Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Odalan di Pura Gunung Salak


Om Swastiastu Om

Odalan di Pura Gunung Salak (Pura Parahyangan Agung Jagatkartta, Pura Pasar Agung & Melanting) akan dilaksanakan pada hari Selasa 9 September 2014 (Purnama Ketiga)

Penyineban akan dilakukan pada tanggal 10 Sep 2014

Silahkan para pemedek untuk tangkil bersembahyangan

Om Shanti, Shanti, Shanti Om






Dewa Brahma

Dewa Brahma

Brahma adalah dewa Hindu (deva) penciptaan dan salah satu Trimurti (baca: Proses Penciptaan Alam Semesta), yang lainnya adalah Wisnu (baca: Dewa Wisnu) dan Siwa (baca: Dewa Shiva). Menurut Brahma Purana, dia adalah ayah dari Manu, dan dari Manu semua manusia adalah keturunan. Di Ramayana dan Mahabharata, ia sering disebut sebagai nenek moyang atau grandsire besar semua manusia. Sesuai tradisi Hindu, Veda tidak pernah diciptakan oleh siapa pun karena selalu ada dari zaman dahulu. Shakti Brahma adalah Saraswati (baca: Hari Raya Saraswati). Saraswati juga dikenal dengan nama-nama seperti Savitri dan Gayatri, dan telah mengambil bentuk yang berbeda sepanjang sejarah. Brahma sering diidentikkan dengan Prajapati, dewa Veda. Menjadi suami dari Saraswati atau Vaak Devi (Dewi Speech), Brahma juga dikenal sebagai "Vaagish," yang berarti "Lord of Speech and Sound.

Menurut Shri Madha Bhagawata Mahapurana, Brahma lahir melalui pusar Wisnu, Wisnu adalah sumber utama dari apapun yang ada di dunia; yang diciptakan oleh-Nya dari bagian bahan tubuhnya sendiri di alam semesta ini, kemudian Beliau bertanya-tanya tentang pembentukan Manusia di planet ini, maka pada awalnya Beliau telah menciptakan teratai dari pusarnya dan dari lotus Brahma berasal. Menurut Purana, Brahma adalah lahir di bunga teratai. Legenda lain mengatakan bahwa Brahma lahir di air, atau dari benih yang kemudian menjadi telur emas, Hiranyagarbha. Dari telur emas ini, Brahma, pencipta lahir. Bahan-bahan sisa telur emas ini diperluas ke Brahmanda atau alam semesta. Dilahirkan di air, Brahma juga disebut sebagai Kanja (lahir di air). Ada cerita untuk Sharsa Brahma maka konsep multiple semesta sebagai setiap Brahma menciptakan nya Bhramand (alam semesta) selama satu tahun Brahma

Pada awal proses penciptaan, Brahma menciptakan empat Kumāras atau Caturṣaņa. Namun, mereka menolak perintahnya untuk berkembang biak dan bukannya mengabdikan diri kepada Dewa Wisnu.

Dia kemudian melanjutkan untuk menciptakan dari pikiran sepuluh anak atau Prajāpatis  yang diyakini sebagai ayah dari umat manusia. Tapi karena semua anak-anak yang lahir dari pikirannya, bukannya dari tubuh, mereka disebut Manas Putras.

Brahma memiliki sepuluh putra dan satu putri Dinamakan Shatrupa yaitu, Marichi, Atri, Angirasa, Pulaha, Pulasthya, Krathu, Vashista, Prachethasa, Bhrigu, Narada

Beliau memakai pakaian merah. Brahma secara tradisional digambarkan dengan empat kepala, empat wajah, dan empat lengan. Dengan setiap kepala, Ia terus membacakan salah satu dari empat Weda. Dia sering digambarkan dengan jenggot putih (terutama di India Utara), menunjukkan sifat hampir kekal keberadaannya. Tidak seperti kebanyakan dewa Hindu lainnya, Brahma tidak memegang senjata. Salah satu tangannya memegang sebuah tongkat. Lain tangannya memegang sebuah buku. Brahma juga memiliki serangkaian tasbih disebut 'akṣamālā' (karangan bunga mata), yang Ia gunakan untuk melacak waktu alam semesta. Dia juga terlihat memegang Weda. 

