Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Kayu Tenget ~ Keramat


Seiring degan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini konsep tenget sudah mulai memudar. Dulunya dianggap tenget kini sudah samar akibat berbagai kepentingan yang masuk di dalamnya.

Konsep tenget kini sudah mulai memudar dengan berbagai kepentingan yang memudarkannya. Seperti contohnya yang dapat kita amati di sebuah temapat di pinggiran sungai dan setra mati (kuburan yang tidak berfungsi lagi). Dulunya menurut cerita orang tua di sekitarnya tempat tersebut dibilang tenget. Selain memang tempatnya agak jauh dari keramaian. Pohon beringin besar tumbuh kokoh diselimuti oleh semak-semak menambah suasana angker di tempat tersebut.

Kini cerita sudah lain, beringin besar, rimbunnya semak-semak serta berbagai cerita mistik tempat itu tak mampu lagi membendung kerakusan manusia. Sekarang tinggal kenangan, karena kini tempat tersebut sudah seperti lapangan, “Disini akan dibangun Perumahan…” demikian bunyi tulisan yang terpancang pada papan promosi. Dengan kokohnya papan yang terpancang seakan telah mengalahkan konsep tenget pada tempat itu. Mungkin contoh ini merupakan salah satu contoh cerita yang sama atau sejenisnya yang terjadi di tempat lain.

Keyakinan akan adanya daya spiritual tertentu yang mendiami pohon-pohon atau benda-benda tertentu merupakan suatu kelaziman. Fenomena ini termasuk sugesti spiritual, yaitu suatu keyakinan yang kuat yang mempengaruhi psikologis seseorang terhadap suatu tempat, benda, ajaran, perasaan atau pertanda lain, kerena keyakinan tentang aspek kedewataan. Umumnya sugesti spiritual ini terjadi sebagai akibat pengalaman seseorang yang mengalami suatu kejadian aneh. Atau mungkin juga mendengarkan cerita-cerita serta pembeberan bukti-bukti dari orang-orang yang layak dipercaya, sehingga informasi yang diterima menjadikannya yakin sepenuhnya. Pohon-pohon yang memang doyan ditempati oleh mahluk-mahluk halus misalnya pohon beringin, pule, kepuh, ancak dan sebagainya.

Keangkeran suatu pohon tidak lepas dari tempat di mana pohon itu berada. Termasuk bagaimana masyarakat pendukung dari tempat itu memperlakukannya. Pohon-pohon yang besar yang hidup di suatu tempat, dimanapun itu apabila diperlakukan secara sacral, seperti dipersembahkan sesaji, dijaga kesuciannya, dibuatkan tempat pemujaan, dihias dengan kain, seperti misalnya kain polenglambat laun aka nada roh yang mendiami tempat tersebut. Karena sesungguhnya secara niskala banyak sekali roh-roh yang berkeliaran yang belum mendapatkan tempat. Roh yang mendiami antara pohon yang satu dengan pohon di tempat yang lain tidaklah sama. Ini tergantung di mana pohon tersebut berada. Seperti pengalaman yang pernah dialami oleh Jero mangku, ia pernah melihat sosok wanita tinggi besar dengan pakaian putih-putih yang menghuni sebuah pohon pule yang tempatnya di setra (kuburan). Dari cerita tersebut percaya tidak percaya hal itu pernah dialami.

Pohon atau tempat akan tetap menjadi tenget sepanjang masyarakat sekitarnya atau pendukung dari tempat itu menjaga ke-tenget-an. Artinya masyarakat masih tetap menjaga kesucian tempat itu, masih mempersembahkan sesaji. Memang konsep tenget menampakkan wajah yang meyeramkan bagi pemahaman masyarakat. Namun ada segi positif secara nyata yang bisa kita amati terhadap hal itu. Seperti misalnya adanya perilaku masyarakat  yang tidak berani berbuat sesuatu yang kurang baik di sekitar tempat tersebut. Serta masyarakat cenderung beretika, seperti misalnya ketika melintasi jalan yang ada pohon besar apalagi yang dihiasi dengan kain poleng, maka orang akan membunyikan klaksonnya serta akan cenderung berhati-hati.masyarakat tidak akan merusak lingkungan di sekitar tempat tersebut karena masyarakat takut akan hukuman secara niskala. Hal ini akan memberikan pendidikan kepada umat, untuk selalu menjaga alam, dan melestarikan alam, lebih pohon-pohon besar yang sudah langka dan selalu dibutuhkan oleh umat Hindu dalam melaksanakan kegiatan upacara keagamaan. Dengan demikian, orang yang meyakini hal tersebut tidak akan menebang pohon sembarangan dan tetap menjaga kesucian alam demi keajegan dan kerahayuan jagat.

Selain konsep tenget tadi untuk tetap menjaga kelestarian dari pohon-pohon besar yang secara niskala memang ada beberapa yang diyakini tenget, dalam lokal genius orang Bali memiliki pantangan-pantangan untuk menggunakan kayu tertentu sebagai bahan bangunan. Jika hal ini dilanggar dikenal dengan istilah kedurmanggalan (ketidak harmonisan), serta bisa mengakibatkan sakit (pemalinan), juga mengakibatkan kemalangan atau penderitaan bagi yang menempatinya. Adapun kayu yang pantang digunakan antara lain :

