Om Swastiastu Om

.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

Warga Sedang Ber-foto Ria.

Pura Pesimpangan Dalem Ped

Jro Mangku Nengah sedang memimpin persembahyangan warga Hindu yang hadir

Pancuran Sapta Gangga

Masyarakat Sangat Antusias Melakukan Penyucian Diri di Pancuran Sapta Gangga

Piodalan

Suasana malam saat piodalan siap dilaksanakan

Pancuran Sapta Gangga

Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak menjadi tujuan favorit untuk menyucikan diri

Buda Kliwon Gumbreg


Buda Kliwon Gumbreg merupakan Rainan yang berdasarkan pada pertemuan Pancawara yaitu Kliwon dan Saptawara yaitu Buda. Di samping itu pada hari ini juga bertepatan dengan Rainan kajeng Kliwon yang merupakan pertemuan Triwara yaitu Kajeng dan Pancawara yaitu Kliwon.

Hari Buda Kliwon ini dikenal dengan hari penyucian Sang Hyang Ayu atau Sang Hyang Nirmala Jati, persembahan ditujukan kepadaNya.

Beberapa tempat suci di Bali yang melakukan Petirtan (odalan) di hari Rainan ini, karena memang Rainan ini merupakan salah satu Rainan utama mengingat bertemunya Buda Kliwon dan Kajeng Kliwon di hari ini.

Pertemuan Buda Kliwon dan Kajeng Kliwon memberikan arti yang sangat dalam karena berdasarkan pengider Buana saat itu adalah beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Beliau sebagai Dewa Wisnu dan Dewa Mahadewa. Penganut Hindhu diharapkan bersembahyang memohon keselamatan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya.


Buda Kliwon Gumbreg yang jatuh pada tanggal 16 April 2014 menjadi sangat istimewa karena cocok untuk melakukan upacara Pecaruan untuk menetralkan buana agung dan buana alit.

Peta Lokasi Pancuran Sapta Gangga Gunung Salak

Om Swastiastu Om

Banyak pemedek yang mau tangkil dan melukat bertanya-tanya tentang lokasi Pancuran Sapta Gangga Gunug Salak. Di bawah ini dibuatkan denah yang sederhana dengan harapan semoga bisa membantu para pemedek untuk melukat sekaligus sembahyang di Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak


Denah Lokasi Pancuran

Secara garis besar, satu-satunya jalan menuju Pancuran Sapta Gangga adalah melalui jalan di Pura Pasar Agung & Melanting Gunung Salak (ikuti tanda panah merah), dan melewati kediaman Jro Mangku Gde Lingsir Made Sadnya. Setela mencapai areal Pura, sangat mudah untuk dilalui karena jalanan sudah di paving blok dan diterangi dengan lampu di malam hari.

Pancuran Sapta Gangga diperuntukkan bagi semua orang dengan tidak memandang latar belakang dan kondisi masing-masing.

Berikut adalah pemampakan pemedek yang  sedang melukat:



Semoga informasi ini dapat membantu

Om Shanti Shanti Shanti Om

Anggar Kasih Kulantir - Mari Jaga Kesucian Diri dan Alam


Anggar Kasih Kulantir merupakan salah satu Rainan yang sangat istimewa, karena bertepatan juga dengan hari Rainan Kajeng Kliwon. Dua Rainan yang jatuhnya pada hari yang sama merupakan kesempatan langka bagi pemeluk Hindhu untuk menjaga kesucian diri masing-masing dan meningkatkan spiritualitas diri.

Anggar Kasih atau Anggara Kliwon merupakan rainan Bali yang jatuh berdasarkan pertemuan Panca Wara yaitu Kliwon dan Sapta Wara yaitu Anggara. Pada hari rainan ini umat Hindhu Bali memuja Ida Sang Hyang Rudra yang bersthana di Barat Daya (Nairiti).

Sedangkan Kajeng Kliwon merupakan Rainan yang berdasarkan pada pertemuan Tri Wara yaitu Kajeng dan Panca Wara yaitu Kliwon. Pada hari ini para pemeluk Hindhu selalu menghaturkan banten sesaji untuk memohon keselamatan secara sekala niskala. Pemeluk Hindu yang akan melakukan upacara Mecaru, biasanya melaksanakannya pada hari Rainan Kajeng Kliwon, karena pada Rainan ini dipercaya bahwa segala kekuatan negatif bisa di netralkan.

