Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag)


Tumpek Wariga akan segera kita rayakan dimana Rainan ini menekankan pada penghargaan manusia kepada tumbuh-tumbuhan. Berikut adalah Dharma Wacana dari manuku Pasar Agung & Melanting Gunung Salak tentang makna Rainan tersebut

_________________________________________________

Om Swastiastu Om

Tumpek Wariga akan segera kita rayakan. Tumpek yang jatuh pada hari Saniscara Kliwon Wariga dikenal dengan nama Tumpek Pengatag adalah merupakan rangkaian yang sangat penting yang harus diikuti menjelang Hari Raya Galungan yang akan jatuh 25 hari kemudian.

Tumpek merupakan hari yang menandai pertemuan antara Panca Wara dalam hal ini Kliwon dengan Sapta Wara dalam hal ini Saniscara. Pada petemuan kedua Wara ini diyakini merupakan hari yang sangat baik untuk merayakan sesuatu.

Sebagai penganut Hindhu di Indonesia, kita mengenal 6 jenis Tumpek dalam siklus 6 bulan Bali (210 hari) yaitu, Tumpek Landep, Tumpek Wariga, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye dan Tumpek Wayang. Berbagai macam fungsi Tumpek tersebut sudah banyak dibicarakan dan didiskusikan di kalangan penganut Hindhu di Bali.

Khusus untuk Tumpek Wariga orang Bali menyebutnya dengan Tumpek Pegatag karena pada saat itu dilakukan ritual untuk tumbuh-tumbuhan. Tujuannya adalah agar tumbuh-tumbuhan tersebut bisa berdaun, berbuah atau berbunga dengan lebat sehingga manusia bisa merayakan Hari Raya Galungan 25 hari kemudian.

Dari segi ini bisa kita simpulkan bahwa kegiatan Tumpek Pengatg/Wariga sangatlah penting mengingat Galungan merupakan hari raya yang diperingati sangat megah di Bali. Segala sesuatu hasil bumi diperlukan untuk menyukseskan Galungan tersebut.

Bila kita tinjau dari segi filosofi keagamaan, maka Tumpek Wariga ini erat kaitannya dengan salah satu sloka dari Bhagavad Gita, yaitu:

patram pushpam phalam toyam
yo me bhaktya prayacchati
tad aham bhakty-upahrtam
asnami pryatatmanah

 Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 26

Artinya adalah:
Meskipun seorang Bhakta hanya mempersembahkan Daun, Bunga, Buah dan Air yang  asalkan dilakukan dengan tulus iklhas, maka persembahan itu akan Aku terima.

Kita bisa lihat bahwa tiga dari empat komponen yang disebutkan dalam sloka tersebut yaitu Daun, Bunga dan Buah dimuliakan pada perayaan Tumpek Wariga. Filosofi daun, bunga dan buah merujuk kepada badan, hati dan karmaphala dari manusia itu sendiri. Jadi perayaan Tumpek Wariga secara filosofis adalah memuliakan badan, hati nurani dan phala dari pebuatan manusia.

Sudah tentu dengan perayaan Tumpek Wariga tersebut, manusia disadarkan bahwa bila kita ingin Dharma menang melawan Adharma (Galungan) maka segala perbuatan, perkataan dan pikiran kita hendaknya memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pengertian Tumpek Wariga yang sedemikian luas apabila bisa dimengerti dan dilaksanakan pasti akan membawa umat menusia lebih maju dalam segala bidang kehidupan. Hal ini dinyatakan dalam Bhagavad Gita yaitu:

Ananyas chintayanto mam
ye janah paryupasate,
tesham nityabhiyuktanam
yoga-kshemam vahamy aham
Bhagawad Gita Bab IX: Sloka 22

Artinya adalah:
Orang yang berserah diri kepadaKU, sujud dan selalu taat kepadaKu, maka akan Kulindingi semua apa yg dia punya, dan akan Aku bawakan segala apa yang dia butuhkan

Sloka ini sangat jelas merupakan jaminan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada semua manusia akan segala kemudahan yang akan diberikan apabila kita selalu berjalan di jalan Dharma.

Sekarang tergantung kepada manusia itu sendiri, apakah dia mau menyerapi dan melaksanakan Dharma ataukah lebih memilih berada dalam lautan Awidya (kegelapan).

Sebagai Pengayah di Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak, penulis hanya bisa menghimbau kehadapan umat manusia, marilah kita selalu tegakkan Dharma, karena Dharma akan melindungi setiap orang yang berusaha menegakkan Dharma.

