Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Ngereh untuk Menjadi Leak


Ngereh merupakan suatu proses ritual mistik yang dilakukan di kuburan pada tengah malam dan merupakan tahap akhir dari proses sakralisasi petapakan Ida Bhatara Rangda, Barong Landung dan lain sebagainya. Atau tahapan akhir dari proses sakralisasi setelah selesai memperbaiki petapakan yang lama atau rusak.

           Ngereh bermakna memohonkan kekuatan atau kesaktian kehadapan Ida Bhatara agar petapakan menjadi sacral dan memiliki kekuatan gaib sehingga diyakini akan mampu melindungi masyarakat penyungsungnya serta warga sekitarnya. Ngereh juga merupakan simbolis kumpulan aksara-aksara suci yang terdapat dalam swalita dan mudra yang dirangkum menjadi satu, sehingga menjadi Kalimusada dan Kalimusadi yang biasanya dipakai untuk nyurya sewana. Dari kalimusada dan kalimusadi ini muncul Dwijaksarayang diakulturasi menjadi Panca Aksara kemudian menjadi Tri Aksara, Dwi Aksara dan akhirnya menjadi Eka Aksara.

            Kaitannya dengan ngerehang leak adalah menghidupkan kekuatan Ista Dewata atau lingga beliau yang sesuai dengan fungsinya, khususnya menghidupkan benda-benda yang dibikin oleh manusia. Seperti sesabukan, tetaneman atau pepasangan dan sebagainya. Beberapa lontar yang memuat tentang ngerehang leak yakni lontar Canting Mas, lontar Siwer Mas, lontar Aji Pangiwa, lontar Tutur Pangiwa dan sebagainya. Disana disebutkan bahwa ngerehang leak mempunyai arti menghidupkan organ inti yang berupa cakra-cakra yang ada di dalam tubuh manusia.

            Di dalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra utama yang harus dihidupkan menjadi kundalini dengan jalan ngerehang atau ngeregep. Dengan kata lain kita harus menyatukan Ongkara Ngadeg dan Ongkara Sungsang dalam tubuh. Ongkara Ngadeg adalah Atman dan Ongkara Sungsang adalah Paramaatman. Dalam dunia kebatinan dikenal dengan istilah Manunggaling kawula dan Gusti. Ini fungsinya untuk mengaktifkan kekuatan diri sendiri, untuk mencapai kesadaran diri sendiri dan dapat menyatukan sifat-sifat Beliau (Ketuhanan) di dalam diri sendiri.  Dengan sifat-sifat ketuhanan yang mantap akan memudahkan kita berbuat baik dalam menjalani hidup. Di masyarakat dikenal dengan istilah membangkitkan atau menghidupkan taksu dengan cara olah bathin guna mendapatkan suatu kekuatan batin yang diinginkan. Jadi, tidak selalu ngerehang ini bersifat menyeramkan.

            Pada kenyataanya, dalam mengikuti prosesi ngerehang ini memang tidaklah menyeramkan. Walaupun dilakukan di kuburan di tengah malam yang sepi dengan suasana gelap gulita, tetapi situasinya tidaklah menyeramkan. Kenapa? Karena ada banyak orang disana. Walaupun kelihatannya orang yang ngerehang itu ditinggal sendirian di kuburan di tengah malam yang sepi dan dalam suasana gelap gulita, tetapi sebenarnya dia tidaklah sendirian, dalam jarak tertentu ada banyak orang yang mengawasinya. Orang-orang itu adalah para pemangku dan sesepuh desa setempat. Dan dipenepi siring kuburan pun dipenuhi oleh ratusan warga masyarakt yang ikut menonton prosesi ngerehang itu. Jadi apanya yang seram.


            Kalaupun itu bersifat menyeramkan berarti merupakan spesifikasi dari ngerehang.Khususnya ngerehang leak. Betapa tidak, karena leak sendiri berarti sosok tubuh manusia yang tampak seperti bhuta, rangda, celuluk atau binatang. Karena itu orang barat menganggap bahwa leak itu dalah ilmu sihir atau black magic. Mata orang disulap atau disihir dengan suatu kekuatan tertentu agar apa yang ada didepannya tampak seperti yang diinginkan oleh penyihirnya. 