Sedangakan pada hari Anggar Kasih hendaknya manusia menghaturkan persembahan, minimal canang, di tempat pemujaan masing-masing. Ini untuk menyatakan Bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dewa Rudra dikenal sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi untuk melebur segala sesuatu, termasuk kekotoran yang terdapat dalam jiwa manusia dan dunia ini.

Rudra adalah dewa menurut Regveda yang diasosiasikan dengan kekuatan angin atau badai, dan pemburu. Rudra sering juga disamakan dengan salah satu dewa tertinggi umat Hindu yaitu Dewa Siwa.

Dewa Rudra merupakan penguasa arah barat daya (Nairiti), bersenjata Moksala, wahananya (kendaraan) kerbau, shaktinya Dewi Samodhi/Santani, aksara sucinya "Ma", di Bali Beliau dipuja di Pura Uluwatu
Mantra Dewa Rudra yang terkenal adalah
Tryambakam yajamahe
Sugandhim pusthivardhanam.
Urvarukam iva vandhanat
Mrtyor muksiya mamrtat. (Rgveda VII.59.12).

Artinya adalah: Ya Tuhan sebagai Rudra yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak sumber-sumber makanan. Semoga beliau melepaskan kami seperti mentimun dari batangnya, dari kematian tetapi bukan dari keabadian

Mantram ini disebut juga Mantra Maha Mertyunjaya sebagai mantra memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Pura Luhur Uluwatu adalah tempat suci untuk memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra. Dewa Rudra adalah perwujudan kemahakuasaan yang manunggal dari Dewa Tri Murti. Memuja Tuhan sebagai Dewa Rudra untuk mendapatkan kekuatan agar manusia memiliki kemampuan hidup untuk mencipta, memelihara dan mempralina sesuatu yang sepatutnya diciptakan, dipelihara dan dipralina.

Rudra sebagai salah satu aspek Deva-deva, merupakan unsur hidup dan kehidupan yang disebut sebagai Rudra prana. Kesebelas Rudras yang mengatur alam semesta (buana agung dan buana alit), diantaranya Kapali, pingala, Bima, Virupaksha, Vilohita, Shasta, Ajapada, Abhirbudhnya, Shambu, Chanda, dan Bhava.
Marilah kita sebagai penganut agama Hindhu Dharma melaksanakan pembersihan diri/peleburan kekotoran yang sebaiknya dilaksanakan pada Hari Raya Anggar Kasih dukut ini.

Secara garis besar bisa dikatakan bahwa Rainan Anggar kasih Kulantir sangat istimewa karena merupakan kesempatan yang sempurna untuk menjaga kesucian diri dan alam semesta di sekitar kita. Hendaknya kesucian diri yang dijaga itu meliputi segala aspek seperti perbuatan, perkataan dan pikiran kita.

Hari Raya Nyepi - Saka 1936


Om Swastiastu Om

Hari Raya Nyepi tahun Saka 1936 di tahun 2014 akan dirayakan pada tanggal 31 Maret 2014. Penganut Hindu akan melakukan berbagai macam ritual sebelum merayakan Nyepi tersebut. Nyepi disebut juga tahun baru Saka yang di aplikasikan di Bali sejak peradaban Hindu masuk ke Bali.

Sistem tahun Saka merupakan system penanggalan suku Saka di India yang mempunyai peradaban yang sangat maju. Penanggalan Saka dimulai pada tahun 78 masehi, sehingga beda tahun Saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun. Sistem penanggalan ini dibawa oleh pendeta India ke Nusantara waktu proses penyebaran agama Hindu dimulai dan diaopsi oleh kerajaan Majapahit waktu itu.

Dala prasasti Trunyan A, Nyepi di Bali tercatat sudah dirayakan sekitar abad ke 8 masehi, bersamaan dengan perayaan Hari Raya Galungan. Dalam kitab Negara Kertagama yang ditulis pada jaman Majapahit, tertulis perayaan Nyepi di Majapahit dikenal dengan nama Caitramaisa

Tercatat Raja Bali abad ke 13 hingga 14 masehi (Ida Dalem Waturenggong) juga sudah merayakan Hari Raya Nyepi

Perayaan Hari Raya Nyepi terbagai dalam beberapa tahap, yaitu Melasti, Tawur Kesanga, Nyepi dan Ngembak Geni.