Om Nama Siwaya, Om Namo Budhaya Om

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Pakem Kepemimpinan Mahapatih Gajah Mada - 1


KRETERIA KEPEMIMPINAN MENURUT RAKIANA PATIH GAJAH MADA.
  1. ABIKAMIKA : Pemimpin harus tampil simpatik, berorientasi kebawah dan mengutamakan kepentingan rakyat banyak dari pada kepentingan pribadi atau golongan.
  2. PRAJNA: Pemimpin harus bersikap arif dan bijaksana, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi dan agama. Serta dapat menjadi panutan masyarakat
  3. UTSAHA : Pemimpin harus proaktif, berinisiatif, kreativ, dan inovatif (pelopor poembaharuan) serta rela mengabdi tanpa pamerih untuk kesejahtraan rakyat
  4. ATMASAMPAT: Pemimpin harus mempunyai  kepribadian berintegrasi tinggi, moral yang luhur serta obyektif, dan memiliki wawasan jauh ke depan
  5. SAKYA SAMANTA : Pemimpin harus berfungsi sebagai pengontrol maupun mengawasi bawahannya secara efektif, efisien, produktif, dan berani menindak secara  adil
  6. AKSUDA PARISAKTA : Pemimpin harus  akomodatif mampu memadukan perbedaan  dengan permusyawaratan, pandai berdiplomasi, serta menyerap aspirasi bawahan dan rakyat

KWALITAS KEPEMIMPINAN GAJAHMADA
  1. AJI Kwalitas yudistira : Pemimpin harus  bijaksana  dan mahir  dalam segala ilmu pengetahuan, baik pengetahuan spiritual/agama maupun Ilmu Pengetahuan dan teknologi
  2. GIRIKwalitas Bima : Pemimpin harus   kuat iman, teguh, tangguh dalam menegakkan kebenaran, serta tabah dan tegar dalam menghadapi segala kendala rintangan maupun penderitaan
  3. JAYA Kwalitas Arjuna : Kualitas Pemimpin harus memiliki kemampuan menundukkan musuh-musuhnya,  dan segala sifat-sifat buruk  yang ada dalam diri  untuk mencapai kesempurnaan lahir batin
  4. NANGGA Kwalitas Nakula: Pemimpin harus memiliki kualitas yang tangguh dan tanggap dalam segala keadaan serta tahu membawa  diri, sehingga tidak terjerumus dalam kehancuran atau hal hal yang merugikan
  5. PRIYAMBADA Kwalitas Sahadewa : Pemimpin harus mampu memberikan  rasa kebahagiaan , ketentraman dan kedamaian lahir dan batin kepada masyarakatnya 
ETIKA KEPEMIMPINAN GAJAH MADA.
  1. SASTRATAMA : Norma norma apa yang disebut indah dan  apa yang disebut tidak indah (jelek)
  2. BUANATAMA : Norma tentang Kepekaan sosial, yaitu nilai kebersamaan, empati, dan kepedulian terhadap permasalahan kemasyarakatan
  3. SUSILATAMA  : Kadedah kaedah  tentang yang benar dan yang salah  menurut berbagai  jenis ketentuan yang berlaku dalam masyarakat

Buda Kliwon Gumbreg


Buda Kliwon Gumbreg merupakan Rainan yang berdasarkan pada pertemuan Pancawara yaitu Kliwon dan Saptawara yaitu Buda. Di samping itu pada hari ini juga bertepatan dengan Rainan kajeng Kliwon yang merupakan pertemuan Triwara yaitu Kajeng dan Pancawara yaitu Kliwon.

Hari Buda Kliwon ini dikenal dengan hari penyucian Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati, persembahan ditujukan kepadaNya.

Beberapa tempat suci di Bali yang melakukan Petirtan (odalan) di hari Rainan ini, karena memang Rainan ini merupakan salah satu Rainan utama mengingat bertemunya Buda Kliwon dan Kajeng Kliwon di hari ini.

Pertemuan Buda Kliwon dan Kajeng Kliwon memberikan arti yang sangat dalam karena berdasarkan pengider Buana saat itu adalah beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Mahadewa. Penganut Hindhu diharapkan bersembahyang memohon keselamatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya.

Buda Kliwon Gumbreg yang jatuh pada tanggal 16 April 2014 menjadi sangat istimewa karena cocok untuk melakukan upacara Pecaruan untuk menetralkan buana agung dan buana alit.