  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang terkenal angker disebut dengan rebutkala. Artinya ada pohon yang diyakini masyarakat angker  lantaran sering terjadinya kejadian-kejadian gaib di sekitar pohon tersebut. Jika digunakan sebagai rumah, maka penghuninya akan mengalami penderitaan dalam hidupnya.
  • Sesawadung adalah kayu yang berasal dari tebangan sebelumnya sering disebut pula tunggak wareng, yang tumbuh kembali menjadi kayu yang besar. Kadurmanggaian sesa wadung (kemalangan sisa kapak). Penghuni akan hidup dalam kemalangan dan penyakit, penghuninya kerap mati mendadak.
  • Kayu yang diambil dari pohon yang tumbuhnya di tepi sungai yang disebut dengan anepiluwah. Jika hal ini dilanggar penghuninya akan mengalami berbagai berbagai jenis penyakit lantaran kehabisan cairan.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di Pemrajan atau tempat pemujaan yang disebut dengan candragni. Penghuninya akan hidup kesusahan mereka seolah-olah dimusuhi oleh berbagai jenis rejeki.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di kuburan yang disebut dengan Bhutagrha. Penghuninya akan mengalami berbagai hal yang aneh yang sulit dicerna oleh akal, mereka sering bertindak seperti orang gila.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di pertengahan pembatas atau sekat pekarangan. Ini disebut dengan pamali wates. Penghuninya akan berumur pendek.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang tumbuh di tepi kolam atau danau yang disebut dengan asurigrha. Penghuninya kerap kali mengalami keguncanagn pikiran.
  • Kayu yang diambil dari pohon kayu yang sering dihinggapi oleh burung gagak disebut sagagak. Jika digunakan penghuninya akan mengalami kesialan dan nasib malang.


Pantangan bagi masyarakat Bali jaman dulu menggunakan tumbuhan (pohon) yang dianggap tidak pantas atau tidak layak digunakan sebagai bahan bangunan, adalah wujud nyata dari perhatian dan keseriusan para tetua orang Bali  mengamalkan konsep Tri Hita Karana (tiga hal yang menyebabkan kesejahteraan0 dalam kehidupan sehari-hari.

Dari berbagai sumber

Rudraksha - Air Mata Dewa Shiva


Rudraksha alias ganitri atau disebut air mata Shiva (baca: Dewa Shiva)merupakan tanaman spiritual memiliki khasiat luar biasa. Sesuai mitologinya Tuhan tertinggi Paramahashiva perlu bertapa 1.000 tahun dewa menciptakan tanaman yang penuh berkah ini. Rudraksha ini sangat dimuliakan penyembah Shiva.

Pemuja Shiva jika tidak menggunakan rudraksha maka terasa ada yang masih kurang dalam proses persembahyangannya. Bukan saja sadhaka, seorang bhakta, para sulinggih Shiva, saat sebagai sang yajamana mamuput karya mamuput karya menggunakan genitri dari mulai kepala, kuping, badan, termasuk pinggang. Ganitri dipergunakan sebagai japa untuk Umat Hindu. Selain itu biji ganitri juga dimanfaatkan berbagai macam obat terutama di India, Nepal dan Cina. Sedangkan di Bali sendiri di apresiasikan terhadap rudraksha ini sudah cukup memasyarakat.

Rudraksha terbentuk dari dua kata, “Rudra” dan “Aksha”.Rudra adalah nama lain dari Dewa Shiva, dan Aksha berarti air mata. Dikatakan bahwa tumbuhan rudraksha berasal dari air mata Dewa Shiva. Dewa Shiva atau Rudra dikenal sebagai Dewa berkekuatan melebur dalam kaitan dengan dengan aspek Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur (Tri Murti). Shiva juga berkaitan dengan keadaan saat meditasi ketika pikiran kosong jernih,  yang ada sunyi dan sepi tenang.

Terdapat beragam cerita yang berkaitan dengan asal muasal Rudraksha dalam berbagai purana. Naskah Weda seperti Sjiva Purana, Padma Purana, Srimad Bhagwata, Rudraksha Jabbalaopanishad, Mantra Maharnawa,dsb menyebutkan keagungan dan betapa hebatnya Rudraksha. Dikisahkan bahwa Dewa Shiva memasuki alam meditasi dalam rentang waktu yang panjang demi umat manusia. Ketika akhirnya bangkit dari meditasi-Nya itu, lalu membuka mata, ia merasakan kebahagiaan, damai, dan rasa cinta kasih mendalam. Oleh perasaan itu, Beliau menitikkan air mata, yang perlahan melewati pipi-Nya lalu jatuh ke bumi. Setiap tetes air mata Shiva pun menjelma menjadi pohon Rudraksha yang buah kecilnya memiliki esensi yang sama dengan air mata Rudra, Tuhan Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, Para pemuja Shiva dapat merasakan wujud Shiva, Shiva-Parwati, Lingga Shiva dalam Rudraksha.

Pohon Rudraksha tumbuh di beberapa tempat di dunia termasuk di pegunungan Himalaya di India dan Nepal, seperti halnya di beberapa wilayah di Indonesia. Buah Rudraksha beraneka ragam besarnya (3 – 40 mm, 1/8 inci sampai 1,5 inci). Nama latin Rudraksha adalah “Elaeocarpus Granitrus”. Kulitnya yang, lembut berwarna hijau terang, dan daging buahnya seperti anggur hijau. Di dalam nya terdapat biji tunggal yang memiliki permukaan kasar dan sebuah lubang tembus dari atas dan ke bawah. Biji inilah yang disebut dengan rudraksha yang selanjutnya digunakan sebagai Japa Mala oleh para penekun spiritual.

Biji Rudraksha memiliki garis yang bernama mukha ‘cekungan’ atau dalam bahasa bali biasanya disebut juring yang berbeda-beda satu sama lain. Menurut naskah, jumlah mukha pada bijinya beragam dari 1 sampai 38, namun yang biasa digunakan untuk kepentingan astrologi adalah yang bermuka I sampai 14. Biji Rudraksha yang memiliki satu mukha disebut eka-mukha, jika dua disebut dwi mukha, demikian seterusnya. Setiap biji memiliki efek berbeda-beda tergantung berapa mukha yang dimilikinya. Setiap Rudraksha memiliki keunggulan tersendiri dan untuk mendapatkan kegunaannya secara maksimal, harus disesuaikan secara teliti dengan horoskop pemakainya.