Sumber: Leak Ngamah leak

Mekutu (Mencari Kutu) di Malam Hari, Kenapa Tidak Boleh?



        Sangat banyak pantangan sebagai sebuah kearifan lokal yang diwariskan para tetua kepada anak-anak Bali. Ambil saja contoh tidak boleh menduduki bantal, tak boleh menaruh sapu lidi dalam keadaan berdiri, tak boleh keramas pada hari kajeng kliwon, tak boleh makan dalam posisi berdiri, tak boleh duduk di  bagian pojok dipan, tak boleh menyapu pada malam hari, tak boleh membeli jarum pada malam hari, dan banyak lagi. Semua pantangan itu sejatinya memiliki pesan dan makna tersirat yang tak bisa disampaikan secara terbuka oleh tetua. Dan cendrung itu dimitoskan, dengan harapan untuk lebih memberikan nilai keyakinan serta wibawa terhadap petuah tersebut. Entah itu mitosnya magis, dll. Yang jelas, semua itu dipercaya secara turun temurun sampai sekarang. 

        Walaupun saat sekarang dengan kecerdasan berpikir para generasi muda, sekaligus bisa menganalisa maksud yang tersirat di dalamnya. Namun tetap saja semua itu menjadi misteri dan sampai sekarang masih dianggap sebagai petuah dan anjuran yang bernilai magis, serta memiliki kekuatan untuk menggerakkan manusia untuk mematuhinya. Artinya dengan dimitoskan demikian, semua larangan tersebut seolah memiliki taksu, yang kemudian bisa ditaati sampai sekarang. Walaupun ada beberapa dari mereka yang melanggarnya.

             Salah satu dari larangan yang belum disebutkan di atas adalah tentang larangan mekutu pada malam hari. Apa makna dari larangan ini?

            Jaman dahulu yang belum ada penerangan memadai, maka larangan ini sangat masuk akal. Sebab pada malam hari tak mungkin akan mencari kutu, sebab tak akan kelihatan. Kutu yang kecil dan berada di rimbunan helai rambut tak akan mungkin dapat dilihat pada malam hari dengan penerangan lampu minyak. Artinya bahwa mencari kutu pada malam hari pada jaman dahulu sangatlah mubasir. Namun bagaiman dengaan jaman sekarang? Dengan kemajuan jaman serta dengan system kelistrikan yang sudah memadai, memungkinkan manusia untuk mencari kutu pada malam hari. Dengan penerangan yang cukup, kutu akan dapat dilacak dan dilihat di rimbunan rambut pada malam hari. Namun mengapa manusia tak mau mencari kutu pada malam hari, walaupun sejatinya bisa dengan menggunakan lampu yang memadai.

            Nah disinilah kehebatan dari petuah leluhur. Artinya secara logika dan akal sehat munglin bisa diilmiahkan, namun ada alasan-alasan non ilmiah yang mungkin tersirat di dalamnya. Apa kira-kira?

            Ternyata benar, ada alasan non teknis kenapa manusia tak mau mekutu malam hari. Beberapa dari mereka mengatakan adalah alasan magis yang menyertai sikap mekutu malam hari. Analisa non ilmiahnya begini : ketika mekutu, seseorang pastilah akan mengurai rambutnya yang panjang kemudian ditelisik untuk mencari kutunya. Dalam keadaan demikian, disamakan atau dianalogikan dengan manusia yang sedang melajah atau belajar ngeleak, dengan posisi rambut megambahan atau terurai. Hal ini akan menjadi suatu hal yang mengundang perasaan apabila mengurai rambut dilakukan pada malam hari apalagi menjelang rerahinan. Jadi dengan menyaksikan orang mekutu pada malam hari, maka asosiasi masyarakat bahwa yang bersangkutan bisa ngeleak.

            Lebih lanjut ada yang menjelaskan bahwa mekutu malam hari adalah sesuatu yang aneh. Sebab kebanyakan orang mekutu pada siang hari dengan harapan lebih terang dan lebih gampang untuk mencari kutunya. Kenapa orang mekutu malam hari? Apalagi melakukannya dengan sering dan lebih senang pada malam hari. Disini sepertinya pada orang tersebut terdapat sebuah naluri tertentu yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan. Naluri apakah itu? Bisa jadi naluri itu adalah naluri bojog atau monyet yang setiap saat berkumpul dengan keluarganya selalu mencari kutu. Jangan-jangan…mereka yang suka mencari kutu sedang dihinggapi oleh naluri bojog. Naluri itu bisa didapat dari pelajaran atau tingkatan pelajaran ngeleak yang masih pada tingkat bojog, sehingga sabuknya yang hidup akan senantiasa memancarkan aura serta keinginan untuk meniru sifat bojog itu sendiri, salah satunya adalah mekutu.