Pengikut agama Hindu percaya bahwa Manusia tidak mampu kehilangan berkat-berkat Brahma dan Sarasvati, karena tanpa berkat Beliau manusia akan kekurangan kreativitas, pengetahuan untuk memecahkan kesengsaraan manusia. Ada sebuah kisah tentang kepala yang kelima. Kepala ini datang ketika Shatrupa mulai terbang menjauh darinya dan bertengger di atas empat kepala - melambangkan nafsu dan ego, kemudian kepala tersebut dipenggal oleh Shiva, sehingga Brahma kembali dengan empat kepala avatarnya yang melahirkan Weda. Kepala kelima tinggal dengan Shiva maka Shiva mendapat nama Kapali.

Simbol Dewa Brahma
Empat Wajah - Empat Veda (Rig, Sama, Yajur dan Atharva). 
Empat Tangan - Brahma empat lengan mewakili empat arah mata angin: timur, selatan, barat, dan utara. Tangan kanan kembali merupakan pikiran, tangan kiri belakang mewakili kecerdasan, tangan kanan depan ego, dan tangan kiri depan kepercayaan diri. 
Manik-manik Doa - Melambangkan zat yang digunakan dalam proses penciptaan. 
Buku - buku melambangkan pengetahuan. 
Emas - Emas melambangkan kegiatan; wajah emas Brahma menunjukkan bahwa Ia secara aktif terlibat dalam proses penciptaan alam semesta. 
Angsa - Angsa adalah simbol rahmat dan kebijaksanaan. Brahma menggunakan angsa sebagai vahana 
Mahkota - Mahkota Brahmā mengindikasikan otoritas tertinggi Nya. 
Bunga Teratai - teratai melambangkan alam dan esensi hidup segala sesuatu dan makhluk di alam semesta. 
Jenggot - jenggot hitam atau putih Brahma ini menunjukkan kebijaksanaan dan proses abadi penciptaan. 

Di Bali, Dewa Brahma di posisikan di Selatan/Daksina dan di stanakan di Pura Andakasa. Pura Andakasa adalah pura kahyangan jagat yang terletak di Banjar Pakel Desa Gegelang Kecamatan Manggis, Karangasem. Pura ini didirikan atas konsepsi Catur Loka Pala dan Sad Winayaka. Pura yang didirikan berdasarkan konsepsi Catur Loka Pala adalah empat pura sebagai media pemujaan empat manifestasi Tuhan untuk memotivasi umat mendapatkan rasa aman atau perlindungan atas kemahakuasaan Tuhan. Keempat pura itu dinyatakan dalam kutipan Lontar Usana Bali di atas. Mendapatkan rasa aman (raksanam) dan mendapatkan kehidupan yang sejahtera (danam) sebagai kebutuhan dasar masyarakat yang wajib diupayakan oleh para pemimpin atau kesatria. Demikian dinyatakan dalam Manawa Dharmasastra I.89.

Usaha manusia itu tidak akan mantap tanpa disertai dengan doa pada Tuhan. Memanjatkan doa pada Tuhan untuk mendapatkan rasa aman (raksanan) di segala penjuru bumi itulah sebagai latar belakang didirikannya Pura Catur Loka Pala di empat penjuru Bali. Di arah selatan didirikan Pura Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Hyanging Tugu. Hal ini juga dinyatakan dalam Lontar Babad Kayu Selem. Sedangkan dalam Lontar Padma Bhuwana menyatakan: ''Brahma pwa sira pernahing daksina, pratistheng kahyangan Gunung Andakasa.'' Artinya Dewa Brahma menguasai arah selatan (daksina) yang dipuja di Pura Kahyangan Gunung Andakasa.

Yang dimaksud Hyanging Tugu dalam Lontar Usana Bali dan Babad Kayu Selem itu adalah Dewa Brahma sebagai manifestasi Tuhan dalam fungsinya sebagai pencipta.