Rudraksha telah diberikan penghargaan khusus dan dipercaya sebagai perlengkapan untuk tujuan yang berbau mistik dan religious. Biji Rudraksha dikatakan mengandung rahasia mengenai segala evolusi kosmos. Dalam Weda disebutkan bahwa Rudraksha dapat mengurangi kekuatan sifat-sifat jahat di planet ini. Banyak naskah mengatakan Rudraksha dengan mukha berapapun tidak akan pernah menyakiti pemakainya tidak seperti Navratna yang harus dipilih dengan hati-hati. Tidak ada kalung atau japa mala sebaik dan sehebat Rudaraksa. Dipercaya bahwa siapa yang memakai Rudraksha dia dapat terhindar dari perbuatan berdosa. Orang yang memakainya akan dijauhkan dari pikiran dan perbuatan berdosa walaupun tanpa sembahyang dan mengucap mantra suci.


Sesungguhnya seseorang yang memakai Rudraksha dengan cara yang benar akan merasakan energy Shiva dan dengan sendirinya pikiran negative dan emosi akan terlebur. Rudraksha memiliki efek menenangkan pusat sistem saraf. Dikatakan pula Rudraksha membantu menjaga tekanan darah tetap stabil dan menjaga kesehatan. Tidak ada efek buruknya, melainkan Rudraksha mendamaikan pikiran dan memberi kenyamanan pada pemakainya. Dalam naskah-naskah kuno (Padma Purana, Shiva Purana, Mantramaharnava, Rudrajabalopanishad) diterangkan bahwa jika seseorang memakai rudraksha pada saat ia menemui kematiannya, ia akan dibebaskan dari lingkaran hidup dan mati (reinkarnasi) dan mengalami moksha (kelepasan).

Dari berbagai sumber

Punarbhawa Tattwa


Punarbhawa berasal dari bahasa Sansekerta yakni “punar” yang berarti musnah/hilang dan “bhawa” berasal dari akar kata “bhu” yang berarti tumbuh atau lahir. Jadi Punarbhawa berarti “musnah tumbuh lagi atau lenyap lahir lagi”. Dengan kata lain lahir berulang kali.

Menurut ajaran agama Hindu bahwa setiap mahluk akan dilahirkan berulang kali sebelum mencapai moksa. Ini berarti kalau seorang yang telah meninggal, kemudian atmanya bersatu dengan paramaatma (Sang Hyang Widhi) maka tidak akan dilahirkan kembali. Tetapi kalau belum mencapai moksa, maka akan terus mengalami kelahiran berulang-ulang. Proses inilah yang disebut Punarbhawa.

Punarbhawa juga termasuk hokum alam semesta. Hukum punarbhawa berlaku bagi semua mahluk, tidak dipengaruhi oleh waktu, ruang dan tempat. Percaya atau tidak percaya, proses itu akan menimpa setiap jiwa-jiwa di dunia ini tanpa terkecuali.

Jiwatma yang ada dalam diri manisia berasal dari Paramaatma/Sang Hyang Widhi. Tanpa atma, maka badan ini tak akan hidup. Jika seseorang yang meninggal, maka yang mati sesungguhnya adalah badan jasmaninya, sedangkan jiwanya tetap hidup. Sifat-sifat atma adalah tidak pernah mati, namun karena diselubungi oleh maya maka atma mengalami pengalaman hidup yang begitu panjang. Mungkin dilahirkan di sorga, kalau sebagian timbunan karmanya baik. Mungkin juga atma itu dilahirkan di neraka, kalau sebagain besar karmanya tidak baik. Mungkin juga dilahirkan ke dunia ini.

Punarbhawa juga disebut dengan samsara. Mengapa demikian? Kata “samsara” artinya derita/duka. Sebab sesungguhnya hidup sebagai manusia adalah tidak luput dari sakit, usia tua, dan mati, keadaan yang menyedihkan, kekecewaan dan sebagainya. Keadaan itulah yang disebut samsara yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi sengsara. Jadi lahir di dunia ini sejatinya adalah suatu kesengsaraan.

Punarbhawa juga disebut dengan istilah numadi, numitis, menitis, mulih ngidih nasi yang artinya adalah menjelma kembali. Punarbhawa sangat tergantung pada karma. Punarbhawa dengan hukum karma adalah berkaitan. Sehingga terdapat perbedaan dari setiap kelahiran manusia di dunia. Ada yang miskin, ada yang kaya, cantik, dll. Mengapa hal itu berbeda? Tidakkah Sang Hyang Widhi adil?

Dalam pelajaran Karmaphala telah disebutkan bahwa setiap perbuatan akan berbuah. Dari perbuatan baik akan timbul kebahagiaan, dari perbuatan jahat akan timbul penderitaan. Dengan demikian pemilik perbuatan sebagai ahli waris perbuatannya. Ia akan menjelma di dunia ini menurut perbuatannya. Kehidupan sekarang ini adalah kelanjutan dari kehidupan dimasa lampau. Begitu pula kehidupan sekarang akan menjadi dasar kehidupan yang akan datang. Karena itulah terjadi keadaan kehidupan yang berbeda bagi semua manusia. Jadi jelaslah bahwa hukum karma dengan punarbhawa itu mempunyai hubungan yang sangat erat. 