            Nah atas alasan tersebut di atas maka para tetua menyarankan untuk tidak mekutu malam hari , agar tak disangka bisa ngeleak. Dan tetua pun tak pernah sampai sekarang menjelaskan apa maksud dari pernyataan tersebut. Artinya tak perlu banyak bertanya, laksanakan saja. Dengan mengikuti hal tersebut maka disana aka nada kebaikan dan kemulyaan, dan ketika melanggar maka di sana akan ada cemohan, akan ada celaka, dan sebagainya.

Sumber: Taksu Bali

Makna Baik dan Buruk pada Tanaman Pekarangan Rumah - 2



Menurut para praktisi spiritual, tanaman memiliki manfaat terhadap tempat yang didiaminya. Tanaman mengandung energi yang bisa membawa keberuntungan atau bahkan membawa sial.

            Yang dimaksud di sini tentunya jika ditanam di pekarangan rumah, bukan di kebun atau di tempat lainnya, percaya atau tidak percaya lihatlah maknanya berikut ini.

Tanaman pembawa daya linuwih:

BANGLE : Menangkal gangguan mahluk halus.

HANJUANG : Menolak bahaya, pengusir tikus, serangga dan penyakit dari tanaman padi.

KELADI HITAM : Menangkal hal-hal negatif seperti santet, guna-guna dan lain sebagainya.

KELOR : Menangkal hal-hal yang negatif seperti santet, guna-guna dan lain sebagainya.

KENANGA : Menangkal black magic.

MELATI : Membawa keagungan, kesejahteraan, dan keharmonisan.

POHON TIANG : Membawa aura kesucian.

SAWO KECIK : Membawa kewibawaan dan kehormatan.


TEBU HITAM : Menangkal black magic.

Tanaman pembawa sial:

ANGGUR : Mendatangkan kebangkrutan.

AREN : Menjadi tempat berkumpulnya mahluk halus.

BELIMBING WULUH : Jadi sering diganggu mahluk halus.

BOUGENVILLE /BUNGA KERTAS : Bapak (anak laki-laki) jadi tidak betah di rumahdan jika ditanam di depan rumah maka anak perempuan sering marah-marah tanpa sebab.

CABAI : Membawa perselisihan dan saling curiga.

JAGUNG : Jadi sering sakit-sakitan dan sering berselisih dengan tetangga.

NANGKA : Jadi sering sakit-sakitan.

PEPAYA : Membawa sial.

POHON PINANG : Anak-anak jadi susah di atur, baik pendidikan maupun moralnya.

PISANG HIAS : Membawa sial.

SIRSAK : Jadi tempat mahluk halus yang suka mengganggu ketentraman



Makna Baik dan Buruk pada Tanaman Pekarangan Rumah - 1

           

           
           Menurut para praktisi spiritual, tanaman memiliki manfaat terhadap tempat yang didiaminya. Tanaman mengandung energi yang bisa membawa keberuntungan atau bahkan membawa sial.


            Yang dimaksud di sini tentunya jika ditanam di pekarangan rumah, bukan di kebun atau di tempat lainnya, percaya atau tidak percaya lihatlah maknanya berikut ini.

Tanaman pembawa keberuntungan:

BUNGA TERATAI :  Menciptakan kesejahteraan, kebahagian, dan suasana yang harmonis.

KELADI BESAR : Menangkal pencuri masuk  ke dalam rumah.

KUPING GAJAH : Membawa rejeki.

MAWAR : Mendatangkan rejeki

PALEM EKOR TUPAI : Mendatangkan berkah dan kebajikan.

PALEM MERAH : Menjaga dari hal-hal negative (teluh, santet, guna-guna, dan lain-lain), membawa rejeki.

PANCHIRA (POHON UANG) :  Membawa rejeki. 