Pura Andakasa juga salah satu pura yang didirikan atas dasar konsepsi Sad Winayaka untuk memuja enam manifestasi Tuhan di Pura Sad Kahyangan. Memuja Tuhan di Pura Sad Kahyangan untuk memohon bimbingan Tuhan dalam melestarikan sad kertih membangun Bali agar tetap ajeg -- umatnya sejahtera sekala-niskala. Membina tegaknya Sad Kertih itu menyangkut aspek spiritual yaitu atma Kertih. Yang menyangkut pelestarian alam ada tiga yaitu samudra kertih, wana kertih dan danu kertih yaitu pelestarian laut, hutan dan sumber-sumber mata air. Sedangkan untuk manusianya meliputi jagat kertih membangun sistem sosial yang tangguh dan jana kertih menyangkut pembangunan manusia individu yang utuh lahir batin.

Jadinya pemujaan Tuhan Yang Mahaesa dengan media pemujaan dalam wujud Pura Catur Loka Pala dan Sad Winayaka untuk membangun sistem religi yang aplikatif. Sistem religi berupaya agar pemujaan pada Tuhan Yang Maha Esa itu dapat berdaya guna untuk memberikan landasan moral dan mental.

Pura Andakasa dalam kesehariannya didukung oleh dua desa pakraman yaitu Desa Pakraman Antiga dan Gegelang. Menurut cerita rakyat di Antiga didapatkan penjelasan bahwa pada zaman dahulu di Desa Antiga ada tiga butir telur jatuh dari angkasa. Tiga telur tersebut didekati oleh masyarakat. Tiba-tiba telur itu meledak dan mengeluarkan asap. Asap itu berembus dari Desa Antiga menuju tiga arah. Ada yang ke barat daya, ke barat laut dan ke utara. Masyarakat Desa Antiga mendengar adanya sabda atau suara dari alam niskala. Sabda itu menyatakan bahwa asap yang mengarah ke barat daya desa adalah Batara Brahma. Sejak itu bukit itu bernama Andakasa sebagai tempat pemujaan Batara Brahma. Asap yang ke barat laut desa adalah Batara Wisnu menuju Bukit Cemeng didirikan Pura Puncaksari. Asap yang menuju ke utara desa adalah perwujudan Batara Siwa dipuja di Pura Jati. Tiga pura di tiga bukit itulah sebagai arah pemujaan umat di Desa Antiga dan Desa Gegelang.

Pemujaan Batara Brahma di Pura Andakasa ini dibangun di jejeran pelinggih di bagian timur dalam bentuk Padmasana. Di bagian jeroan atau pada areal bagian dalam Pura Andakasa di jejer timur ada empat padma. Yang paling utara adalah disebut Sanggar Agung, di sebelah selatannya ada pelinggih Meru Tumpang Telu. Di selatan meru tersebut ada padmasana sebagai pelinggih untuk memuja Dewa Brahma atau Hyanging Tugu. Di sebelah selatan pelinggih Batara Brahma ada juga dua padmasana untuk pelinggih Sapta Petala dan Anglurah Agung.

Upacara pujawali atau juga disebut piodalan di Pura Andakasa diselenggarakan dengan menggunakan sistem tahun wuku. Hari yang ditetapkan sejak zaman dahulu sebagai hari pujawali di Pura Andakasa adalah setiap hari Anggara Kliwon Wuku Medangsia. Di samping ada pujawali setiap 210 hari, juga diselenggarakan upacara pecaruan setiap Anggara Kliwon pada wuku Perangbakat, wuku Dukut dan wuku Kulantir.

Setiap pujawali di Pura Andakasa pada umumnya diadakan upacara melasti ke Segara Toya Betel di Desa Pengalon. Tujuan melasti ini adalah untuk lebih menguatkan dan memantapkan umat dalam menyerap vibrasi kesucian Ida Batara di Pura Andakasa. Tujuan utama melasti menurut Sundarigama adalah anganyutaken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana. Artinya mengatasi penderitaan rakyat, menghilangkan kekotoran (klesa) diri dan untuk menyucikan alam lingkungan dari pencemaran.