Beberapa contoh penjelmaan sebagai akibat karma masa lampau :
  • Orang yang membunuh mahluk berjiwa, bengis, kejam, diperbudak oleh nafsu kebencian, tidak mempunyai welas asih dan kasih sayang maka setelah kematiannya ia akan jatuh ke dalam keadaan kehidupan yang lebih rendah, penuh kesedihan dan penderitaan. Dan kalau dilahirkan ia akan berumur pendek.
  • Orang yang suka menyakiti dan menyiksa mahluk lain ia akan jatuh di dalam kehidupan yang lebih rendah, atau kalau ia lahir sebagai manusia ia akan menjadi sakit-sakitan.
  • Orang pemarah, lekas panas hati, lekas benci dan curiga, maka ia akan lahir menjadi manusia dengan wajah/rupa yang seram/jelek.
  • Orang yang tidak pernah berdana tidak pernah menolong orang yang sedang dalam kesusahan maka kalau ia lahir sebagai manusia maka kesehatannya selalu tidak baik.
  • Orang yang iri hati penuh cemburu dan kebencian, maka kalau ia lahir lagi sebagai manusia tidak mempunyai wibawa dan pengaruh.
  • Orang yang tinggi hati, sombong, tidak hormat kepada orang patut dihormati, maka ia akan lahir sebagai manusia yang hina.
  • Orang yang tidak mau belajar sama sekali, tidak pernah menanyakan tentang Dharma kepada orang yang bijaksana, maka ia akan lahir sebagai manusia bodoh, tidak mempunyai kecerdasan.
  • Orang yang suka menimbulkan kesusahan akan lahir menjadi binatang buas.
  • Seorang Brahmana yang minum minuman keras akan menjelma menjadi serangga, burung dan binatang buas.
  • Orang yang suka mencuri akan lahir menjadi binatang dan sebagainya.
Dari berbagai sumber

Bungkak Nyuh Gading - Kelapa Gading


Berbicara mengenai kasiat dari segi magis, mistis, memang sudah lumrah dalam agama Hindu Bali. Kenapa demikian, karena setiap banten di Bali hampir selalu menggunakan kelapa. Bahkan kelapa menjadi suatu bagian penting/utama dari upakara di Bali. bisa digunakan sebagai daksina, sebagai sarana pemglukatan, pemrayascita, sebagai simbol-simbol dewa-dewa, simbul bumi. Dan semuanya kelapa-kelapa tersebut telah mengalami suatu proses penyucian sebelum dilakukan upacara. Termasuk pula ketika upacara berlangsung, maka semua sarana upacara tersebut telah mengalami penyucian, serta mengalami pasupati baik oleh orang suci, maupun oleh Ida Bhatara. Tak terkecuali ketika kita membicarakan menegnai Bungkak Nyuh gading yang banyak dipergunakan dalam yadnya karena memiliki filosofis yang sangat mendalam, yakni  :
  • Bungkak nyuh gading sebagai simbol kekuatan toya (air) sukla.
  • Bungkak nyuh gading sebagai simbol kekuatan Tirtha Mahamerta (Tirta Dewa Siwa).
  • Bungkak nyuh gading sebagai simbol untuk nyomya kekuatan Sad Ripu atau sifat keraksasaan.
  • Bungkak nyuh gading sebagai simbul atau niasa kekuatan Dewa Wisnu.

Dengan demikian, menandakan bahwa bungkak nyuh gading sebagai simbol kesucian dari para Dewa. Dimana penggunaan bungkak nyuh gading digunakan dalam upakara pada upacara yadnya yaitu :
  • Upacara Dewa yadnya, diantanya pada upakara/banten prayascita, banten mulang dasar bale dan mulang dasar bangunan suci.
  • Upacara Pitra yadnya terutama pada adegan saat upacara ngaben, banten Diyus kamaligi.
  • Upacara Rsi Yadnya terutama pada banten Prayascita.
  • Upacara Manusa Yadnya terutama pada banten Durmanggala, pada saat upacara metatah sebagai tempat potongan gigi. Bungkak nyuh gading dipakai sebagai sarana melukat sebab seperti yang sudah disebutkan di atas bahwa bungkak nyuh gading sudah dipercayai sebagai simbol atau lambang kekuatan suci Ida Bhatara Wisnu, bahkan diyakini sebagai kekuatan tirtha Mahamerta (Siwa Titha).


Berdasarkan hal tersebut di atas ditambah dengan kenyataan yang ada di lapangan, jelaslah bahwa bungkak nyuh gading bermakna :
  • Sebagai linggih kekuatan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa tatkala mulang dasar bangunan rumah, merajan dan sebagainya.
  • Sebagai sarana penglukatan atau penyucian.
  • Sebagai lambang Tri Loka, yaitu alam bawah (Bhur Loka), alam tengah (Bwah Loka), alam atas (Swah Loka).
  • Sebagai perantara (jalaran) mengembalikan Panca Mahabhuta ke asalnya, sebagai contoh pada waktu nganyud adegan ke sungai atau ke laut.

Keutamaan bungkak nyuh gading dapat kita lihat berdasarkan nilai filosofisnya sebagaimana telah disebutkan diatas, terutama sebagai kekuatan suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Fungsi nyuh gading dan nyuh bulan pada satu sisi ada kesamaannya terutama minyaknya sama-sama dipakai sebagai perlengkapan  pada banten catur. Pada sisi yang lain bisa berbeda yakni nyuh bulan jarang dipakai dalam yadnya sedangkan nyuh gading sangat banyak dipakai dalam yadnya.

Sebagai informasi selain tersebut di atas tentang nyuh gading, janur kelapa gading juga  sangat banyak digunakan pada jejaritan banten, utamanya pada pembuatan lis dan banten lainnya. Minyak kelapa gading juga dipakai sebagai sarana tambahan dalam obat-obatan alternatif.