PANDAN : Menjaga ayam peliharaan dari serangan musang.

POHON NAGA : Membawa kesenangan, suasana ceria, dan harmonis.

SEDAP MALAM : Menciptakan keharmonisan dan ketentraman.

Acara Penyineban Ring Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak - 2014

Om Swastiastu

Berikut ini adalah foto-foto Penyineban Ring Pura Pasar Agung dan Melanting Gunung Salak 2014:


Ida Pandita Mada Manuaba sedang Me-Puja


Umat sedang ngayah menjalankan Pratistha


Pecaruan sedang di jalankan di Jaba Pura



Mangku Agus sedang nedunang Daksina Pelinggih




Mangku Nyoman sedang menyiratkan Tirta sebelum Nge-lukar Daksina Pelinggih



Proses Nge-lukar Daksina pelinggih sedang berlansung


Dari KiKa: Mangku Agus, Pak Wayan Sukerena, Ibu Mangku Made Sadnya, Bapak Mangku Made Sadnya, Ida Pandita Mada Manuaba, Ida Pandita Istri, Ibu Wayan, Ibu Mangku Istri Nyoman Hari, Mangku Nyoman Hari


Ida Pandita Mada Manuaba & Ida Pandita Istri Mada Sekarini dari Griya Tangerang

Om Shanti, Shanti, Shanti Om

Note: Penggunaan Foto harus seijin dari Gamma Photography

Makna Kwangen


Di dalam Bradhara Upanisad menegaskan bahwa kewangen adalah simbol Ida Sanghyang Widhi sedangkan Lontar Sri Jayakasunu menjelaskan bahwa kewangen adalah simbolik Aksara suci OM (Omkara). Jelas kedua sumber ini menunjukkan bahwa kewangen adalah simbul atau perlambang wujud visual Ida Sanghyang Widhi Wasa. 

Disamping itu ada juga pendapat bahwa kewangen itu adalah lambing ketulus ikhlasan dan keterpusatan pikiran kehadapan Ida Sanghyang Widhi. Itulah sebabnya bahwa dalam kehidupan sehari-hari perlu dikembangkan rasa ketulus ikhlasan itu. Sebab tanpa rasa tulus dan ikhlas kepada Ida Sanghyang Widhi, maka manusia akan menjadi resah, gelisah dan tidak tenang. Karena itu akan sulit berhubungan dengan kekuatan-kekuatan Mahasuci Ida Sanghyang Widhi. 

Kewangen sebagai simbul Ida Sanghyang Widhi dapat pula dilihat dari tiga unsur utama yang dipergunakan untuk membuat kewangen itu, yakni : 

- Kojong dari daun pisang yang melambangkan Arda Candra (bulan sabit).
- Jinah bolong yang bentuknya bundar melambangkan Windu (matahari).
- Chili atau reringgitan janur yang melambangkan Nada (bintang).

Dengan demikian kewangen digambarkan sebagai bulan, matahari dan bintang yang melambangkan alam semesta dan merupakan stana Ida Sanghyang Widhi. 

Disamping ketiga bahan utama diatas, di dalam kewangen juga terdapat porosan silih asih, plawa, dan bunga. Porosan silih asih merujuk kepada kemahakuasan Ida Sanghyang Widhi yang bersifat Ardanareswari (Purusa pradana). Penyatuan Purusa dan pradana ini melahirkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Hal ini menjelaskan kepada kita betapa Ida Sanghyang Widhi dalam wujudnya sebagai Purusa Pradana memberi kemakmuran dan kebahagiaan lahir bathin kepada manusia.

sumber :Dasar-Dasar Kepemangkuan & Serba Serbi Hindhu

Kegunaan Alang-Alang dalam Hindhu


Banyak kisah cerita yang menguraikan dari fungsi alang-alang dalam agama Hindu. Seperti misalnya dalam naskah Siwa Gama, maupun dalam Adi Parwa. Termasuk pula beberapa kisah  dari para balian, bahwa alang-alang merupakan senjata ampuh yang mematikan yang sering digunakan berperang di alam gaib.