Peta Lokasi Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak

Om Swastiastu Om

Banyak pemedek yang mau tangkil dan melukat bertanya-tanya tentang lokasi Pancuran Sapta Gangga Gunug Salak. Di bawah ini dibuatkan denah yang sederhana dengan harapan semoga bisa membantu para pemedek untuk melukat sekaligus sembahyang di Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak


Denah Lokasi Pancuran

Secara garis besar, satu-satunya jalan menuju Pancuran Sapta Gangga adalah melalui jalan di Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak (ikuti tanda panah merah), dan melewati kediaman Jro Mangku Gde Lingsir Made Sadnya. Setela mencapai areal Pura, sangat mudah untuk dilalui karena jalanan sudah di paving blok dan diterangi dengan lampu di malam hari.

Pancuran Sapta Gangga diperuntukkan bagi semua orang dengan tidak memandang latar belakang dan kondisi masing-masing.

Berikut adalah pemampakan pemedek yang  sedang melukat:



Semoga informasi ini dapat membantu

Om Shanti Shanti Shanti Om

Anggar Kasih Kulantir - Mari Jaga Kesucian Diri dan Alam


Anggar Kasih Kulantir merupakan salah satu Rainan yang sangat istimewa, karena bertepatan juga dengan hari Rainan Kajeng Kliwon. Dua Rainan yang jatuhnya pada hari yang sama merupakan kesempatan langka bagi pemeluk Hindhu untuk menjaga kesucian diri masing-masing dan meningkatkan spiritualitas diri.

Anggar Kasih atau Anggara Kliwon merupakan rainan Bali yang jatuh berdasarkan pertemuan Panca Wara yaitu Kliwon dan Sapta Wara yaitu Anggara. Pada hari rainan ini umat Hindhu Bali memuja Ida Sang Hyang Rudra yang bersthana di Barat Daya (Nairiti).

Sedangkan Kajeng Kliwon merupakan Rainan yang berdasarkan pada pertemuan Tri Wara yaitu Kajeng dan Panca Wara yaitu Kliwon. Pada hari ini para pemeluk Hindhu selalu menghaturkan banten sesaji untuk memohon keselamatan secara sekala niskala. Pemeluk Hindu yang akan melakukan upacara Mecaru, biasanya melaksanakannya pada hari Rainan Kajeng Kliwon, karena pada Rainan ini dipercaya bahwa segala kekuatan negatif bisa di netralkan.

Sedangakan pada hari Anggar Kasih hendaknya manusia menghaturkan persembahan, minimal canang, di tempat pemujaan masing-masing. Ini untuk menyatakan Bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dewa Rudra dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi untuk melebur segala sesuatu, termasuk kekotoran yang terdapat dalam jiwa manusia dan dunia ini.

Rudra adalah dewa menurut Regveda yang diasosiasikan dengan kekuatan angin atau badai, dan pemburu. Rudra sering juga disamakan dengan salah satu dewa tertinggi umat Hindu yaitu Dewa Siwa.

Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali Beliau dipuja di Pura Uluwatu
Mantra Dewa Rudra yang terkenal adalah
Tryambakam yajamahe
Sugandhim pusthivardhanam.
Urvarukam iva vandhanat
Mrtyor muksiya mamrtat. (Rgveda VII.59.12).

Artinya adalah: Ya Tuhan sebagai Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak sumber-sumber makanan. Semoga beliau melepaskan kami seperti mentimun dari batangnya, dari kematian tetapi bukan dari keabadian

Mantram ini disebut juga Mantra Maha Mertyunjaya sebagai mantra memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu adalah tempat suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Dewa Rudra adalah perwujudan kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti. Memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan mempralina sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan dipralina.

Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.
Marilah kita sebagai penganut agama Hindhu Dharma melaksanakan pembersihan diri/peleburan kekotoran yang sebaiknya dilaksanakan pada Hari Raya Anggar Kasih dukut ini.

Secara garis besar bisa dikatakan bahwa Rainan Anggar kasih Kulantir sangat istimewa karena merupakan kesempatan yang sempurna untuk menjaga kesucian diri dan alam semesta di sekitar kita. Hendaknya kesucian diri yang dijaga itu meliputi segala aspek seperti perbuatan, perkataan dan pikiran kita.

Hari Raya Nyepi - Saka 1936


Om Swastiastu Om

Hari Raya Nyepi tahun Saka 1936 di tahun 2014 akan dirayakan pada tanggal 31 Maret 2014. Penganut Hindu akan melakukan berbagai macam ritual sebelum merayakan Nyepi tersebut. Nyepi disebut juga tahun baru Saka yang di aplikasikan di Bali sejak peradaban Hindu masuk ke Bali.