Berkaitan dengan pembicaraan tentang nyuh atau kelapa dalam upacara Hindu Bali serta dikaitkan dengan kasiat magisnya, maka ada baiknya juga disinggung mengenai nyuh maadan yakni kelapa tertentu yang memiliki fungsi khusus dalam sebuah upacara besar seperti pedudusan. Kelapa-kelapa tersebut antara lain :
  • Nyuh Gading berwarna kuning kemerahan, sebagai simbol dari Sang Hyang Mahadewa, letaknya di bagian barat dari rangkaian kelapa-kelapa tersebut, sebagai sarana memohon Tirtha Kundalini.
  • Nyuh Bulan berwarna putih kekuningan, sebagai simbol dari Sanghyang Iswara letaknya di timur, sebagai sarana memohon Tirtha Sanjiwani.
  • Nyuh Gadang atau kelapa hijau sebagai simbol dari Sanghyang Wisnu, letaknya di utara, sebagai sarana memohon Tirtha Kamandalu.
  • Nyuh Udang berwarna merah, Sebagai simbol Sanghyang Brahma, letaknya di selatan, sebagai sarana memohon Tirtha Pawitra.
  • Sedangkan Nyuh Sudamala sebagai simbol Dewa Siwa, letaknya di tengah, sebagai sarana memohon Tirtha mahamerta.


Inilah salah satu peran dari kelapa dalam upacara Hindu. Dan kalau dikaitkan dengan dunia magis mistik, maka kelapa sangat memiliki makna magis dan mistik. Karena secara tidak langsung kelapa-kelapa yang telah melewati sebuah rangkaian upacara telah mengalami berbagai macam penyucian, penyupatan, dan pasupati, sehingga memiliki kekuatan dewata atau energi positif. Inilah yang menyebabkan para kalangan usadawan atau balian kerapkali menggunakan kelapa ini sebagai sarana untuk pengobatan, karena diyakini kelapa tersebut telah diberkati para Dewa serta memiliki kemampuan untuk mengusir kekuatan negatif, apalagi penyakit-penyakit yang disebabkan oleh ilmu hitam. Karena akan mengalami penyupatan dari kekuatan dewata yang ada pada nyuh bekas upacara tersebut.

Dari berbagai sumber

Pelinggih Meru


Menurut mitologinya, Meru sebenarnya merupakan nama sebuah gunung di Sorgaloka. Salah satu puncaknya disebut Kailasa, yang merupakan tempat bersemayamnya Bhatara Siwa. Gunung tersebut lalu diturunkan ke dunia menjadi Gunung Himalaya di India, Gunung Mahameru di Jawa, dan Gunung Agung di Bali. Untuk keperluan pemujaan, gunung suci tersebut lalu dibuatkan replika dalam berbagai bentuk.

Meru merupakan salah satu bangunan suci bagi umat Hindu di Bali, yang sangat agung, megah dan monumental, sarat dengan makna simbolis dan kekuatan religious terkandung di dalamnya. Meru dijumpai pada pura-pura besar di Bali dengan ciri khas, atapnya yang bertumpang tinggi (atapnya mencapai 10 m, bahkan lebih) dan jumlah atapnya selalu ganjil (1, 3, 5, 7, 9, 11) dan hanya satu yang beratap tumpang 2, sehingga Meru menjadi suatu Landmark pada bangunan Pura di Bali. Meru sebagai karya lokal yang sangat agung, tidak hanya dijumpai di pura-pura di Bali, juga bisa disaksikan pada upacara-upacara ngaben (kremasi) di Bali sebagai wadah sawa atau watang (mayat) pada Upacara Pitra Yadnya.

Meru  merupakan bangunan suci yang sangat indah yang dibangun berdasarkan kepada keakuratan proporsi, logika teknik konstruksi dan keindahan ragam hias, yang berpegang teguh kepada kearifan local Arsitektur Tradisional Bali (Hasta Kosala Kosali, Hasta Bumi, Lontar Andha buana, Lontar Janantaka). Konstruksi Meru merupakan konstruksi tahan gempa yang telah teruji keandalannya dibandingkan bangunan candi atau bentuk lainnya. Gempa yang sangat dahsyat dengan kekuatan yang sangat besar yang pernah terjadi di Bali (seperti di seririt, Buleleng) yang banyak merobohkan bangunan konstruksi modern, namun bangunan-bangunan suci di Bali khususnya  Meru masih berdiri kokoh, kuat, stabil, dan tegak.

MAKNA SIMBOLIS DAN FUNGSI MERU

Makna dari Meru, didasarkan kepada kutipan yang tercantum pada lontar-lontar warisan leluhur, seperti tercantum pada Lontar Andha Bhuana, diuraikan bahwa arti simbolis atau filsafat Meru sebagai berikut :

“Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwibha andhabhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit”.

Artinya :

Oleh karena itu, Meru berasal dari kata, me, berarti meme =ibu= pradana tattwa, sedangkan ru, berarti guru=bapak=purusa tattwa, sehingga penggabungannya dari Meru memiliki arti batur kelawasan petak (cikal bakal leluhur). Meru berarti lambang atau simbol andha bhuana (alam semesta), tingkatan atapnya merupakan simbol tingkatan lapisan alam, yaitu bhuana agung dan bhuana alit”.

Berdasarkan keterangan Lontar Andha Bhuana bahwa Meru memiliki dua makna simbolis, yaitu Meru sebagai simbolisasi dari cikal-bakal leluhur dan simbolisasi atau perlambang dari alam semesta. Lebih lanjut diuraikan bahwa Meru mempunyai dua makna, yaitu:

  1. Meru sebagai perlambang atau perwujudan dari Gunung Mahameru dan gunung adalah perlambang alam semesta sebagai stana para Dewata, Ida Sanghyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atau PapulaningSarwa Dewata. Meru mempunyai makna simbolis dari gunung juga diuraikan dalam Lontar Tantu Pagelaran, Kekawin Dharma Sunia dan Usana Bali. Dalam hal ini,Meru sebagai Dewa Pratista yaitu berfungsi sebagai tempat pemujaan atau pelinggih para Dewa. Meru sebagai Dewa Pratista terdapat  dalam komplek Pura-Pura seperti Pura Sad Kahyangan, Kahyangan Jagat dan Kahyangan Tiga.
  2. Meru melambangkan Ibu dan Bapak sebagaimana diuraikan dalam Lontar Andha Bhuana. Ibu mengandung pengertian Ibu Pertiwi, yaitu unsure Pradana tattwa dan Bapak mengandung makna Aji Akasa, yaitu unsur purusa tattwa. Manunggalnya pradhana dan purusa itulah merupakan kekuatan yang maha besar yang menjadi sumber segala yang ada di bumi. Inilah yang merupakan landasan Meru berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur di komplek Pura-Pura Pedarman Besakih. Dalam hal ini, Meru sebagai Atma Pratista berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur atau sebagai stana Dewa pitara (suatu roh leluhur dikatakan suci apabila telah melalui proses upacara,yaitu yang pertama ngaben, kemudian menyusul upacara memukur yaitu upacara terhadap atman, dan urutan terakhir adalah ngelinggihang Dewa Pitara. Setelah upacara tingkat terakhir inilah baru dibuatkan Meru Gedong Kemimitan.


Berdasarkan uraian diatas bahwa Meru memiliki makna sebagai perlambang Gunung Mahameru, perlambang Tuhan Yang Maha Esa (alam semesta) dan Ibu Bapak (purusa pradana) berfungsi sebagai tempat pemujaan atau stana para Dewa Dewi, Betara Batari, dan roh suci leluhur. 

Disarikan dari berbagai sumber

Pohon Beringin - Tumbuhan Yang Sangat Penting


Dengan daun yang sangat rimbun batangnya yang kokoh memberikan kesejukan dan keteduhan bagi orang yang berada di bawahnya. Pohon ini diyakini sebagai tumbuhan sorga, tempat anjangsana para pitara serta dewa-dewa. Dalam upacara keagamaan pun ini selalu digunakan, itulah keagungan dari pohon beringin.

Pohon beringin sering dikatakan sebagai tumbuhan sorga. Bijinya yang kecil dapat tumbuh menjadi tumbuhan besar yang memberikan kesejukan sekaligus peneduh bagi yang berteduh dibawahnya. Akarnya yang kuat melambangkan kekokohan yang tak kan tergoyahkan. Di balik semua itu pohon beringin bagi masyarakat Hindu mempunyai arti penting, sama halnya seperti pohon Kurma bagi umat muslim, atau pohon bodi bagi umat Bhuda. Pentingnya pohon beringin bagi umat Hindu karena daunnya sering digunakan sebagai sarana upacara. Daun beringin secara filsafati bagi umat Hindu sebagai lambang kesucian, baik dalam upacara Dewa Yajna, Pitra Yajna, maupun pelaksanaan yajna yang lain.

Keyakinan masyarakat Hindu tersebut bukanlah suatu hal yang tidak beralaskan tanpa landasan sastra yang jelas, lantas dituding sebagai penyembah berhala atau penyembah pepohonan. Secara mitologi, pohon beringin merupakan salah satu pohon yang telah mendapatkan penugrahan. Halini dikisahkan dalam Siwa Gama ketika perjalanan Bhagawan Salukat. Dalam rangkaian tirthayatra beliau mengantarkannya tiba di pesisir Negara Daha, beliau menemukan sebatang pohon waringin pandak (beringin).

Pohon beringin itu bisa berkata-kata seraya memohon kepada Bhagawan Salukat. “Yang mulia Bhagawan Salukat leburlah dosa hamba, sebatang tanaman yang tumbuh di tempat sunyi, setiap waktu kurus dan selalu menjadi makanan hewan,” kata pohon beringin dengan kerendahan hati kepada Bhagawan Salukat.

Bhagawa Salukat yang sudah mengerti akan hakikat hidup , serta dengan kemurahan hati dianugrahilah pohon beringin tersebut. “ ih kamu pohon beringin ,kini wajib kamu menjadi pendamai ( membuat sentosa) dunia, melebur dosa, wajib menjadi pelindung para Dewa tumbuh di setiap tempat suci,“ kata Bhagawan Salukat memberikan anugrah kepada pohon beringin.

Selanjutnya pohon beringin disebut juga sebagai pohon Siwa-Durga. Dengan kemultifungsian dari pohon beringin bagi umat Hindu khususnya di Bali. Pohon beringin dikatakan pula sebagai pohon surgawi, karena pohon beringin ini sebagai tempat rekreasi atau anjangsana para pitara-pitari yang sudah diaben. Sesuai dengan konsep ajaran Siwa di Bali, pohon beringin dikatakan sebagai pohonnya para Dewa, khususnya Dewa Siwa. Tidak saja pitara-pitari saja yang menyenangi pohon beringin, mahluk lain juga menyukai pohon beringin karena memang memiliki kekuatan energy yang sangat besar. Secara fungsional dalam konsep Siwa di Bali, pohon beringin adalah tempat Dewa Siwa dan dewi Durga beranjang sana yang ditemani para widyadara-widyadari termasuk di dalamnya para pitara tersebut.

Berkat anugrah Bhagawan Salukat serta adanya keyakinan masyarakat atas kekuatan-kekuatan gaib yang bersemayam pada pohon beringin, lebih-lebih yang tumbuh pada areal seperti pura atau kuburan, kini membuat pohon beringin, dengan kekokohan akarnya serta rindangnya dedaunan diharapkan senantiasa selalu memberikan kesejukan dan kesejahteraan bagi umat.  

Disarikan dari berbagai sumber (diantaranya Taksu)

Kisah Leak - 25, Wong Samar


Mungkin ini  menjadi suatu cerita yang menarik bagi mereka yang menyukai tanaman bunga melati dalam pot. Ada suatu kisah berkaitan dengan bunga melati dalam pot di sebuah rumah. 