Dalam naskah Siwa Gama dikisahkan, ketika perjalanan Bhagawan Salukat menemukan daun ilalang dalam kondisinya yang sudah kering dan berserakan. Konon dengan kondisinya yang seperti itu, ketika bertemu dengan Bhagawan Salukat ia pun memohon anugrah supaya dilebur dosanya. “Kasihanilah hamba Bhagawan” kata rumput ilalang memohon.Sungguh tak tega Sang Bhagawan menyaksikan alang-alang meratapseperti itu, dan akhirnya permohonannya yangtulus membuat hatinya terketuk seraya memberikan anugrah sambil merafalkan mantra. “Om kuan sri sarwwa pawitram, lingga sri ya namo namah swaha.” (Semoga kamu wajib merupakan perlambang bagi sang sadaka dan merupakan alat pelepas-penyucian-para arwah) ucap Bhagawan Salukat.

Dalam kisah lain mengenai alang-alang, Kitab Adi Parwa, parwa pertama dari delapan belas parwa, khususnya dalam cerita pemutaran lautan susu (Ksirarnawa). Diceritakan tentang kekalahan Dewi Winata, ibu dari Sang Garuda akibat kelicikan Dewi Kandru dalam menebak kuda yang muncul pada saat pemutaran Gunung Mandara giri untuk mendapatkan tirta amerta. Kuda yang sebenarnya muncul adalah kuda berwarna putih, namun karena tipu daya dari Dewi Kandru dengan anaknya Sang Naga, ekor kuda yang sebelumnya putih mulus disemburkan dengan bisanya sehingga tidak putih lagi. 

Kekalahan tipu daya inilah yang menyebabkan Sang Winata menjadi budak. Sebagai budak, Dewi Winata ditugaskan untuk mengasuh putra-putra dari Dewi Kandru yang berjumlah ratusan naga. Mengasuh ratusan apalagi naga bukanlah suatu pekerjaan yang gampang. Apalagi naga-naga tersebut sulit sekali diatur. Sang Garuda sangat bersedih melihat ibunya seperti itu. Ia pun ingin membebaskan ibunya dari perbudakan tersebut. Namun ada sebuah persyaratan yang harus ia lakukan sebagai ganti maksudnya tersebut. Ia harus mencari Tirta Amerta di Gunung Somaka.

Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, lantas ia berangkat ke tempat tersebut.Penjagaan di Gunung Somaka cukup ketat. Namun berkat restu dari ibundanya serta perlindungan dari para Dewa, setelah melalui pertarungan yang sengit Tirtaberhasil didapatkan,selanjutnya ia menyerahkan kepada ibundanya, untuk menebus agar tidak masih menjadi budak dari Dewi Kadru. Tirta itu berada di Kamandalu serta diikat dengan alang-alang. Sang Garuda berpesan mulai sekarang ibunya tidak lagi menjadi budak para naga. Selanjutnya ia menyarankan kepada para naga sebelum meminum Tirta Amerta harus mandi terlebih dahulu. Dengan kegirangan para naga mandi dan serta meninggalkan tirta tersebut.

Karena ditinggalkan serta tidak ada yang menjaga akhirnya tirta tersebut diambil oleh Dewa Indra. Dengan rasa sedih akibat tirta diambil , para para naga hanya bisa berpuas menjilati titik-titik tirta yang jatuh pada daun alang-alang secara berebutan. Karena tajamnya daun alang-alang tersebut menyebabkan lidah para naga menjadi terbelah menjadi dua hingga kini. Begitu pula halnya daun alang-alang sampai kini diyakini diyakini sangat suci.

Mengenai kegunaan alang-alang bagi umat Hindu sering digunakan sebagai sarana penglukatan. Selain itu juga digunakan pada waktu upacara pawintenan, yakni dengan membuat alang-alang sebagai Cirowista yang digunakan untuk mengikat kepala dari orang yang mewinten. Cirowista maha diwyam, pawitram papanacanam nityam kucakram tisthati, sidhantam prati granati…Cirowista amat suci, dan pelebur dosa nestapa, ujung rumput alang-alang yang amat tajam, penunjang kepadanya yang bertahta dalam hati….