Sistem tahun Saka merupakan system penanggalan suku Saka di India yang mempunyai peradaban yang sangat maju. Penanggalan Saka dimulai pada tahun 78 masehi, sehingga beda tahun Saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun. Sistem penanggalan ini dibawa oleh pendeta India ke Nusantara waktu proses penyebaran agama Hindu dimulai dan diaopsi oleh kerajaan Majapahit waktu itu.

Dala prasasti Trunyan A, Nyepi di Bali tercatat sudah dirayakan sekitar abad ke 8 masehi, bersamaan dengan perayaan Hari Raya Galungan. Dalam kitab Negara Kertagama yang ditulis pada jaman Majapahit, tertulis perayaan Nyepi di Majapahit dikenal dengan nama Caitramaisa

Tercatat Raja Bali abad ke 13 hingga 14 masehi (Ida Dalem Waturenggong) juga sudah merayakan Hari Raya Nyepi

Perayaan Hari Raya Nyepi terbagai dalam beberapa tahap, yaitu Melasti, Tawur Kesanga, Nyepi dan Ngembak Geni.

Melasti:

Melasti merupakan kegiatan penyucian Pretima-Pretima dan Pelinggih suci yang ada di masing-masing Pura. Biasanya penyucian ini dilakukan di laut/pantai dan waktunya paling lambat sehari sebelum Tawur Kesanga. Adapun tujuan dari Melasti adalah agar semua Pretima dan Pelinggih menjadi suci sebelum menyambut Hari Raya Nyepi.

Melasti terdiri dari 3 kegiatan, yaitu Melis, Melasti dan Mekiyis. Melis merupakan kegiatan pembersihan jalan yang akan dilalui oleh Ida Sesuhunan dalam perjalanan menuju pantai. Melasti adalah proses penyucian di Pantai/Laut. Sedangkan mekiyis adalah proses pe-nyiratan Tirta yang di Tunas di Segara ke Pelinggih-pelinggih yang ada di Pura masing masing.

Tawur Kesanga

Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilem Kesangan yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi di masing-masing Pura atau Kabupaten. Tawur biasanya menggunakan Kebo sebagai bahan caru. Sedangkan untuk tngkat yang lebih rendah cukup melakukan Caru Panca Sata di masing-masing Pura.

Tujuan dari Tawur Kesanga adalah untuk menetralkan alam dari untur Bhuta Kala, atau istilahnya Men-somiakan para Bhuta Kala sehingga di tahun yang akan dating bisa menjadi lebih baik.

Khusus untuk tingkat rumah tangga, hendaknya melakukan upaya men-somiakan Bhuta Kala dengan cara nunas Nasi Tawur di desa/Pura masing-masing dan menyemaikannya di halaman rumah tangga masing-masing. Kegiatan ini dilakukan pada saat Sandhya Kala, yaitu waktu saat para Bhuta Kala mulai unjuk diri.

Hari Raya Nyepi

Sehari setelah Tilem Kesanga, maka penganut Hindhu merayakan Hari Raya Nyepi dengan cara melakukan catur Brata Pe-Nyepian yaitu:

  1.  Amati Karya, Amati Karya adalah kondisi tidak melakukan perkerjaan sehari-hari. Contohnya, petani tidak pergi ke swah, pedagang tidak berdagang dan lain-lain
  2. Amati Geni, Amati Geni adalah kondisi tidak menyalakan api/lampu, termasuk tidak melakukan kegiatan masak-memasak. Yang lebih penting adalah tidak menyalakan api kemarahan dan nafsu selama Hari Raya Nyepi.
  3.  Amati Lelungaan, Amati Lelungaan adalah tidak melakukan perjalanan/pergi. Arti yang lebih dalam adalah tidak membiarkan pikiran kita untuk melanglang buana kemana-mana.
  4. Amati Lelanguan, Amati Lelungaan adalah tidak bersenang-senang dengan mengontrol Panca Indra kita selama Nyepi.

Untuk penganut Hindhu di luar Bali, biasanya kegiatan Nyepi dipusatkan di Pura yang ada di daerah masing-masing sehingga menjadi lebih khusuk dalam pelaksanaannya. Hal ini tidak menjadi masalah karena tetap masih berada dalam koridor Catur Brata Penyepian

Ngembak Geni

Ngembak Geni jatuh sehari setelah Nyepi dan merupakan untuk melakukan puji syukur khadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan sekaligus bersilahturahmi kepada semua handai taulan, keluarga dan  teman. Kegiatan ini sangat positif untuk dilakukan kerena bisa untuk menjaga tali kerukunan.