Melasti:

Melasti merupakan kegiatan penyucian Pretima-Pretima dan Pelinggih suci yang ada di masing-masing Pura. Biasanya penyucian ini dilakukan di laut/pantai dan waktunya paling lambat sehari sebelum Tawur Kesanga. Adapun tujuan dari Melasti adalah agar semua Pretima dan Pelinggih menjadi suci sebelum menyambut Hari Raya Nyepi.

Melasti terdiri dari 3 kegiatan, yaitu Melis, Melasti dan Mekiyis. Melis merupakan kegiatan pembersihan jalan yang akan dilalui oleh Ida Sesuhunan dalam perjalanan menuju pantai. Melasti adalah proses penyucian di Pantai/Laut. Sedangkan mekiyis adalah proses pe-nyiratan Tirta yang di Tunas di Segara ke Pelinggih-pelinggih yang ada di Pura masing masing.

Tawur Kesanga

Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilem Kesangan yaitu sehari sebelum Hari Raya Nyepi di masing-masing Pura atau Kabupaten. Tawur biasanya menggunakan Kebo sebagai bahan caru. Sedangkan untuk tngkat yang lebih rendah cukup melakukan Caru Panca Sata di masing-masing Pura.

Tujuan dari Tawur Kesanga adalah untuk menetralkan alam dari untur Bhuta Kala, atau istilahnya Men-somiakan para Bhuta Kala sehingga di tahun yang akan dating bisa menjadi lebih baik.

Khusus untuk tingkat rumah tangga, hendaknya melakukan upaya men-somiakan Bhuta Kala dengan cara nunas Nasi Tawur di desa/Pura masing-masing dan menyemaikannya di halaman rumah tangga masing-masing. Kegiatan ini dilakukan pada saat Sandhya Kala, yaitu waktu saat para Bhuta Kala mulai unjuk diri.

Hari Raya Nyepi

Sehari setelah Tilem Kesanga, maka penganut Hindhu merayakan Hari Raya Nyepi dengan cara melakukan catur Brata Pe-Nyepian yaitu:

  1.  Amati Karya, Amati Karya adalah kondisi tidak melakukan perkerjaan sehari-hari. Contohnya, petani tidak pergi ke swah, pedagang tidak berdagang dan lain-lain
  2. Amati Geni, Amati Geni adalah kondisi tidak menyalakan api/lampu, termasuk tidak melakukan kegiatan masak-memasak. Yang lebih penting adalah tidak menyalakan api kemarahan dan nafsu selama Hari Raya Nyepi.
  3.  Amati Lelungaan, Amati Lelungaan adalah tidak melakukan perjalanan/pergi. Arti yang lebih dalam adalah tidak membiarkan pikiran kita untuk melanglang buana kemana-mana.
  4. Amati Lelanguan, Amati Lelungaan adalah tidak bersenang-senang dengan mengontrol Panca Indra kita selama Nyepi.

Untuk penganut Hindhu di luar Bali, biasanya kegiatan Nyepi dipusatkan di Pura yang ada di daerah masing-masing sehingga menjadi lebih khusuk dalam pelaksanaannya. Hal ini tidak menjadi masalah karena tetap masih berada dalam koridor Catur Brata Penyepian

Ngembak Geni

Ngembak Geni jatuh sehari setelah Nyepi dan merupakan untuk melakukan puji syukur khadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan sekaligus bersilahturahmi kepada semua handai taulan, keluarga dan  teman. Kegiatan ini sangat positif untuk dilakukan kerena bisa untuk menjaga tali kerukunan.

Semoga Hari Raya Nyepi Saka 1936 bisa kita manfaatkan untuk merenungkan segala hal yang pisitif maupun negative sehingga kedepannya bisa mendapatkan kemajuan.