Ceritanya begini :
Pada suatu hari seorang lelaki (sebut saja namanya I Made Deni Indraya) membeli pot bunga melati yang sudah berbunga. Pot bunga tersebut samapai di rumah diletakkan di teras rumahnya. Pada malam hari bunga melati menebar bau harum. I Made Deni Indraya pun senang dengan tanamannya itu. Pot bunga tersebut dirawatnya dengan baik, disiram, dan dipupuk sehingga tumbuh subur dengan harapan bunganya semakin banyak dan harum.

Setelah beberapa lama diletakkan di teras, tidak saja I Made Deni Indraya yang senang dengan bau semerbak bunga melati tersebut, ternyata sesosok gamang yang entah sengaja atau tidak datang ke sana kemudian mencium bau harum, lalu tertarik dengan keharuman bunga melati itu. Samar itu memutuskan untuk sering-sering datang menikmatukeharuman bunga melati diteras rumah I Made Deni Indraya tersebut. Kebetulan pula letak pot bunga itu berada di dekat I Made Deni Indraya menghaturkan rarapan setiap kali ia datang dari berpergian. Maka kloplah tempat itu sebagai persinggahan yang pas mantab bagi si gamang, dimana tempat itu sejuk, harum, sekaligus tersedia hidangan buati si samar. Oleh karena itu makin sering si gamang datang ke sana, sampai akhirnya si samar memutuskan untuk tinggal di pot bunga itu. Demikian cerita awalnya.

Setelah sekian lama ia menikmati apa yang disuguhkan ole I Made Deni Indraya, lau I samar mulai berpikir untuk membalas budi baik dari I Mde Deni Indraya. Maka suatu hari Si Samar menyamar menjadi sosok manusia yang ketemu di jalan dan mereka berkenalan. Perkenalan mereka berlanjut dengan persahabatan, sampai pada suatu kesempatan si samar yang berwujud manusia itu memahami keinginan I Made Deni untuk menjadi seorang kaya raya dalam tempo cepat. Maka megertilah isamar dan mengatakan kepada I Mde bahwa dirinya sejatinya adalah mahluk niskala yang akan membantu I Madeunutk memajukan usahanya. Hal ini dilakukan sebagai ucapan terima kasih atas segala suguhan yang selalu ia persembahkan di pot bunga melati itu. Made pun menerima tawaran si samar dengan senang hati karena keinginannya yang keras untuk menjadi seorang kaya raya. Singkat cerita setelah kesepakatan itu, usaha I Made menjadi semakin maju, I Made Deni Indraya menjadi orang kaya raya dalam waktu cepat. Kehidupannya menjadi berubah dan berkelas. Ia hidup berbahagia dengan istrinya yang cantik dan seksi. Namun si Istri tidak tahu apa yang menyebabkan usaha suaminya menjadi maju dalam sekejap. Pokoknya menjadi orang kaya.

Persahabatan I Made Deni Indraya semakin akrab. Dalam keakraban itu, kemudian I Made Indraya yang sudah kaya raya menanyakan kepada si samar, apa yang bisa dibantu untruk membalas budi baiknya. Apakah perlu dibuatkan pelinggih atau apa? Kesempatan ini lalu digunakan untuk mengajukan permintaan kepada I Made Deni Indraya, sebab dalam beberapa bulan belakangan ini ia selalu ngiler melihat penampilan istri I Made Indrayayang dilihatnya menawan. Maka I Samar meminta agar diijinkan untuk bercengkrama dengan istri I Made Indraya.

Mendengar permintaan tersebut, pastilah I Made keberatan. Namun I samar memberitahu bahwa kalau tak diberi maka ia akan mengakhiri persahabatannya dan tidak akan membantu lagi dalam usahanya. I Made pun menjadi serba salah, maka dengan berat hati ia mengijinkan permintraan si samar, demi kelangsungan kekayaannya. Kesepakatan pun kembali terjadi.

Pada suatu hari I Samar hendak bercengkrama dengan istri I Made. Ia kemudian merubah wujud menjadi sosok I Made Indraya. Istrinya yang tak tahu bahwa ityu adalah I Made Deni “Gamang” dengan senang hati bercengkrama. Seperti halnya manusia biasa, diberi sekali, minta kedua kali, tiga kali dan seterusnya. Akhirnya isamar berulangkali melakukan hal yang sama. Hli ini diketahui oleh I Made Deni Indraya, namun ia tidak bisa berbuat banyak. Di satu sisi I Made asyik menikmati gelimangan harta termasuk juga wanita. Setelah sekian lama, istri I MadeIndraya menjadi sakit karena energi kehidupannya setiap kali diserap oleh Si Made Deni “Gamang”, sampai akhirnya istri I Made meninggal dunia.

Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, Si Samar lalu meninggalkan apartemennya yang berupa pohon melati dalam pot itu, serta tak lagi menjalin hubungan dengan I Made Indraya. Setelah hengkang dari persahabatannya dengan I Made, lalu tak ada yang membantu I Made dalam memajukan usahanya secara niskala, sehingga lambat laun usahanya menjadi mundur dan tak lama berselang I Made Deni pun bangkrut. Ia kehilangan banyak harta Karen arugi usaha, kemalingan, dirampok, dll sehingga jatuh miskin kembali.

Dalam kemiskinannya, I Made Deni kemudian berpikir dan merenung di teras tempat pot bunga melatinya. Rupanya si samar iseng itu telah merubah hidup dan sekaligus menghancurkan kehidupannya. Ia sadar bahwa sejatinya yang salahadalah dirinya sendiri terlalu berobsesi menjadi orang kaya, sehingga hai itu dimanfaatkan oleh si samar yang kebetulan punya keinginan lain juga. Dalam ambisinya menjadi orang kaya, kini ia telah kehilangan banyak hal yakni harta, cinta, dan harapan. Dalam renungan ia tersadar dan kembali untuk membangun kehidupannya seperti apa adanya tanpa dibebani oleh ambisi serta obsesi-obsesi yang menyebabkan keterikatan duniawi, serta menyebabkan keterikatan duniawi, serta menyebabkan terjebak dalam dunia kelam.