Semoga Hari Raya Nyepi Saka 1936 bisa kita manfaatkan untuk merenungkan segala hal yang pisitif maupun negative sehingga kedepannya bisa mendapatkan kemajuan.

Selamat merayakan Nyepi dan Selamat tahun baru Saka 1936


Om Shanti Shanti Shanti Om

Budha Wage Ukir - Budha Cemeng, Mari Melakukan Penghematan


Hari Buda Wage Ukir merupakan salah satu Rainan yang untuk memuja Beliau Sang Hyang Sri Sedana yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam aspek penguasa harta benda

Bude Wage Ukir yang disebut juga Bude cemeng Ukir, pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kehadapan Dewi Laksmi yang telah memberikan kekayaan/rejeki/kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Umat Hindu diharapkan tidak melakukan pemborosan di hari Rainan ini

Makna dan Tujuan Filosofis dari pemujaan terhadap Beliau dalam prabawanya sebagai Ida Bhatara Rambut Sedhana adalah untuk memohon anugraha Beliau dalam berbagai macam wujud dan bentuk kemakmuran untuk segala makhluk hidup ciptaan Beliau.

Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Dewi Laksmi/Betara Rambut Sedana sebagai rasa terima kasih atas anugerah-Nya


Dipercaya bahwa pada hari ini masyarakat Bali tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia. Entah benar atau tidak, hal ini adalah mitos yang sangat menarik untuk diyakini karena mengandung unsur yang sangat kental dengan budaya tradisional masyarakat Bali.

Tumpek Landep - Tajamkan Jasmani Rohani


Rainan Tumpek Landep akan segera kita rayakan pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Landep. Pada Hari Tumpek Landep terkenal dengan ritual keagamaan yang berhubungan dengan senjata tajam, baik itu berupa pusaka atau alat-alat rumah tangga yang lain.

Pada Rainan Tumpek Landep inilah semua hal yang bersifat tajam itu kembali di-Pasupati/disucikan dengan tujuan agar semua ke-leteh-an itu bisa diberishkan kembali.

Agama Hindhu memiliki banyak hari raya. Hari raya keagamaan itu sesungguhnya memiliki makna cukup luas. Termasuk Tumpek Landep, tak hanya bermakna ritual. Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kesadaran pikiran. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Menurut Ida Pedanda Made Gunung, dengan pikiran yang tajam diharapkan umat dapat menumpulkan gejolak indria dan menghindari perilaku menyimpang. Tumpek, kata Ida Pedanda, berarti pula tampek dan landep berarti lanying (tajam). Dalam perayaan ritual Tumpek Landep, umat diingatkan untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala.

Dalam kehidupan sehari-hari umat diisyaratkan untuk selalu menajamkan ilmu dan keterampilan agar mampu bersaing dalam era kesejagatan. ''Yang terpenting lagi, umat hendaknya selalu menajamkan keyakinannya terhadap Tuhan,'' katanya. Dalam situasi seperti sekarang, umat penting pula menajamkan rasa persatuan dan kesatuan dan membangkitkan kewaspadaan diri. Termasuk mewaspadai keamanan Bali. Jangan mau dipecah-belah, karena buta politik. Sebab, sejarah membuktikan, banyak orang Bali menjadi korban politik. Padahal politik dalam arti sesungguhnya memiliki tujuan mulia yakni untuk mensejahterakan masyarakat. Tetapi, praktiknya berbeda, politik justru untuk mensejahterakan kelompok dan diri sendiri.

Di samping itu, ritual Tumpek Landep merupakan tonggak introspeksi (mulatsarira). Artinya, umat manusia dituntun agar bisa mengaktualisasikan diri pada pembentukan watak atau karakter yang sesuai dengan ajaran agama. Setiap Tumpek Landep, umat diharapkan mulatsarira, evaluasi diri apa yang telah dilakukan selama ini. Ini penting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam masa mendatang.

Keperluan untuk menyeimbangkan keperluan jasmani dan rohani sangat diperlukan. Jika setiap hari umat masuk dapur tiga kali, hal yang sama mesti dilakukan untuk keperluan rohani. Itu berarti umat mesti bersembahyang tiga kali sehari ke merajan. Dengan demikian, ada keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.


Ida Pedanda menegaskan, Tumpek Landep bukan otonan motor atau komputer. Tumpek Landep adalah pemujaan Tuhan karena saat itu beryoga Dewa Siwa. Makanya persembahyangan Tumpek Landep adalah di Merajan/Pura masing-masing.