Selamat merayakan Nyepi dan Selamat tahun baru Saka 1936


Om Shanti Shanti Shanti Om

Budha Wage Ukir - Budha Cemeng, Mari Melakukan Penghematan


Hari Buda Wage Ukir merupakan salah satu Rainan yang untuk memuja Beliau Sang Hyang Sri Sedana yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam aspek penguasa harta benda

Bude Wage Ukir yang disebut juga Bude cemeng Ukir, pada hari ini, umat Hindu meluangkan waktu untuk mengucapkan rasa terima kasih kehadapan Dewi Laksmi yang telah memberikan kekayaan/rejeki/kemakmuran kepada manusia untuk bertahan hidup. Umat Hindu diharapkan tidak melakukan pemborosan di hari Rainan ini

Makna dan Tujuan Filosofis dari pemujaan terhadap Beliau dalam prabawanya sebagai Ida Bhatara Rambut Sedhana adalah untuk memohon anugraha Beliau dalam berbagai macam wujud dan bentuk kemakmuran untuk segala makhluk hidup ciptaan Beliau.

Di setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang diberikan sesajen khusus untuk menghormati Dewi Laksmi/Betara Rambut Sedana sebagai rasa terima kasih atas anugerah-Nya


Dipercaya bahwa pada hari ini masyarakat Bali tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia. Entah benar atau tidak, hal ini adalah mitos yang sangat menarik untuk diyakini karena mengandung unsur yang sangat kental dengan budaya tradisional masyarakat Bali.

Tumpek Landep - Tajamkan Jasmani Rohani


Rainan Tumpek Landep akan segera kita rayakan pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon Wuku Landep. Pada Hari Tumpek Landep terkenal dengan ritual keagamaan yang berhubungan dengan senjata tajam, baik itu berupa pusaka atau alat-alat rumah tangga yang lain.

Pada Rainan Tumpek Landep inilah semua hal yang bersifat tajam itu kembali di-Pasupati/disucikan dengan tujuan agar semua ke-leteh-an itu bisa diberishkan kembali.

Agama Hindhu memiliki banyak hari raya. Hari raya keagamaan itu sesungguhnya memiliki makna cukup luas. Termasuk Tumpek Landep, tak hanya bermakna ritual. Dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kesadaran pikiran. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Menurut Ida Pedanda Made Gunung, dengan pikiran yang tajam diharapkan umat dapat menumpulkan gejolak indria dan menghindari perilaku menyimpang. Tumpek, kata Ida Pedanda, berarti pula tampek dan landep berarti lanying (tajam). Dalam perayaan ritual Tumpek Landep, umat diingatkan untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala.

Dalam kehidupan sehari-hari umat diisyaratkan untuk selalu menajamkan ilmu dan keterampilan agar mampu bersaing dalam era kesejagatan. ''Yang terpenting lagi, umat hendaknya selalu menajamkan keyakinannya terhadap Tuhan,'' katanya. Dalam situasi seperti sekarang, umat penting pula menajamkan rasa persatuan dan kesatuan dan membangkitkan kewaspadaan diri. Termasuk mewaspadai keamanan Bali. Jangan mau dipecah-belah, karena buta politik. Sebab, sejarah membuktikan, banyak orang Bali menjadi korban politik. Padahal politik dalam arti sesungguhnya memiliki tujuan mulia yakni untuk mensejahterakan masyarakat. Tetapi, praktiknya berbeda, politik justru untuk mensejahterakan kelompok dan diri sendiri.

Di samping itu, ritual Tumpek Landep merupakan tonggak introspeksi (mulatsarira). Artinya, umat manusia dituntun agar bisa mengaktualisasikan diri pada pembentukan watak atau karakter yang sesuai dengan ajaran agama. Setiap Tumpek Landep, umat diharapkan mulatsarira, evaluasi diri apa yang telah dilakukan selama ini. Ini penting untuk melakukan pembenahan-pembenahan dalam masa mendatang.

Keperluan untuk menyeimbangkan keperluan jasmani dan rohani sangat diperlukan. Jika setiap hari umat masuk dapur tiga kali, hal yang sama mesti dilakukan untuk keperluan rohani. Itu berarti umat mesti bersembahyang tiga kali sehari ke merajan. Dengan demikian, ada keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.


Ida Pedanda menegaskan, Tumpek Landep bukan otonan motor atau komputer. Tumpek Landep adalah pemujaan Tuhan karena saat itu beryoga Dewa Siwa. Makanya persembahyangan Tumpek Landep adalah di Merajan/Pura masing-masing. 