Dari berbagai Sumber

Pakem Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada - 2


KEUTAMAAN KEPEMIMPINAN GAJAHMADA

( Asta Dasa kepemimpinan Gajah Mada)

A. Dimensi Spiritual
  1. WIJAYA : Tenang sabar dan bijaksana. Menururt Gajah Mada seseorang peminpin harus mampu meminpin dirinya sendiri terlebih dahulu, baru meminpin orang lain. Seorang pemimpin hendaknya senantiasa  Tenang,Sabar, dan Bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan Oleh karenanya, seorang pemimpin  harus pandai mengendalikan diri , baik dalam pengendalian pikiran, perkataan, dan perbuatan. WIJAYA IN ACTION : Ketenangan Gajahmada dalam menyelamatkan Prabu jayanegara ketika pembrontakan Rakuti. Ketenangan dan kemampuan Gajahmada dalam Menumpas pembrontakan Rakuti
  2. MASIHI SEMESTA BHUANA. (mencintai alam semesta) Seorang pemimpin hendaknya mencintai alam semesta  dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia dari Hyang Widhi (Tuhan yang maha Esa)  dan mengelola  sumber daya alam dengan sebaik baiknya demi kesejahtraan rakyat .
  3. PRASAJA : HIDUP SEDERHANA Seorang pemimpin hendaknya berpola hidup sederhana , tidak berfoya foya atau hidup  serba gemerlapan. Sumpah palapa sebagai bukti Gajahmada adalah seorang pemimpin  yang tidak mementingkan kenikmatan Pribadi. Untuk melatih Prasaja adalah sebagai berikut.
    • Mengurangi makanan yang berlebihan  melalui puasa, tidak mengumbar nafsu makan secara berlebihan
    • Mengurangi tidur terlalu banyak atau jangan pula terlalu banyak melek
    • Mengurangi bicara yang berlebihan, berbicaralah bila perlu saja
    • Mengurangi kegiatan sexual yang berlebihan, tidak berlebih lebihan dalam nafsu sexual
B. Dimensi Moral
  1. MANTRI WIRA. Seorang pemimpin hendaknya berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh tekanan dari pihak manapun. Menurut Gajah Mada menegakkan  kebenaran dan keadilan adalah prinip utama yang harus dimiliki seorang pemimpin, Untuk memegang teguh prinsip Mantriwira. Maka diperlukan: 
    • KAWIRYAN, Keberanian diri yang luar biasa untuk menjalankan prinsip berani karena benar dan takut karena  salah
    • ATMASAMPAT, Berintegritas tinggi, moral yang luhur, serta obyektif dalam memandang sesuatu
  2. SARJAWA UPASAMA, Seorang pemimpin harus rendah hati, tidak boleh sombong, congkak, mentang-mentang  jadi pemimpin, dan tidak sok berkuasa. Untuk dapat berprilaku seperti itu Menurut Gajah Mada, seorang pemimpin jangan berprilaku  ADHIGANG (kekuatan), ADHIGUNG (Kekuasaan), dan ADHIGUNA (kepandaian) 
  3. TAN SATRESNA (bersikap adil dan obyektip), Seorang pemimpin tidak boleh memihak dan pilih kasih terhadap salah satu golongan atau memihak saudaranya, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan, sehingga dengan demikian  akan mampu  mempersatukan seluruh potensi  masyarakatnya untuk menyukseskan cita cita bersama. Dengan berprilaku Tan Satresna, maka Gajah Mada  sebagai seorang pemimpin mampu melaksanakan  BHEDA  dan DANDA
    • BHEDA : Memberikan perlakuan yang sama  dan adil untuk semua orang  tanpa melihat hubungan kroni, aliran, dan golongan apapun dalam melaksanakan  hukum dan peraturan
    • DANDA : Memberikan punishment (hukuman)  secara adil  kepada siapa saja yang berbuat salah/melanggar hukum  tanpa pandang bulu sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku
  4. SUMANTRI (bersikap tegas dan Jujur), Seorang pemimpin harus tegas, jujur dan berwibawa. Untuk itu  menurut Gajag Mada,  seorang pemimpin hendaknya terus menerus melatih  TRIKAYA PARISUDHA 
  5. SIH SAMASTA BHUANA (Dicintai dan mencintai rakyat). Seorang pemimpin harus mencintai dan dicintai rakyatnya. Menurut Gajah Mada, pemimpin yang pantas dicintai rakyatnya  haruslah:
    • ABHIKAMIKA (Tampil  simpatik , berorientasi ke bawah dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi  dan kelompok )