Ujung alang-alang yang amat runcing itu merupakan senjata gaib, untuk melebur dosa dan nestapa, penderitaan. Ujung yang tajam itu berperan sebagai symbol pedang dan lambang kekekalan dan keabadian. Daunnya yang runcing melambangkan peperti perjalanan manusia yang menghadap kepada-Nyayang bertahta didalam hati. Semakin jelas Cirowista yang terbuat dari alang-alang adalah amat suci, yang disebut dengan istilah diwyam. Kegunaan lainnya ialah sebagai karowista, sehet (ikat) mingmang, berupa Nyasa Ciwa Lingga.

ALANG-ALANG DAN KEAGUNGAN CIROWISTA

Alang-alang dalam bahasa bali disebut dengan ambengan. Secara niskala sebagai sarana penyucian ambengan dapat membuat segala sesuatu menjadi suci, itulah salah satu keagungan dari ambengan. 

Pemasangan carowista sebagai gelung (ikat kepala) pada orang suci (Sulinggih) ketika menyelesaikan suatu upacara dan pada orang-orang yang sedang diupacarai, seperti pada upacara potong gigi, mewinten, mejaya-jaya, dan upacara yang lainnya, dimaksudkan untuk menjadikan badan suci, sehingga Hyang Widhi berkenan bertahta di dalam diri kita. Prosesi ini dilakukan pada saat prosesi pembersihan diri pabyakalan dan prosesi yang mengikuti selanjutnya adalah acara natab. Prosesi ini mengandung makna ketika sudah diikatkan cirowista pertanda badan sudah suci, selanjutnya barulah natab yang diarahkan ke dalam diri yang diupacarai. Ini mengandung makna upacara juga dipersembahkan kepada Ida Sang HYang Widhi yang telah berkenan bertahta di dalam hati yang telah dilakukan proses penyucian sebelumnya.

Tak jauh beda halnya dengan pemasangan Cirowista pada Ciwambha (sejenis periuk sebagai tempat pembuatan tirta oleh Sulinggih) dengan maksud agar secara niskala priuk tempat tirta dan airnya menjadi suci diterima oleh Ciwatman yang bersifat suci. Sementara untuk aled (alas) dari air suci tersebut juga terbuat dari rumput alang-alang yang sering disebut dengan lekeh

(sumber : Mitos-Mitos Tanaman Upakara)                   

Jinah Bolong atau Pis Bolong


Jinah bolong, pis bolong atau uang kepeng adalah simbul kekuatan hidup Panca Dewata. Jinah bolong yang dibuat dari campuran 5 jenis logam itu diyakini mempunyai kekuatan hidup Lima Dewa. Kelima jenis logam dengan kekuatan Lima Dewata itu disebut Panca Dhatu. Panca berarti lima, sedangkan dhatu bermakna kekuatan hidup. Sehingga Panca Dhatu berarti lima jenis kekuatan hidup. Kelima jenis logam bahan pembuat uang kepeng itu adalah besi, tembaga, kuningan, perak dan emas. 

Besi yang berwarna hitam, melambangkan kekuatan Dewa Wisnu,sedangkan tembaga yang berwarna merah melambangkan kekuatan Dewa Brahma. Kemudian perak yang berwarna putih, melambangkan kekuatan Dewa Iswara dan kuningan yang berwarna kuning, melambangkan kekuatan Dewa Mahadewa. Sementara itu emas sebagai logam yang paling mulia,dianggap mempunyai lima warna atau Panca Warna, melambangkan memuatan Dewa Siwa. 

Karena mempunyai kekuatan Lima Dewata, maka uang kepeng itu dipergunakan sebagai sarana Upacara Dewa Yajna antara lain :

1. Untuk bahan membuat Rambut Sedana sebagai simbul stana Ida Sanghyang Widhi.

2. Sebagai sarana pelengkap misalnya untuk akah banten, buah lis, orti dan sebagainya.

3. Sebagai peralatan upakara seperti tamiang, penyeneng dan lain-lain.

4. Sebagai bahan untuk membuat kewangen.

5. Sebagai sesari atau aturan atau ucapan terima kasih kepada Sang pemuput karya.

Harus diingat pula bahwa sekarang ini uang kepeng yang dijual dipasaran ada dua macam. Ada uang kepeng kuno dan ada juga uang kepeng baru. Uang kepeng kuno boleh saja diganti dengan uang kepeng baru, sepanjang uang kepeng baru ini dibuat dari lima jenis logam sebagaimana dijelaskan diatas.

(sumber: Dasar-Dasar Kepemangkuan)