Melalui Perayaan Pagerwesi kita Tingkatkan Pengetahuan dan Hormat kepada Guru


Di dalam budaya masyarakat Bali Utara (Singaraja ) Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan dengan sangat meriah, hampir sama meriahnya dengan perayaan Galungan & Kuningan. Perayaan Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan gumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, yang beragama Hindu.

Salah satu makna dari Hari Raya Pagerwesi adalah saat dimana umat manusia memulai usaha untuk mempelajari suatu ilmu, karena Pagerwesi erat kaitannya dengan Hari Raya Saraswati, Banyu Pinaruh, Soma Ribek dan Sabuh Mas.

Para Pinandita biasanya menggunakan mantra khusus dalam melakukan pemujaan Hari Raya Pagerwesi yaitu:
Guru Brahma, Guru Vishnu, Guru devo Maheshwara, Guru sakshat, param Brahma, tasmai shri guravay namah

Di India, umat Hindu memiliki hari raya yang disebut Guru Purnima dan Hari Raya Walmiki Jayanti. Upacara Guru Purnima adalah hari raya pemujaan untuk Guru suci yang ditekankan pada pemujaan pada Resi Vyasa berkat jasa beliau mengumpulkan dan mengkodifikasi kitab suci Weda. Resi Vyasa pula yang menyusun Itihasa Mahabharatha dan Purana. Putra Bhagawan Parasara itu pula yang mendapatkan wahyu tentang Catur Purusartha yaitu empat tujuan hidup yang kemudian diuraikan dalam kitab Brahma Purana.

Berkat jasa-jasa Resi Vyasa itulah umat Hindu setiap tahun merayakan Guru Purnima dengan mengadakan persembahyangan atau istilah di India melakukan puja untuk keagungan Resi Vyasa dengan mementaskan berbagai episode tentang Resi Vyasa. Resi Vyasa diyakini sebagai adiguru loka yaitu gurunya alam semesta
Sementara Walmiki Jayanti dirayakan setiap bulan Oktober pada hari Purnima. Walmiki Jayanti adalah hari raya untuk memuja Resi Walmiki yang amat berjasa menyusun Ramayana sebanyak 24.000 sloka. Ke-24.000 sloka Ramayana itu dikembangkan dari Tri Pada Mantra yaitu bagian inti dari Savitri Mantra yang lebih populer dengan Gayatri Mantra.
Ke-24 suku kata suci dari Tri Mantra itulah yang berhasil dikembangkan menjadi 24.000 sloka oleh Resi Walmiki berkat kesuciannya. Sama dengan Resi Vyasa, Resi Walmiki pun dipuja sebagai adiguru loka yaitu mahagurunya alam semesta. Ini artinya pemujaan Batara Hyang Guru di Kamulan dan Sang Hyang Paramesti Guru pada hari raya Pagerwesi dalam tradisi Hindu Siwa Paksa memiliki makna yang sama dan searah dengan Guru Purnima dan Walmiki Jayanti dalam sistem pemujaan Guru dalam tradisi Hindu di India. Agama Hindu itu kemasan budaya luarnya berbeda tetapi isinya sama

Sedangkan di Bali dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

Budha Kliwon Shinta Ngaran Pagerwesi payogan Sang Hyang Pramesti Guru kairing ring watek Dewata Nawa Sanga ngawerdhiaken sarwatumitah sarwatumuwuh ring bhuana kabeh.

Artinya: Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia.

Pelaksanaan upacara/upakara Pagerwesi sesungguhnya titik beratnya pada para pendeta atau rohaniwan pemimpin agama. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan: Sang Purohita ngarga apasang lingga sapakramaning ngarcana paduka Prameswara. Tengahiwengi yoga samadhi ana labaan ring Sang Panca Maha Bhuta, sewarna anut urip gelarakena ring natar sanggah. Artinya: Sang Pendeta hendaknya ngarga dan mapasang lingga sebagaimana layaknya memuja Sang Hyang Prameswara (Pramesti Guru). Tengah malam melakukan yoga samadhi, ada labaam (persembahan) untuk Sang Panca Maha Bhuta, segehan (terbuat dari nasi) lima warga menurut uripnya dan disampaikan di halaman sanggah (tempat persembahyangan).