    • NGESTI PRIAMBADA (Selalu memberikan rasa kebahagiaan, ketentraman serta kedamaian lahir batin kepada masyarakatnya)
    • KAPRIHATINING PRAJA(Mempunyai  rasa belas kasihan  kepada bawahan dan berusaha mengadakan perbaikan nasibnya)
  6. NAGARA GINANG PRATIJNA (cinta tanah air dan bangsa ). Seorang pemimpin harus senantiasa mengutamakan  kepentingan negara  dari pada kepentingan pribadi, golongan, maupun keluarga. Gajah Mada Selalu menunjukkan  loyalitasnya  kepada kepentingan  nusa dan bangsa
C. Dimensi Managerial
  1. NATANGGUAN (raih kepercayaan Rakyat dan jagalah). Seorang pemimpin harus  mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga  kepercayaan yang diberikan  tersebut sebagai tanggung jawab dan kehormatan. Menurut Gajah Mada ada  6 (enam)  hal  yang harus dilakukan seorang pemimpin.
    • Laku hambeking Batara Bayu, Senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya  selalu turun ke bawah  untuk benar-benar mengenal  denyut kehidupan masyarakatnya     
    • Siddhi wisesa : Kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat       
    • Madya Hanyakrabawa: Selalu di tengah-tengah masyarakatnya, senantiasa berkonsolidasi memberikan bimbingan  dan mengambil keputusan  dengan musyawarah  dan mufakat  yang mengutamakan kepentingan masyarakat 
    • Ngarso Hanyakrabawa : Senantiasa memberikan  panutan-panutan yang baik sehingga dapat dijadikan  suri teladan bagi masyarakatnya     
    • Ngarsa dana ngupaya dana: Selalu berada dibarisan terdepan dalam  mengorbankan tenaga , waktu, pikiran, dan materi       
    • Wikrama wisesa : Berusaha sekuat tenaga  untuk melaksanakan program program demi mencapai tujuan yang dicanangkan
  2. SATYA BAKTI PRABU (loyal kepada kepentingan yg lebih tinggi) : Seorang pemimpin harus memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi nusa dan bangsa  
  3. WAKMI WAK (kemampuan berbicara kepada kepentingan yg lebih tinggi): Seorang pemimipin harus mempunyai kemampuan  mengutarakan pendapatnya, pandai berbicara dengan tutur kata  yang tertib dan sopan, serta mampu menggugah  semangat masyarakatnya. Menurut Gajah mada ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam  berkomunikasi      
    • Papan : Perhatikan posisi dimana kita akan berkomunikasi, di rumah, kantor , atau masyarakat 
    • Adepan : Perhatikan  dengan siapa kita akan berkomunikasi, pria/wanita, intelektual, dewasa/anak, rekan/bawahan, budayanya, dsb       
    • Kapan : Perhatikan waktu yang tepat untuk berkomunikasi ...jangan paksa  orang yang payah untuk berbicara masalah berat
  4. WICAKSANENG NAYA (bekerja dengan strategi) : Seorang pemimpin harus pandai  berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat. Strategi harus dilandasai oleh  pondasi  visi dan misi  yang jelas   
  5. DIROTSAHA (bekerja  cerdas dengan target jelas dan bisa diukur dlm batas waktu). Seorang pemimpin harus rajin dan tekun bekerja pemimpin harus memusatkan rasa , cipta, dan karsa. Dan bekerja untuk mengabdi kepada kepentingan umum
  6. DIBYACITA ( acomodatip dan inspiratip). Seorang pemimpin harus lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya Akomodatif dan Aspiratif.   
  7. NAYAKEN MUSUH (mengatasi musuh/kendala). Seorang pemimpin harus  dapat menguasai musuh musuh , baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiriSadripu/enam musuh dalam diri)   
  8. AMBEK PAREMARTHA (focus pada pencapaian target, bekerja dg skala prioritas). Seorang pemimpin harus  pandai menentukan proiritas atau mengutamakan  hal-hal yang  lebih penting bagi kesejahtraan dan kepentingan umum.   
  9. WASPADA PURWARTA (evaluasi dan peningkatan secara berkesinambungan). Seorang pemimpin harus  selalu waspada dan mau  melakukan  mawas diri (instropeksi) untuk melakukan perbaikan

Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag)


Tumpek Wariga akan segera kita rayakan dimana Rainan ini menekankan pada penghargaan manusia kepada tumbuh-tumbuhan. Berikut adalah Dharma Wacana dari manuku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak tentang makna Rainan tersebut

_________________________________________________

Om Swastiastu Om

Tumpek Wariga akan segera kita rayakan. Tumpek yang jatuh pada hari Saniscara Kliwon Wariga dikenal dengan nama Tumpek Pengatag adalah merupakan rangkaian yang sangat penting yang harus diikuti menjelang Hari Raya Galungan yang akan jatuh 25 hari kemudian.

Tumpek merupakan hari yang menandai pertemuan antara Panca Wara dalam hal ini Kliwon dengan Sapta Wara dalam hal ini Saniscara. Pada petemuan kedua Wara ini diyakini merupakan hari yang sangat baik untuk merayakan sesuatu.

Sebagai penganut Hindhu di Indonesia, kita mengenal 6 jenis Tumpek dalam siklus 6 bulan Bali (210 hari) yaitu, Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan Tumpek Wayang. Berbagai macam fungsi Tumpek tersebut sudah banyak dibicarakan dan didiskusikan di kalangan penganut Hindhu di Bali.

Khusus untuk Tumpek Wariga orang Bali menyebutnya dengan Tumpek Pegatag karena pada saat itu dilakukan ritual untuk tumbuh-tumbuhan. Tujuannya adalah agar tumbuh-tumbuhan tersebut bisa berdaun, berbuah atau berbunga dengan lebat sehingga manusia bisa merayakan Hari Raya Galungan 25 hari kemudian.

Dari segi ini bisa kita simpulkan bahwa kegiatan Tumpek Pengatg/Wariga sangatlah penting mengingat Galungan merupakan hari raya yang diperingati sangat megah di Bali. Segala sesuatu hasil bumi diperlukan untuk menyukseskan Galungan tersebut.

Bila kita tinjau dari segi filosofi keagamaan, maka Tumpek Wariga ini erat kaitannya dengan salah satu sloka dari Bhagavad Gita, yaitu:

patram pushpam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami pryatatmanah

 Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 26

Artinya adalah:
Meskipun seorang Bhakta hanya mempersembahkan Daun, Bunga, Buah dan Air yang  asalkan dilakukan dengan tulus iklhas, maka persembahan itu akan Aku terima.

Kita bisa lihat bahwa tiga dari empat komponen yang disebutkan dalam sloka tersebut yaitu Daun, Bunga dan Buah dimuliakan pada perayaan Tumpek Wariga. Filosofi daun, bunga dan buah merujuk kepada badan, hati dan karmaphala dari manusia itu sendiri. Jadi perayaan Tumpek Wariga secara filosofis adalah memuliakan badan, hati nurani dan phala dari pebuatan manusia.

Sudah tentu dengan perayaan Tumpek Wariga tersebut, manusia disadarkan bahwa bila kita ingin Dharma menang melawan Adharma (Galungan) maka segala perbuatan, perkataan dan pikiran kita hendaknya memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pengertian Tumpek Wariga yang sedemikian luas apabila bisa dimengerti dan dilaksanakan pasti akan membawa umat menusia lebih maju dalam segala bidang kehidupan. Hal ini dinyatakan dalam Bhagavad Gita yaitu:

Ananyas chintayanto mam
ye janah paryupasate,
tesham nityabhiyuktanam
yoga-kshemam vahamy aham
Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 22

Artinya adalah:
Orang yang berserah diri kepadaKU, sujud dan selalu taat kepadaKu, maka akan Kulindingi semua apa yg dia punya, dan akan Aku bawakan segala apa yang dia butuhkan

Sloka ini sangat jelas merupakan jaminan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada semua manusia akan segala kemudahan yang akan diberikan apabila kita selalu berjalan di jalan Dharma.

Sekarang tergantung kepada manusia itu sendiri, apakah dia mau menyerapi dan melaksanakan Dharma ataukah lebih memilih berada dalam lautan Awidya (kegelapan).

Sebagai Pengayah di Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak, penulis hanya bisa menghimbau kehadapan umat manusia, marilah kita selalu tegakkan Dharma, karena Dharma akan melindungi setiap orang yang berusaha menegakkan Dharma.

