag kajeng kliwon terutama ketika memasuki waktu sandikala memang mulai memancarkan aura magis. Pada saat itulah kemudian para penekun spiritual dari garis kedigjayaan mulai menjalankan ritual-ritual serta menjalankan segala bentuk kedigjayaan mereka. Pada hari pemagpag kajeng kliwon semua perguruan spiritual melakukan uji coba terhadap segala kemampuan yang telah dimiliki dengan harapan akan menjadi semakin mantap dan sekaligus memelihara kekuatan tersebut agar tak punah. Dengan demikian, hari itu sangatlah keramat terutama pada malam hari. Sebab pada hari itu pula akan dilakukan latihan bersama, uji coba kekuatan, latih tanding. Atau bahkan perang kewisesan (siat peteng) antar perguruan untuk mengukur kekuatan masing-masing dilakukan pada malam itu. Sehingga pada hari itu adalah hari yang sangat keramat, karena aura magis dari hari tersebut, ditambah lagi dengan banyak orang yang mengaktifkan kekuatan magis pada hari itu.

Keesokan harinya pada hari kajeng kliwon adalah hari dimana semua latihan tanding, semua uji kekuatan, sudah dilangsungkan. Pada hari itu adalah hari untuk melakukan ritual pembersihan, ritual penyucian, ritual pemujaan kehadapan Ida Betara yang telah menganugrahkan kekuatan tersebut. Sehingga pada hari kajeng kliwon adalah hari yang baik untuk menghaturkan segala sesaji yang bertujuan untuk memelihara kekuatan magis, memohon kekuatan magis, serta pemujaan khadapan Betari sebagai penguasa dari ilmu kedigjayaan. Pada hari itu dilakukan ritual ngaturang banten, laba, dan penyamblehan, sebagai sarana permohonan kekuatan, penyucian kekuatan serta pemujaan kehadapan Hyang Betari.


Dengan demikian, maka hari yang magis dipenuhi dengan aura kesaktian dan pemurtian adalah pada hari pemagpag kajeng kliwon. Sedangkan pada hari kajeng kliwon semuanya sudah kembali pada posisi masing-masing untuk melakukan ritual pemujaan dan persembahan. Oleh sebab itu, orang tua mengatakan jangan bepergian jauh atau jangan melakukan perjalanan yang tak perlu pada hari pemagpag kajeng kliwon terutama pada malam harinya. Sebab akan sering mendapatkan celaka. Karena pada hari itu banyak orang yang memiliki kekuatan batin, kekuatan ilmu magis akan mengaktifkan kekuatannya serta melakukan uji coba serta melakukan pemurtian terhadap segala kemampuan ilmu yang dimilikinya. Sehingga dikawatirkan pancaran ilmu itu akan mengenai orang yang sedang lewat. Kalau dalam bahasa Bali disebut dengan “kena tamplig” (kena imbas) yang bisa menyebabkan celaka. Nah itulah sebabnya kenapa pada hari pemagpag kajeng kliwon dianggap sebagai hari yang sangat keramat dan bahkan dirasa lebih keramat dari hari kajeng kliwon. 

Disarikan Oleh Team dari berbagai sumber