Hakikat pelaksanaan upacara Pagerwesi adalah lebih ditekankan pada pemujaan oleh para pendeta dengan melakukan upacara Ngarga dan Mapasang Lingga. Tengah malam umat dianjurkan untuk melakukan meditasi (yoga dan samadhi). Banten yang paling utama bagi para Purohita adalah Sesayut Panca Lingga, sedangkan perlengkapannya Daksina, Suci Pras Penyeneng dan Banten Penek. Meskipun hakikat hari raya Pagerwesi adalah pemujaan (yoga samadhi) bagi para pendeta (Purohita) namun umat kebanyakan pun wajib ikut merayakan sesuai dengan kemampuan.

Banten yang paling inti perayaan Pagerwesi bagi umat kebanyakan adalah natab Sesayut Pagehurip, Prayascita, Dapetan. Tentunya dilengkapi Daksina, Canang dan Sodaan. Dalam hal upacara, ada dua hal banten pokok yaitu Sesayut Panca Lingga untuk upacara para pendeta dan Sesayut Pageh Urip bagi umat kebanyakan.


Disarikan dari berbagai sumber

Kenapa CPU Komputer mempunyai batas kecepatan?


Ketika kita membeli chip CPU, ia memiliki "maksimum" Rating kecepatan tertera pada rangka chip. Sebagai contoh, chip mungkin menunjukkan bahwa itu mempunyai kemampuan 3-GHz. Ini berarti bahwa chip akan tampil tanpa kesalahan ketika bekerja pada atau di bawah kecepatan itu dalam parameter suhu normal chip.

Ada dua hal yang membatasi kecepatan chip:
  1.         Transmission delays on the chip
  2.          Heat build-up on the chip

Penundaan transmisi terjadi pada kabel yang menghubungkan segala sesuatu secara bersamaan pada sebuah chip. "Kabel" pada sebuah chip merupakan aluminium atau tembaga strip sangat kecil yang dibenamkan ke silikon. Sebuah chip tidak lebih dari kumpulan transistor dan kabel yang menghubungkan mereka bersama-sama, dan transistor tidak lain hanyalah sebuah saklar on / off. Ketika switch merubah posisinya dari on ke off atau off ke on, itu merupakan kegiatan mengisi atau menguras kawat yang menghubungkan transistor ke transistor berikutnya di telepon. Coba bayangkan bahwa transistor saat ini "on." Kawat itu mengemudi diisi dengan elektron. Ketika beralih ke posisi "off," maka itu mengalirkan elektron tersebut, dan hal itu membutuhkan waktu. Semakin besar kawat, semakin lama waktu yang dibutuhkan.

Karena ukuran kabel yang sudah menjadi lebih kecil maka waktu yang dibutuhkan untuk mengubah kondisi menjadi lebih cepat, juga. Tapi ada batas - pengisian dan pengeringan kabel teteap membutuhkan waktu. Batasan itu yang memaksakan batas kecepatan pada chip.

Ada juga jumlah minimum waktu yang transistor perlukan untuk membalik keadaan. Transistor dihubungkan bersama-sama dalam sebuah rangkaian, sehingga penundaan yang terjadi pada transistor bertambah. Pada chip kompleks seperti G5, ada kemungkinan akan rangkaiannya lebih panjang, dan panjang rangkaian terpanjang membatasi kecepatan maksimum seluruh chip.

Akhirnya, factor suhu/panas. Setiap kali transistor dalam keadaan awal perubahan, transistor akan bocorkan sedikit daya listrik. Daya listrik yang bocor ini menciptakan panas. Ketika ukuran transistor mengecil, jumlah daya yang terbuang saat ini (dan menimbulkan panas) telah menurun, namun masih ada panas yang diciptakan. Semakin cepat sebuah chip berjalan, semakin banyak panas yang dihasilkannya. Terbentuknya panas menimbulkan batas lain pada kecepatan.


Anda dapat mencoba untuk menjalankan chip Anda pada kecepatan yang lebih cepat - melakukan hal itu disebut overclocking. Pada banyak chip (terutama model tertentu Celeron), ia bekerja dengan sangat baik. Kadang-kadang, Anda harus mendinginkan dengan sengaja chip untuk proses overclock itu. Di saat yang lain, Anda tidak bisa overclock sama sekali karena Anda segera mendapati kendala penundaan transmisi.

Disarikan dari berbagai sumber