Om Nama Siwaya, Om Namo Budhaya Om

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Pakem Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada - 1


KRETERIA KEPEMIMPINAN MENURUT RAKIANA PATIH GAJAH MADA.
  1. ABIKAMIKA : Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi kebawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongan.
  2. PRAJNA: Pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan agama. Serta dapat menjadi panutan masyarakat
  3. UTSAHA : Pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreativ, dan inovatif (pelopor poembaharuan) serta rela mengabdi tanpa pamerih untuk kesejahtraan rakyat
  4. ATMASAMPAT: Pemimpin harus mempunyai  kepribadian berintegrasi tinggi, moral yang luhur serta obyektif, dan memiliki wawasan jauh ke depan
  5. SAKYA SAMANTA : Pemimpin harus berfungsi sebagai pengontrol maupun mengawasi bawahannya secara efektif, efisien, produktif, dan berani menindak secara  adil
  6. AKSUDA PARISAKTA : Pemimpin harus  akomodatif mampu memadukan perbedaan  dengan permusyawaratan, pandai berdiplomasi, serta menyerap aspirasi bawahan dan rakyat

KWALITAS KEPEMIMPINAN GAJAHMADA
  1. AJI Kwalitas yudistira : Pemimpin harus  bijaksana  dan mahir  dalam segala ilmu pengetahuan, baik pengetahuan spiritual/agama maupun Ilmu Pengetahuan dan teknologi
  2. GIRIKwalitas Bima : Pemimpin harus   kuat iman, teguh, tangguh dalam menegakkan kebenaran, serta tabah dan tegar dalam menghadapi segala kendala rintangan maupun penderitaan
  3. JAYA Kwalitas Arjuna : Kualitas Pemimpin harus memiliki kemampuan menundukkan musuh-musuhnya,  dan segala sifat-sifat buruk  yang ada dalam diri  untuk mencapai kesempurnaan lahir batin
  4. NANGGA Kwalitas Nakula: Pemimpin harus memiliki kualitas yang tangguh dan tanggap dalam segala keadaan serta tahu membawa  diri, sehingga tidak terjerumus dalam kehancuran atau hal hal yang merugikan
  5. PRIYAMBADA Kwalitas Sahadewa : Pemimpin harus mampu memberikan  rasa kebahagiaan , ketentraman dan kedamaian lahir dan batin kepada masyarakatnya 
ETIKA KEPEMIMPINAN GAJAH MADA.
  1. SASTRATAMA : Norma norma apa yang disebut indah dan  apa yang disebut tidak indah (jelek)
  2. BUANATAMA : Norma tentang Kepekaan sosial, yaitu nilai kebersamaan, empati, dan kepedulian terhadap permasalahan kemasyarakatan
  3. SUSILATAMA  : Kadedah kaedah  tentang yang benar dan yang salah  menurut berbagai  jenis ketentuan yang berlaku dalam masyarakat

Buda Kliwon Gumbreg


Buda Kliwon Gumbreg merupakan Rainan yang berdasarkan pada pertemuan Pancawara yaitu Kliwon dan Saptawara yaitu Buda. Di samping itu pada hari ini juga bertepatan dengan Rainan kajeng Kliwon yang merupakan pertemuan Triwara yaitu Kajeng dan Pancawara yaitu Kliwon.

Hari Buda Kliwon ini dikenal dengan hari penyucian Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati, persembahan ditujukan kepadaNya.

Beberapa tempat suci di Bali yang melakukan Petirtan (odalan) di hari Rainan ini, karena memang Rainan ini merupakan salah satu Rainan utama mengingat bertemunya Buda Kliwon dan Kajeng Kliwon di hari ini.

Pertemuan Buda Kliwon dan Kajeng Kliwon memberikan arti yang sangat dalam karena berdasarkan pengider Buana saat itu adalah beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Mahadewa. Penganut Hindhu diharapkan bersembahyang memohon keselamatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya.

Buda Kliwon Gumbreg yang jatuh pada tanggal 16 April 2014 menjadi sangat istimewa karena cocok untuk melakukan upacara Pecaruan untuk menetralkan buana agung dan buana alit.