Ia teringat dengan cerita para tetua mengenai persekongkolan antara manusia dengan wong samar dalam membangun kehidupan yang diinginkan. Semuanya adalah maya, semuanya adalah menjebak, semuanya menyesatkan, serta semuanya ada persyaratan yang sudah tentu menyakitkan untuk menyeimbangkan kenikmatan yang didapat atau yang diberikan oleh si samar. Orang menyebutnya dengan tumbal. Dan memang inilah aturannya. Sudah banyak cerita tentang itu.


I Made Deni Indraya tersadar bahwa ambisi dan obsesinya justru menghancurkan hidupnya. Ia baru menyadari bahwa manusia harus hidup dalam garis karma, bukan dalam garis ambisi serta obsesi.

Sang Butha Tiga Sakti


Dalam setiap perhitungan Tri Wara yang jatuh pada “ kajeng” kemudian perhitungan panca wara yang jatuh pada perhitungan “kliwon”, maka dalam tradisi beragama Hindu bali, hari inidiyakini sebagai saat dimana kekuatan kosmis yang merupakan kumpulan dari berbagai macam energy, akan menunjukkan sisi gelapnya. Paruh gelap dalam energi itu yang menjadi satu kesatuan secara utuh, memang tidak bisa kita hilangkan, layaknya siang dan malam, tinggi dan rendah atau kuat dan lemah.

Dari dualisme itu tentu terdapat hal yang meghasilkan aura posiif dan juga negatif. Sekarang masalahnya adalah tergantung manusia itu sendiri memandang sejauh mana dia mampu untuk memanfaatkan hal yang berbau negative itu menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan. Sebab energi apapun bentuknya, tanpa sebuah pengendalian dan dibangun dengan konsep yang baik, maka hasilnya juga akan berdampak tidak baik bagi kehidupan. Energi inilah yang menjadi satu kesatuan utuh dalam unsur masa benda dan kita sebut sebagai Bhuta. Sedangkan waktu yang menentukan itu semua adalah “kala”.

Dalam perhitungan tri wara dan panca wara tadi, kita sebut dengan istilah “Kajeng Kliwon”, dan disaat inilah kekuatan itu muncul untuk sekedar memberikan imbas yang dapat saja kita pandang dengan istilah kurang baik. Sebab bagaimanapun, dua hal dalam hidup memang tidak dapat kita pisahkan. Dua bentuk kekuatan masa benda dan waktu inilah yang oleh terminilogi manusia Hindu Bali disebut dengan Sang Bhuta Bucari dan Kala bucari.

Energi dalam alam semesta yang ada di Bhuana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuana Alit atau tubuh manusia itu sendiri. Dengan demikian maka secara langsung keadaan dan situasi yang ada di Bhuana Agung akan mempengaruhi perkembangan, pikiran, perasaan, emosi, rasa, tindakan, serta hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari. Lalu energi yang ada ini, jika selaras akan menyebabkan satu keharmonisan dalam diri manusia dan jika sebaliknya, energi yang terdapat di alam semesta tidak bersinergi dengan badan manusia, yang cendrung menarik semua lapisan elemen alam, maka disinilah tercipta adanya sebuah kedisharmonisan Bhuana alit.

Energi itu ada yang baik dan buruk. Bagaimana caranya agar yang buruk ini tidak berpengaruh maksimal dalam kehidupan manusia, maka disinilah kita perlu melakukan sebuah upaya Nyomia.  Atau dengan kata lain menetralisirnya, bukan menghilangkannya. Sebab dalam kehidupan ini dua kutub energi harus selalu ada dan senantiasa berdampingan satu sama lainnya.

Secara spesifik dalam hari Kajeng Kliwon inilah, penguasa energi positif dan negatif yang dalam agama Hindu disebut sebagai Prawerti dan juga Niwerti melakukan sebuah pemurtian, dan dari sana beliau juga akan menganugrahi manusia keselamatan. Untuk menyeimbangkan hal tersebutlah, maka di hari kajeng kliwon, kita harus melakukan Bhuta Yadnya terkecil, yakni mengahaturkan segehan. 

Segehan Kajeng Kliwon
  • Segehan cacah. Segehan ini adalah segehan dengan nasi putih yang dibuat sedemikian rupa dengan 5 tanding,dengan ulamnya adalah irisan bawang dan jahe, kemudian diberi sedikit garam.
  • Segehan panca warna, yakni segehan yang tatacaranya sama persis yang terdapat dalam segehan cacah, namun warna nasinya lima macam dan di tanding dengan 5 tempat yang berbeda.

Segehan tersebut, (cacah) dihaturkan di tiga tempat yang berbeda yakni :
  1. Halaman merajan atau di depan palinggih Pangaruman, ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari.
  2. Di halaman rumah ditujukan kepada Sang Kala Bhucari.
  3. Di depan pintu gerbang pekarangan rumah ditujukan kepada Sang Durgha Bhucari.


Pandangan yang menginterprestasikan bahwa mesegeh tidak perlu dilakukan adalah pandangan yang kurang tepat. Sebab pandangan semacam ini akan memungkinkan semakin besarnya kekuatan yang dapat mempengaruhi pikiran dan emosi seseorang untuk bertindak di luar batas kesopanan semakin mudah. Sebab pikiran kita juga seperti magnet yang akan menarik seluruh bentuk energi sampai kapasitas tertentu dan membuatnya menjadi sebuah perintah yang nantinya emosi kitapun menjadi tidak stabil. Sebab kembali lagi, apapun bentuk energy alam semesta, tubuh kita juga akan menyerapnya dan merealisasikannya sedemikian rupa.

Disarikan dari berbagai sumber