Peta Lokasi Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak

Om Swastiastu Om

Banyak pemedek yang mau tangkil dan melukat bertanya-tanya tentang lokasi Pancuran Sapta Gangga Gunug Salak. Di bawah ini dibuatkan denah yang sederhana dengan harapan semoga bisa membantu para pemedek untuk melukat sekaligus sembahyang di Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak


Denah Lokasi Pancuran

Secara garis besar, satu-satunya jalan menuju Pancuran Sapta Gangga adalah melalui jalan di Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak (ikuti tanda panah merah), dan melewati kediaman Jro Mangku Gde Lingsir Made Sadnya. Setela mencapai areal Pura, sangat mudah untuk dilalui karena jalanan sudah di paving blok dan diterangi dengan lampu di malam hari.

Pancuran Sapta Gangga diperuntukkan bagi semua orang dengan tidak memandang latar belakang dan kondisi masing-masing.

Berikut adalah pemampakan pemedek yang  sedang melukat:



Semoga informasi ini dapat membantu

Om Shanti Shanti Shanti Om

Anggar Kasih Kulantir - Mari Jaga Kesucian Diri dan Alam


Anggar Kasih Kulantir merupakan salah satu Rainan yang sangat istimewa, karena bertepatan juga dengan hari Rainan Kajeng Kliwon. Dua Rainan yang jatuhnya pada hari yang sama merupakan kesempatan langka bagi pemeluk Hindhu untuk menjaga kesucian diri masing-masing dan meningkatkan spiritualitas diri.

Anggar Kasih atau Anggara Kliwon merupakan rainan Bali yang jatuh berdasarkan pertemuan Panca Wara yaitu Kliwon dan Sapta Wara yaitu Anggara. Pada hari rainan ini umat Hindhu Bali memuja Ida Sang Hyang Rudra yang bersthana di Barat Daya (Nairiti).

Sedangkan Kajeng Kliwon merupakan Rainan yang berdasarkan pada pertemuan Tri Wara yaitu Kajeng dan Panca Wara yaitu Kliwon. Pada hari ini para pemeluk Hindhu selalu menghaturkan banten sesaji untuk memohon keselamatan secara sekala niskala. Pemeluk Hindu yang akan melakukan upacara Mecaru, biasanya melaksanakannya pada hari Rainan Kajeng Kliwon, karena pada Rainan ini dipercaya bahwa segala kekuatan negatif bisa di netralkan.

Sedangakan pada hari Anggar Kasih hendaknya manusia menghaturkan persembahan, minimal canang, di tempat pemujaan masing-masing. Ini untuk menyatakan Bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dewa Rudra dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi untuk melebur segala sesuatu, termasuk kekotoran yang terdapat dalam jiwa manusia dan dunia ini.

Rudra adalah dewa menurut Regveda yang diasosiasikan dengan kekuatan angin atau badai, dan pemburu. Rudra sering juga disamakan dengan salah satu dewa tertinggi umat Hindu yaitu Dewa Siwa.

Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali Beliau dipuja di Pura Uluwatu
Mantra Dewa Rudra yang terkenal adalah
Tryambakam yajamahe
Sugandhim pusthivardhanam.
Urvarukam iva vandhanat
Mrtyor muksiya mamrtat. (Rgveda VII.59.12).

Artinya adalah: Ya Tuhan sebagai Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak sumber-sumber makanan. Semoga beliau melepaskan kami seperti mentimun dari batangnya, dari kematian tetapi bukan dari keabadian

Mantram ini disebut juga Mantra Maha Mertyunjaya sebagai mantra memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu adalah tempat suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Dewa Rudra adalah perwujudan kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti. Memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan mempralina sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan dipralina.

Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.
Marilah kita sebagai penganut agama Hindhu Dharma melaksanakan pembersihan diri/peleburan kekotoran yang sebaiknya dilaksanakan pada Hari Raya Anggar Kasih dukut ini.

Secara garis besar bisa dikatakan bahwa Rainan Anggar kasih Kulantir sangat istimewa karena merupakan kesempatan yang sempurna untuk menjaga kesucian diri dan alam semesta di sekitar kita. Hendaknya kesucian diri yang dijaga itu meliputi segala aspek seperti perbuatan, perkataan dan pikiran kita.